Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Berjuang bersama rindu


__ADS_3

Semilir angin menggerakkan dedaunan pohon yang rindang. Secercah rindu menggerakkan hati untuk bertahan menerjang semua masalah. Sebagaimana kuatnya dahan yang tetap kokoh di terpa kencangnya angin, begitupun keteguhan hati yang tetap bertahan menahan rindu berharap buah dari pertahanannya akan terjaga dengan baik.


"Mama kangen sama kamu..."Sukma memeluk putri satu-satunya setelah sekian waktu tidak bertemu dan penuh kecemasan saat Namesya menghilang tanpa kabar.


Pagi itu Namesya datang ke rumah orang tuanya bersama Kevin. Namun karena ada urusan mendadak yang bersangkutan dengan masalah Kevin, Namesya akhirnya harus menghadapi orang tuanya tanpa bantuan perlindungan dari Kevin.


"Maafin Mesya ma."lirih Namesya.


"Ayo duduk. Kamu pasti capek dua jam duduk di dalam mobil."ajak Sukma meminta Namesya duduk.


Namun Namesya terdiam saat menatap Edi Wira Kusuma, Ayahnya yang tampak masih diam sejak kedatangannya.


"Pah..."Sukma dengan lembut memanggil suaminya.


Edi Wira menghela napas dan menatap putrinya,"Duduk."Perintahnya.


Seperti seekor anak kucing yang ketakutan, Namesya mengangguk dan duduk sesuai perintah. Siap menunggu omelan ayahnya yang pasti menahan kecewa dan marahnya.


"Papah ngga habis pikir sama keputusan kamu."kata Edi Wira langsung pada pokok permasalahan.


"Pah... kita sudah janji untuk tidak mengungkitnya dulu."kata Sukma.


"Ma... lebih cepat diselesaikan lebih baik. Untuk apa menunggu besok lusa atau satu bulan. Ngga ada bedanya ma. Papa harus memastikan kalau Mesya tidak akan menyesali apapun nanti."kata Edi Wira.


"Pah... Mesya udah yakin dengan keputusan ini."kata Mesya.


"Kamu sudah yakin akan menghadapinya kelak. Tidak akan mudah Mesya."kata Edi Wira.


"Mesya akan menghadapinya apapun yang terjadi pah."balas Namesya.


"Lalu siapa Alfin?"tanya Edi Wira yang sudah banyak mendengar tentang Alfin dari Kevin.


"Dia... Dia dokter yang nolong Mesya dan bawa Mesya ke rumah sakit. Dia menemukan Mesya di jembatan."jawab Namesya.


"Sejauh apa hubungan kalian?"tanya Edi Wira.


"Itu..."Gumam Namesya,"Mesya tidak tahu harus bagaimana."katanya jujur.


Sukma pindah tempat menjadi duduk di sisi Namesya, membelai punggung putrinya dengan lembut. Seakan memberikan dukungan tanpa menggunakan ucapan.


"Kata Kevin kamu bersekongkol dengannya membohongi orang tuanya. Benar begitu?"tanya Edi Wira dan langsung mendapatkan anggukan dari Namesya,"Apa sekarang orang tuanya sudah tahu?"tanyanya lagi.


"Aku tidak tahu pah. Dokter Alfin tidak memberitahuku apa-apa."jawab Namesya.


"Kamu ini benar-benar."Gerutu Edi Wira.


"Tapi Mesya akan menyelesaikannya setelah pulang dari sini pah. Mesya akan jujur dan minta maaf sama mereka."kata Namesya.


"Memang harus begitu. Kamu harus secepatnya minta maaf sama mereka."timpal Edi Wira.


"Iya pah."Namesya mengangguk.


"Minta Alfin menemui papah."perintah Edi Wira.


"Hah. Untuk apa pah?"tanya Namesya.


"Bukankah alasan kamu begitu yakin tidak mau kembali bersama Rio karena Alfin. Kamu tidak akan seyakin itu jika tidak ada laki-laki lain yang membuatmu menolak Rio bertanggung jawab."kata Edi Wira.


"Tapi pah. Dokter Alfin tidak ada hubungannya dengan penolakanku. Kalau tidak bertemu dokter Alfin juga aku tidak akan mau menerima pengakuan Rio lagi."bantah Namesya.


