![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...✨Happy Reading✨...
•
•
KREKK
“Jane, kau sudah datang?” Seru wanita dari dalam kamar mandi, saat pintu kamarnya di buka.
Nik menyelesaikan kegiatannya dikamar mandi dengan begitu cepat. Rasanya sudah tidak sabar untuk memakan coklat yang ia minta kepada sahabatnya itu. Dengan tangan yang masih tertancap jarum infus,ia membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
“Oouuhh aku sudah tidak sabar untuk me..ma..” kalimat serta pergerakan Nik terhenti kala menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Orang itu bukan Jane, melainkan sosok yang menyelamatkan nyawanya beberapa hari lalu.
“Maaf karena tidak meminta ijin terlebih dahulu untuk masuk kesini. Aku sudah mengetuk pintu mu berulang kali tapi belum ada jawaban. Maka dari itu aku masuk” jelas laki-laki dengan ekspresi datarnya.
Nik mengangguk pelan, suasana tiba-tiba canggung. Karena beberapa kali Aroon terlihat mengalihkan pandangannya, seperti takut untuk menatap manik indah wanita itu.
“Khun Jane meminta maaf karena beliau tidak bisa datang membawakan mu coklat. Beliau tiba-tiba sakit dan sedang beristirahat sekarang” imbuh Aroon lagi karena wanita itu tak kunjung bergeming.
“Tidak apa. Apakah dia baik-baik saja?” Nik akhirnya berbicara, walau terlihat jelas jika ia benar-benar tidak nyaman.
“Khun Jane baik-baik saja” jawab Aroon seadanya
“Huffttt…” Nik menghela nafas panjang
“Seharusnya aku tidak merepotkan Jane. Dia juga tengah mengandung sepertiku” Batin Nik, merasa bersalah karena dua hari ini selalu merepotkan wanita itu.
Ya, Jane telah memberitahu Nik tentang kehamilannya. Tentu saja kabar itu membuat Nik berteriak heboh. Bahkan ia sudah berencana untuk menjodohkan anaknya kelak, padahal dia sendiri belum tahu jenis kelamin malaikat kecil itu.
“Ini titipan dari Khun Jane. Aku akan meletakkannya di atas meja” Aroon beranjak, melangkah menuju meja yang berada di sisi ranjang.
“Hhmmpphhh..” Perut Nik tiba-tiba bergejolak, tepat ketika lelaki itu berpapasan dengannya. Aroma khas tubuh Aroon serasa menusuk Indra penciumannya dan entah mengapa membuatnya merasa mual. Nik melangkah cepat menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Sedangkan Aroon, laki-laki itu menghentikan langkahnya dan mengernyit heran.
“Nik ada apa?” Aroon meletakkan paper bag itu di atas meja dan segera melangkah untuk menyusul Nik. Raut wajah penuh kekhawatiran terlukis di wajah tampan Aroon.
“Hhuueekkk!!!” Suara nyaring itu terdengar dan membuat Aroon berhenti sejenak.
“Hei ada apa?” Tanpa merasa jijik sedikit pun, Aroon sudah berdiri di depan pintu dan bersiap untuk membantu wanita itu. Namun langkahnya terhenti kala melihat isyarat tangan Nik.
“To-tolong jangan mendekat! Bau badanmu sangat aneh” ujar Nik jujur. Rasanya ia tak akan sanggup jika harus memuntahkan semua isi perutnya kalau Aroon kembali mendekat.
Aroon semakin heran, terlebih saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Nik. Bau? Apakah badannya bau busuk?
Aroon bahkan mengendus hampir di setiap bagian tubuh yang bisa ia jangkau dengan hidung mancungnya. Ia memakai parfum setiap harinya, apakah parfum yang ia pakai memiliki aroma yang aneh?
Berbagai macam dugaan berkecamuk di dalam pikirannya. Sesuai permintaan wanita itu, Aroon memilih mundur dan menunggu di luar saja.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Nik akhirnya keluar. Wajahnya terlihat pucat dan matanya yang berair sedikit sayu.
“Kau baik-baik saja? Mau aku panggilkan dokter?” Cerca Aroon yang langsung berdiri dengan sigap kala melihat sosok Nik duduk di atas ranjang.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja” jawab Nik dengan wajah lesu.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengejek mu tadi. Bau badanmu memang sedikit aneh” Nik menatap lelaki itu, ia merasa bersalah karena mengucapkan kalimat kurang mengenakkan. Tapi mau apa lagi, dia benar-benar tidak sanggup mencium aroma tubuh Aroon.
“Tidak apa. Mungkin aku harus berganti parfum” jawab Aroon.
“Hhmm.. aku akan keluar agar kau bisa beristirahat” imbuh Aroon yang langsung membalikkan tubuhnya.
“Tunggu..” cegah Nik tiba-tiba.
Aroon kembali membalikkan tubuhnya namun masih di tempat yang sama.
“Ada apa?”
