Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 66


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




Setelah keributan kecil di depan rumah, Somporn akhirnya mengajak kedua tamu pentingnya untuk duduk saling berhadapan di ruang tamunya. Tiga cangkir kopi panas menjadi teman hangat untuk menemani perbincangan mereka beberapa menit ke depan.


Suasana terasa sedikit canggung, terlebih bagi pria yang kini berhadapan langsung dengan ayah serta ibu dari calon istrinya.


“Baiklah tuan Somporn, aku akan langsung menyampaikan apa yang menjadi tujuanku kemari. Disini aku berlaku sebagai wali untuk Aroon, yang dimana dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Aku tidak henti-hentinya meminta maaf untuk kesalahan yang dilakukan olehnya. Anda berhak untuk marah dan kecewa padanya, tapi bisakah aku meminta pada anda untuk mendengarkan alasan dibalik semua itu? Dan setelahnya anda bisa memutuskan apapun yang terbaik menurut anda nanti” Kim menatap pria tua itu dengan serius. Kalimat yang diucapkan olehnya terdengar begitu dalam, hingga Aroon tertegun dibuatnya.


Somporn menyondongkan tubuhnya kedepan, membalas tatapan Kim tak kalah serius.


“Tentu Khun Kim. Meskipun saat ini saya merasa marah, namun tidak bisa dipungkiri jika saya merasa penasaran dengan alasan dibalik semua itu. Dengan senang hati saya dan istri akan mendengarkannya” Somporn kini mengalihkan pandangan ke arah pria yang duduk di samping Kim. Matanya menelisik setiap inci dari pria yang akan menjadi menantunya nanti.


Kim mengangguk dan beralih menatap sang sekretaris, memberi isyarat padanya agar memulai pembicaraan.


“Terima kasih tuan Somporn, karena anda masih bermurah hati untuk memberi saya kesempatan. Sebelumnya saya ingin meminta maaf untuk kesalahan yang telah berlalu. Seperti yang anda katakan, saya seorang pria pengecut dan itu memang benar adanya. Namun anda harus tahu, jika saya benar-benar mencintai putri anda…”


“Lalu kenapa kau menolak dan mencampakkannya begitu saja..” potong Milk dengan sorot mata tajam.


Somporn melirik ke arah samping, meraih tangan sang istri dan mengelusnya lembut. Seolah mengatakan pada wanita itu agar tetap tenang dan membiarkan Aroon berbicara terlebih dahulu.


“Rasa takut kehilangan, hal yang selalu membuat saya takut untuk memulai apapun itu yang berhubungan dengan rasa cinta dan kasih sayang. Tanpa perlu saya jelaskan lagi, tuan Somporn pasti tahu bagaimana kehidupan yang saya jalani. Bahaya dan musuh selalu mengintai setiap saat dan sangat sulit untuk di hindari. Sebelumnya saya bertekad untuk tidak jatuh cinta pada wanita manapun, dengan tujuan agar saya tidak pernah merasakan sakitnya kehilangan.”


“……..”


“Namun tembok yang saya bangun dengan susah payah itu akhirnya runtuh karena kehadiran Nik. Dia wanita yang apa adanya dan sangat mudah mengekspresikan perasaannya. Entah apa yang membuat saya jatuh cinta padanya, yang jelas setiap saya bertemu dengannya, jantung ini berdetak lebih cepat”


Blush, pipi Aroon terasa panas sekarang. Aroon tidak pernah berbicara sepanjang dan sedetail ini sebelumnya, namun demi restu dari sang calon mertua, dia akan lakukan apapun itu.


“Lalu apa yang membuat dirimu pada akhirnya menerima putriku?” Nada Somporn terdengar tenang, begitu juga dengan wajahnya yang teduh. Tidak ada raut wajah marah lagi disana, berbeda dengan sang istri yang masih kesal.

__ADS_1


“Saya berhasil melawan semua ketakutan itu. Dan ini berkat bantuan dari sepasang suami istri yang begitu saya hormati. Dari mereka saya bisa melihat bagaimana luar biasa kekuatan cinta serta keyakinan. Seseorang yang saya kenal dingin dan tidak mau berhubungan dengan siapapun, nyatanya takluk karena sebuah rasa cinta. Dan itu yang tengah saya rasakan saat ini.” Samar-samar, sebuah senyuman terbit di bibir Aroon tanpa pria itu sadari. Kilasan tentang hari-harinya bersama Nik melintas begitu saja saat ini.


“Jadi, apakah anda merestui hubungan mereka tuan Somporn?” Potong Kim, ia tak mau mengulur waktu lebih banyak lagi. Karena pria ini sudah rindu dengan istri tercintanya.


