Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 7


__ADS_3

Holla guys..


✨Happy Reading✨




CENTRAL WORLD, Bangkok


Disinilah Jane dan Kannika saat ini, sebuah Mall besar yang terletak di jantung kota bangkok. Dengan sebuah misi menghabiskan isi dari kartu black card milik orang terkaya di Thailand.


“Kenapa kau membeli begitu banyak lampu dan figura itu Jane?” tanya Nik, menatap heran ke arah belasan paper bag yang terisi penuh oleh lampu dan figura foto.


Gadis yang dipanggil namanya itu pun menoleh, namun tidak lama “Mansion Kim gelap dan kosong” jawabnya singkat, berhasil mengundang gelak tawa dari sahabatnya itu.


“Hahaha.. gelap dan kosong?! Hey.. aku baru mengetahui fakta tentang suamimu itu, dia adalah orang terkaya di negara kita dan bagaimana mungkin mansionnya gelap dan kosong?! Kau lucu Jane” Kannika terus tertawa tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang melintas di sekitarnya.


Jane tersenyum simpul “Jika kau terus tertawa seperti itu, maka penyamaranmu akan terbongkar Nik! Aku tidak akan mau bertanggung jawab, jika mulut lebar mu itu terekspos di majalah terkenal nantinya” ujar Jane, dengan kalimat mengejek.


Mendengar peringatan yang bercampur kalimat mengejek dari sahabatnya itu, membuat mulut Kannika terbungkam sempurna. Kannika akan selalu menjadi dirinya sendiri ketika bersama Jane, maka tak heran ia akan melupakan jika dirinya adalah seorang model terkenal.


Jane menggelengkan kepala pelan, mata serta tangannya kembali sibuk, memilih barang-barang yang harus ia beli.


“Hallo..” Jane melambaikan tangannya ke arah pelayan toko tempat ia berbelanja.


“Aku mau yang ini..” Jane menunjuk sebuah meja rias berwarna putih


“Ini juga..” sekarang sebuah sofa berwarna merah Maroon dengan bahan beludru dan bentuk yang aneh.


“Ini..” ranjang dengan ukuran 2 kali lipat dengan yang ada di kamar Kim.


“Eeee..ini juga boleh..” Oke, sepertinya Jane memang berniat untuk menguras isi black card milik Kim.


“Maaf Khun Jane, apakah semua itu tidak terlalu banyak?” Seorang pengawal memberanikan diri untuk sekedar bertanya kepada nona baru mereka.


Jane melirik ke arah pengawal itu “kau takut tuanmu akan bangkrut?” pertanyaan Jane sontak membuat si pengawal panik.


“Ti-tidak Khun Jane, bukan seperti itu,,,” Kalimatnya terhenti ketika sebuah tangan bertengger di bahunya, membuat pengawal itu tertegun sejenak.


“Ini yang terakhir, aku berjanji. Lebih baik kalian bawa semua ini ke dalam mobil karena aku akan pulang setelah ini” titahnya, dengan senyum ramah diwajahnya.


“Baik Khun Jane” pengawal itu menundukkan tubuhnya, sebelum benar-benar pergi untuk memasukkan semua barang belanjaan milik nonanya itu.


Kannika yang sedari tadi hanya diam, kini memilih untuk menghampiri sahabatnya.

__ADS_1


“Eee Jane..” panggilnya dengan panjang namun tertahan


“Hhmm..” Jane menoleh, menatap sahabatnya yang tengah kebingungan.


Kannika melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Jane “Apa kau tidak salah dalam memilih sofa?!” Bisik Kannika, yang dibalas dengan gelengan kepala pelan.


“Kau tahu fungsi sofa itu?” bisiknya lagi


“Bodoh! Tentu saja untuk duduk” jawab Jane kesal. Ada apa dengan sahabatnya itu, bertanya sesuatu yang jelas-jelas semua orang tahu jawabannya.


PPLLAAKK!!


Kannika memukul lengan Jane sedikit keras.


“Ooiiikk.. kenapa kau memukulku?!” Pekik Jane


“Kau yang kenapa! Lihat!!” Kannika menarik wajah Jane dan mengarahkannya pada banner besar yang berdiri tegak di sisi pajangan sofa itu.


“Oohhhh!!” Seru Jane, membuat mata Kannika mendelik.


“Terima kasih Nik, karena telah menunjukkan padaku, fungsi dari sofa itu”imbuh Jane.


“JANE!! Jangan bilang kau..” bibir Kannika dibungkam begitu saja oleh Jane.


“Sepertinya sofa itu akan menjadi tempat Favortiku nanti” bisik Jane di telinga Kannika, membuat mata gadis itu melotot semakin tajam, bahkan bola matanya seperti ingin melompat keluar.


“JANEEE!! Otakmu sangat kotor!! Sattt!!” Teriak Kannika. Ia tidak menyangka, sahabatnya itu dewasa dengan begitu cepat, padahal dirinya baru menikah beberapa jam yang lalu.


“Hahahaha..” Jane tergelak sembari terus melangkah jauh meninggalkan Kannika.


