Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 63


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




Suasana pagi di mansion besar milik Kim sedikit berbeda pagi ini. Sang istri yang biasanya akan kembali tidur setelah drama morning sicknessnya, kini terlihat sibuk di dapur dengan peralatan masaknya. Bahkan wajah yang biasa pucat saat dipagi hari itu, nampak bugar dan berseri.


“Jane, sedang apa Hhmm??” Kim yang masih menggunakan piyama tidur berwarna pinknya, tiba-tiba datang dan memeluk sang istri dari belakang.


Jangan tanya kenapa Kim memakai piyama warna pink, karena kalian pasti sudah tahu jawabannya.


“Aku membuatkanmu sarapan” jawabnya sembari tersenyum manis.


Cup!!


“Morning kiss” kecupan singkat Kim hadiahkan untuk Jane yang terlihat begitu bersemangat pagi ini,


“Jane mana morning kiss ku” rengek Kim karena sang istri ternyata tidak membalas ciumannya.


“Kim, pergilah mandi dan kita sarapan bersama.” Alih-alih memberi sebuah kecupan, Jane malah mengusirnya sekarang.


Tentu saja Kim tidak suka, dengan cepat ia memutar posisi tubuh Jane agar berhadapan dengannya.


“Oh Heyy!!” Pekik Jane sedikit terkejut dengan pergerakan Kim yang tiba-tiba.


“Jane…” Kim masih merengek, bahkan ia tengah memasang wajah cemberut sekarang. Kaki nya juga menghentak gemas sekarang.


“Oh My god, bayi besarku ini”


Cup!! Cup!! Cup!!


Bukan hanya satu, Jane menghadiahkan 3 kecupan sekaligus yang berhasil membuat Kim tersenyum penuh kemenangan.


“Lagi..disini belum..” pinta Kim sembari menunjuk bagian bibirnya.


Jane memutar bola matanya malas, ia tidak mungkin menolak karena Kim pasti tidak akan menyerah.

__ADS_1


Cup!!


Seperti permintaan Kim, ia mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipis sang suami. Namun Didetik berikutnya, Jane menyadari jika ini adalah sebuah jebakan. Sudah terlambat baginya untuk menghindar karena Kim tengah ******* habis bibirnya. Mau tidak mau, Jane mengikuti permainan sang suami. (Eleh bilang aja keenakan😒)


“Terima kasih untuk tambahan energi pagi ini” ujar Kim setelah melepaskan ciumannya.


Jane mengangguk, wanita itu nampak tersipu sekarang karena suaminya tengah menatapnya lekat.


“Pergilah mandi, kau bisa terlambat bekerja nanti” Jane mencoba untuk menjauhkan tubuh kekar itu dari tubuhnya, namun ternyata tenaganya tidak cukup.


“No! Aku tidak bekerja hari ini” seru Kim dengan nada penuh suka cita.


“Kenapa?”


“Aku mengambil cuti. Setelah selesai mengantar Aroon menemui calon mertuanya, aku akan segera pulang dan menghabiskan waktu bersamamu”


Cup!


Pria ini terlihat begitu antusias, namun bukan itu yang membuat Jane penasaran. Apa katanya tadi? Mengantar Aroon menemui calon mertua? Itu berarti kedua orang tua Nik?


“Tunggu, bertemu calon mertua? Maksudmu, Nik sudah menerima Aroon?” Tanya Jane dengan ekspresi yang begitu penasaran.


“Hhmm.. Aroon bilang mereka sudah sepakat untuk menikah. Dan hari ini, dia memintaku untuk menjadi walinya” jelas Kim


Jane mengangguk, ternyata rencana yang ia susun waktu itu menghasilkan buah yang begitu manis. Ia ikut senang, setidaknya sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaan.


“Aku ikut senang. Jam berapa kalian akan pergi? Apakah Nik ikut?” Tanya Jane lagi


“Aku tidak ikut. Aku akan menunggu disini saja..” seru seseorang yang baru saja tiba. Membuat Jane mendorong tubuh Kim karena ia malu jika sampai dilihat dengan posisi seperti ini. Sedangkan Kim, pria itu terlihat santai-santai saja.


“Jane, apa kau tidak merindukanku?” Rengek Nik yang masih berdiri di depan sana.


