Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 59


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




“Kau terlihat sangat bahagia baby” seru lelaki dengan segelas susu coklat ditangannya. Ia melangkah pelan menuju sofa berwarna abu-abu yang terletak di ujung kamarnya, menghampiri wanitanya yang sudah duduk dengan tenang disana.


Jane terlihat begitu berseri sekarang, padahal beberapa jam yang lalu ia menangis sesenggukan. Dan tentu saja semua ini karena rencananya berhasil, berkat bantuan sang suami.


“Sekarang beri aku hadiah” Kim menyondongkan wajahnya ke depan, memberi isyarat kepada wanitanya agar memberi sebuah kecupan singkat.


CUP!!


“Terima kasih daddy” tanpa ragu sedikit pun, Jane mendaratkan kecupan di bibir tipis sang suami. Bahkan dia memberi bonus di kedua pipi dengan rahang tegas itu.


“Kau sudah senang sekarang?” Kim mendaratkan tubuhnya tepat di samping Jane, menjadikan lengannya sebagai sandaran untuk kepala sang istri.


“Sangat senang. Tidak diragukan lagi, Aroon pasti mencintai Nik juga, jika dilihat dari kecepatan mobilnya barusan” Jane tertawa pelan, kala mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Mobil hitam milik Aroon melaju dengan kencang meninggalkan Mansion, layaknya seorang pembalap.


Kim tersenyum miring “Aku harap dia tidak membuat kekacauan.”


“Aku sudah tidak sabar mendengar cerita Nik nanti. Oouuuu.. aku sangat ingin mengikutinya, agar bisa melihat langsung bagaimana Aroon memohon pada Nik! Cckk pasti sangat seru” Jane jadi heboh sendiri dan tentu saja Kim senang melihatnya.


Kenapa bahagia Jane begitu sederhana?


Melihat Aroon yang panik seperti itu saja, istrinya ini sudah senang. Bagaimana jika Kim membuat Aroon lebih menderita lagi, mungkin Jane akan semakin senang.


“Ide bagus” batin Kim


“Kita bisa menyusulnya jika kau mau” seru Kim


Jane menoleh dengan ekspresi wajah terkejut “No..No, kita tidak boleh menganggu moment mereka. Biarkan saja mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan aku harap kau tidak menganggu Aroon sampai dia kembali”


“Ah, ternyata ide ku tidak bagus” batin Kim lagi.


“Siap yang mulia ratu” jawab Kim dengan lembut, membuat Jane tersipu.




Suasana yang berbeda tengah dirasakan oleh seorang laki-laki yang tengah berjuang mengejar waktu. Tidak ada rasa senang seperti yang dirasakan oleh Jane, hanya ada rasa kesal, panik dan takut di dalam hatinya saat ini.


“Sial, kenapa kalian diam Hah!!” Umpat seorang laki-laki dengan wajah kesal setengah mati.


Sudah hampir 5 menit lamanya, kendaraan di depan sana tak kunjung bergerak. Tangan kekarnya memukul kemudi untuk yang kesekian kalinya, bahkan sesekali ia menekan klakson meskipun tak membuahkan hasil apapun. Matanya juga tak kalah sibuk, melirik jam tangan lalu kembali fokus ke arah depan.

__ADS_1


“AARRGGHH!! Aku tidak bisa diam seperti ini” geraman penuh kefrustrasian terdengar dari bibir seorang Aroon, mengingat waktu yang tersisa tidaklah banyak.


Matanya bergerak panik, mencari jalan pintas yang bisa membawanya untuk sampai lebih cepat. Namun sepertinya tidak ada jalan lain selain jalan utama ini. Hingga sebuah ide terlintas di kepalanya.


“Ini jalan satu-satunya” seru Aroon yang langsung bergegas memarkirkan mobilnya di sebuah restaurant cepat saji. Ide yang sedikit nekat tiba-tiba terlintas di kepalanya, kala melihat beberapa sepeda motor terparkir di depan restaurant itu.


Dengan langkah kaki yang terburu-buru, Aroon menghampiri seorang pegawai pengantar makanan yang tengah bersiap untuk melakukan pekerjaannya.


“Permisi..” sapa Aroon


“Ada yang bisa saya bantu Khun ” balas sang pegawai sembari tersenyum ramah ke arahnya.


“Pinjamkan aku salah satu sepeda motor ini..” pinta Aroon dengan wajah yang semakin panik.


“Maaf Khun ti,.”


“Nah, aku rasa ini cukup untuk membeli dua sepeda motor lagi! Oh atau kau bawa kunci mobilku jika masih merasa ragu! Aku benar-benar membutuhkan benda ini!” Cerca Aroon tanpa memberi sang pegawai kesempatan untuk berbicara. Ia juga meletakkan beberapa lembar uang serta kunci mobilnya di tangan sang pegawai yang tengah kebingungan.


“…” sang pegawai masih terdiam, mencoba untuk mencerna setiap kalimat yang dikatakan oleh Aroon.


“Cckkk!! Kau terlalu lama!” Sentak Aroon, yang langsung meraih kunci sepeda motor dari tangan sang pegawai dan bergegas pergi.


“Khun!! Khun!! Tunggu!!” Teriak sang pegawai kala dirinya tersadar dari lamunan.