“Tidak ada alasan untuk saya menolak Khun Kim. Putri saya begitu mencintai pria pengecut ini. Akan sia-sia jika saya menolaknya, karena mereka pasti tetap bersama. Bukan begitu?” Somporn melirik ke arah Aroon, yang dibalas dengan anggukan kepala yakin olehnya.


“Apapun akan saya lakukan asalkan bisa bersama putri anda” sahut Aroon dengan tegas. Membuat wajah yang nampak begitu serius itu akhirnya tersenyum.


“Bagus! Aku suka semangatmu anak muda” puji Somporn


“Hah.. selesai. Tanpa mengurangi rasa hormat ku pada anda. Mohon maaf, aku harus segera kembali tuan Somporn karena istriku pasti sudah sangat rindu. Untuk acara pernikahannya , kau bisa bicarakan dengan Aroon nanti. Aku akan mengundang anda secara khusus untuk datang ke mansionku ” Ujar Kim dengan gamblang. Membuat Somporn sedikit terkejut dengan kalimat yang di ucapkan oleh pria dingin ini.


“Baiklah Khun Kim. Terima kasih sudah bersedia menyambangi rumah saya yang sangat sederhana ini.” Balas Somporn yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Kim.


Kim dan Aroon kompak berdiri, begitu juga dengan Somporn beserta sang istri.


“Kami permisi tuan somporn” Kim hendak melangkah pergi dari rumah itu, namun entah mengapa Somporn menghentikan langkah mereka.


“Ada apa tuan Somporn?” Tanya Kim yang kini kembali menatap pria tua itu.


“Ijinkan saya menyapa calon menantu kami terlebih dahulu. Tidak akan lama” pinta Somporn yang membuat Kim kebingungan. Bukankah tadi mereka sudah berbicara?


Kim menggidikkan bahunya, menatap ke arah Aroon sejenak lalu mengangguk setuju.


“Tentu, silakan”


Somporn mengangguk senang dan berjalan ke arah Aroon dengan wajah yang sumringah. Senyum itu terlihat begitu tulus dan tentu saja Aroon ikut membalas dengan senyum yang ia punya. Tangan yang sudah dilapisi kulit keriput namun terlihat masih kekar itu, menepuk pundak Aroon pelan.


“Selamat datang di keluarga kami nak Aroon”


BUGH!!


“Uuhhuukk!! Uuhhuukk!!”

__ADS_1


“Somporn” pekik Milk, wanita tua itu terkejut dengan apa yang dilakukan sang suami.


Kim sedikit tercengang, namun setelahnya hanya bisa tersenyum mengejek melihat Aroon yang kini terlihat menahan sakit di bagian perutnya.


Sedangkan Aroon, pria itu hanya bisa terdiam setelah mendapat satu pukulan yang cukup kuat di bagian perutnya. Ia sudah pernah mendapat pukulan seperti ini, dan rasanya tidak ada apa-apanya. Namun pukulan ayah mertuanya ternyata lumayan kuat, tubuhnya bahkan sedikit terhyung kebelakang setelah kepalan tangan itu mendarat tanpa memberi isyarat terlebih dahulu.


“Wahhh!! Anda masih cukup kuat ternyata tuan Somporn” puji Kim yang masih tersenyum mengejek.


“Ini belum terlaku kuat Khun Kim. Nik meminta agar jangan terlalu kuat, jadi sebagai ayah yang baik, saya melakukannya dengan pelan” jawab Somporn dengan enteng.


PLAK!!


Suara nyaring kini terdengar dan itu bersumber di lengan Somporn.


“Aku akan adukan ke Nik jika kau memukul menantuku dengan sangat keras” omelnya yang dengan kasar menepis tangan Somporn yang masih bertengger di pundak Aroon.


“Kau baik-baik saja nak Aroon?” Tanya Milk dengan wajah khawatir.


Aroon tertegun, kepala yang sejak tadi tertunduk menahan nyeri dibagian perutnya, kini mendongak dan menatap sang ibu mertua.


“Sa-saya baik-baik saja nyonya” jawab Aroon sembari membenarkan posisinya.


“Panggil Ma saja” balas Milk yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Aroon serta senyum tulus.


“Terima kasih Khun Kim, saya rasa sudah cukup untuk menyapa menantu saya ini. Semoga anda selamat sampai tujuan, sampaikan salam saya pada Jane.” Somporn menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya.


“Tentu tuan Somporn.”


“Ayo Ar.. kau masih sanggup berjalan bukan?” Ajak Kim


Aroon mengangguk pelan, tidak lupa ia menundukkan kepalanya untuk berpamitan kepada kedua calon mertuanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2