Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Persembunyianku berakhir


__ADS_3

"Oke. Untuk saat ini kakak akan membiarkan kamu di sini sampai kamu merasa tenang dan siap untuk pulang."ujar Kevin setelah mereka selesai membicarakan masalah Namesya dan keputusan gadis itu.


"permisi."Arumi menyuguhkan minuman untuk Kevin dan meletakkan beberapa camilan ke atas meja.


"Terimakasih."kata Kevin.


"Sama-sama."balas Arumi.


Kevin menatap adiknya penuh tanya mengenai siapa Arumi,"siapa?"tanya Kevin karena sejak dia datang baru melihat keberadaan Arumi di rumah itu.


"Keponakan Bu Sasmi yang biasa bekerja di sini. Aku meminta Arumi saja yang datang kemari. Kamu berteman."jawab Namesya.


"Oh. Kenapa wajahnya sedikit mirip dengan Feres ya?"tanya Kevin yang menyadari ada kemiripan antara Arumi dengan Feres, mereka memiliki garis wajah yang sama persis.


"Oh ya. Mungkin hanya kebetulan mereka mirip."balas Namesya.


"Ya. Memang kadang ada orang yang seperti itu. Mirip meskipun tidak memiliki hubungan keluarga."tanggap Kevin seraya meraih segelas jus dan meneguknya.


"Kakak emang ngga ada kerjaan?"tanya Namesya.


"kenapa emangnya? Kamu ngga suka kakak di sini?"Kevin balas bertanya,"Kakak pengen ketemu Alfin. Kakak ngga akan melepaskan Alfin dan Feres begitu saja, mereka sudah menipu kakak dan menyembunyikan kamu dengan sengaja."sungut Kevin.


"Memangnya kakak mau apain mereka? Mau laporin mereka ke polisi?"tanya Namesya.


"Kalau kamu di siksa sama mereka sudah pasti kakak laporin mereka ke polisi. Setidaknya mereka melindungimu."balas Kevin.


"Hhh... Aku jadi kangen sama kak Andin."gumam Namesya tiba-tiba teringat Andin dan merasa rindu karena sejak Namesya pindah ke rumah Alfin mereka tidak pernah bertemu atau bertukar kabar.


"Kenapa kamu panggil dokter itu dengan sebutan kakak?"tanya Kevin penasaran.


"mmm... Kak Andin yang suruh aku panggil begitu. Katanya aku ngingetin dia sama adiknya yang sudah meninggal dua tahun lalu karena penyakit kanker otak."jawab Namesya.


Kevin mengangguk sembari mengunyah camilan,"Kakak dengar dia sedang mengurus perceraiannya. Mungkin dia sedang sibuk membagi waktunya antara bekerja dan mengurus perceraiannya itu."kata Kevin.


"Mungkin."balas Namesya.


Drrrttt


Namesya meraih ponselnya yang bergetar lama tanda ada panggilan masuk.


"Dokter Alfin."gumam Namesya seraya menatap Kevin.


"Angkat."perintah Kevin.


Namesya mengangguk dan menjawab panggilan Alfin,"Halo."sapa Namesya.


"Kamu sedang apa?"tanya Alfin.


"Aku... Aku sedang duduk. ini... itu... Kak Kevin di sini."kata Namesya.


"Aku tahu. Tapi kamu ngga akan pindah lagi kan? Kevin ngga ajak kamu pergi dari rumah kan?"tanya Alfin terdengar begitu cemas.


Namesya melirik Kevin yang mengangkat dagunya bertanya dengan isyarat,"Kak Kevin ngajak aku pulang."kata Namesya.


"Terus."tanya Alfin.


"Mmm... Aku belum siap pulang. Bukankah aku masih punya tugas membantu dokter."kata Namesya.


"Syukurlah. Aku pikir kamu akan pulang."kata Alfin.


"Aku cuma mau pindah lagi ke apartemen."imbuh Namesya.


"Kenapa pindah ke sana lagi? kamu ngga betah di rumah?"tanya Alfin.


Namesya melirik Kevin yang tampak acuh mendengar obrolannya,"Aku ngga mau ada gosip kalau aku kelamaan tinggal di sini."katanya.


"Gosip apa maksudnya?"tanya Alfin.


