Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 8


__ADS_3

Holla guys..


✨Happy Reading✨




“Kau mau yang mana dulu?! Yang ini? Yang ini?” Tangan Jane sibuk menunjuk satu persatu menu yang ia masak dengan susah payah selama 4 jam lamanya.


“Terserah kau saja” jawab Kim pasrah, agar wanita itu berhenti menunjuk semua makanan yang tertata rapi di atas meja.


Jane terdiam, matanya tengah sibuk memilah menu yang sekiranya akan cocok dengan lidah lelaki itu.


“Bagaimana dengan nasi dan kari ayam?!” tanya Jane, meminta persetujuan kepada seseorang yang akan melahap menu itu nantinya.


Kim mengangguk setuju, matanya menatap aneh ke arah nasi putih yang masih mengeluarkan uap panas lalu disiram dengan kuah kari berwarna kuning.


“Nah.. ayo cicipi, tapi jangan memakannya terlalu banyak” jane meletakkan piring berwarna putih dengan menu nasi kuah kari tepat di hadapan Kim.


“Selamat makan My husband” seru Jane kegirangan.


“Hey kalian! Ayo ambil menu yang kalian sukai dan nikmati bersama! Jangan malu-malu!” Pinta Jane, yang lagi-lagi tak mampu membuat para lelaki itu bergeming.


Mereka melirik ke arah tuannya, layaknya anak kecil meminta ijin kepada orang tua mereka. Kim mengerti arti tatapan itu, ia menganggukkan kepala pelan sebagai pertanda setuju, membuat mereka dengan sigap mengambil menu yang disukai.


Jane tersenyum senang, semoga saja mereka suka dengan hasil kerja kerasnya itu, karena ini adalah pengalaman pertamanya berada di dapur.


Lelaki yang sedari tadi diam membisu itu, mulai menggerakkan tangannya, mengambil sepasang sendok dan garpu, lalu menyuapkan sesendok nasi hangat bercampur kuah kari ke dalam mulutnya.


Kim mulai mengunyah dengan perlahan menu pertama yang berhasil mengguncang rongga mulutnya. Rasa pedas dengan bumbu yang terasa sangat pekat, membuatnya tersedak ringan.


“Uuhhuukk..Uuhhuukk!!” Melihat hal itu, Jane bergegas mengambilkan segelas air untuk Kim, menyerahkannya dengan raut wajah panik.


“Apakah itu pedas? Maaf aku tidak tahu jika kau tidak suka makanan pedas?!” Jane meraih piring dengan kuah kari itu, dan menyisihkannya ke samping.


“Tidak apa! Aku hanya tidak terbiasa dengan makanan pedas.” Ujar Kim dengan suara lemah, bahkan hampir tak dapat didengar.


Jane mengangguk, wajahnya kembali berseri, ia mengambil piring baru dan mengambilkan menu lain lagi.


“Bagaimana dengan yang ini, aku memasak khao Tom Moo, dan ini tidak pedas sama sekali” Jane mengambil beberapa sendok menu itu dan menata topingnya dengan rapi.


[Khao Tom Moo adalah bubur khas Thailand yang dimasak bersamaan dengan daging babi. Ada juga yang dimasak dengan ikan laut, namanya Khao Tom Goong]


Kim menatap bubur yang juga mengeluarkan kepulan asap panas, lengkap dengan potongan daging babi diatasnya. Ia kembali mengambil sendok, menyuapkan menu kedua itu dengan cepat ke dalam mulutnya.


Apa ini? Kenapa rasanya sangat Enak! Sungguh enak! Kim tidak pernah memakan menu seenak ini sebelumnya.


Namun lelaki itu malah menundukkan kepalanya, menatap kosong ke arah lantai, lalu meletakkan kembali sendok yang ia pegang erat di awal, dengan mulut yang masih mengunyah sisa bubur di dalam sana.