Namun sudah terlambat, karena Aroon sudah melesat dengan kecepatan penuh. Memecah kemacetan yang terjadi dengan menyelip di antara mobil-mobil yang tengah terjebak. Tidak dapat dipungkiri jika beberapa kali sepeda motor yang ia kendarai menyenggol spion mobil-mobil itu, sehingga menimbulkan kebisingan karena para pengemudi memencet klakson panjang.


Masa bodo! Pikir Aroon.


Setelah menempuh perjalanan yang penuh dengan drama, Aroon akhirnya sampai di bandara. Tidak mau membuang waktu yang lebih lama lagi, Aroon segera bergegas masuk, meninggalkan sepeda motor yang ia parkir dengan sembarangan.


Ia tidak memperdulikan apapun saat ini, bahkan tatapan aneh orang-orang yang berada disana tak membuatnya gentar sedikit pun.


Aroon kembali melirik jam tangannya, dengan kaki yang masih setia berlari. Beberapa kali ia menabrak serta menyenggol orang yang berpapasan dengannya. Ia hanya bisa menyatukan kedua tangannya sebagai ungkapan permohonanmaafnya.


“Nona maaf, apakah pesawat dengan nomer penerbangan ini sudah berangkat?” Tanya Aroon kepada salah satu petugas bandara dengan napas terengah-engah, sembari menyerahkan foto tiket pesawat.


“Saya akan mencoba untuk memeriksanya Khun. Mohon ditunggu” jawab sang petugas.


Aroon mengangguk dan menunggu disana, tentu saja dengan wajah yang semakin panik.


“Permisi Khun… pesawatnya akan berangkat beberapa saat lagi” ujar sang petugas


“Sial!!” Umpat Aroon


“Eeemm.. bisakah kau menghentikannya?!” Pinta Aroon


“Maaf tidak bisa Khun!” Tentu saja sang petugas menolak

__ADS_1


“Tolonglah! Aku harus menemui seseorang yang kebetulan ada didalam pesawat itu” Aroon masih tetap bersikeras dengan permintaannya yang pasti tidak masuk akal itu.


“Sekali lagi saya minta maaf Khun”


Aroon kesal dan memilih untuk pergi dari hadapan sang petugas. Waktunya akan terbuang percuma jika ia tetap disana dan memohon, karena pasti tidak akan bisa. Ia kembali berlari, kali ini menuju pintu masuk yang akan membawanya ke dalam lapangan lepas landas.


“Kau tidak boleh pergi Nik! Tidak boleh” gumam Aroon


“Kau harus tahu jika aku mencintaimu! Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu!” Imbuhnya, berbicara kepada dirinya sendiri seperti orang gila.


“Kau cinta pertamaku Nik! Aku tidak pernah mencintai siapapun sebelumnya, terkecuali dirimu! Kau harus tahu itu”


“Nik tunggu aku! Ku mohon tunggu aku!!”


Langkah Aroon terhenti lagi, karena tentu para petugas yang berjaga di depan pintu menghalanginya masuk.


“Hey!! Lepaskan aku! Aku harus masuk!” Katanya kepada dua petugas yang berjaga.


“Maaf khun! Pesawat akan segera berangkat, anda sudah tidak bisa masuk lagi!!” Ujar salah satu pegawai.


“Maka dari itu aku harus masuk! Pesawatnya tidak boleh terbang dulu!” Paksa Aroon.


Sepertinya apa yang dikatakan Kim menjadi kenyataan. Sekretarisnya itu mulai membuat kekacauan.


“Maaf tidak bisa Khun!!”


“AKU HARUS MENEMUI SESEORANG YANG ADA DIDALAM SANA!! AKU HARUS MENGHENTIKANNYA!! DIA MAU MENINGGALKANKU!!” Teriak Aroon menggila.


“Maaf khun! Anda sudah terlambat.. lihat pesawatnya sudah berangkat” ujar sang petugas sembari menunjuk ke arah jendela kaca.


Aroon menoleh dan menatap nama pesawat yang sudah lepas landas itu. Nama pesawat itu sama dengan nama pesawat yang tertulis di tiket milik Nik.


“Nik.. kau benar-benar pergi..” lirih Aroon


Dadanya terasa sesak sekarang, kedua kakinya pun lemas, membuatnya meringsut. Rasanya sangat sakit, benar-benar sakit, bahkan mata yang tidak pernah menangis itu, kini terlihat berderai. Bagaimana tidak, ini kali pertama ia jatuh cinta, tapi sudah ditinggal pergi. Meskipun semua terjadi karena kesalahannya.


Apakah ini karma?


Inikah yang dirasakan Nik ketika dirinya menolak untuk berkomitmen dengannya?


Lelaki yang biasanya memasang wajah dingin itu, kini tertunduk dengan kedua lutut menjadi tumpuan. Tubuhnya bergetar, sepertinya ia terisak di sana. Membuat beberapa orang yang melintas, menatap kasian ke arahnya.


“Nik, kenapa kau tidak memberiku kesempatan terlebih dahulu.” Batinnya


Namun ia tak bisa menyalahkan Nik sepenuhnya, karena wanita itu sudah meminta padanya sebanyak dua kali. Dialah yang bodoh disini dan ini hukuman untuknya.


Bersambung….

__ADS_1


Seneng kalian?


Pasti seneng banget kan


__ADS_2