![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...Holla guys🤟🏻...
...Sedih deh, kemarin udah up 2 Part tapi gak ada yang komen....
✨Happy Reading✨
•
•
DDOORR
DDOORR
DDOORR
Peluru demi peluru meluncur dengan bebas di udara dan terdengar saling bersahutan.
Pelabuhan yang sebelumnya begitu sepi dan nampak begitu tenang, kini berubah menjadi tempat adu tembak antara dua kubu.
Kim dan Albert tiba ditempat itu sekitar 30 menit yang lalu. Mereka sempat berbincang sejenak, sebelum akhirnya beberapa orang datang dan menembaki mereka secara brutal.
Beruntung mereka bisa menghindar dengan cepat dan mencari tempat persembunyian. Sedangkan beberapa anak buah yang berjaga di sekitar pelabuhan tengah berusaha menghalau serangan, begitu juga dengan Aroon yang kini menggiring tuannya serta sang klien untuk bersembunyi.
“Maafkan aku Albert atas kekacauan ini” seru Kim yang berada di tempat persembunyian bersama kliennya.
“Tidak perlu meminta maaf. Apa kau lupa jika aku juga seorang mafia sama sepertimu?! Ini bukan hal yang baru bagiku” jawab Albert santai, namun matanya tak lengah sedikit pun.
“Tetap saja aku merasa bersalah karena lengah. Kita melakukan transaksi yang lumayan besar, namun aku terlalu ceroboh, membiarkan musuh menyerang”
“Hey!! Kita sudah berteman begitu lama, kenapa kau berbicara seolah baru bertemu denganku?!”
“…..”
“Sudah aku katakan, ini tidak masalah sama sekali. Yang terpenting sekarang adalah, habisi mereka dan cari tahu dalang di balik penyerangan ini. Aku rasa pelakunya seseorang yang berada dekat denganmu, mengingat transaksi yang kita lakukan begitu rahasia” jelas Albert yang sepertinya mulai membaca sesuatu dari kejadian saat ini.
Kim mengangguk setuju, apa yang dikatakan oleh Albert memang benar adanya. Tidak ada yang tahu tentang hal ini, terkecuali sang sekretaris dan beberapa anak buah pilihannya.
“Ayo keluar dan habisi mereka” seru Albert yang mulai mengeluarkan senjata apinya dari balik saku jas berwarna navy.
“Hhmm.. aku akan bergerak disisi kanan dan kau disisi kiri” balas Kim yang juga mengeluarkan senjatanya.
Albert mengangkat senjata begitu juga dengan Kim. Mereka berdua berjalan dengan yakin ke arah depan dan menembak satu persatu musuh yang sudah berjejer dihadapan mereka tanpa rasa takut.
Berguling, menghindar dan kembali menembak, mereka melakukannya secara berulang, menumbangkan satu persatu dari mereka hingga tak tersisa.
•
•
Waktu telah menunjukkan pukul 21.00, namun belum ada tanda-tanda jika sahabatnya itu akan datang.
“Cckkk sudah jam berapa ini, kenapa Nik belum juga datang?! Apa ia tidak jadi kesini? Tapi dia bilang akan kesini! Tidak mungkin dia berbohong” dialog Jane dengan dirinya sendiri, sembari melirik benda bulat yang tertempel di dinding itu beberapa kali.
Layar TV berukuran 72 inch itu nampak menyala dan berdialog sendiri, sama seperti yang Jane lakukan sejak tadi. Jane sudah menonton selama 2 jam lamanya dan ia mulai merasa bosan.
TOK!!
TOK!!
__ADS_1
TOK!!
Suara ketukan pintu dengan frekuensi yang cukup keras, berhasil membuat Jane terlonjak kaget. Jane masih terdiam untuk beberapa saat, ia merasa bingung, siapa yang berani melakukan hal itu saat ini? Apakah itu Nik?
TOK!!
TOK!!
TOK!!
Pintu kembali diketuk, kali ini lebih keras dan cepat dari sebelumnya, sehingga Jane memutuskan untuk memeriksanya.
CEKLEK!!
Tanpa ragu, Jane membuka pintunya lebar. Dan alangkah terkejutnya dia kala mendapati Kron yang tengah berdiri dengan keringat bercucuran serta senjata api ditangan.
“KORN!!” Pekik Jane terkejut
“Khun Jane, kita harus pergi dari sini!!” Pinta Korn dengan nafas tersengal-sengal.
“A-ada apa?” Tanya Jane dengan wajah panik.
“Mansion diserang dan kita harus segera pergi sebelum mereka menemukan kita!!”
“Tidak ada waktu lagi Khun Jane!! Saya akan jelaskan nanti setelah anda aman!!” Sela Korn lagi kala Jane ingin bersuara kembali.
Jane mengangguk “Tetap berada dibelakang saya Khun Jane!!” Pinta Korn lagi.
Korn mulai melangkah dan mencari jalan aman untuk keluar dari mansion megah itu.
