![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...✨Happy Reading✨...
•
•
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam lamanya, jet pribadi milik Kim Ratanaporn akhirnya mendarat dengan selamat. Rumah orang tua Nik berada di Chiangmai, sehingga mereka harus menggunakan pesawat agar sampai di sana.
Cuaca di Chiangmai terbilang sejuk dan cenderung dingin, mengingat bulan ini merupakan awal musim dingin disana. Namun akan sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Aroon, ia merasa udara di sekitarnya begitu panas. Terbukti dengan buliran keringat menghiasi dahinya saat ini.
“Ada apa denganmu Ar? Kau berkeringat?” Celetuk Kim yang tengah menatap heran ke arah sang sekretaris.
“Udara disini sedikit panas Khun Kim” jawabnya dengan jujur.
Kim tentu mengernyitkan dahi “Panas? Cuaca sejuk seperti ini kau bilang panas?”
Aroon mengangguk pelan, sejuk? Tapi ia merasa panas sekarang.
“Hahahaha….” Kim tiba-tiba tergelak, membuat Aroon menatap aneh ke arah tuannya.
“Kau gugup rupanya.. hahaha” ledek Kim, kala menyadari jika buliran keringat itu muncul bukan karena cuaca yang panas, melainkan karena rasa gugup yang tengah menguasai pria itu.
“Ti-tidak Khun Kim. Saya tidak gugup” protes Aroon, sembari mengelap keringatnya dengan sehelai tisue.
“Ya, ya, kau tidak gugup. Aku percaya..” Kim mengalah, namun ia tak mampu menyembunyikan wajah mengejek itu.
Suasana seperti ini memang sering terjadi di antara keduanya. Di tengah posisi mereka sebagai atasan dan sekretaris, ada kalanya Kim serta Aroon akan berada dalam situasi santai seperti sekarang ini. Nada bicara, obrolan mereka terdengar seperti sepasang sahabat.
“Bisakah kita berangkat sekarang khun Kim, orang tua Nik pasti sudah menunggu” Aroon mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka, karena jujur ia tengah malu sekarang.
“Wahhh ternyata kau sudah tidak sabar untuk dilubangi kepalanya” seru Kim sembari melangkah menuju mobil hitam yang sudah menunggunya di bawah sana.
Aroon menelan ludahnya kasar, sial.. kenapa dia menjadi takut sekarang.
Tidak mau hanyut ke dalam pikiran negatifnya sendiri, Aroon akhirnya melangkah untuk mengikuti tuannya dari arah belakang.
•
•
Perjalan dari bandara menuju kediaman rumah orang tua Nik memakan waktu sekitar 30 menit, dan kini mobil hitam yang membawa mereka sudah terparkir rapi di depan.
Rumah sederhana dengan hamparan rumput hijau, menyambut kedatangan mereka berdua. Terlihat seorang wanita tua tengah merawat tanaman yang memang sengaja diletakkan di depan rumah.
“Selamat siang nyonya..” sapa lelaki dengan setelan formalnya.
“Selamat siang..” balas si wanita tua dengan raut wajah serius, ia memperhatikan kedua pria tampan yang tengah berdiri dihadapannya.
“Apakah benar ini rumah tuan Somporn?” Tanya si pria yang dijawab dengan anggukan kepala pelan oleh nyonya Milk Somporn.
__ADS_1
“Ada gerangan apa anda datang kemari?” Tanya milk dengan mimik wajah serius, membuat pria itu sedikit takut.
“Kami ingin bertemu dengan kedua orang tua Nik, tuan dan nyonya Somporn” jawab si pria dengan jujur.
Milk nampak berpikir sejenak, pria ini menyebutkan nama putrinya, ini berarti mereka berdua mengenal Nik.
Oohh milk ingat sekarang, Nik mengatakan jika pria yang akan menjadi suaminya, datang hari ini.
“Aaaa.. jadi kau rupanya, pria kurang ajar yang menghamili putriku namun tak mau bertanggung jawab!! Kemari kau, aku akan menghajar mu” tanpa aba-aba, Milk tiba-tiba menyerang si pria dengan sapu. Tentu saja pria itu terkejut dan berusaha menghindar.
“Nyonya.. nyonya.. tunggu dulu! Anda salah paham!” Si pria berusaha menghindar dengan berlindung di belakang rekannya.
“Sial, kenapa ibu Nik sangat galak!” Batin pria satu lagi.
Keributan tentu saja tak bisa di hindari, suara teriakan dari Milk sontak mengundang rasa penasaran dari sosok pria tua yang sejak tadi berada di dalam.
“Ada apa ini?” Tegur di pria tua yang datang dengan pakaian santainya sembari memegang secangkir kopi panas.
Mereka bertiga terdiam, namun beberapa saat kemudian nyonya Milk kembali menyerang.
Somporn mengedipkan matanya untuk beberapa kali, berharap apa yang ia lihat sekarang bukanlah nyata. Orang terkaya dan paling ditakuti ada disana lalu sekarang tengah dipukuli habis-habisan oleh sang istri.
Ini bencana besar! Batin Somporn
“My Godness, Khun Kim!” Pekik si pria tua yang tak lain adalah Somporn, ayah dari Nik.
Somporn segera meletakkan cangkir kopinya dan berlari ke arah sang istri, menarik pelan tubuh wanita itu dan memegang kedua pundaknya.
“Memberi pelajaran pada pria yang sudah berani menyakiti putri kita, apa lagi” jawab Milk dengan nafas yang tersengal-sengal.
