Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 24


__ADS_3

*Holla guys**🤟🏻*


✨Happy Reading✨


•


•


Pukul 14.00


Kim kembali melirik benda bulat dengan tali berwarna hitam yang melilit di pergelangan tangannya. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika ia tengah merasa khawatir. Ditambah firasat buruk seperti kejadian waktu itu, kembali menghampirinya.


Jane belum menunjukkan tanda-tanda jika akan datang siang ini untuk membawakan makan siangnya. Lelaki itu sudah mencoba untuk menghubungi sang istri, namun hasilnya nol. Beberapa hari ini Jane memang sering terlambat datang ke perusahaannya, namun kali ini terlampau lama.


“Kau sudah menghubungi Korn?” Kim melirik Aroon yang terlihat fokus dengan layar komputer dihadapannya.


“Sudah Khun Kim, namun tidak ada jawaban apapun. Dan lagi, sinyal dari ponsel milik Khun Jane dan Korn tidak terlacak” jelas Aroon.


Suara ******* berat terdengar dari arah meja Kim, itu menandakan jika dugaannya terasa semakin kuat. Kemana Jane? Apakah istrinya itu diculik lagi?


Diculik? Hey, kenapa ia memikirkan seseorang kali ini.


“Ar.. dapatkan nomer telepun Thanapon untukku!” Titah Kim, yang dijawab dengan anggukan kepala cepat olehnya.


Jari-jari Aroon bergerak lincah setelah mendapat perintah dari tuannya, begitu juga dengan kedua matanya. Menggerakkannya dari arah kiri lalu ke kanan sampai mendapatkan sesuatu yang ia cari. Baginya ini adalah pekerjaan yang mudah, 1 menit saja sudah cukup baginya hanya untuk mencari sebuah nomer telepun.


“Saya sudah mengirimkannya ke ponsel anda Khun Kim” seru Aroon, membuat Kim kembali berfokus pada layar ponselnya.


^^^“Hallo..”^^^


“Apakah Jane ada bersamamu?”


^^^“Kim?!”^^^

__ADS_1


“Jawab aku, apakah Jane ada bersamamu?”


^^^“Tidak, dia tidak ada disini”^^^


“Jangan berbohong!”


^^^“Apa yang terjadi? Jane menghilang?”^^^


“Kau tidak perlu tahu!”


Tut!! Tut!!


Kim menutup sambungan telepunnya dengan cepat, sepertinya Jane memang tidak berada di tempat Thanapon.


“Khun Kim.. ponsel Korn memberi sinyal” Seru Aroon, membuat Kim segera beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri sang sekretaris.


Kim mengerutkan dahinya, titik merah itu berada di sebuah tempat yang tidak begitu asing baginya.


“Mansion milik Suchart Family?!” Gumam Kim.


🖤🖤🖤🖤🖤


Pusing, kepalaku terasa sangat pusing, tubuhku juga terasa lemas, dan tenagaku seperti terkuras habis. Aku mencoba menggerakkan tanganku yang terasa kebas, meraih ujung ranjang untuk sekedar bertumpu disana.


Saat ini, aku buka dengan paksa kedua mata yang terasa begitu berat. Melawan cahaya lampu yang menyilaukan dengan bersusah payah.


Tempat ini? Kenapa terasa tidak asing?


Ini kamarku, benar ini adalah kamarku.


Untuk beberapa saat, aku mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya. Jika tidak salah, Tepat pukul 11.00 siang tadi, aku hendak pergi ke perusahaan untuk membawakan Kim makan siang, ditengah perjalanan seseorang menelpun dan memberi kabar jika Ma tengah sakit.


Ma?! ya aku ingat sekarang. Beberapa saat yang lalu aku tengah duduk di ruang tamu bersama Ma, meminum teh yang dibuatkan oleh bi Hom dan berdebat dengan Ma setelahnya. Lalu tiba-tiba aku merasa pusing dan tidak ingat apapun lagi. Dan sekarang aku berada disini, dikamar milikku, namun terasa begitu aneh.

__ADS_1


“Bi Hom..” aku mencoba meminta pertolongan dengan suara lemah, berharap seseorang yang aku panggil datang dan menghampiriku. Tapi Hening, sepertinya bi Hom tidak ada diluar sana.


Aku harus menghubungi seseorang, tapi dimana tasku?


Mataku kembali mengedar, mencari benda kecil berwarna biru langit yang terdapat ponsel milikku didalamnya.


Oh sial, sepertinya tasku tidak ada disini. Dengan sangat terpaksa aku harus berdiri dan keluar dari sini sesegera mungkin. Sebelum turun dari ranjang, aku menyempatkan diri untuk melirik ke arah benda bulat di depan sana. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00, cukup lama aku berada disini dan Kim pasti tengah mencariku.


Kakiku sudah berpijak di atas lantai berwarna putih dengan motif marbel. Menyeretnya dengan paksa untuk mendekat ke arah pintu.


Ceklek!!


Terkunci? Kenapa? Kenapa pintunya dikunci?


“Bi Hom..” tenggorokanku benar-benar kering saat ini, membuatku sedikit kesulitan untuk berteriak.


Masih tidak ada jawaban, dan dugaan semakin kuat jika semua ini sudah direncanakan oleh Ma.


🖤🖤🖤🖤🖤


“Baby, kau tidak bisa melakukan hal ini pada Jane! Dia putri kita jika kau lupa!” Nada bicara Aat terdengar sedikit meninggi saat ini, dengan tatapan mata yang menunjukkan betapa herannya ia saat ini.


“Dan karena dia putriku, aku melakukan semua ini! Semua demi kebaikannya, mengerti” Aom membalas tatapan sang suami tak kalah tajam.


Aat memijat keningnya yang terasa berdenyut, merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.


“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu baby” Aat masih berusaha untuk berdebar dengan sang istri.


“Apa yang aku lakukan sudah benar Aat! Kita harus menyelamatkan masa depan Jane! Karena lelaki itu tidak pantas untuk putri kita! Kehidupannya sangat berbahaya dan aku tidak ingin putri kita terjerumus kedalamnya” Aom masih bertahan dengan pemikirannya.


“Terserah, aku tidak akan bertanggung jawab jika sampai Jane membencimu” Aat akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan sang istri.


Bersambung…

__ADS_1


*Jangan lupa Like, komen dan Vote**đź’šđź’™*


__ADS_2