
Pagi telah menyapa, dengan kehangatannya sang Surya telah menyembulkan sinarnya, seolah ia berkata 'rindu' pada dunia yang sudah ia tinggalkan dalam semalam. Jika memungkinkan, ia seolah ingin mengucapkan 'terimakasih' pada rembulan dan bintang yang telah bersedia menggantikan dirinya menemani dunia dengan cahaya mereka, meskipun sang Surya tahu, bahwa cahaya yang didapat oleh rembulan dan bintang berasal dari pantulan cahayanya sendiri. Sang Surya bahkan sadar, bahwa tak mungkin jika ia bertemu dengan keduanya, baik itu rembulan ataupun bintang.
Namun, sang Surya tak tahu bahwa semalam tak ada rembulan ataupun bintang yang ada untuk menemani dunia. Sebab semalam hujan telah mengguyur dunia dengan begitu derasnya.
Semalam langit telah menangis
Pagi ini sang Surya berusaha menembuskan kehangatannya yang ternyata terhalang kabut tebal yang menyelimuti dunia.
Ia merasa kecewa, sebab rindunya pada dunia tak bisa ia ungkapkan melalui kehangatannya menyinari dunia
Di bawah sana, di dalam sebuah kamar, seorang lelaki baru saja terjaga dari mimpi yang entah indah ataupun berbanding terbalik dari kata indah bagi lelaki itu. Lelaki itu turun dari tempat empuk hangatnya yang telah lama setia menjadi teman malamnya, langkahnya menapaki lantai dingin terus bergerak menuju jendela, menyibaknya dalam sekali gerakan. Wajah sayu seseorang yang baru bangun nampak jelas dari sorot netranya yang memiliki bola berwarna coklat kehitaman, alis tebalnya yang rapi dan hitam tertaut saat mendapati lelehan sisa air hujan di kaca jendelanya.
"semalam hujan lagi,"gumamnya sebelum menatap celah dari kabut yang telah membuat cahaya matahari terhalang menyinari kehidupannya.
tok
tok
tok
Lelaki itu menoleh dan kembali menautkan keningnya mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Alfin... Alfin..."suara yang sudah begitu ia kenali terdengar memanggil namanya dari balik pintu.
"Hhhh..."lelaki itu mendesah mengetahui siapa yang sepagi ini sudah berada di rumahnya, Alvino Pratama Wardani itulah nama lelaki itu, putra sulung dari keluarga Hendra dan Meylani Wardani, keluarganya lebih suka memanggilnya dengan nama Alfin.
klek
Alfin membuka pintu kamar,"sejak kapan mama ada di sini?"tanya lelaki itu langsung pada intinya mengapa ibunya, wanita paruh baya yang masih menyisakan paras cantik di wajahnya sudah berada di depan kamarnya sepagi ini, waktu baru menunjukkan pukul enam dini hari masih terlalu pagi untuk Alfin mendapati ibunya di rumahnya saat ini.
Raut wajah kesal langsung menghiasi wajah Meylani mendengar pertanyaan putranya,"apa kau sudah bahagia hidup sendiri sampai kau tidak suka melihat ibumu datang mengunjungimu?"oceh wanita itu.
Serba salah, itu yang dirasakan Alfin saat harus berhadapan dengan ibunya. Akhirnya lelaki itu memilih tersenyum, memilih mengalah sebelum harus berdebat lebih lama dengan ibunya. Lelaki itu merangkul bahu ibunya, menuntun wanita yang telah banyak memberinya kasih sayang turun menuju lantai satu rumahnya yang memiliki dua lantai.
"Alfin hanya penasaran bagaimana bisa mama sudah berada di sini sepagi ini. Bukankah Alfin sudah memberitahu mama kalau Alfin akan menjemput mama jika mama ingin berkunjung."
kata Alfin berusaha menenangkan emosi ibunya.
__ADS_1
Meylani mendengus mendengar ucapan putranya,"Apa kau ingat sudah berapa bulan kau tidak berkunjung ke rumah menemui mama dan ayah."hardiknya seraya menjewer kecil telinga putranya.
Alfin meringis mengingat sudah hampir setengah tahun ia tidak mengunjungi orang tuanya sejak ia memutuskan menempati rumahnya yang belum lama selesai dibangun."Ma... Mama tahu sendiri kalau Alfin ini seorang Dokter. Alfin harus selalu siap siaga jika sewaktu-waktu ada pasien yang membutuhkan Alfin. Sekalipun jam kerja Alfin sudah selesai, tapi bagi Alfin keselamatan pasien Alfin adalah hal utama yang harus Alfin prioritaskan."balas Alfin berusaha menjelaskan, sekalipun penjelasannya tidak akan mengubah pemikiran ibunya sedikitpun.
"Karena kau terlalu memprioritaskan pasien-pasienmu sampai kau lupa pada usiamu. Lihat dirimu, kau semakin kurus saja karena tak ada yang mengurusmu sejak kau tinggal di rumahmu."Meylani bersedakap, semakin kesal menghadapi putra sulungnya,"apa kau sama sekali tidak ingin mengenalkan wanita pada ibumu. Kau tidak lupa bukan kalau Ryan bahkan sudah melamar Qia. Apa kau mau menjadi bujangan seumur hidupmu."tambah wanita itu sebelum Alfin sempat memikirkan kata-kata untuk membantah ucapannya.
