Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Pertemuan II


__ADS_3

flashback 1 jam yang lalu


Namesya bergegas pergi ke ruangan Andin sesuai perintah Dokter Rendra yang sudah mengijinkan dia pulang hari ini. Namun ternyata Andin belum beroperasi di ruang praktek. Namesya pun memutuskan untuk datang ke ruang pribadi Andin saat teringat akan perintah Dokter itu untuk datang ke ruangang pribadinya, makan mangga muda bersama di sana.


Ini kali ke dua Namesya datang ke ruangan pribadi Andin, namun kali ini ia datang bukan untuk mengaborsi kandungannya seperti pada kali pertama ia memasuki ruangan itu.


tok


tok


tok


Namesya mengetuk pintu ruangan, namun hening dan tidak ada jawaban. Gadis itu mencoba mengetuknya lagi, namun masih tetap hening.


"kak Andin ke mana?"tanyanya sembari berpikir.


"apa mungkin masih rapat?"tanyanya lagi mencoba menerka.


"ya. mungkin memang masih rapat."ujarnya seraya membalikkan badan dan bermaksud untuk pergi sebentar sebelum ia kembali lagi ke sana.


Cklek


Namesya sudah berbalik saat pintu ruang pribadi sebelah terbuka dan seorang wanita yang usianya tak beda jauh dengan ibu gadis itu keluar, dialah Meylani ibu Alfin.


Melihat Meylani menatapnya, Namesya tersenyum ramah sembari mengangguk kecil. Gadis itu hendak pergi namun terhenti saat Meylani memanggil namanya.


"Namesya."panggil Meylani.


Namesya cukup merasa terkejut mendengar wanita asing yang tak ia kenal itu memanggil namanya.


"Namesya Ayunda Kusuma."Meylani kembali menyebut nama Namesya,"benar bukan itu namamu."tambah wanita itu seraya melangkah mendekat.


"Be- Benar. Tante."Namesya membenarkan dengan pikiran yang semakin di buat bingung."Maaf. Tante ini..."


"Saya ibunya Alfin."Meylani memotong ucapan Namesya,"kamu pasti mau ketemu Alfin kan? Dia masih rapat... Ayo masuk dulu kita ngobrol-ngobrol di dalam."Meylani langsung menggandeng tangan Namesya yang masih dalam mode bingungnya.


'ibunya Dokter Alfin? ya memang benar aku mau ketemu dokter Alfin juga. Tapi darimana ibu dokter Alfin tahu namaku? apa Dokter Alfin yang kasih tahu?'batin Namesya penuh tanya tanpa jawaban pasti sementara Meylani terus menuntunnya memasuki ruangan Alfin.


"Ayo. sini duduk. kita ngobrol dulu sambil nunggu Alfinnya selesai rapat."ajak Meylani mengarahkan Namesya duduk di sofa bersama wanita itu.


"eh. iya Tante. terimakasih."sahut Namesya seraya duduk dan mengedarkan pandangannya di ruangan itu, ia meletakkan bungkusan kecil berisi kerudung di sampingnya.


"Jadi kapan kamu pertama kali bertemu sama Alfin? Pasti di kantor Ryan ya. Alfin kan dulu sering main ke sana juga."Tanya Meylani mulai mengajak ngobrol.


"Eh. itu... aku... anu..."Namesya bingung harus menjawab apa, sebab ia sendiri bingung dengan sikap ibu Alfin yang terlihat aneh ini.


"udah jangan sungkan begitu... Tante ngga akan marah kok meskipun kalian menyembunyikan hubungan kalian dari Tante selama ini. Tante malah seneng banget sekarang akhirnya Alfin sudah nemuin calon menantu buat Tante."Ungkap Meylani yang semakin membuat Namesya bertambah bingung.


"Tante... maaf. Mesya..."


