![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...✨Happy Reading✨...
Oke 2 Chapter untuk hari ini
•
•
“Saya sudah sampai di lokasi Khun Kim” Aroon telah berdiri tepat di sebuah bangunan tua yang terletak cukup jauh dari kota Bangkok.
“Bagus! Berhati-hatilah, Andra pasti menempatkan anak buahnya disana!” Kim memberi arahan melalui alat yang tertempel di telinga Aroon.
“Baik Khun Kim”
“Dan ingat! Lakukan dengan cepat, karena kau harus berpindah ke tempat lain”
“Hhmm..”
Baik Aroon maupun Kim, akhirnya memutuskan komunikasi mereka. Aroon mulai menyiapkan beberapa senjatanya, seperti dua buah pistol serta pisau lipat yang ia simpan di tas kecil.
Aroon bergerak dengan perlahan, mencoba masuk melalui sebuah pintu yang berada di bagian belakang bangunan itu. Sepi, tidak ada siapa-siapa disana.
“Aroon..” Kini bukan Kim yang berbicara, melainkan teman dari bosnya.
“Aku disini Mr.Albert”
“Titik merah pertama berada di tengah-tengah bangunan dan titik merah satu lagi berada tak jauh dari titik pertama!” Jelas Albert
“Baik Mr.”
“Setelah kau berhasil menemukan kedua titik merah itu, segera pergi dan jangan katakan apapun, kepada siapapun! Mengerti” imbuh Albert
“Saya mengerti Mr.”
“Good job Ar!”
Aroon kembali bergerak setelah mendengar perintah terakhir dari Albert. Sahabat dari tuannya itu, mengatakan jika titik merah itu berada di tengah-tengah gedung.
“HEEYY SIAPA KAU..” belum genap Aroon melangkah, seseorang berhasil memergokinya.
“Aku? Tentu saja musuhmu” jawab Aroon lalu segera mengangkat senjata dan melepaskan beberapa tembakan ke arah dua orang yang berdiri dihadapannya.
DOR!! DOR!!
Dua pria dengan pakaian serba hitam itu jatuh dengan darah segar yang mengalir dari kepala mereka.
__ADS_1
“Siapa kau?”
Karena suara tembakan tadi, beberapa orang datang dan Aroon yakin jika mereka adalah anak buah Andra.
“Aku malaikat pencabut nyawa kalian”
DOR!! DOR!!
Aroon kembali menembaki mereka, namun kali ini sembari berlari dan mencari perlindungan. Mereka berjumlah 7 orang, Aroon akan sedikit kesulitan jika tidak menghindar.
Namun tidak butuh waktu yang lama baginya, karena kemampuan mereka masih dibawah standar Aroon. Setelah berhasil melumpuhkan beberapa orang disana, Aroon bergerak cepat, mencari keberadaan titik yang dimaksud.
“Sepertinya ruangan ini berada di tengah” Aroon berhenti di sebuah pintu ruangan yang ia yakini berada di tengah-tengah bangunan itu.
BRAK!!
Aroon menendang pintu ruangan itu dengan keras, membuat 3 orang yang berjaga di dalam sana, terlonjak kaget.
DOR!! DOR!!
Tanpa memberi kesempatan untuk lawan tersadar dari keterkejutannya, Aroon menembak mereka dengan gerakan cepat. Namun di detik berikutnya, dirinyalah yang dibuat terkejut dengan sosok yang tengah duduk di atas kursi dalam keadaan terikat dan tidak sadarkan diri.
“N-Nik..” panggil Aroon
“Nik.. Hey bangun. Kau baik-baik saja? Jawab aku” cerca Aroon sembari melepaskan ikatan pada kedua tangan Nik.
Tidak ada jawaban apapun dari wanita itu, sehingga tanpa ragu, Aroon mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari ruangan itu.
Wajah Aroon panik, ia sangat khawatir saat ini dan ia tidak tahu alasan dibalik perasaan khawatir yang berlebihan itu. Wanita yang sejak kejadian malam itu selalu menghindarinya, kini terkulai lemas di dalam gendongannya.
“Hiks…” suara isakan kecil terdengar dan hal itu berhasil membuat Aroon menghentikan langkahnya.