[Sofa yang dimaksud oleh Jane itu, Sofa jenis Tantra. Tapi di iklannya ada seorang pria yang tidur terlentang dengan wanita di atasnya🤭]




Pukul 20.00


Kim melangkah masuk ke dalam mansionnya dengan langkah pelan. Ia memandangi dinding yang sebelumnya kosong, kini dipenuhi dengan berbagai foto-foto pernikahannya bersama Jane. Terlihat jelas perbedaan ekspresi wajah di foto-foto itu, Jane dengan wajah penuh kebahagiaan bersanding dengan seorang lelaki tanpa ekspresi seperti dirinya. Terlihat lucu, hingga tanpa sadar, bibirnya melengkung, membentuk sebuah senyuman.


Tidak hanya deretan figura itu yang menyita perhatian Kim, deretan lampu dengan cahaya terang, membuatnya menggelengkan kepala pelan.


Bukan hanya Kim yang merasa jika suasana di mansionnya itu sangat berbeda kali ini, seseorang seperti Aroon pun merasa kagum melihat usaha nonanya untuk menghidupkan kembali mansion mewah yang terasa mati bertahun-tahun lamanya.


Kim memejamkan matanya sejenak, kala bau sedap masakan menyeruak masuk ke dalam Indra penciumannya, serta menuntun langkahnya untuk masuk lebih dalam lagi. Tidak hanya bau masakan, suara senandung kecil diiringi tawa pelan menggema di Indra pendengarannya.

__ADS_1


Lelaki itu berdiri diam ditempatnya, memperhatikan setiap gerak gerik gadis yang tidak bisa ia tolak keberadaan serta kalimat yang keluar dari mulutnya.


Gadis yang ia nikahi kurang dari 1x24 jam itu, kini tengah bergerak lincah, menikmati kegiatannya memasak dengan senyum bahagia yang terlukis jelas di wajah manisnya. Dan lihat, sebuah ponsel juga tergeletak di atas meja.


Senyum aneh terbentuk di sudut bibir Kim, kepulan asap dari makanan yang ada diatas meja itu, membuat hatinya terasa hangat. Dinding dengan warna yang di dominasi dengan warna hitam itu tidak lagi terasa dingin.


“Kim.. kau sudah pulang!” Seru gadis dengan apron berwarna purple yang membalut tubuhnya, tengah berdiri sembari memegang spatula kecil, berhasil membuyarkan lamunan lelaki itu.


Berbeda hal nya dengan Jane yang merasa senang akan kedatangan sang suami, para pengawal yang dipaksa duduk di meja makan oleh Jane, langsung berdiri dengan panik dan menundukkan kepala mereka kompak.


“Selamat malam Khun Kim” sapa mereka bersamaan.


Sedangkan lelaki yang berdiri di belakang Kim tengah menatap tajam ke arah anak buahnya yang dengan lancang duduk disana.


Jane menyadari akan tatapan Kim dan Aroon, akhirnya angkat bicara “Aku yang meminta mereka duduk disana! Jadi berhenti untuk melotot seperti itu!” Ujar Jane memberi peringatan kepada dua manusia kutub didepan sana.


Gadis itu meletakkan spatulanya, melepas apron dengan gambar babi kecil berwarna pink dan meletakkannya di atas meja dapur. Kakinya melangkah dengan cepat, menghampiri lelaki yang sudah ia tunggu kedatangannya sejak sore tadi.


Cup..


“SURPRISE!! Taraaaa!! Selamat datang dirumah Kim!! Bagaimana? Apakah kau suka dengan foto dan lampu baru itu?” cerca Jane, setelah mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi Kim.


Lelaki itu diam membisu, hanya sebuah anggukan kepala pelan yang bisa ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri.


“Yyeeyy aku senang jika kau menyukainya!! Sekarang ayo duduk! Kau sudah makan?” tanya Jane antusias. Dan lagi-lagi Kim hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Entah mengapa ia menjadi bisu saat ini.


“Bagus!! Aku sudah memasak banyak menu untukmu! GOD, aku sangat gugup tadi. Ternyata seperti ini rasanya menunggu suami pulang bekerja!!” Celoteh Jane Heboh sendiri.


“Ayo duduk, kau sudah lapar bukan?” Jane meraih lengan Kim, menarik pria itu dan memaksanya duduk di kursi paling depan.


Lelaki itu tidak melawan, ia membiarkan wanita itu bertindak sesuka hatinya, karena perhatiannya kini tertuju pada deretan menu yang terhidang di atas meja. Mereka hanya menu sederhana, jauh dari kata mewah seperti makanan yang selalu ia dapatkan dari restaurant.


“Hey kalian!! Kenapa masih berdiri?! Ayo duduk!” Titah Jane kepada para pengawal, namun tidak mampu membuat mereka bergeming.


“Duduklah!” Titah Kim, ia sangat tahu jika anak buahnya hanya akan mendengar perintahnya saja.


“Baik Khun Kim” sahut mereka secara bersamaan, membuat Jane tersenyum senang.


“Nah.. sekarang katakan! Kau ingin mencoba menu apa terlebih dahulu?” tanya Jane dengan tangan memegang piring kosong.


Jauh di kursi paling ujung, Aroon berusaha menahan sesuatu yang aneh dari dalam hatinya.


“Belum genap sehari, tapi perubahannya sangat luar biasa.” Gumam Aroon dalam hati.


Bersambung…

__ADS_1


*Jangan lupa like, komen dan Vote ya**🥰*


__ADS_2