"Ya... Kita cuma punya hubungan jadi sepasang kekasih, tapi itu cuma sandiwara. Takutnya nanti tetangga di sini gosipin kita karena kita tinggal satu atap. Beberapa hari ini dokter selalu pulang ke sini. Nanti di kira kita pasangan ngga bener. Kalau citra dokter tercemar karena gosip itu aku ngga enak nantinya."ujar Namesya.


"Jadi menurutmu bagaimana baiknya supaya ngga ada gosip tentang kita?"tanya Alfin.


"Ya. Itu... aku pindah lagi ke apartemen."jawab Namesya,"nanti kalau mama mau ketemu aku bisa main ke sini.."


"Kalau mama minta alamat apartemen kamu gimana?"tanya Alfin.


"Ya kasih tahu aja."jawab Namesya.


"Begitu."gumam Alfin dengan suara tak begitu terdengar jelas.


"Gimana?"tanya Namesya.


"Tapi jangan pergi sebelum aku pulang."kata Alfin,"kita harus membicarakan sesuatu."


Namesya tersenyum dan menjawab,"iya. Aku akan pindah setelah dokter pulang."

__ADS_1


Senyum Namesya masih terus mengembang setelah panggilan berakhir. Cukup membuat Kevin penasaran dengan sikap adiknya ini.


"kamu yakin kalau hubungan kalian cuma sandiwara?"tanya Kevin.


"Ya. Kenapa?"tanya Namesya.


"Kakak rasa sikap Alfin aneh. Dia sudah seperti laki-laki yang takut di tinggal pergi ceweknya."komentar Kevin.


"Oh. Masa sih? Emang kak Kevin juga begitu ya. Kakak pernah ngerasa takut kehilangan kak Tasya?."kata Namesya.


"hhh..."Kevin menghela napas saat tiba-tiba teringat almarhum kekasihnya,"Kesalahan terbesar kakak adalah kakak terlalu mementingkan pekerjaan dan kurang memberikan perhatian kakak sama Tasya. Ya. Tasya selingkuh karena dia terlalu kesal dan marah sama kakak yang kurang kasih dia perhatian."


"Aku pernah ada di posisi kak Tasya di mana Rio lebih mementingkan pekerjaannya daripada meluangkan waktunya untukku. Tapi aku berusaha memakluminya, dan tetap mencoba untuk mengerti situasi dan keadaan. Aku sering kecewa dan kekecewaan terbesarku adalah masalah ini. Tapi aku tahu perbedaan antara kak Kevin dengan Rio itu sangat jauh. Sebagai laki-laki kak Kevin tetap menghormati kak Tasya meskipun kak Tasya selingkuh dan tetap memberikan perhatian lebih sama kak Tasya. Sedangkan Rio tidak begitu."kata Namesya dengan tatapan serius tanpa ada kesedihan atau penyesalan di sana,"Sekarang aku justru merasa lega setelah lepas dari Rio."


"Mungkin karena kamu sudah bertemu Alfin. Melihat betapa dia mengkhawatirkanmu, kakak merasa dia memiliki perasaan khusus untukmu."kata Kevin.


"Selama dia diam aku tidak mau menaruh harapan lebih. Dan lagi aku sadar akan keadaanku saat ini. Aku tidak lagi sempurna."ujar Namesya dengan senyum getir menyesali keadaanya sendiri.


"Cinta tidak memandang kesempurnaan. Bahkan kakak sudah menyiapkan kejutan untuk Tasya, kakak ingin melamarnya. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain."timpal Kevin.


"Meskipun kakak tahu dia sedang mengandung anak orang lain?"tanya Namesya.


"Kakak sudah berkomitmen untuk menerima apapun keadaan Tasya setelah mengetahui dia selingkuh dan bahkan tidur dengan laki-laki lain."jawab Kevin.


Namesya memeluk Kevin dengan manja,"Kakakku memang laki-laki terbaik yang hidup di dunia ini."pujinya.


"Dan kamu adik termanja yang kakak miliki."kata Kevin.


"Itu karena aku adik satu-satunya kak Kevin. Jadi kalau ngga manja sama kakak sendiri yang manja sama pacar."balas Namesya.


"iya. iya..."balas Kevin.


"Kakak udah sarapan belum?"tanya Namesya.


"Makan roti panggang tadi pagi."jawab Kevin.


"Hmmm... kayaknya Arumi masak sesuatu. Kita ke dalam yuk."ajak Namesya.


"Kakak belum laper..."bantah Kevin.


"Belum laper apa lagi diet takut gendut Hem."balas Namesya sembari berkacak pinggang.