Somporn mencoba untuk menenangkan sang istri, setelah ia menatap dua pria di hadapannya dan kini menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
“Maafkan istri saya Khun Kim karena bersikap kurang ajar dengan anda” ujar Somporn
“Dan maaf untuk kesalahpahaman ini” imbuhnya
Kim merapikan kembali jas serta kemeja yang ia gunakan, lengannya masih sedikit perih karena pukulan sapu lidi itu, meskipun tidak separah itu.
“Tidak apa tuan Somporn, saya memakluminya” jawab Kim dengan ramah.
Milk nampak mengerjap kebingungan, kenapa sang suami harus meminta maaf kepada pria ini, memangnya dia siapa?
“Honey, minta maaflah pada Khun Kim..” bisik Somporn di telinga sang istri.
“Khun Kim? Siapa dia?” Milk ikut berbisik di telinga sang suami.
“Apa kau pernah mendengar nama Kim Ratanaporn? Orang terkaya serta ditakuti di Bangkok.” Tanya Somporn lagi yang dijawab dengan anggukan kepala cepat oleh Milk.
“Tentu saja tahu” jawab Milk cepat
__ADS_1
Sedangkan dua pria tampan di depan sana nampak kebingungan karena sepasang suami istri itu sibuk berbisik ria.
“Asal kau tahu, pria yang kau pukuli tadi adalah Kim Ratanaporn.”
DEG!!
Milk menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang sang suami katakan. Apa katanya tadi? Pria yang ia pukuli adalah Khun Kim?
“Tamatlah riwayatmu Milk” batin Milk
“K-Khun Kim,.” Panggil Milk dengan suara terbata-bata.
“Maaf karena tidak sempat memperkenalkan diri sebelumnya nyonya” ujar Kim
“Tidak, tidak! Anda tidak bersalah. Saya yang seharusnya meminta maaf karena memukul anda barusan…”
“Maafkan kelancangan saya Khun Kim” Milk menundukkan kepala beberapa kali, sebagai bentuk penyesalan dirinya karena berbuat tidak sepantasnya pada orang penting di negaranya.
“Tidak apa nyonya, saya memakluminya. Ibu mana yang tidak marah dengan pria yang tidak mau bertanggung jawab setelah menghamili putri kesayangannya!” Balas Kim dengan nada penuh sindiran, dan tentu saja itu ditujukan kepada lelaki yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
Somporn maju dan mengambil alih pembicaraan “Maaf Khun Kim, jika boleh tahu, apa yang membawa anda datang jauh- jauh kemari” tanya Somporn dengan sopan.
“Apakah Nik tidak memberitahu anda jika calon suaminya akan datang kemari?” Kim balik bertanya
“Eemm.. Nik memberitahu kami, jika calon suaminya akan datang nanti. Dia hanya memberitahu kami namanya saja, jika tidak salah namanya Aroon.” jawab Somporn jujur.
Nik memang sudah menceritakan tentang kisahnya yang menyakitkan kepada orang tuanya, ia hanya memberitahu nama si pria, tapi tidak dengan identitas lengkap si pria.
“Anda tidak tahu wajah calon menantu anda tuan Somporn?” Kim kembali bertanya dan dijawab dengan gelengan kepala olehnya.
“Apakah anda tidak penasaran dengan wajah calon menantu anda?”
“Tentu Khun Kim, saya sangat penasaran dengan lelaki pengecut itu. Ketika Nik menceritakan bagaimana kisahnya waktu itu, saya benar-benar marah. Bagaimana bisa ada lelaki seperti itu di dunia modern ini. Saya sebagai lelaki sejati sangat malu mendengarnya, ia menghamili seorang gadis dan ketika diminta untuk bertanggung jawab malah tidak mau. Rasanya saya ingin memotong alat kelaminnya saat itu, jika saja Nik membawanya pulang” Somporn berbicara panjang lebar, seolah menjelaskan betapa kesalnya ia pada sang calon menantu.
Mendengar hal itu, tentu saja membuat Aroon bergidik ngeri. Ia bahkan secara refleks memegangi juniornya dibawah sana kala mendengar ancaman sang ayah mertua.
“Bagaimana jika pria itu datang sekarang tuan Somporn? Apa yang akan anda lakukan?” Kim merasa sangat senang sekarang, karena berhasil membuat sang sekretaris ketakutan di belakang sana.
“Anda tahu saya adalah mantan seorang polisi militer? Saya sudah menyiapkan senjata untuk melubangi kepala si pengecut itu” ujar Somporn dengan lantang, membuat Aroon menelan ludah kasar.
“Hahaha.. maka siapkanlah senjata anda tuan Somporn. karena pria itu berada disini sekarang! Tepat di belakangku” Kim tertawa puas, dan menggeser tubuhnya agar menampilkan wajah Aroon.
Somporn sedikit bingung “Maksud anda?”
“Ya pria yang dimaksud putrimu adalah sekretarisku tuan Somporn. Aroon Tanawat, itulah nama lengkapnya” jawab Kim yang membuat somporn membelalakkan matanya.
Ia memang tahu jika pria yang menjadi tangan kanan Kim bernama Aroon, namun pikirnya, ada begitu banyak nama Aroon di negara ini bukan.
“Senang bertemu dengan anda tuan Somporn” sapa Aroon dengan buliran keringat dingin menghiasi dahinya
__ADS_1
Bersambung……