![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...✨Happy Reading✨...
•
•
1 bulan kemudian…..
Waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, namun Kim masih setia berada di tempat tidur, sembari menatap semestanya yang begitu indah walau sedang terlelap.
Keadaannya sudah benar-benar pulih, bahkan dia sudah kembali beraktivitas seperti biasa sejak 1 minggu yang lalu. Tidak perlu merasa heran, luka seperti itu sudah biasa ia dapatkan, mengingat pria ini adalah seorang mafia.
“Eenngghh…” lenguhan kecil terdengar, sepertinya tidur gadis itu sedikit terganggu karena wajahnya tak henti di beri sentuhan.
Mata indah itu mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan sinar matahari yang memaksa masuk melalui celah gorden.
CUP!!
“Good morning baby..” suara serak khas bangun tidur serta kecupan singkat mendarat di bibir tipisnya, menyambut pagi seorang Jane.
Gadis itu tersenyum, tangannya terangkat untuk menyentuh wajah tampan dengan rahang tegas milik pria yang begitu ia cintai.
“Good morning daddy..” sapa Jane dengan suara yang terdengar sexy di telinga Kim serta senyum manis yang ia miliki.
“Wow.. Jangan memancingku Jane! Ini masih pagi jika kau lupa.” Tangan kekar itu meraih pinggang ramping sang istri dan membawa kedalam pelukannya. Ini kali pertama Jane memanggilnya dengan sebutan itu, membuat Kim merasa sedikit tergoda.
“Hey ada apa?! Aku hanya memanggilmu Daddy”
“Tapi itu terdengar sangat sexy, kau tahu. Hari ini aku tidak ingin bekerja kalau begini” Kim semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk Jane, menghirup dalam-dalam aroma khas dari istri tercintanya.
“maka jangan pergi.” Jane mengelus rambut Kim dengan lembut, membiarkan sosok yang terkenal dingin itu, untuk bersikap manja padanya.
Kkrryyuukkk!!!
Kim mendongakkan kepalanya, menatap bingung ke arah Jane. Sedangkan wanita itu hanya terkekeh geli, melihat ekspresi Kim.
“Kau lapar baby?” Tanya Kim dengan nada manja yang akan terdengar aneh di telinga orang lain.
Jane mengangguk dan membawa tangan Kim untuk menyentuh perutnya yang mulai berisi.
__ADS_1
“Kau lupa jika ada malaikat kita disini.” Bisik Jane yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Kim.
“Sepertinya dia ingin memakan sesuatu” imbuhnya lagi
“Jadi katakan, apa yang ingin kalian makan pagi ini? Aku akan meminta Aroon untuk menyiapkannya” balas Kim dengan wajah yang begitu antusias.
Bukannya merasa senang, eskpresi wajah Jane tiba-tiba berubah sendu. Bahkan mata yang sejak pertama begitu cerah, kini redup dan hampir menangis. Entah mengapa setiap mendengar nama pria yang menjadi tangan kanan sang suami, perasaan kesal itu selalu muncul di hati Jane. Sudah 1 bulan sejak Nik bercerita tentang kejadian itu, Jane tidak pernah mau untuk bertemu atau bahkan berinteraksi dengan Aroon.
“Oh Hey.. ada apa? Kenapa tiba-tiba bersedih?” Kim menangkup wajah Jane dan menatapnya tulus.
“Aku teringat Nik.. hiks!” Akhirnya ibu hamil itu menangis.
“Ada dengan Nik?”
Jane menatap sang suami cukup lama, apakah ini saatnya Jane bercerita dan meminta bantuan sang suami?
“Mau kah kau berjanji sesuatu padaku?” Tanya Jane dengan tatapan memelasnya, dan tentu saja Kim mengangguk tanpa ragu.
“Setelah aku menceritakan sesuatu padamu, bisakah kau membantuku dan ikuti rencanaku?” Tanya Jane lagi yang tentunya akan dituruti oleh Kim.
Jane akhirnya mulai bercerita tentang semua hal yang ia dengar dari sahabatnya itu. Bahkan rasa sedih yang dirasakan oleh Nik, ia tumpahkan di depan sang suami. Ini juga salah satu cara agar Kim tidak akan bisa menolak permintaannya nanti.
“Hhmm.. maaf baby. Aku tidak bermaksud membela Aroon. Hanya saja, ia pasti memiliki alasan untuk penolakannya itu. Namun kau tidak perlu khawatir, aku akan mencoba berbicara padanya.” Ujar Kim setelah mendengar semua cerita dari sang istri.
•
•
“Duduklah Ar..” titah Kim yang tengah duduk di balkon ruangan kerjanya.
Aroon mengangguk setuju, awalnya ia merasa ragu namun kalimat yang keluar dari bibir seorang Kim adalah sebuah perintah baginya. Mau tidak mau ia melangkah menuju kursi kosong yang sepertinya memang disediakan untuknya. Pria itu mendaratkan bokongnya perlahan, gestur tubuhnya terlihat masih kaku. Rasanya sangat berbeda saat mereka sedang bekerja dan saat santai seperti ini.