Inilah salah satu alasan mengapa Alfin memilih cepat-cepat menyinggahi rumah barunya, selain rumahnya lebih dekat dengan Rumah Sakit tempat ia bekerja, sikap ibunya yang selalu menuntutnya mengenalkan seorang wanita menjadi alasan utama ia merasa tidak betah jika harus mendengar tuntutan ibunya setiap saat, bahkan setiap detikpun bisa terjadi jika Alfin bukan laki-laki yang sibuk dengan pekerjaannya.
Lelaki itu ingat benar bahwa adiknya, Ryandika Arka Wardani belum lama ini telah melamar kekasihnya yang dulu sempat menjadi pasiennya, Anindyta Syaqira . Namun ia sama sekali belum memikirkan satu hal yang berhubungan dengan seorang wanita sesuai keinginan ibunya.
Entah kenapa, menjadi putra sulung membuat dirinya memiliki banyak tuntutan dari keluarganya, terutama ibunya yang tanpa bosan dan tanpa henti meminta dirinya mencari dan mengenalkan calon menantu untuk ibunya tercinta. Ia sudah lolos dari tuntutan untuk meneruskan bisnis keluarganya karena ia memiliki impiannya sendiri, namun yang satu ini terasa sangat sulit baginya untuk menghindar apalagi mengelak, mengalihkan pembicaraan saja akan sangat sulit baginya jika mulut ibunya sudah bergerak bebas seperti pagi ini.
"Kenapa kau hanya diam saja. Kau tidak kasihan pada mama yang sudah tua ini, jangan katakan kalau mama masih cantik. Rayuanmu sudah tidak lagi mempan untuk menggoda mama apa lagi mengalihkan pembicaraan kita."ujar Meylani penuh penekanan mendapati putranya menuntun dirinya duduk di kursi.
"Bukankah mama memang masih cantik."Alfin tetap melontarkan rayuannya.
"sudah mama katakan kalau rayuanmu sudah tidak berlaku untuk meluluhkan hati mama."sanggah Meylani.
Alfin menghela nafasnya dan berkata,"baiklah. Alfin tahu. Karena hanya rayuan papa yang bisa meluluhkan hati mama sejak dulu."
Meylani melempar tatapan tajam pada putranya,"Jadi kapan kau akan mengenalkan wanita pada mama?"tanyanya kembali pada pusat pembicaraan mereka pagi ini.
"wanita yang akan kau jadikan istri dan menjadi menantu mama."timpal Meylani tak sabar dengan sikap pura-pura tidak tahu putranya tentang keinginannya selama ini.
"aku tidak punya kalau wanita seperti itu yang mama minta."jawab Alfin dengan santainya sembari terus mengerjakan aktifitasnya mengoleskan selai pada roti yang akan ia panggang.
"Astaga Alfin..."seru Meylani, geram dengan sikap putranya.
"Ma... Akhir-akhir ini Alfin benar-benar sibuk. Alfin tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu saat ini."bela Alfin atas dirinya.
"Pokoknya mama tidak mau tahu. Sudah cukup kamu menggunakan alasan sibuk dengan pekerjaanmu agar kamu lolos dari keinginan mama. Apa kamu sama sekali tidak melihat ada wanita yang menarik perhatianmu selama ini."tegas ibunya.
"wanita yang menarik perhatianku..."Alfin terlihat mencoba untuk berpikir,"sepertinya memang ada."katanya kemudian sebelum mengambil roti panggangnya yang hangat dan siap untuk mengisi perutnya, bahkan ia belum sempat mencuci mukanya karena kedatangan ibunya membuat dirinya melupakan sejenak kebiasaan paginya yang akan sarapan setelah membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Wajah Meylani langsung bersinar mendengar ucapan putranya yang mengakui ada wanita yang menarik dalam pandangan Alfin,"Jadi kamu tunggu apa lagi, cepat bawa dia ke rumah kenalkan pada mama dan papa, juga adikmu."katanya antusias.
"hah."Alfin tampak seperti orang bodoh mendengar perintah ibunya,"jadi menurut mama aku harus mengenalkan Dokter Andin pada mama dan papa."katanya menyebut nama seorang wanita yang memang cukup menarik perhatiannya sejak ia bekerja di Rumah Sakit bersama wanita yang sudah ia sebutkan namanya di depan ibunya.
__ADS_1
"Andin."kata Meylani mengulang ucapan Alfin,"Jadi memang kau sudah tertarik dengan seorang wanita dan wanita itu bernama Andin. Cepat beritahu mama, kapan kau akan mengenalkannya pada mama dan papa, bawa dia ke rumah."wajah wanita yang usianya sudah hampir setengah abad itu tampak begitu bahagia, semoga saja wajah bahagia itu bisa bertahan cukup lama kali ini.
