![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
*Holla guys**🤟🏻*
✨Happy Reading✨
•
•
Disinilah mereka bertiga sekarang, diruang tamu mansion Suchart family yang cukup luas. Setelah melepas rasa rindu masing-masing, mereka memilih untuk duduk dengan posisi saling berhadapan, ditambah dengan seorang wanita tua yang ingin mengutarakan niatnya.
“Selamat datang Khun Tha, senang bertemu anda kembali” sapa Hom dengan senyum ramah seperti biasanya.
“Hy bi Hom, aku baik. Bagaimana denganmu”balas Tha, yang dijawab dengan anggukan kepala pelan.
“Jadi, katakan Hom! Apa yang ingin kau sampaikan kepada kami?” Aat berseru, menyela percakapan di antara putra sulungnya dan maid paling setia yang ia miliki.
“Begini Khun Aat, sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada kalian, karena perhari ini saya memutuskan untuk mengundurkan diri” ujar Hom yang berhasil mengundang tatapan penuh tanya dari ketiganya.
“Mengundurkan diri? Kenapa?” Kini Aom yang bertanya.
“Tugas saya sudah selesai Khun Aom. Khun Jane sudah menemukan kebahagiaannya begitu juga dengan Khun Tha yang sudah kembali ke mansion ini. Umur saya juga sudah cukup tua untuk bekerja, sehingga saya memutuskan untuk kembali ke keluarga saya dan mulai menikmati masa tua.” Jelas Hom
“Tapi kenapa begitu mendadak?”
“Tidak mendadak Khun Aom, saya sudah merencakan ini dari jauh-jauh hari. Hanya saja saya masih ragu dengan Khun Jane. Namun ketika melihat secara langsung siapa sosok suami Khun Jane , saya sangat yakin jika Ia sudah menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan saya.” Imbuh Hom, sedikit memberi sindiran kepada ketiganya.
__ADS_1
“Hom.. apakah Jane sesakit itu selama ini?” Aom kembali teringat dengan semua kalimat yang diucapkan oleh putrinya.
“Maaf Khun Aom, saya tidak bermaksud mengingatkan anda tentang kejadian itu..”
“Tidak apa, maukah kau menceritakan semua yang kau ketahui selama ini tentang jane” pinta Aom dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Baby..” panggil Aat yang ingin menghentikan niat sang istri.
“Tidak apa, aku memang harus tahu” balas Aom sembari menatap sang suami dengan lekat. Membuat lelaki itu terdiam.
Hom tersenyum sejenak, sebelum menceritakan kisah yang akan membuatnya ikut mengenang sosok kuat dan tangguh seorang Jane.
“Khun Jane… sejak kecil, ia adalah sosok yang ceria dan juga cerdas. Semua orang tahu itu termasuk anda dan Khun Aat. Saking cerianya, akan sangat sulit untuk membedakan apakah ia sedang baik-baik saja atau tidak….”
“……”
“….”
“Masih banyak dan tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Namun yang jelas, semua itu bisa menggambarkan bagaimana pengertiannya sosok Khun Jane. Hingga hari itu datang, hari dimana untuk pertama kalinya, saya melihat tatapan penuh kekecewaan tersorot jelas di mata Khun Jane. Dengan tega anda menghancurkan mimpinya, mimpi yang dengan bersusah payah ia bangun. Mimpi yang ia harapkan menjadi hadiah atas semua pencapaian serta pengertiannya terhadap kalian berdua. Namun nyatanya kembali dihancurkan. Khun sangat kecewa saat itu”
“…..”
“Bahkan saat kecewa pun, Khun Jane tak melampiaskannya kepada orang lain! Dia melukai dirinya sendiri, menorehkan beberapa luka yang cukup banyak di bagian lengan itu. Saya dapat merasakan sakit itu, saya merasakan sakit yang Khun Jane rasakan dengan sangat jelas..!!” Tenggorokan Hom hampir tercekat, namun dengan sekuat tenaga ia tetap melanjutkan ceritanya.
