Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 54


__ADS_3

...✨Happy Reading✨...




AARRGHHH!! KALIAN TIDAK BOLEH BAHAGIA!!”


DOR!!


DOR!!


“JANE!!”


Dua peluru melesat dengan cepat, menembus kulit salah satu orang yang berada disana.


“Sial!! Aku kecolongan!” Umpat Albert yang dengan cepat mengangkat senjatanya.


DOR!!


DOR!!


Dua peluru yang dilepaskan Albert mengenai sasarannya, membuat tubuh Natcha jatuh terhempas ketika peluru demi peluru menghujani dada sebelah kirinya.


“Aroon, tetap disini! Aku akan mengambil mobil, Kim tertembak!” Titah Albert, yang saat itu juga berlari untuk mengambil kendaraan.


Sedangkan Wanita yang kini tengah memejamkan mata di tengah dekapan seseorang, akhirnya memberanikan diri untuk membuka matanya. Beberapa detik yang lalu, ia melihat dengan jelas jika Natcha tiba-tiba datang dan menembak ke arahnya. Untuk itu ia memilih memejamkan mata, seolah bersiap menerima peluru yang meluncur dengan cepat ke arahnya.


Jane mendongakkan kepala dengan cepat, menatap wajah sang suami yang tengah tersenyum ke arahnya. Hingga senyum itu tiba-tiba pudar seiring dengan tubuh kekar yang luruh.


“Kim!!” Pekik Jane yang sebisa mungkin menahan tubuh sang suami agar tidak jatuh ke tanah.


“Khun Kim!!” Di detik berikutnya, Aroon datang dan segera membantu Jane.


Ya, peluru yang hendak mengarah ke Jane, nyatanya berhasil di halau oleh Kim. Dengan pergerakan yang cepat, ia mengorbankan tubuhnya untuk melindungi sang istri. Bahkan ketika peluru itu berhasil menembus tubuhnya, lelaki itu masih bisa mengkhawatirkan istri tercintanya.


“Kim!! Kim!! Hey.. buka matamu!!” Teriak Jane yang terduduk dengan kepala Kim di atas pangkuannya.


“Kau baik-baik saja Jane?” suara yang keluar dari bibir lelaki itu terdengar sangat lemah. Ditengah pandangannya yang semakin memudar, ia masih bisa tersenyum agar sang istri tidak khawatir. Bahkan salah satu tangannya masih bisa meraih pipi gempal sang istri yang mengusap buliran cairan bening diatas sana.


“Hiks.. aku baik-baik saja” jawab Jane dengan tangis yang semakin pecah. Ia menahan tangan kekar itu di atas pipinya, membuatnya empunya tersenyum semakin lebar. Meskipun di detik berikutnya, senyum itu benar-benar pudar dan digantikan dengan wajah panik dari Jane.

__ADS_1


“Kim!! Kim!! Bangun!!” Jane berteriak histeris, mendapati tubuh sang suami yang benar-benar lemas serta kedua matanya tertutup rapat.


“Aroon bantu aku!” Albert datang tepat waktu dan segera menghampiri tubuh Kim yang terkulai lemas.


“Nona Jane, kita harus bergegas ke rumah sakit!” Ujar Albert kepada istri dari sahabatnya itu.


Jane mengangguk dan membiarkan kedua pria itu mengangkat tubuh sang suami. Rasa takut mulai menghantuinya, melihat kondisi Kim saat ini. Darah segar terus mengalir deras dari arah dua luka di punggung lelaki itu, membuat Jane hampir gila membayangkannya.


“Ja-ne, Kim pasti baik-baik saja!” Ditengah rasa takutnya, seseorang datang dan memeluknya dari samping


“N-nik?!” Pekik Jane yang baru menyadari kehadiran sahabatnya itu,


“Dia akan baik-baik saja! Ayo, kita harus segera membawanya kerumah sakit!” Nik menuntun Jane masuk ke dalam mobil yang sama. Perlahan ia masuk dan menjadi bantalan untuk kepala Kim di dalam sana.


Sedangkan Nik, tangan wanita itu ditarik perlahan oleh tangan tangan kekar seseorang.


“Masuklah ke mobilku” pinta Aroon yang jawab dengan anggukan kepala oleh Nik.


Dua mobil berwarna hitam, melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil Aroon memimpin di depan, memaksa para pengendara lain untuk menepi. Sedangkan di belakangnya ada mobil Albert yang mengikuti.