“Tentu saja bodoh! Kau yang tidak merindukanku!” Balas Jane sembari melepas apron berwarna hitam yang melekat pada tubuhnya.


Jane melangkah dengan hati-hati untuk menghampiri wanita yang selama satu minggu ini tidak menghubunginya sama sekali. Begitu juga Nik yang tengah merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menyambut jane.


“Saking senangnya, kau sampai melupakanku Nik!” Jane memeluk tubuh sahabatnya itu dengan cukup erat. Ia benar-benar rindu sekaligus merasa khawatir.

__ADS_1


Nik tentu saja membalas pelukan hangat itu, ia juga tersenyum sekarang, saat bibir jane tak henti mengomel di telinganya.


“Maaf, aku sangat sibuk mengurus pengunduran diriku dan tidak sempat memegang ponsel. Aku sangat rindu padamu Jane, maka dari itu aku datang kemari” jelas Nik


Jane melerai pelukannya dan menarik Nik untuk mengajaknya duduk di sofa, meninggalkan dua lelaki yang merasa kehadirannya tidak dihiraukan lagi.


“Selamat pagi Khun Kim” sapa Aroon


“Kenapa kau datang sepagi ini, Hah?! Bukannya kau bilang akan pergi jam 10 nanti?” Gerutu Kim yang merasa cemburu karena diabaikan begitu saja ketika Nik datang.


“Maaf Khun Kim. Ini permintaan Nik, dia ingin datang lebih awal karena merindukan Khun Jane” jawab Aroon jujur. Meskipun ia tahu tuannya itu tidak akan suka, namun Aroon tidak bisa berbuat apa jika kekasihnya itu sudah meminta sesuatu.


Tingkat kebucinan Aroon sudah sangat tinggi, terlebih setelah tinggal selama satu minggu bersama wanitanya. Nik yang begitu menggemaskan dan selalu to the point, membuat Aroon semakin jatuh cinta pada sosok yang akan menjadi istrinya dalam 1 bulan kedepan. (Direstui aja belum, udah kepedean😜)


“Kenapa tidak kau tolak saja” protes Kim


“Maaf Khun Kim, saya tidak bisa menolak permintaan Nik. Terlebih jika hal itu menyangkut calon anak saya” Aroon kembali menjawab dan membuat Kim semakin kesal.


“Hah, kau sangat bucin Ar” ledek Kim


“Saya belajar dari anda Khun Kim” balas Aroon, membuat Kim tidak percaya. Sejak kapan Aroon menjadi pintar menjawab seperti ini.


“Jadi apakah kau sudah siap untuk bertemu calon mertuamu?” Tanya Kim, membuat wajah Aroon kini berubah tegang.


“Saya sedikit gugup Khun Kim” jawabnya jujur.


“Tidak usah gugup. Santai saja Ar, sama seperti aku waktu itu. Cukup tundukkan kepalamu dan berbicara lah dengan lembut dan sopan. Kau tidak ingat, aku bahkan pernah ditampar oleh ibunya Jane, meskipun pada akhirnya aku menjadi mantu kesayangan. Tapi khusus untukmu, sebaiknya persiapkan diri, bisa saja ayahnya Nik mengamuk. Mengingat, Nik sudah menceritakan semua kejadian itu, termasuk saat kau menolaknya.” ucap Kim.


Aroon yang tadi terlihat gugup, nampaknya semakin gugup sekarang. Dia memang sudah biasa menghadapi bahaya, peluru atau pun pisau, benda-benda itu tidak menakutkan sedikit pun. Namun akan terasa berbeda jika berhadapan dengan kedua orang tua Nik.


“Kau tunggulah disini. Aku akan bersiap-siap dulu..” Kim hendak pergi dari tempat itu, namun ia tiba-tiba berhenti dan menepuk pundak Aroon perlahan.


“ Jika perlu, pakai baju anti peluru. Aku dengar, ayah Nik seorang mantan polisi militer” bisik Kim, lalu pergi begitu saja setelah membisikkan kalimat terakhirnya.


Aroon tertegun sekarang, apakah mungkin ayah Nik akan menembaknya nanti? Jika benar, ia akan menyiapkan diri untuk itu. Dilukai sedikit tidak apa bukan? Yang terpenting ia bisa mendapatkan restu, pikirnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2