“Minumlah tehnya selagi masih hangat..” ujar Kim lagi tanpa melirik ke arah bicaranya.
“Baik Khun Kim” Aroon terlihat semakin tegang, entah mengapa ia merasa takut jika menghadapi Kim dalam mode santai seperti ini.
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa sangat tegang?!” Kim tertawa pelan sembari meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.
“Entah Khun Kim, maaf saya tidak terbiasa berada dalam situasi seperti ini. Terasa sedikit aneh ” jawab Aroon jujur.
__ADS_1
Kim melirik Aroon sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangannya lurus kedepan.
“Terkadang, kita harus bersiap menghadapi situasi yang berbeda Ar. Lalu coba untuk beradaptasi dengan keadaan itu.”
Aroon menatap tuannya sejenak, merasa sedikit aneh dengan kalimat yang dikatakan oleh Kim. Namun ia tak menjawab apapun, pria itu memilih diam dan membiarkan tuannya berbicara lagi.
“Aku pun pernah merasakan hal itu ketika bertemu dengan gadis yang tiba-tiba memaksa masuk ke dalam kehidupanku. Rasanya aneh bahkan sangat aneh untuk diriku yang sudah terbiasa hidup seorang diri. Aku dulu berprinsip untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam kehidupanku, karena tak ingin membahayakan mereka dan merasakan lagi kehilangan orang yang aku sayangi. Namun perlahan semua itu berubah karena Jane..”
“……”
“Dia berhasil mengikis habis prinsip yang aku pegang teguh sejak kehilangan keluargaku. Awalnya aku ingin menolak dan terkesan tidak mau tahu. Aku tidak mau menyeretnya masuk kedalam dunia gelap dan berbahaya. Namun perlahan wanita itu terus memberi perasaan aneh yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sesuatu yang sejak awal membuatku tidak nyaman, namun pada akhirnya bisa membuatku untuk mencoba menerima dengan semua pertimbangan yang ada….” Kim menjeda kalimatnya dan melirik sejenak tangan kanannya yang terlihat begitu serius mendengarkannya.
“Dan sejak saat itu, pikiranku terbuka Ar. Aku sadar jika ketakutan yang kita rasakan, membuat kita buta dan sulit melihat dunia luar yang ternyata tidak seburuk itu. Satu hal yang aku bisa simpulkan, mereka yang memang menyerahkan dirinya untuk kita miliki, tidak akan pernah takut akan hal buruk yang bisa saja terjadi pada diri mereka. Seperti halnya Jane-ku, dia tahu persis bagaimana kehidupanku dan seberbahaya apa jika tetap bersamaku, namun dia memilih untuk tinggal dan menyerahkan semua hidupnya padaku. Bukan karena ingin membebaniku, itu karena dia percaya jika aku adalah orang yang bisa melindunginya” Kim mengambil sesuatu dari sakunya dan meletakkan ke atas meja.
Sebuah kertas kecil berbentuk persegi panjang, dan itu membuat Aroon mengernyit bingung.
“Pasangan itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Jika kita adalah sosok yang kuat, begitu pula dengan pasangan kita.”
“Kau hanya memiliki waktu 5 menit untuk memutuskan pilihanmu Ar. Jane bilang, pesawatnya akan berangkat 40 menit lagi. Perjalanan ke bandara dari mansionku sekitar 25 menit, waktumu tidak banyak” Setelah mengatakan kalimat itu, Kim berdiri dan melangkah pergi. Namun sebelum itu ia berhenti sejenak dan menepuk pelan bahu lelaki yang masih terlihat bingung.
“Memiliki seseorang untuk berada di sisi kita, tidaklah semenakutkan itu.” Ujar Kim, sebelum benar-benar pergi meninggalkan Aroon.
Setelah tuannya pergi, Aroon perlahan meraih kertas itu dan membacanya dengan serius.
“Jane maaf aku tidak sempat berpamitan padamu. Aku harus pergi sejauh mungkin bersama malaikat kecilku, memulai semuanya dari awal dengan kehidupan baruku. Kau tidak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja. Jaga diri dan keponakanku disana, aku harap kita akan bertemu lagi nanti. Meskipun aku tidak tahu kapan..”
^^^Aku menyayangimu^^^
^^^Nik^^^
Untuk beberapa saat Aroon masih mencoba untuk mencerna semua isi surat itu.
Apakah semua kalimat yang tuannya katakan tadi untuk dirinya?
Itu berarti tuannya sudah tahu tentang dirinya dan Nik?
Dan tunggu, malaikat kecil? Pergi?
Jadi Nik benar-benar hamil dan bukan hanya kata semisal, seperti yang ia katakan waktu itu.
__ADS_1
“Sial!!” Umpat Aroon ketika sebuah fakta menamparnya dengan begitu kuat.
Bersambung….