Kevin tersenyum,"ya. Dua-duanya. Kamu tahu sendiri. Sebagai se-"


"Kakak ngga punya sifat jelek yah."bantah Kevin.


"Tapi aku lihat film baru kakak. Dan di film itu kakak jadi pebinor kan. Kakak rebut istri orang kan. Itu kan sifat jelek, masa kakak dapet peran begitu sih."kata Namesya.


"Tapi kakak pemeran utama laki-lakinya loh. Dan di cerita itu kakak ngga merebut istri orang dengan kesengajaan."bantah Kevin melindungi akan perannya dalam film baru yang akan di bintanginya.


"sama aja kakak ngga cocok sama peran jelek kaya gitu. Lihat tuh jambangnya udah tebel begitu ngga di cukur. Biar apa coba. Biar tambah seksi gitu."ejek Namesya melihat penampilan baru Kevin yang membiarkan jambang tipisnya tumbuh.


"Ini tuntutan pekerjaan. Kakak memang agak risih. tapi banyak penggemar kakak yang komentar katanya kakak tambah seksi. hahaha..."balas Kevin dengan narsisnya.


"Ah. Ayo buruan kita ke dapur. Aku udah laper..."Namesya menarik paksa Kevin menuju dapur dimana Arumi sedang menata makanan di atas meja.


"Wah. Aku kira belum selesai. Mau bantu malah telat."ujar Namesya seraya tersenyum kearah Arumi.


"Bantu makan aja kak."balas Arumi seraya terkikik pelan.


Kevin tersenyum senang melihat Namesya akrab dengan Arumi, setidaknya adiknya memiliki teman di rumah ini.


"Silakan duduk. Mmm maaf harus panggil apa yah?"kata Arumi karena tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa untuk Kevin.


"Ah belum kenalan yah?."komentar Kevin seraya mengulurkan tangannya,"kenalin saya Kevin kakaknya mesya. Sama kayak ke Mesya, kamu panggil kakak aja."


Arumi dengan malu-malu meraih tangan Kevin,"Salam kenal kak. Saya Arumi."balas Arumi memperkenalkan diri,"Kalau begitu silakan di nikmati. Saya mau lanjut kerja dulu."


"Eh. Tunggu dulu. Kita makan bareng-bareng aja."cegah Kevin seraya meraih tangan Arumi.


"Eh. Tapi kak."Arumi tampak bingung.


"nggak apa-apa... Ayo duduk."Kevin menyuruh Arumi duduk.


"Iya. Duduk aja. kita sarapan bareng. Biar rame."imbuh Namesya.


Arumi pun menurut dan duduk di samping Namesya, saat Arumi hendak mengambilkan piring untuk Kevin saat itu pula Kevin juga sama-sama mengulurkan tangan hendak mengambil piring yang sama.


"Maaf."gumam Arumi karena Kevin menyentuh tangannya.


"Ngga apa-apa. Santai aja. Mau aku ambilkan?"tanya Kevin.


"Ngga usah. Aku ambil sendiri aja."balas Arumi.


Namesya yang masih duduk hanya menatap dua orang itu bergantian,"Kalian sudah seperti sedang bermain sinetron saja."komentar Namesya.

__ADS_1


Arumi dan Kevin saling bertukar pandangan, Kevin berdeham dan langsung duduk setelah menyerahkan piring pada Namesya.


"Ambil makanan sendiri."perintah Kevin.


Namesya mengerucutkan bibir dan mulai mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.


"Kakak juga ambil sendiri."kata Namesya seraya menyerahkan piring kosong pada Kevin.


"Kakak ngga suruh kamu ambilin makanan buat kakak."omel Kevin.


"Diem. Di depan makanan ngga usah ngomel-ngomel."komentar Namesya.


"Kamu yang mancing."timpal Kevin.


Namesya mendengus dan mulai menyendok makanannya, sementara Arumi menunggu Kevin selesai mengambil nasi dan lauk sebelum dirinya mengambil bagiannya.


####


Malam pun menyapa, langit cerah bertabur bintang berhiaskan rembulan membuat Namesya dan Kevin tertarik untuk duduk di kursi teras.


"Biasanya jam berapa Alfin pulang?"tanya Kevin seraya menilik jam yang sudah menunjukkan pukul delapan.


"Tidak pasti. Beberapa hari ini biasanya jam delapan sudah pulang. Mungkin malam ini lembur."balas Namesya seraya menyeruput teh hangatnya.