“…..”
__ADS_1
“Hiks… dia..dia menorehkan pisau kecil itu dengan perlahan dan cukup dalam.. hiks.. dengan wajah tersenyum namun air matanya terus mengalir! Saya tidak melihat eskrepsi kesakitan meskipun sayatan-sayatan itu mengeluarkan darah. Khun Jane terlihat lega ketika melakukan hal itu! Semua terjadi hampir setiap hari dan dilakukan dengan diam-diam! Begitu juga dengan saya yang hanya bisa menyaksikannya dalam diam, melalui layar TV yang tersambung dengan kamera CCTV yang saya pasang secara diam-diam. Demi mengetahui sesuatu yang terjadi didalam sana!….”
“BERHENTI HOM!! Aku tidak sanggup!! Aku mohon berhenti” pinta Aom dengan tubuh bergetar.
“Maafkan saya Khun Aom, namun ada satu hal lagi yang perlu anda ketahui”
Hom melirik ke arah lelaki yang dengan setia memegang pundak sang istri, seakan meminta persetujuan kepadanya untuk melanjutkan cerita.
“Lanjutkan Hom” ujar Aat memberi ijin
“Bahkan setelah semua yang Khun Jane lalukan demi mengikuti keinginan kedua orang tuanya. Ia tidak mendapat sebuah apresiasi ataupun perhatian yang lebih. Dan hal itu yang membuat Khun Jane ingin pergi…”
“Pergi? Ia mengatakan ingin pergi?” Aat menyela kalimat Hom.
“Benar Khun Aat, suatu hari Khun Jane mengatakan jika sangat ingin pergi dari mansion ini. Ia bilang jika merasa sangat tidak nyaman ditempat ini. Dan dihari, dimana Khun Jane mengatakan akan menikah. Saya hanya bisa tersenyum dan berdoa agar ia selalu merasa bahagia! Saya tidak pernah tahu siapa dan bagaimana sosok lelaki yang dipilih olehnya. Namun hari itu, saat dimana ia tak ingin didekati oleh siapapun, lelaki itu mendekat dengan sangat mudah, menenangkan Khun Jane yang begitu hancur dan berhasil memeluknya. Sejak saat itu, saya yakin jika Khun Jane bahagia bersama lelaki pilihannya!” Hom akhirnya merasa lega setelah ini.
Aom yang mendengar penuturan panjang lebar dari pengasuh putrinya itu, semakin tak bisa mengontrol diri. Hatinya terasa sangat sakit, membayangkan bagaimana menderitanya seorang Jane karena dirinya.
“Terima kasih Hom untuk semua yang telah kau berikan pada keluargaku, terlebih sudah menjaga dan menguatkan putriku. Yang dimana tugas itu seharusnya menjadi tanggung jawabku sebagai orang tuanya.” Terlihat jelas tatapan penuh penyesalan dimata seorang Aat.
Sedangkan Tha, ia merasa gagal menjadi seorang kakak yang seharusnya memberi contoh dan menjadi pelindung bagi adik perempuannya. Ia termenung, dengan air mata yang ikut menetes.
“Dan untuk Khun Jane. Saya rasa, beberapa hari lagi ia akan datang menemui anda. Karena yang saya tahu, khun Jane bukan sosok yang pendendam dan suka membalas. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, saya harap anda bersabar” ujar Hom, menatap sedih ke arah nyonya Aom yang terlihat sangat rapuh.
Tidak ada jawaban dari wanita itu, hanya ada anggukan kepala ringan dari seorang Aat.
__ADS_1
“Khun Aat, Khun Aom.. saya sangat berterima kasih karena sudah dipercaya selama puluhan tahun untuk mengabdi di keluarga ini. Saya akan terus berdoa untuk kebaikan semua orang disini. Saya permisi” Hom membungkukkan tubuhnya, memberi hormat untuk terakhir kalinya sebelum dirinya benar-benar pergi dari istana itu.
Bersambung….