"Kalau tidak bertemu Alfin pasti kamu sudah berubah menjadi mayat karena kamu bunuh diri melompat dari jembatan."timpal Edi Wira tidak mau kalah.


"pah..."Tegur Sukma.


"Benar kan mah kalau putri semata wayang kita ini pasti akan melompat dari jembatan kalau Alfin tidak memergokinya."tukas Edi Wira.


Namesya menghela napas, padahal dirinya tidak mengungkit aksi bunuh dirinya tapi ayahnya terlalu pintar untuk bisa ia bohongi."Mesya menyesal pah."lirihnya.


"Kalau begitu minta Alfin menemui papah."perintah Edi Wira.


"Tapi pah. Namesya punya perjanjian."kata Namesya.


"Perjanjian apa lagi?"tanya Edi Wira.


"Itu... Mesya minta dokter Alfin untuk tidak menghubungi atau menemui Mesya selama satu bulan. Mesya ingin memastikan apakah perasaannya akan berubah jika selama satu bulan tidak berhubungan denganku."kata Namesya.


"Mesya... Mesya..."Keluh Edi Wira sembari menggelengkan kepala.


"Mesya tidak mau kalau nantinya dia menyesal karena memilihku."Tutur Namesya.


"Lupakan perjanjian konyolmu itu dan hubungi Alfin. Suruh dia menemui papah."tegas Edi Wira.


Namesya menatap ibunya meminta dukungan, namun Sukma hanya tersenyum dan mengangguk. Isyarat itu cukup membuat Namesya mengerti bahwa ibunya setuju dengan permintaan ayahnya yang ingin menemui Alfin.


"Bagaimana ini?"gumam Namesya sembari memandangi ponselnya, ragu untuk menghubungi Alfin setelah satu Minggu lebih mereka tidak saling bertukar kabar."Bagaimana kalau dokter Alfin sudah berubah pikiran dan tidak mau menemui papah. Pasti papah akan memaksaku untuk kembali menerima Rio."

__ADS_1


Ddrrrrttt


"Hah."Namesya terkejut sampai ponselnya lepas dari genggamannya karena tiba-tiba benda itu bergetar, Namesya segera memungut benda itu dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Dokter Alfin..."Gumamnya,"Kenapa dia menghubungiku?"tanyanya.


Tangannya bergetar antara ingin menjawab panggilan itu atau tidak. Namesya memejamkan mata dan akhirnya menjawab panggilan Alfin.


"Ha-Halo."sapanya.


"Mesya..."terdengar suara Alfin yang lemah dari sebrang.


"Dokter. Ada apa dengan suara dokter? Dokter sakit?"tanyanya cemas.


"Mesya..."Alfin kembali memanggil nama Mesya dengan suara lemah.


"Dokter... Ada apa? jawab aku? Apa dokter sakit?"tanya Namesya lagi yang semakin cemas.


"Mesya... Aku ngga bisa kalau satu bulan ngga dengar kabarmu."lirih Alfin dari sebrang.


Namesya merasa tersentuh dengan ucapan Alfin, gadis itu terdiam mendengar suara nafas Alfin yang terdengar tidak teratur.


"Mesya... Aku mau ketemu kamu. Satu menit saja."pinta Alfin.


"Dokter di mana?"tanya Namesya.


"Permisi. Waktunya minum obatnya tuan."terdengar suara seorang perempuan dari tempat keberadaan Alfin.


"Suster. Aku tidak butuh obat apapun."timpal Alfin terdengar menolak obat yang di berikan suster.


"Dokter Alfin sakit? Dokter. Dokter di mana?"tanya Namesya semakin cemas mengetahui Alfin sakit.


"Halo."kini bukan lagi suara Alfin yang terdengar.


"Em. Ma... ma."Namesya merasa ragu memanggil ibu Alfin dengan sebutan itu.


"Mesya."sapa Meylani dari tempat Alfin yang sedang di rawat dan tengah di bujuk oleh suster untuk minum obat.


"I-Iya mah."jawab Namesya gugup.


"Alfin sakit. Bisa ngga kamu jenguk dia. Dia terus terusan ngigau panggil-panggil kamu. Mama ngga tega lihatnya. Dia ngga mau minum obat. Makanpun selalu muntah. Mama bingung harus gimana ngadepinnya."kata Meylani.


"E. Sekarang dokter Alfin di rawat di rumah sakit mana?"tanya Namesya.


