![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
*Holla guys**🤟🏻*
✨Happy Reading✨
•
•
Suasana di dalam kamar yang didominasi dengan warna ungu pastel, masih terasa begitu tegang. Suara nafas yang memburu bercampur menjadi satu dengan suara isakan serta rintihan kecil dari dua wanita di keluarga Suchart.
“Kau tahu Tuan Aat, awalnya aku berpikir jika semua anak dari keluarga orang kaya akan mengalami hal seperti yang aku alami. Tapi ternyata tidak, Nik bahagia, dia bisa bermain dengan siapapun dan dimana pun tanpa takut menjadi yang kedua. Nik bisa memilih ingin meraih mimpinya yang mana, tanpa dihalangi siapapun. Semua orang merasa iri denganku, tapi justru aku merasa iri dengan kehidupan mereka.” Jane masih melanjutkan semua kalimat yang ia tahan sejak dulu. Perasaan yang setiap hari ia tekan dan berakhir melampiaskannya dengan menorehkan luka ke beberapa bagian tubuhnya.
“Hanya karena aku terlihat bisa memikulnya, bukan berarti beban itu tidak berat. Aku hanya terpaksa menanggungnya karena itu satu-satunya pilihanku saat itu! Namun kalian tak melihat seberapa keras usahaku, yang kalian lihat hanya kebanggaan pada diri kalian karena bisa membuatku seperti ini” Jane kembali menengadahkan kepala, merasakan sesak di dalam dadanya karena udara di dalam sana mulai terkikis.
Aat dan Aom yang sejak tadi mendengar semua rasa sakit putri mereka, hanya bisa terdiam dengan air mata yang terus berlinang. Seakan tidak percaya, jika gadis yang terlihat bahagia dan penurut itu, menyimpan begitu banyak luka.
“Jane!!” Suara serak yang hampir tak bisa terdengar, berasal dari arah lelaki yang sejak tadi terdiam ditempatnya.
Kim berhasil tersadar dari rasa terkejutnya, memaksa lidahnya yang kelu untuk mengucapkan sesuatu, meskipun hanya satu kata yang hampir tak terdengar.
Jane yang sejak tadi terisak, kini memberanikan diri untuk menatap ke arah lelaki yang baru ia sadari keberadaannya. Lelaki dengan tatapan tajam itu tengah menatapnya dengan mata bengkak dan air mata yang masih mengalir di bagian pipinya.
Ya, sosok yang terkenal kejam dan dingin itu menangis.
“Jane.. aku lapar” itulah kalimat konyol yang mampu keluar dari bibir Kim.
Dengan sekuat tenaga, Kim menggerakkan kakinya, melangkah dengan perlahan untuk mendekati gadis itu.
“….”
__ADS_1
“Aku belum memakan apapun sejak tadi siang….”
“Kau bilang, aku tidak boleh memakan masakan siapapun selain masakanmu…”
Pelan namun pasti, kim mengikis jarak diantara mereka dan Jane tidak menyadari itu. Gadis itu hanya fokus ke wajah Kim yang terlihat begitu khawatir.
“Jadilah aku tidak memakan apapun hingga saat ini..”
“…….”
Baik, sedikit lagi. Kim akan sampai pada tubuh rapuh itu.
HAP!!
Kim berhasil meraih tubuh Jane dan membawa sosok rapuh itu kedalam pelukannya.
Rasa takut akan kehilangan sosok yang begitu ia cintai, sosok yang sudah menyatu dengan jiwanya.
“Aku lelah Kim.. hiks..” Jane kembali terisak di dalam pelukan sang suami.
Kim mengangkat tangannya, mengelus dengan lembut punggung Jane, sembari menganggukkan kepala pelan.
“Kalau begitu ayo pulang dan beristirahat. Aku akan memelukmu seperti ini sampai kau melupakan rasa lelah itu. Hanya ada aku dan kamu Jane, hanya ada kita berdua. Aku berjanji, kau tidak akan merasakan lelah lagi setelah ini”
TING!!
Akhirnya Jane melepaskan benda yang berhasil merobek bagian dalam telapak tangannya. Dan Didetik itu juga, tubuh Jane lemas dan luruh ke dalam pelukan Kim. Gadis itu tak sadarkan diri, dan tertidur didalam pelukan ternyaman yang pernah ia rasakan selama hidupnya.
“Jane!!” Pekik Kim, lelaki itu segera menangkap tubuh sang istri agar tidak terjatuh ke lantai dan menahannya untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Jane!!” Aom yang sejak tadi terduduk dilantai, kini mencoba berdiri dan hendak menghampiri putrinya.
“Berhenti disana nyonya Aom, atau aku akan benar-benar melupakan rasa hormatku padamu!” Kim melirik tajam ke arah ibu mertuanya lengkap dengan memberi nada dingin penuh peringatan. Membuat Aom membeku ditempatnya.
Kim dengan telaten mengangkat tubuh lemah Jane, menggendongnya ala bridal style dan membawanya pergi dari istana besar yang nyatanya menyimpan begitu banyak luka di dalamnya.
•
•
Sudah hampir 1 jam lamanya, belum ada tanda-tanda jika gadis itu akan membuka matanya. Namun Kim, masih tetap setia berada di sisi sang istri tanpa berniat untuk beranjak barang 1 detik pun.
“Khun Kim, apakah anda membutuhkan sesuatu?” Ini sudah kesekian kalianya seorang Aroon bertanya, mengingat kondisi tuannya yang sangat berantakan.
“Tidak Ar, aku akan memanggilmu nanti ketika Jane bangun” dan ini sudah kesekian kalinya Kim menolak.
Aroon menghela nafas panjang, bukan hanya kondisi nonanya saja yang terlihat memprihatinkan ketika datang ke rumah sakit ini. Namun kondisi tuannya tak kalah memprihatinkan. Pakaian yang dipenuhi bercak darah, wajah sembab dengan mata bengkak, bahkan yang ia tahu, tuannya belum memakan apapun sampai saat ini.
“Baiklah Khun Kim, panggil saya sesegera mungkin” pinta Aroon
“Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku Ar, percayalah aku baik-baik saja” kalimat ini berhasil membuat Aroon membeku ditempatnya. Apakah ini benar-benar tuannya? Kim Nan?
Aroon hanya tersenyum tipis, menanggapi kalimat yang keluar dari bibir tuannya. Hatinya menghangat di dalam sana, dan semua perubahan ini terjadi karena gadis yang tengah berbaring di atas ranjang itu.
“Saya permisi Khun Kim” pamit Aroon yang memilih untuk meninggalkan ruangan itu.
“Terima kasih Khun Jane, karena anda berhasil mengubah Khun Kim menjadi sosok manusia yang sesungguhnya” batin Aroon.
Bersambung…
__ADS_1