"Oh. Kalian terkesan sudah sangat akrab. Yang kakak tahu kamu bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain."komentar Kevin.


Namesya mengedikkan bahu seraya meletakkan cangkir tehnya kembali ke meja,"entahlah. Dia baik. Mungkin karena itu aku bisa dekat dengannya."


"Dulu kakak sering mengajak teman baik kakak bermain ke rumah. Tapi kamu sama sekali tidak tertarik untuk sekedar mengenal mereka. Melirik mereka saja kamu sangat pelit."kata Kevin.


Namesya menggaruk kepalanya,"Bicara tentang teman kakak, aku juga bertemu dengan salah satu teman kakak saat aku pulang dari pesta. Dulu kakak sering sekali pulang kerumah bersama dua teman dekat kakak. Hmmm pantas saja aku merasa agak tidak asing dengan dokter Feres. Ternyata dulu memang dokter Feres sering main ke rumah."katanya saat mengingat dua teman Kevin yang dulu sering main ke rumah.


"Jadi kamu bertemu dengan siapa? Andra?"tanya Kevin.


"Hmmm... Aku keburu kabur sebelum dia memberitahu namanya padaku."jawab Namesya seraya mengulum senyum.


"Pasti kamu takut dia memberitahu kakak keberadaanmu."tebak Kevin.


"Begitulah. Dan sepertinya memang begitu."komentar Namesya.


"kurang lebihnya begitu. Dia sempat menghubungiku malam itu memberitahuku kalau dia bertemu denganmu. Tapi dia tidak memberitahuku lebih banyak. Kakak menemukanmu karena hasil usaha kakak sendiri."jawab Kevin.


"Huft sia-sia aku pindah ke sini untuk menghindari kakak."keluh Namesya.


Kevin mengelus kepala Namesya dengan sayang,"Kamu adik kakak satu-satunya. Sampai ke ujung dunia pun kakak akan mencarimu sampai ketemu."kata lelaki itu.


"Jadi kapan kakak akan mengenalkan pengganti kak Tasya padaku?"tanya Namesya mengalihkan pembicaraan.


Kevin mengerutkan kening,"Apa maksudmu?"tanyanya.


"Bukankah media sedang hangat membicarakan kakak yang terlihat sedang memegang tangan seorang wanita di sebuah cafe."kata Namesya seraya menyodorkan layar ponsel yang menampilkan keberadaan Kevin sedang menggenggam tangan seorang wanita, sayangnya wanita itu hanya terlihat punggungnya,"Tapi kenapa di sini kakak seperti sedang marah? Siapa yang sedang kakak tatap dengan tatapan mengerikan seperti itu?"tanya Namesya.


"Benarkah kakak terlihat mengerikan?"tanya Kevin seraya memandangi wajahnya sendiri yang terlihat di foto itu.


"Aku belum pernah melihat kakak seseram itu saat marah."jujur Namesya.


Kevin mengelus dagunya yang berjambang tipis dengan kening berkerut samar,"Ini hanya gosip biasa. Kakak tahu betul apa yang kakak lakukan saat itu."kata lelaki itu.


"Jadi siapa wanita yang ada di foto itu?"tanya Namesya menuntut penjelasan.


"Ini... Bukan siapa-siapa. Cuma ngga sengaja ketemu di cafe aja. Ya ini cuma permainan sudut pemotretan saja. Atau mungkin ini editan."jelas Kevin seraya tersenyum kecil.


Namesya mengambil alih ponselnya dan mengedikkan bahu,"aku kira kakak memang sedang dekat dengan seseorang."gumamnya,"Aku juga pengen punya kakak cewek. Tapi jangan yang kayak kak Tasya. Dia jutek banget kalau kita jalan bertiga, kayak aku ini orang ketiga aja. Setidaknya aku ini kan adik kakak masa ngga boleh ikut jalan-jalan sama kakak sendiri."gerutunya.


"Terus kamu pengennya kakak nyari cewek yang kayak gimana?"tanya Kevin seraya menyeruput tehnya.


Tanpa berpikir panjang Namesya langsung menjawab,"Seperti Kaka Andin."


Prrruuuttt


Kevin menyemburkan teh dari mulutnya sampai terbatuk karena tersedak mendengar jawaban Namesya.


"A-apa?"gumam Kevin menatap Namesya dengan tatapan heran.


.


.


.


.


.😊😊😊


✌️✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2