Jane masih memandangi pria yang terkulai lemas dengan berbagai macam peralatan yang menempel pada tubuhnya, melalui jendela kamar ICU. Perasaan takut sesekali masih menghantui hatinya dengan berani.


“Dia tidak akan mati semudah itu nona, kau tidak perlu merasa khawatir” seru seseorang dari arah belakang, membuat Jane akhirnya menoleh.


“Albert, kau bisa memanggil ku Al.” Ucap Albert dengan kedua mata menatap lurus ke depan.


“Aku jane, senang bertemu dengan anda tuan Al” balas Jane


“Aku kemari ingin meminta ijin untuk kembali ke negaraku, tapi ternyata tuan Kim masih beristirahat. Sampaikan permohonanmaafku padanya, karena tidak bisa menunggu sampai dia siuman. Aku harus segera kembali, karena tugas beserta keluargaku sudah menunggu di rumah”


“Hhmm.. mungkin ini pertemuan pertama saya dengan anda. Namun saya tahu jika anda telah begitu banyak membantu suami saya. Terima kasih banyak untuk bantuan anda tuan Al, karena jika tidak ada anda, entah apa yang terjadi dengan kami disana.” Jane membungkukkan tubuhnya sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


“Tidak perlu sungkan, aku dan Kim sudah berteman sejak lama. Satu hal yang perlu kau ketahui, kami yang berkecimpung di dunia hitam tidak akan menyerah begitu saja. Percayalah jika dia akan kembali, namun saat ini biarkan dia beristirahat sebentar. Saya permisi nona” Albert membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari tempat itu, meninggalkan Jane seorang diri. Kalimat yang dikatakan oleh Albert sedikit meringankan hatinya.


“Beristirahatlah bayi besarku, tapi jangan terlalu lama. Kau tahu bukan jika aku tidak bisa sendiri” gumamnya sembari tersenyum ke arah depan.


__ADS_1



“Engghh..” lenguhan kecil terdengar dari arah ranjang. Seorang wanita terlihat mengerjap perlahan, berusaha membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang menyilaukan mata.


“Nik.. nik..” samar-samar terdengar suara seseorang memanggil namanya, membuat dia akhirnya terbangun.


“Jane..” lirihnya dengan suara serak.


Ya, Nik pingsan tepat setelah sampai di rumah sakit. Setelah mengalami hal sulit selama berjam-jam lamanya, akhirnya tubuh itu menyerah dan tumbang.


Jane yang mendapat kabar dari Aroon jika sahabatnya itu pingsan, bergegas menghampiri, tepat setelah dirinya membersihkan diri dan kini menunggu hingga wanita itu sadar.


“Ayo, minum dulu” dengan telaten Jane membantu sahabatnya itu untuk menegak beberapa tetes air.


Untuk beberapa saat mereka terdiam, hingga akhirnya Jane memutuskan untuk memulai pembicaraan.


“Hiks.. Nik! Maaf karena telah membawamu ke dalam situasi sulit ini” tanpa bisa di cegah, air mata mengalir deras membasahi pipi Jane.


Nik menggeleng lemah “Jangan menyalahkan dirimu Jane. Semua ini terjadi tanpa bisa kita duga” ujar Nik


“Sudahlah jangan menangis, kau bertambah jelek jika seperti ini” ejek Nik dengan tawa renyah.


Plak!!


Seolah lupa jika sahabatnya itu tengah terbaring lemah, Jane mendaratkan sebuah tamparan di lengan Nik. Namun semua itu tak lantas membuat Nik kesakitan, ia masih tertawa bahkan sedikit tergelak.


“Berhenti tertawa Nik! Sekarang kau harus menjawab pertanyaanku dengan jujur” ujar Jane dengan wajah serius, membuat Nik menghentikan tawanya,


“Siapa pria itu Nik” tanya Jane tiba-tiba dan membuat Nik mengkerutkan dahinya.


“Pria? Apa maksudmu?”


“Pria yang menjadi kekasihmu?”


Nik semakin bingung dengan apa dikatakan oleh sahabatnya itu.


“Aku tidak memiliki kekasih dan kau tahu itu! Karena jika iya, maka kau adalah orang pertama yang tahu hal itu”


“Lalu katakan padaku! Siapa ayah dari anak yang kau kandung!”


Bersambung…

__ADS_1


Ayoloooooo….


__ADS_2