DORR!!
DORR!!
DORR!!
Suara peluru saling bersahutan serta barang-barang yang jatuh karena terkena tembakan, mulai memenuhi Indra pendengaran Jane. Ia terus berlari dan mengikuti Korn dari arah belakang, jantungnya berdetak kencang dengan tubuh yang gemetar menahan rasa takut.
“Kim, tolong datanglah” gumam Jane dalam hati.
DORR!!
“Khun Jane!!”
“Aakkhh!!”
Sebuah peluru tiba-tiba melesat ke arah mereka, beruntung tangan Korn dengan cepat menekan pundak Jane agar menunduk.
“Hosh..hosh..” nafas Jane terdengar memburu, jantungnya terasa ingin keluar saat ini. Kepalanya hampir ditembus peluru beberapa detik yang lalu.
“Anda baik-baik saja?!” Tanya Jane dengan wajah khawatir.
Jane hanya mengangguk cepat, lidahnya kelu, tak bisa mengatakan barang satu kata saja.
“Sial!!” Umpat Korn ketika suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
“Khun Jane, apakah anda bisa menggunakan senjata api?”
“Ti-tidak”
__ADS_1
“Bagaimana dengan senjata tajam? Pisau atau pedang? Apakah bisa?”
“Se-se-dikit” jawab Jane dengan bersusah payah.
Ya, Jane memang bisa menggunakan pisau atau pedang, karena dahulu ia seorang atlet anggar. Selain itu, ia juga pernah belajar beladiri sewaktu SMA.
“Bagus!!” Korn berseru senang, lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat yang berukuran sedang.
“Khun Jane, gunakan ini untuk melindungi diri anda ketika keluar dari mansion. Aku akan mencoba menghalau mereka dan anda, pergilah ke taman belakang! Lari secepat yang anda bisa dan tunggu saya di ujung taman belakang mansion” pinta Korn yang tengah menatap Jane dengan serius.
“Ta-tapi aku takut Korn” lirih Jane jujur
“Khun Jane, saya mengerti tapi kita tidak punya banyak waktu hanya untuk sekedar merasa takut! Percayalah pada saya, anda akan baik-baik saja.” Jelas Korn berusaha memberi pengertian kepada nonanya.
“…..”
“Sekarang lari Khun Jane” seru Korn sedikit berteriak.
Jane mengangguk dan segera berdiri, namun belum genap beberapa langkah, ia sudah dihadang oleh beberapa orang.
“HEYY!! MAU PERGI KEMANA KAU!!” Teriak seorang pria berbadan besar.
Jane mengangkat pisau yang ia genggam dengan erat dan mengarahkannya tepat ke arah pria itu.
“Hahahaha!! Kau ingin membunuhku dengan pisau mainan itu??!!” Ledek si pria
DORR!!
CCRRASS!!
“Aakkhh” pekik Jane
Tidak terdengar lagi suara tawa dari pria itu karena Korn datang dan melubangi kepalanya.
“Lari Khun Jane!!” Teriak Korn yang masih berusaha melindunginya dari arah belakang.
Jane kembali berlari dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Tangannya masih setia memegang pisau yang diberikan oleh Korn, meskipun sedikit gemetar.
Seperti yang dikatakan oleh Korn, ia harus berlari menuju taman belakang dan menunggu pria itu di ujung taman. Jane terus berlari dengan langkah yang berantakan, beberapa kali ia tersandung namun tidak sampai terjatuh. Ia hanya berusaha memfokuskan diri untuk bisa sampai diujung taman.
“Sedikit lagi Jane!!” Gumamnya, mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri ditengah rasa takut yang semakin menjalar di dalam dirinya.
Jane hampir sampai, tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai di tujuan. Bibirnya tersenyum tipis dengan raut wajah lega, kala melihat ke arah depan.
“BERHENTI!!! ATAU KU BUNUH 2 ORANG INI!!”
Tubuh Jane seketika mematung, ia berhenti berlari kala mendengar teriakan wanita yang tidak begitu asing ditelinganya.
Tunggu, apa yang dikatakan olehnya?
2 orang? Siapa yang ia maksud.
Jane yang merasa penasaran sekaligus tak bisa berbuat apa karena sudah tertangkap basah, memilih untuk membalikkan tubuhnya. Mata Jane melotot tajam kala melihat siapa orang yang tengah berdiri Dihadapannya.
“KAU!!” Pekik Jane, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah dua orang yang tengah disandera.
“N-Nik!!” Pekik Jane kala melihat sahabatnya tengah dicengkeram oleh laki-laki berbadan kekar dan menangis ketakutan.
“KORN!!” Jane kembali memekik, ketika melihat sang pengawal terkulai lemah dengan darah segar mengalir dari arah lengan kirinya.
__ADS_1
“JIKA KAU INGIN MEREKA TETAP HIDUP, MAKA MENYERAHLAH DAN IKUT AKU!!” Teriak orang itu lagi.
Bersambung….