Tatapan cemas yang sedari tadi menghiasi wajah Jane, kini semakin terlihat jelas, kala sang suami tiba-tiba diam seribu bahasa.


Apa yang terjadi? Apakah masakanku tidak enak? Batin Jane


“Ada apa? Apakah tidak enak? Atau hambar? Atau ada yang kurang?” Cerca Jane dengan wajah khawatir.

__ADS_1


Dari ujung meja, Aroon memperhatikan interaksi antara suami istri itu dan tak henti tersenyum, hingga di detik ini, ia menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan tuannya.


“Kalian! Ambil menu yang kalian sukai dan bawa ke kamar kalian masing-masing” titah Aroon yang dijawab dengan anggukan kepala oleh mereka.


Jane semakin bingung, apa yang terjadi?


Suaminya tertunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun setelah mencicipi masakannya, dan kini Aroon meminta semua orang untuk pergi.


“Khun Jane! Kami permisi” ujar para pengawal itu kompak dan meninggalkan meja makan.


“Silakan lanjutkan makan malam anda Khun Jane, Khun Kim” Aroon pun mengikuti langkah anak buahnya yang berjalan cepat meninggalkan sepasang suami istri itu.


Kini hanya ada mereka berdua, suasana terasa aneh dan sepi. Namun samar-samar, suara isakan yang tertahan masuk ke dalam Indra pendengaran Jane.


“Kim.. are you Ok?“ tanya Jane dengan wajah bingung, namun tak dijawab oleh lelaki itu.


“Ada apa? Apakah masakanku tidak enak? Jika iya, kau tidak perlu memaksakan diri untuk memakannya. Kau bisa..” kalimat Jane tertahan, ketika Kim mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan air mata yang berderai.


Hey!! Seseorang dengan wajah dingin dan datar itu menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Kim.. “ panggil Jane dengan lembut.


“Hiks..hiks..Ini enak! Sungguh!” Ujar Kim dengan air mata yang masih mengalir di atas pipi tegasnya.


Apa yang membuatnya menangis?


Makanan ini, adalah makanan yang selalu ada diatas meja ini beberapa tahun lalu. Rasanya sama persis seperti buatan sang ibu tercinta. Entah ini kebetulan atau apa, yang jelas, saat ini Kim merindukan keluarganya.


Jane tak bisa melihat pemandangan ini, ia bangkit dengan cepat, menghampiri Kim dan membawanya masuk ke dalam pelukan terhangatnya. Jane tidak bertanya apapun lagi, ia membiarkan lelaki itu meluapkan semua kesedihannya sembari mengelus lembut punggung sang suami.


Lelaki itu menggeleng pelan “Manis dan hangat! Aku tidak pernah merasakan makanan seenak ini” tutur Kim.


Jane tersenyum senang “jika kau mau, aku akan membuatkan menu seperti ini setiap hari”


“Hhmm.. terima kasih” ujar Kim singkat


Terima kasih karena telah membantuku untuk mengobati rasa rinduku kepada mommy. Batin Kim


Jane tersenyum semakin lebar seiring dengan pelukan lelaki itu yang terasa semakin erat.




Setelah acara makan malam penuh haru itu selesai, Kim memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya yang terletak di lantai atas. Sedangkan Jane, wanita itu memilih untuk membersihkan diri serta memakai skincare rutin sebelum tidur.


“Kemana perginya Kim?” Gumam Jane, menatap dirinya dari pantulan cermin besar di depannya.


Gadis itu mempercepat kegiatannya dan beranjak keluar untuk mencari keberadaan Kim, lengkap dengan setelan piyama berwarna Biru pastel serta boneka babi kecil ditangannya.


“Khun Jane..” sapa Aroon yang tak sengaja berpapasan dengan nonanya.


“Phi Ar.. dimana Kim?” Tanya Jane to the point


“Khun Kim berada di ruang kerjanya Khun Jane. Apakah anda membutuhkan sesuatu?”