"Di rumah sakit tempat dia kerja. Mama bawa dia ke sana tadi pagi."Jawab Meylani.


"Iya sayang. Kamu hati-hati ya."pesan Meylani.


"Iya ma."


Panggilan pun mereka akhiri, dan Namesya bergegas kembali bersiap untuk pergi menemui Alfin di rumah sakit.


"Loh. Mau kemana lagi?"tanya Sukma melihat Namesya sudah kembali berpakaian rapi.


"Mah. Pah. Dokter Alfin sakit. Mesya harus nemuin dokter Alfin sekarang."kata Mesya dan langsung pergi begitu saja.


"Eh. Mesya tunggu. Ah. ya ampun anak ini. Baru pulang beberapa jam sudah pergi lagi."gerutu Sukma.


"Sudahlah mah. Biarin aja."timpal Edi Wira.


"Jadi gimana? tetep mau larang hubungan mereka atau biarin mereka memutuskan jalan mereka sendiri?"kata Sukma yang tahu suaminya terlihat tidak setuju dengan keputusan Namesya.


"Seperti Mesya. Papah juga takut kalau nantinya Alfin itu menyesal sudah memilih putri kita."jawab Edi Wira.


"Pah... putri kita itu sempurna. Alfin tidak akan mencari kesempurnaan lain dari putri kita. Sebagai orang tua kita berdoa saja untuk kebaikan anak-anak kita. Semoga mereka selalu di berikan kelancaran dalam menghadapi masalah mereka."kata Sukma.


"Iya mah. Papah akan meminta Alfin menemui papah setelah anak itu sembuh."jawab Edi Wira.


"Iya. Mamah juga penasaran seperti apa Alfin itu. Kalau di lihat dari fotonya sih memang tampan."komentar Sukma yang sedang membaca sebuah tabloid yang menuliskan artikel tentang Rio dengan menampilkan foto Alfin yang sedang menggandeng tangan namesya.


Di rumah sakit, Namesya langsung menanyakan ruangan tempat Alfin di rawat. Gadis itu dengan cemas yang tak berkurang bergegas mencari keberadaan ruangan itu. Saat hampir tiba di depan ruangan Alfin di rawat, Namesya justru melihat Alfin di bawa keluar oleh dokter dan beberapa perawat.


"Dokter ada apa?"tanyanya setelah bergabung bersama mereka, Namesya melihat Alfin yang tampak tidak sadarkan diri.


"Kami harus segera mengoperasinya."jawab suster.


"Operasi? operasi apa suster?"tanyanya lagi sembari terus memperhatikan Alfin yang sudah membuka mata namun kemudian meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.


"Operasi usus buntu."jawab suster yang entah di dengar oleh Namesya atau tidak.


"Dokter Alfin... Kenapa bisa sampai begini?"lirih namesya sembari menggenggam tangan Alfin.


Laki-laki itu berusaha menatap Namesya di tengah menahan rasa sakitnya,"Me-mesya."lirih laki-laki itu dengan susah payah.


"Iya. ini aku. Aku di sini. Dokter harus sembuh ya."kata Namesya yang tak bisa menahan tangisnya yang sudah luruh.

__ADS_1


Namesya berhenti melangkah setelah Alfin di bawa ke dalam ruang operasi dan dirinya dilarang untuk ikut masuk. Hanya operasi usus buntu, namun Namesya sangat mencemaskan hal itu karena takut sesuatu yang tidak terduga terjadi pada Alfin.


"Mesya."


Namesya menoleh dan melihat ibu serta ayah Alfin di sana sedang berdiri menatapnya. Tanpa berpikir lebih dulu, Namesya memeluk Meylani dan menangis di sana.


"Maafin Mesya."lirih Mesya penuh rasa bersalah terhadap wanita itu.


"Alfin akan baik-baik saja. Ada kamu yang menunggunya, dan dia akan baik-baik saja."kata Meylani.


"Ma... Mesya minta maaf..."tangis Mesya semakin pecah ingin mengatakan maksud dari permintaan maafnya.


"Sudah-sudah. Ayo duduk dulu."Meylani mengajak Namesya duduk.


Namesya menurut dan saat itulah ia baru sadar kalau ada ayah Alfin di sana. Seseorang yang pernah menjadi bos besarnya di kantor sebelum kedudukan bos besarnya itu di gantikan oleh Ryan, putra kedua keluarga itu.