"udah. Kamu pasti di suruh Alfin kan buat rahasiain hubungan kalian? ish dasar anak itu. awas saja nanti."lagi-lagi Meylani memotong ucapan Namesya.


'aduh. maksud Tante ini apa sih? menantu. hubungan. hubungan apa sih maksudnya. aku sama sekali ngga ngerti.'batin Namesya.


Namesya hanya tersenyum seraya menggaruk kepala belakangnya. Semakin bingung melihat ibu dari dokter yang sudah menolongnya ini terus menatapnya sembari tersenyum lebar.


"Jadi di mana kamu ketemu Alfin pertama kali?"tanya Meylani lagi.


"oh. itu..."sembari berpikir,"di rumah sakit ini Tante."jawabnya jujur.


"oh... di sini. Tante pikir kamu ketemu Alfin di kantor kamu bekerja."kata Meylani.


"Tante tahu tempat saya berkerja?"tanya Namesya.


Meylani tersenyum melihat tatapan polos Namesya dan mengusap kepala gadis itu dengan lembut,"sayang... Tante juga baru tahu tadi kalau ternyata kamu kerja di kantor tempat putra Tante bekerja. Kamu jadi sekretaris CEO kan? nah. CEO itu putra bungsu Tante, adiknya Alfin. pasti Alfin belum kasih tahu kamu kalau CEO tempat kamu kerja itu adiknya. ih gimana sih itu anak."terang Meylani.


'aduh kenapa makin runyam begini sih. Gimana ceritanya sampai ibunya dokter Alfin tahu tempat aku kerja. Dan beliau bilang CEO di kantor itu adiknya dokter Alfin yang itu artinya kantor itu milik... beliau juga.'batin Namesya semakin bingung.


"loh kenapa ngelamun?"tanya Meylani.

__ADS_1


"eh. ngga Tante. ngga ngelamun kok cuma agak bingung aja."jawab Namesya.


"udah ngga usah di bikin bingung-bingung. yang jelas Tante ini ibunya Alfin yang itu artinya Tante ini calon me-"


Ceklek


Meylani menghentikan ucapannya saat melihat pintu ruangan Alfin terbuka dan melihat putra yang sudah ditunggunya menampakkan diri.


"Alfin."Meylani menyebut nama putranya itu dengan senyum sumringah.


flashback off


Rupanya Alfin terlambat menyembunyikan tas Namesya yang sudah di bongkar oleh Meylani, ibunya. Terbukti dengan tas Namesya yang sudah berpindah tempat dari tempat semula ia meletakkan tas itu.


"Mama. Mama sudah datang."Alfin lanjut memasuki ruangannya dan langsung menghampiri ibunya serta menatap penuh tanya kepada Namesya yang duduk di samping ibu lelaki itu,"Mesya. Kamu sudah di sini?"tanya lelaki itu.


"iya. Aku tadi mau keruangan dokter Andin. Tapi kayaknya dokter Andin belum selesai rapat."jawab Namesya.


Meylani menatap dua anak muda di hadapannya penuh tanya karena dua orang yang disangka wanita itu memiliki hubungan terlihat kaku saat berbicara.


"kalian ini kenapa kaku begitu? sudah ngga usah pakai sembunyi-sembunyi lagi. mama udah tahu semuanya."kata Meylani.


"memangnya mama tahu apa?"tanya Alfin yang bersamaan dengan Namesya yang bertanya,


"maksud Tante apa?"


Namesya dan Alfin saling bertukar tatapan penuh tanya dan penuh rasa penasaran dengan apa yang saat ini di pikirkan ibu Alfin.


"Udah lah ngga usah pada sekongkol gitu. mama udah tahu kalau kalian punya hubungan kan"kata Meylani berusaha menjelaskan.


"hubungan.?"tanya Alfin.


"Hubungan.?"dan Namesya juga bertanya demikian.


'ah. kacau. pasti mama salah paham."batin Alfin.


'jangan-jangan Tante ini salah paham."batin Namesya.