__ADS_1


Jane menggeleng pelan “Bolehkah aku bertemu dengannya? Aku mau tidur dan aku tidak bisa jika tidur sendiri” ujarnya jujur.


“Tentu Khun Jane. Mari ikut saya, ruangan itu ada diujung lorong” Jane mengangguk dan mengikuti langkah lelaki itu dari belakang.


Tok!!Tok!!tok!!


“Masuk” titah seseorang dari dalam sana kala mendengar suara ketukan pintu.


Ceklek!!


“Maaf mengganggu waktu anda Khun Kim.. Khun Jane..” kalimat Aroon terpotong karena gadis itu sudah masuk dan menghampiri tuannya.


“Apakah kau sibuk?” tanya Jane dengan kaki yang terus melangkah ke arah sang suami, membuat Kim seketika mengalihkan atensinya.


“Sedikit” jawab Kim singkat.


“Hhmm.. aku sangat mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur seorang diri! Bolehkah aku menunggu disini sampai kau selesai dengan pekerjaanmu?” Jane kini berdiri disamping Kim dengan mata yang terlihat lelah.


Kim melirik ke arah sofa “Bisakah kau menunggu sekitar 5 menit lagi? Aku akan menyelesaikannya dengan cepat” pinta Kim dengan suara lembut, membuat seorang laki-laki yang masih berdiri didepan pintu tak kuasa menahan rasa keterkejutannya.


Ada apa dengan Khun Kim? Apakah masakan Khun Jane tadi membuat hatinya melunak?. Batin Aroon.


“Baiklah..” Jane melangkah menuju sofa yang terletak di ujung ruangan itu, mendaratkan tubuhnya perlahan dan duduk dengan tenang.


“Apakah anda membutuhkan sesuatu Khun Kim?” Tanya Aroon yang dijawab dengan gelengan kepala ringan.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi” Aroon memilih untuk pergi dari ruangan itu, alih-alih menjadi obat nyamuk.


Hingga 10 menit berlalu, Kim akhirnya menyelesaikan semua pekerjaan yang memang tidak ada habisnya. Ekor matanya melirik ke arah sofa, menangkap sosok wanita yang tertidur dengan posisi duduk.


Aku hampir melupakannya. Batin Kim


Lelaki itu segera beranjak dari kursi kebesarannya, menghampiri Jane, namun tidak berniat untuk membangunkan wanita itu. Ia mengangkat tubuh Jane ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar, membaringkan tubuh mungil itu secara perlahan agar tidak sampai menganggu tidurnya.


“Eengghh..” lenguhan kecil terdengar dari bibir tipisnya kala Kim dengan tidak sengaja membuat gerakan yang cukup keras.


Lelaki itu kembali terdiam, masih berusaha melepaskan salah satu tangannya yang berada tepat di bawah kepala Jane dengan sangat pelan.


“Hhmm.. peluk” gumam Jane dengan mata tertutup.


Kim melotot tajam, merasa terkejut karena wanita itu memeluk lehernya dengan erat dan membuat tubuhnya merosot.


Sial, jantungku. Umpat Kim tertahan


Lagi dan lagi, jantung Kim berdetak kencang. Tubuh mereka sudah tak memiliki jarak lagi, mereka berdua menempel dengan sempurna dan sialnya, tangan Jane memeluk lehernya dengan begitu erat.


Kim mencoba mengatur detak jantung serta nafasnya, berusaha agar tidak membuat gerakan yang berlebih, memastikan wanita itu tetap merasa nyaman.


Beberapa saat berlalu, Kim tidak lagi mencoba untuk melepaskan diri, ia memilih untuk membuat dirinya senyaman mungkin degan Jane yang masih setia memeluknya erat dan ikut memejamkan mata.


“Tidak ada yang salah bukan? Biarkan malam ini berlalu dengan tenang” gumamnya dalam hati.


Bersambung..


Jangan lupa like, komen dan Vote ya💙💚

__ADS_1


__ADS_2