Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 51


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




Mobil yang dikendarai Kim berserta anak buahnya, telah berhenti di pinggiran jalan yang tidak terlalu ramai di lalui kendaraan. Didepan sana terlihat gang kecil dengan pencahayaan yang begitu minim, bahkan tempat itu terkesan gelap. Tidak ada seorang pun disana, gang kecil itu seperti tidak berpenghuni.


“Kim, kalian masuklah lebih dulu! Aku harus menunggu seseorang! Ingat berhati-hati lah dan lakukan sesuai rencana!” Ujar Albert yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Kim.


Perlahan, Kim mulai bergerak dengan beberapa anak buah dibelakangnya “Kalian maju lah terlebih dahulu, aku akan mencari jalan pintas” titah Kim


“Kim, titik merahnya berada tidak jauh dari pintu masuk” ujar Albert melalui alat yang tertempel di telinga mereka.


Kim melangkah dengan penuh ke hati-hatian, ia tidak ingin melakukan sesuatu yang membuat rencana mereka gagal. Ia mulai masuk ke dalam gang kecil itu, dengan anak buahnya yang berjalan di depannya.


“Kim, sebuah bangunan yang terletak disebelah kanan dan berjarak beberapa meter saja dari posisimu saat ini.” Albert kembali memberi arahan.


“Baiklah. Aku akan bergegas”


Belum genap beberapa langkah, suara tembakan mulai terdengar.


DOR!! DOR!!


“Shit!!” Kim mengumpat, kala sebuah peluru hampir mengenainya.


“Masuk dan bantai mereka dengan cepat” titah Kim pada anak buahnya.


Mendapat perintah itu, mereka semua masuk dan terdengarlah suara peluru yang saling beradu sama lain. Sementara Kim, ia memilih untuk fokus ke bangunan yang ditunjuk oleh Albert sebagai tempat penyekapan.


“Eee KIM!! Mau kemana kau?” Seseorang tiba-tiba berteriak dan suara itu berasal dari depan sana.


Kim tersenyum miring, kala mendapati sosok yang berdiri didepan sana.


“Oh Hy Andra.. kau masih hidup rupanya. Aku kira kau sudah mati kelaparan” nada penuh ejekan Kim layangkan dan berhasil mengundang amarah Andra.


“Aku tidak akan hancur semudah itu Kim!! Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja setelah semua yang kau lakukan padaku” geram Andra kala ingatan tentang masa lalu kembali berputar.


“Hahaha benarkah!” Kim tertawa lepas, membuat emosi Andra semakin meledak.


“Tertawa lah Kim, karena setelah ini kau tidak akan pernah tertawa lagi. Jane, wanita itu ada bersamaku” sontak kalimat yang di ucapkan Andra, membuat Kim terdiam dan menatap tajam ke arahnya.


“Jangan sentuh wanita ku Andra, aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah jika kau berani menyentuhnya bahkan seujung kuku pun” aura gelap mulai menyelimuti Kim dan Andra dapat merasakan itu.


“Hahaha.. bagaimana jika aku beri kau sebuah penawaran. Wanitamu akan baik-baik saja, dengan syarat kau menyerah dan bersujud lah padaku” Andra tersenyum penuh kemenangan.


“Simpan penawaran mu Andra, jika kau berani, hadapi aku sekarang” Kim menolak penawaran itu.


“Sayang sekali. Tapi tidak apa, aku rasa bertarung denganmu jauh lebih baik! Tapi bagaimana jika bertarung dengan benda ini saja, aku rasa akan lebih menantang” Andra menunjuk sebuah pedang yang dipegang oleh anak buahnya. Andra merasa percaya diri, mengingat ia cukup pintar menggunakan benda itu.


“Ide yang bagus”

__ADS_1


Tanpa basa basi, Andra melemparkan sebuah pedang ke arah Kim dan berhasil ditangkap olehnya.


“Bersiaplah menerima kekalahanmu Kim!”


“Jangan banyak bicara Andra, itu akan membuang banyak tenagamu”




“Ooiii.. aku haus” Jane bersuara, memanggil wanita yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


Natcha melirik sejenak, namun begitu malas untuk menoleh apalagi menyahut.


Ditempat ini hanya ada mereka berdua, Andra memerintahkan Natcha untuk menjaga Jane karena dirinya berserta anak buahnya akan menyerang Kim jika lelaki itu masuk ke dalam perangkap.


“Hy wanita gila, apa kau tuli? Aku haus” Jane berteriak ke arah Natcha, membuat wanita itu melotot marah.


“Siapa yang kau panggil wanita gila Hah?” Natcha berdiri sembari berkacak pinggang, menatap marah ke arah Jane.


“Memangnya siapa lagi yang ada di ruangan ini selain kau?!” Jane tersenyum jahil, menbuat Natcha melangkah ke arahnya dengan ekspresi marah.


PLAK!!


Tamparan keras kembali Jane terima dan membuatnya meringis, kala rasa perih itu membekas di pipinya.


“Kau wanita lemah! Kau hanya berani menamparku saat aku tidak bisa berbuat apa-apa” bukannya menangis, Jane menatap Natcha dengan tatapan remeh.


“Benarkah? Bagaimana jika kita bertarung dan lihat siapa yang lemah disini” tantang Jane


Natcha terdiam sejenak, ia nampak berpikir dengan tantangan yang di layangkan oleh Jane.