“Nik.. Nik.. kau sudah sadar?” Panggil Aroon dengan nada lembut. Ia berhenti sejenak dan menurunkan tubuh Nik.
“Aku.. takut..” lirih Nik yang kini tengah memeluk erat tubuh lelaki itu.
“Ssttt.. kau tidak perlu takut, ada aku” Aroon mengelus pelan punggung Nik yang bergetar, mencoba untuk memberi rasa nyaman pada wanita itu.
Aroon meraih wajah pucat dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Menatap dalam ke arah manik indah yang tengah memancarkan tatapan takut “Nik.. bisakah kau tunggu aku disini sebentar saja? Aku harus membereskan satu hal lagi?” tanya Aroon yang dijawab dengan gelengan kepala cepat.
“Hey.. kau tidak perlu takut! Aku sudah menyingkirkan mereka. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, percayalah padaku….” Tatapan Aroon tak pernah lepas dari kedua bola mata Nik yang tengah berusaha mencari keyakinan disana.
“Aku berjanji tidak akan lama. Oke..” Aroon mengusap wajah Nik dengan lembut dan memberi kecupan singkat di dahi wanita itu.
Tunggu, kecupan?
__ADS_1
Ya, Aroon mencium dahi Nik dan wanita itu memejamkan matanya. Entah mengapa ia merasa jauh lebih tenang saat ini.
“Tetap disini sampai aku datang dan bawa ini untuk berjaga-jaga” Aroon memberikan sebuah pisau lipat kecil kepada Nik.
Setelah memastikan Nik benar-benar aman, Aroon berlari dengan cepat menuju ruangan yang bersebelahan dengan tempat penyekapan Nik.
BRAK!!
Tanpa berpikir panjang, Aroon menendang pintu itu dengan keras dan kembali membuat 4 orang terlonjak kaget.
Berbeda dengan ruangan sebelah, seperti orang-orang yang berjaga disini lebih waspada. Terbukti jika saat ini mereka tengah berusaha menembaki Aroon. Beruntung ditempat itu terdapat sebuah lemari yang bisa Aroon gunakan untuk berlindung.
Suara tembakan terus terdengar, namun tidak berlangsung lama karena Aroon telah menyelesaikan tugasnya.
“Korn, kau baik-baik saja” Aroon membantu rekannya untuk melepaskan diri dari jeratan tali pada kedua tangannya.
“Khun Ar, kenapa anda disini? Kemana Khun Kim?” Aroon mengerutkan dahinya kala mendengar pertanyaan dari Korn.
Wajah yang dipenuhi noda darah serta luka itu nampak kebingungan. Dan itu membuat Aroon merasa aneh.
“Kau terluka parah? Apakah kau bisa berjalan sendiri keluar?” Aroon tak menjawab pertanyaan Korn, ia lebih memilih untuk bergegas pergi dari ruangan itu.
“Hanya luka kecil di bagian lengan Khun Ar! Aku masih bisa berjalan sendiri” jawab Korn sembari memperlihatkan lengannya yang terluka.
Korn melirik sejenak lengan yang sudah dibalut dengan kain kasa, lalu kembali ke arah pintu keluar.
“Kalau begitu ayo! Kita tidak memiliki waktu yang banyak” ajak Aroon yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Korn.
Aroon berjalan lebih dulu dan menghampiri seseorang yang masih setia menunggunya diluar sana.
“Hy Nik.. kau baik-baik saja?” Aroon berjongkok di depan Nik, menatap wanita itu dengan tatapan selembut mungkin.
“Hhmm..” jawab Nik yang masih sedikit gemetar
“Kita harus pergi dari tempat ini. Ayo berdiri” dengan telaten Aroon membantu Nik berdiri dan tanpa aba-aba langsung menggendong wanita itu ala bridal style.
Nik awalnya terkejut, namun seiring waktu berjalan, ia merasa nyaman dengan posisi saat ini.
“Khun Ar, kita akan pergi kemana?” Korn yang berjalan tepat dibelakang Aroon nampak kebingungan.
“Naik ke mobil dan ikuti saja perintahku” jawab Aroon tanpa berniat menoleh kebelakang.
“Baik Khun Ar..”
Bersambung…
__ADS_1