Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 57


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




TUT!! TUT!!


Aroon menjauhkan benda kotak itu dari telinganya, lalu mengerutkan dahi karena seseorang yang ia hubungi tiba-tiba saja memutuskan panggilan mereka.


Ia mencoba untuk menghubungi nonanya itu sekali lagi, namun ternyata tidak tersambung. Sehingga Aroon memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali.


“Hey.. kenapa kalian masih disini? Pergi.. pergi! Khun Jane akan datang, jangan sampai dia merasa terganggu karena kehadiran kalian” Aroon mengusir beberapa anak buahnya yang masih berdiri di depan jendela kaca demi melihat tuan mereka yang sudah sadar dari komanya.


Meskipun mereka merasa kecewa karena tak dapat menyapa tuannya, namun apa boleh buat, tangan kanan dari bos mereka sudah memerintah.


Aroon memilih masuk ke dalam ruangan itu, tangannya membuka perlahan pintu lalu menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatannya kepada sosok yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.


“Selamat siang Khun Kim..” sapa Aroon


“Kau sudah menghubungi Jane?” Kalimat dengan nada bicara yang lemah berhasil keluar dari bibir pucat Kim.


“Sudah Khun Kim. Mungkin Khun Jane sedang dalam perjalanan menuju kemari” jelas Aroon yang dijawab dengan anggukan kepala pelan oleh Kim.


“Anda membutuhkan sesuatu Khun Kim?” Aroon kembali bertanya dan dijawab lagi dengan gelengan kepala pelan.


“Baiklah Khun Kim. Silakan beristirahat dan saya akan berada disini sampai Khun Jane tiba”




Ditempat lain, terjadi sedikit kegaduhan didalam mobil yang mengangkut keluarga kecil di dalamnya. Seorang pria yang sedang mengemudi terlihat begitu stress karena harus menghadapi ocehan demi ocehan dari dua wanita yang duduk di kursi tengah.


“Tod!! Kenapa kau begitu lambat Hah?! Kau mau aku pecat?!” Nada penuh ancaman terdengar dari bibir wanita tua. Membuat seseorang yang dipanggil namanya hanya bisa menghela nafas panjang, tidak lupa ia mengumpat dalam hati.


“Apakah Khun Aom tidak melihat deretan mobil di depan sana?! Apakah dia kira aku Superman yang bisa menerbangkan mobil ini” gerutu Tod


“Pa.. sepertinya kau harus mengganti mobil setelah ini! Mobil ini sangat lambat” gerutu sang wanita muda.


Kali ini bukan hanya Tod yang mendapat protes, namun lelaki yang duduk di sebelah kursi kemudi juga.


“Honey, Jane, bisakah kalian bersabar? Kalian lihat kendaraan didepan sana, mereka juga diam karena kondisi jalan yang macet” dengan sabar, Aat mencoba memberi kedua wanitanya pengertian.

__ADS_1


“Kenapa tidak cari jalan alternatif saja” Jane kembali menyahut, karena ia benar-benar sangat khawatir saat ini.


“Ini jalan satu-satunya Jane. Percayalah dengan Pa, jika Kim akan baik-baik saja” kali ini bukan hanya sebuah nasehat, Aat menolehkan kepalanya ke belakang dan memberi tatapan dalam kepada putrinya. Seolah memberitahu kepadanya jika semua akan baik-baik saja.


Cara itu berhasil, Jane akhirnya terdiam dan memilih untuk mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kau pergi Kim” gumam Jane dalam hati.




Kembali ke rumah sakit, dimana Aroon tengah membantu tuannya untuk bersandar di dinding serta minum beberapa tetes air.


Awalnya semua terasa begitu tenang dan damai, hingga samar-samar terdengar suara kegaduhan dari luar sana.


BRAKKK!!!


“KIM!!” Pekik seorang wanita muda yang masuk kedalam ruangan itu dengan wajah panik.


Dua lelaki itu menoleh secara bersamaan, bahkan mereka sedikit terkejut dibuatnya.


“Ar.. Kim..” wajah panik Jane telah sirna, namun kini telah digantikan ekspresi bingung kala melihat pemandangan di depannya.