"apa.? Mama menyuruhku membawa Dokter Andin ke rumah? Astaga mama... Dokter Andin sudah punya suami. Bagaimana mungkin aku akan membawa dia ke rumah. Apa mama ingin putramu ini merebut istri orang hanya untuk mewujudkan keinginan mama."kata Alfin menjelaskan pada ibunya tentang siapa wanita yang sudah menarik perhatiannya.
Benar saja, wajah bahagia Meylani tak bertahan lama setelah mendengar penjelasan Alfin,"Astaga... Mama memintamu mengenalkan wanita tapi kau malah tertarik pada istri orang."keluhnya.
"Itu dulu ma... Sudah lama berlalu. Aku sudah tidak mempertahankan rasa tertarikku padanya, sebenarnya aku hanya pernah merasa kagum padanya saja. Tapi setelah aku tahu dia sudah menikah aku tahu aku harus mencegah rasa kagumku berubah menjadi suka atau bahkan lebih dari itu. Mama tidak perlu takut aku merebut istri orang."Alfin menjelaskan kembali perasaan yang pernah ada dalam benaknya tentang sosok Andin dua tahun yang lalu.
"huft... syukurlah kalau kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan. Mama harap kau tidak salah langkah saat memilih seorang wanita untuk mendampingi hidupmu."kata Meylani.
"Iya mama tidak perlu mengkhawatikan hal itu."timpal Alfin,"sebaiknya kita sarapan sekarang. mama pasti belum sarapan."tambahnya.
Meylani memicingkan matanya menatap Alfin yang sudah melahap roti panggangnya,"jangan berpikir mama tidak ingat pembicaraan awal kita."
"ma... Alfin akan berusaha mencari wanita yang mungkin bisa membuat Alfin menyukainya."timpal Alfin meskipun lelaki itu tidak memahami dengan benar ucapannya yang akan mencari seseorang yang bisa menarik perhatiannya.
apa mama pikir mencari wanita itu segampang saat aku merawat pasienku. Batin Alfin.
Merasa cukup puas dengan ucapan putranya, Meylani akhirnya berhenti melontarkan semua tuntutannya pada putra sulungnya.
Alfino Pratama Wardani, ia bukan laki-laki yang mudah untuk menambatkan hatinya pada seorang wanita, ada beberapa wanita yang pernah membuatnya merasakan perasaan suka, namun semuanya tidak semulus saat ia menyelesaikan pelajarannya saat masih sekolah ataupun menyelesaikan pekerjaannya setelah ia menjadi Dokter tetap di Rumah Sakit Mitra Ariva. Bisa ia ingat, hanya ada tiga wanita yang sempat menarik perhatiannya, pertama saat ia masih duduk di bangku SMA, namun ternyata ia salah menempatkan hatinya pada gadis itu yang nyatanya hanya memanfaatkan dirinya saja demi membuat laki-laki yang disukai gadis itu cemburu, sangat miris bukan.
Dan gadis kedua yang ia sukai saat ia melanjutkan studynya di Universitas Kedokteran lebih parah dari gadis pertama yang ia sukai, lagi-lagi ia salah menyukai seorang gadis. Sebab gadis yang ia sukai ternyata adalah seorang gadis yang suka dengan kehidupan bebas dan membebaskan dirinya berhubungan dengan banyak laki-laki, gadis itu adalah gadis tetangganya di tempat kostnya dan tak jarang ia melihat gadis itu membawa pulang laki-laki yang berbeda setiap malamnya.
Wanita ketiga...
Ya. Dia adalah seorang Dokter kandungan berparas cantik dan penuh kelembutan, namun tidak meninggalkan kesan tegasnya sebagai seorang Dokter pada semua pasien bahkan pada semua rekannya. Tak ada yang tidak menyukai ataupun mengagumi seorang Andini Larasati, tak terkecuali Alfin yang ruang prakteknya bersebelahan dengan ruang praktek Dokter Andin. Hal itu membuat Alfin menjadi sering bertemu sapa dengan keramahan Dokter Andin, namun ia tahu bahwa perasaan kagumnya harus segera ia tuntaskan setelah mengetahui bahwa wanita itu sudah menikah.
Tiga wanita sudah cukup membuatnya mengerti agar ia harus lebih fokus pada pekerjaan yang menuntutnya untuk mengutamakan tanggungjawabnya atas semua pasien yang ia tangani.
Alfino Pratama Wardani, dialah lelaki yang memilih sendiri sampai ia benar-benar dipertemukan dengan wanita yang akan menjadi jodohnya. Ia tak peduli dengan siapa wanita yang akan menjadi jodohnya kelak. Asalkan ia bisa menemukan pelabuhan itu, ia akan berhenti berlayar dan melabuhkan perasaannya pada wanita itu.
siapa dia? aku tak peduli asalkan aku mencintainya dan dia mencintaiku, maka aku akan mempertahankan dia di sisiku selamanya. Hanya disisiku, dan hanya untukku.
*Salam santun dari aku
Maaf jika ada banyak kesalahan dalam penulisan atau hal lain yang berhubungan dengan cerita ini. Ini tulisan pertamaku di sini.
__ADS_1
salam hangat untuk semuanya...😊😊*