Hendra tersenyum saat Namesya menatapnya dengan tatapan terkejut,"Alfin akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."kata Hendra seraya mengusap kepala Namesya.


"Iya sayang. Alfin itu kuat."timpal Meylani yang ikut membelai wajah Namesya.


Namesya merasa sedikit malu untuk berada di antara mereka, namun ia tidak punya pilihan selain menghadapinya. Di dalam ruang operasi, Alfin sedang berjuang dan ia pun harus berjuang menahan semua perasaan yang ada dalam dirinya saat ini. Ia berani melangkah, maka ia harus berani menghadapi semuanya saat ini.


Namesya yakin kalau ayah Alfin pasti mengetahui hubungannya dengan Rio, apa lagi sekarang hubungan mereka sudah terekspos meskipun wajahnya tidak terlihat di dalam foto, namun ia yakin baik Meylani maupun Hendra pasti sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya yang sesungguhnya.


"Tante. Apa yang terjadi?"tiba-tiba Feres datang masih mengenakan jas dokternya lengkap dengan stetoskop menggantung di leher lelaki itu, tatapan cemas begitu kentara dalam tatapan lelaki itu.


"Dokter harus mengangkat usus buntunya."jawab Meylani.


"Hah. Semoga operasinya berjalan lancar."timpal Feres,"Mesya. Bukannya kamu pulang ke rumah orang tuamu?"tanya Feres.


"Oh. Aku langsung kemari saat mendengar dokter Alfin sakit."jawab Namesya.


"Maaf aku tidak memberitahumu lebih dulu. Alfin melarangku memberitahumu."Kata Feres.


"Tidak apa-apa."balas Namesya,"ngomong-ngomong bagaimana kabar Arumi? Apa dokter sudah menemukan Arumi?"tanyanya.


"Iya. Tante dengar kabar kalau ternyata Arumi itu adik kamu? apa itu benar?"tanya Meylani.


"Mamah."tegur Hendra pada istrinya yang tak bisa menahan pertanyaannya mengenai keluarga Feres.


"Kenapa pah? Lagian apa salahnya mama tanya baik-baik kok. Iya kan nak Feres."Meylani membela diri.


Hendra menghela napas dan beranjak dari kursi tunggu,"Mama belum makan sejak pagi. Ayo kita cari makanan dulu. Papah ngga mau kalau mamah ikut-ikutan sakit lagi."ajak lelaki itu.


"Ah papah. Mama masih kangen sama Mesya."keluh Meylani.


"Ma... Sebaiknya mama pergi dulu. Mama harus jaga pola makan mama. Mesya juga ngga mau kalau nanti mama sakit lagi."Namesya ikut memberi nasihat.


"Hhh... Ya udah deh. Mama ikut papah dulu ya. Kamu mau di beliin apa?"timpal Meylani.


"Nanti aja. Tadi udah makan di rumah."balas Namesya.


"Biar nanti Mesya makan sama aku aja Tante."imbuh Feres.


"Ya udah. Mama pergi dulu ya."pamit Meylani.


Namesya mengangguk sembari tersenyum sebelum mengantar kepergian orang tua Alfin dengan tatapannya.


"Hhhh..."Namesya menghela napas panjang setelah dua orang tua itu tak lagi terlihat oleh pandangannya.


"Kamu baik-baik saja?"tanya Feres.


Namesya mengangguk,"Ya. Aku baik-baik saja."katanya.


"Benar kata Andin kalau kamu tampak lebih kurus."komentar Feres dan hanya di balas senyuman kecil oleh Namesya,"Alfin benar-benar menyayangimu. Kamu tidak perlu meragukan perasaannya."


Namesya menunduk dan berkata,"Aku tahu. Seharusnya aku tidak melakukan hal konyol seperti ini. Dia tidak akan sakit kalau aku tidak menyuruhnya menjaga jarak."


"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Sebelum bertemu denganmu Alfin sudah sering mengeluh sakit perut tapi dia enggan memeriksa dirinya sendiri."timpal Feres.


"Tapi penyakitnya tidak akan separah ini kalau aku tidak memberinya beban pikiran."Namesya bersikeras menyalahkan dirinya.


"Sudahlah. Sekarang banyak berdoa saja untuk kelancaran operasinya."kata Feres seraya menepuk bahu Namesya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.😊😊😊✌️✌️


__ADS_2