“Ada apa Hah?! Kau takut?” Jane berusaha untuk menekan Natcha, ia rasa rencana ini akan berhasil.


“Si-siapa yang takut..”


“Aku yakin kak Andra tidak akan marah jika aku melepaskan wanita ini! Toh nantinya aku akan memberi wanita ini pelajaran” batin Natcha.


Dengan sigap Natcha mendekat, melepaskan tali yang mengikat tangan Jane.


“Baiklah, ayo bertarung denganku” Natcha sudah berhasil melepaskan ikatan Jane, lalu ia berdiri tepat di hadapannya.


Jane tersenyum sinis, perlahan ia meregangkan kedua tangannya dengan posisi yang masih duduk di atas kursi.


“Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk kalah! Jaga baik-baik bokongmu nona!” Tanpa basa basi Jane langsung melayangkan sebuah serangan.


BUGH!!


“Aakkhhh…” Natcha terhempas kala tendangan keras Jane layangkan ke arah perutnya secara tiba-tiba.


“Uuppss maaf, aku kira kau sudah siap” Jane berdiri tepat di hadapan Natcha yang tengah meringis kesakitan memegangi perutnya.

__ADS_1


“Sial! Kenapa wanita ini sangat cepat” batin Natcha.


Tanpa banyak orang tahu jika Jane adalah mantan atlet Bela diri ketika di bangku sekolah dulu. Maka tidak heran mengapa ia begitu cepat melayangkan pergerakan dan terkesan kuat.


“Berdirilah! Itu baru pemanasan saja” ujar Jane lagi, dengan nada ejekan.


Natcha semakin jengkel dibuatnya, tangannya terkepal kuat dan menatap marah ke arah Jane. Tentunya mata Jane tak henti memperhatikan setiap pergerakan yang dibuat oleh Natcha, termasuk tangan yang berusaha mengais sesuatu.


“Berhentilah menggaruk pasir atau semacamnya karena tempat ini beralaskan keramik jika kau lupa” Jane tertawa pelan, melihat ekspresi jengkel Natcha.


“Aarrgghhh wanita ini benar-benar” Natcha berteriak malu dalam hati, bagaimana Jane tahu maksud dari gerakan tangannya. Bodohnya ia lupa jika tempat ini beralaskan keramik dan mana mungkin ada pasir.


Natcha berdiri dengan cepat, tanpa aba-aba langsung menyerang Jane. Namun tidak semudah yang ia bayangkan, Jane berhasil menghindari setiap serangannya. Jane tidak menangkis ataupun membalas serangan Natcha, yang ia lakukan hanya menghindar dan menghindar.


“Hah..Hah..” Natcha mulai kehabisan tenaga, sehingga ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat sebentar.


“Sudah selesai? Bagaimana jika sekarang aku yang menyerang” setelah mengatakan kalimat itu, Jane mulai melayangkan serangan.


Natcha mencoba menghindar seperti yang dilakukan oleh Jane sebelumnya, namun dirinya tidak bisa secepat Jane.


PLAK!!


BUGH!!


PLAK!!


Tamparan, pukulan, tendangan, silih berganti Natcha dapatkan. Di wajah, perut, kaki, semua bagian tubuhnya tidak luput dari serangan Jane. Darah segar bahkan mulai mengalir dari ujung bibirnya, sepertinya itu karena robekan kecil yang terjadi disana.


“Aaakhhh!!!” Pekik Natcha ketika rambut panjang dijambak dengan begitu erat oleh Jane.


“Lepaskan aku wanita sialan” teriak Natcha sembari meringis menahan sakit.


“Jika kau berpikir aku adalah wanita lemah, maka kau salah besar! Jika kau lupa, Aku adalah istri dari seorang Kim Nan, sosok kuat yang tak akan terkalahkan. Untuk menjadi pendampingnya maka aku harus menjadi sosok yang kuat seperti dirinya!” Bisik Jane di telinga Natcha.


“Terima kasih telah membantuku melepaskan diri! Setelah ini kau harus mengasah kemampuanmu sebelum bertemu denganku lagi” imbuhnya, sebelum benar-benar mengakhiri pertarungannya.


BUGH!!


“Aakhhhh..” Jane memukul leher bagian belakang Natcha, membuat wanita itu tak sadarkan diri. Jane hanya membuatnya pingsan, ia tidak akan sampai membunuhnya karena itu bukan hal yang pantas dilakukan.


Setelah itu, Jane memutuskan untuk mencari jalan agar bisa keluar dari tempat itu. Meskipun tubuhnya terasa lemas karena kekurangan cairan, Jane tetap berusaha berjalan demi bebas dari tempat ini.


Bersambung….


Tandai kalau typo ya,


Bener2 berusaha keras biar cerita ini bisa terselesaikan dengan alur yang memang sudah ada. Maaf jika kalian menunggu lama, tapi aku benar2 sibuk dan sulit membagi waktu. Mungkin ini cerita terakhirku dan akan fokus dengan pekerjaan. Sepertinya yang aku bilang, aku sangat sulit membagi waktu.


Terima kasih untuk kalian yang selalu setia membaca karyaku, dari yang pertama sampai yang terakhir.


Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan karya ini sesuai dengan alurnya.

__ADS_1


*Love you guys**😍*


__ADS_2