“Bolehkah aku bertanya sesuatu? Dan aku berjanji ini yang terakhir” ujar Nik yang mendapat anggukan kepala dari Aroon.
“Jika semisal, apa yang kita lakukan malam itu menghasilkan sesuatu. Apakah kau akan menikahi ku?” Tanya Nik dengan wajah penuh keraguan.
Aroon nampak berpikir “Maksudmu, kau hamil?” Tanyanya
“Tidak, tidak.. ini semisal saja” kilah Nik.
“Meskipun aku tengah mengandung anakmu?” Nik kembali bertanya, namun kali terlihat lebih serius.
“Aku tidak bisa menjanjikan sebuah pernikahan untukmu, tapi aku akan tetap bertanggung jawab penuh pada kalian berdua” jawab Aroon
“Bertanggung jawab seperti apa yang kau maksud?”
“Membiayai kalian berdua. Aku bersedia menafkahi kalian berdua nantinya”
Nik meremas kuat pinggiran ranjang, bukan jawaban seperti ini yang mau ia dengar. Harusnya Nik sudah tahu jawaban dari pria ini, mengapa ia harus menumbuhkan rasa sakit itu lagi.
Anggap saja ia egosi karena memaksakan diri untuk berada di sisi Aroon. Pria ini adalah cinta pertamanya dan ia sangat berharap jika pria ini juga yang akan menjadi cinta terakhirnya. Tapi nyatanya, cinta yang ia miliki bertepuk sebelah tangan.
“Keluar!” Pinta Nik dengan sekuat tenaga menahan cairan bening yang siap lolos kapan saja.
“Maaf Nik, aku benar-benar tidak bisa menikahimu. Kau boleh meminta apa saja padaku tapi tidak dengan pernikahan. Aku…”
“AKU BILANG KELUAR!! AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU!!” Teriak Nik dengan sorot mata tajam.
Aroon terdiam, ia merasa bingung sekaligus merasa bersalah pada wanita itu.
“Maafkan aku”
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu, Aroon benar-benar melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Nik yang tengah terisak sembari memegangi dadanya. Apakah setidak menarik itu dirinya di mata seorang Aroon? Bahkan setelah ia memberitahu tentang kehadiran malaikat kecil itu, ia bahkan tidak merasa iba?
“Tidak apa baby. Mari hidup berdua dengan mommy! Kita akan baik-baik saja tanpa lelaki pengecut itu” Batin Nik sembari mengusap perutnya yang masih rata.
•
•
5 hari kemudian..
Hari berganti dengan begitu cepat, namun lelaki yang masih tertidur di atas ranjang lengkap dengan peralatan yang menempel pada tubuhnya, senantiasa tidur.
Jane masih bersabar untuk hal itu, ia datang setiap hari. Memeriksa keadaan sang suami, sembari bercerita tentang malaikat kecil yang tumbuh di dalam perutnya itu.
Khusus hari ini, ia datang di pagi hari dan pergi lagi di siang kemudian. Itu karena sahabatnya yaitu Nik, sudah di perbolehkan pulang. Mereka tidak pergi berdua, karena ada ayah dan ibu Jane yang senantiasa menemani putri mereka. Mengapa bukan Aroon, jawabannya karena baik Jane maupun Nik tidak mau berbicara dengan pria itu. Nik sudah memberitahu pada Jane, jika dirinya bertekad untuk membesarkan anak itu seorang diri. Dia juga menceritakan jawaban dari lelaki itu, hingga membuat Jane benar-benar emosi.
Aroon sempat bertanya pada Jane, alasan dibalik diamnya istri dari tuannya itu. Namun ia tak mendapat jawaban apapun, sampai akhirnya ia meminta pada tuan Aat untuk menemani nona mudanya itu.
“Yyeeeeyyy.. Selamat datang Nik” seru Jane, sembari membuka perlahan pintu apartement sahabatnya itu.
“Oohhh akhirnya aku pulang ke rumah. Aku benar-benar bosan di sana” keluh Nik yang langsung mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
“Hah.. tapi kenapa Kim tidak bosan ya..” gumamJane yang masih bisa didengar jelas oleh Nik.
“Jane, bersabarlah. Khun Kim pasti segera sadar” Nik menatap sahabatnya itu dengan iba. Ia hendak menghampiri Jane dan memeluknya erat, namun gerakannya terhenti.
DDRRTTT!!
Ponsel Jane tiba-tiba bergetar, membuat Nik mengurungkan niatnya.
“Hallo…”
“Khun Jane bisakah anda kerumah sakit? Khun Kim,,.”
“A-ada dengannya?”
“Khun Kim, pergi…”
Tut!! Tut!
Sambungan telepun tiba-tiba terputus, itu karena Ponsel Jane kehabisan daya.
“Ada apa Jane..” tanya Nik yang dapat melihat dengan jelas ekspresi khawatir dari Jane.
“Pergi? Apa maksudnya pergi?”
Bersambung…
__ADS_1