“Ini tidak seperti yang anda pikirkan Khun Jane. Saya hanya membantu Khun Kim untuk duduk saja” jelas Aroon tanpa diminta, ia sangat mengerti dengan arti tatapan itu.


Jane masih berdiri ditempatnya, ia terdiam bukan karena melihat posisi Aroon dan sang suami yang aneh. Ia terdiam karena ternyata semua hal negatif yang ia pikirkan tidak benar adanya.


Jane melirik sejenak ke arah lelaki yang berdiri tepat di sisi ranjang. Tunggu, apakah Aroon mencoba mempermainkannya beberapa saat yang lalu?


Bukankah dia bilang jika Kim pergi?


Sial, Kekesalan Jane terhadap pro yang menjadi tangan kanan sang suami, semakin menjadi-jadi.


Kim memberi isyarat kepada Aroon agar meninggalkannya bersama sang istri.


“Jane..” suara dengan intonasi lemah itu berhasil membuyarkan lamunan Jane.


Tetesan air mata mulai mengalir di pipi mulusnya kala melihat wajah tampan itu kembali tersenyum ke arahnya. Setelahnya ia melangkah ke arah ranjang dan menghamburkan pelukannya ke dalam dekapan suami tercintanya.


“Aakhh..” pekik Kim karena Jane tidak sengaja menyentuh lukanya yang dibalut perban.


“Maaf.. aku benar-benar takut beberapa saat yang lalu..” lirih Jane dengan air mata yang masih berderai.

__ADS_1


Kim tersenyum hangat, sepertinya ia terlalu lama beristirahat, sampai-sampai membuat istri tercintanya ini begitu khawatir.


“Sstt.. apa yang membuatmu takut? Lihat, aku baik-baik saja” ujar Kim, tangannya yang bergerak naik untuk menghapus air mata sang istri.


“Hiks.. jangan seperti ini lagi. Kau membuatku dan baby stress karena memikirkanmu” cicit Jane di dalam dekapan sang suami.


Kim mengernyitkan dahinya, dia tidak salah dengar? Baby? Apa maksudnya dengan Baby?


“Tunggu Jane..” Kim melepas dekapannya sejenak lalu beralih menangkup wajah Jane.


“A-apa maksudmu Baby?” Kim bertanya dengan serius


Bukannya langsung menjawab, wanita malah tersenyum dan memilih untuk membungkam mulutnya.


“Jane, apa maksudnya baby?” Tanya Kim lagi namun kali ini dengan eskrepsi memelas.


Jane mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kim, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Kim benar-benar terkejut.


“Kau akan menjadi daddy” bisik Jane


“Kau serius?”


Jane mengangguk antusias, air mata yang sedari tadi mengalir deras kini surut entah kemana.


Kim tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika mendengar kabar tersebut. Namun yang jelas, hatinya merasa seperti dipenuhi dengan berbagai macam bunga saat ini.


“Terima kasih Jane” hanya kalimat ini yang bisa ia ucapkan sebagai bentuk ungkapan perasaannya yang begitu bahagia.


Mereka kembali berpelukan, bahkan Kim sudah tidak memperdulikan lukanya lagi. Rasa senangnya berhasil menutupi semua rasa sakit yang masih tertinggal di dalam tubuhnya.


“Jane!! Kenapa kau memeluk menantuku seerat itu?! Lukanya bahkan belum kering!!” Suara teriakan terdengar dari ambang pintu dan mereka tahu itu suara siapa.


Aom berjalan dengan susah payah, usianya yang sudah tidak muda lagi, membuat tubuhnya mudah kelelahan.


“Honey, hati-hati kau bisa terjatuh nanti” nada penuh peringatan terdengar dari bibir sang suami yang begitu setia menjaga Aom dari belakang.


“Mom.. pelan-pelan, atur nafasmu terlebih dahulu! Ingat kau mau menjadi oma” Jane ikut memperingatkan sang ibu karena wanita tua itu mulai kehabisan nafas.


“Hah!! Hah!! Oh My god!! Nafasku” akhirnya Aom memilih duduk dan beristirahat sejenak.


Sedangkan Kim tersenyum bahagia melihat interaksi dari ketiganya. Apakah boleh ia merasa bangga karena menyatukan ketiganya kembali?


Bersambung….

__ADS_1


Agak gak nyambung ya🤭


__ADS_2