"gimana Alfin ngerti mama aja ngomongnya ngga jelas gitu."ujar Alfin.


"oke. mama akan perjelas sekarang."timpal Meylani,"mama tahu kalau kalian ini punya hubungan khusus di belakang mama. Kalian berdua pacaran kan?"wanita itu menjelaskan maksud semua ucapannya.


Alfin meraup wajah dengan satu tangannya, tubuhnya bergerak gelisah. Sedangkan Namesya menatap lelaki itu dengan wajah kebingungan.


'bagaimana bisa ibu dokter Alfin mengira kami berpacaran?'batin Namesya bertanya.


'Astaga... bagaimana ini. Mama salah paham dan Namesya pasti juga salah paham padaku.'Alfin pun juga membatin.


Di saat dua orang itu memasang wajah bingung, Meylani justru menganggap ekspresi bingung mereka sebagai ekspresi untuk mencari cara agar bisa mengelak dari tebakan wanita itu. Senyum sumringah tetap tersungging di bibir Meylani yang tak henti menatap dua orang itu secara bergantian.


"Bagaimana? apa kalian masih mau mengelak?"tanya Meylani.


"Maa... mama sudah salah paham..."bujuk Alfin seraya melirik jam tangannya, lima belas menit lagi ia sudah harus stand di ruang prakteknya.


"salah paham apa maksud kamu hemm... Sudahlah Alfin. Apa gunanya kamu menyembunyikan hubungan kamu dengan Namesya. Apa yang kalian takutkan sampai-sampai kalian menyembunyikan hubungan kalian seperti ini? Alfin. Bukankah kamu tahu, mama dan papa tidak pernah pilih-pilih untuk soal jodoh. Asal kalian bisa saling mencintai, saling menyayangi, saling melengkapi, mama sama papa ngga akan mengusik hubungan kalian."ujar Meylani.


"Tapi maa..."Alfin melirik Namesya yang menatapnya dengan tatapan pasrah.


Namesya memang tidak tahu harus berkata apa, ia hanya berharap Alfin bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya. Namun hati gadis itu tetaplah cemas dan khawatir.


"Oke. Kalau kamu ngga mau ngaku."kata Meylani seraya mengambil benda pipih dari dalam tas mewahnya,"Mama akan telfon Ressa buat balik lagi ke sini. Dan mama akan jodohin kamu sama dia. kalau perlu mama akan nikahkan kamu sama Ressa besok."ancam wanita itu dengan penuh keyakinan dan bersiap menghubungi Ressa.


Alfin tahu itu hanyalah ancaman. Namun saat mendengar nada sambung di ponsel ibunya terdengar nyaring, lelaki itu merasa sangat khawatir di tambah lelaki itu harus segera pergi ke ruang prakteknya.


"Kalian yakin tidak mau mengaku? Kalian mempertaruhkan hubungan kalian sendiri dan memilih tidak mau mengaku?"tanya Meylani sembari menatap Namesya dan Alfin bergantian.


Kedua bahu Namesya melemas, begitupun Alfin yang kemudian memejamkan mata berusaha mencari solusi dalam pikirannya saat ini.


"hah."Alfin menengadahkan kepala, masih dengan mata terpejam sebelum terbuka dan menatap langit ruangannya,"baiklah."gumamnya sebelum menunduk dan berkata,"Alfin harus pergi bekerja sekarang. Terserah mama mau melakukan apa."

__ADS_1


"Apa maksudmu? kau mau mama menjodohkanmu dengan Ressa atau kau mau mengaku hubunganmu dengan Namesya?"tanya Meylani meminta penjelasan.


Alfin menelan salivanya dan menatap Namesya penuh dengan tatapan bersalah,"Yah. Baiklah. Aku menyerah. Mesya..."Alfin benar-benar merasa bersalah melihat tatapan Namesya.


"Mesya ini pacarmu. Calon menantu mama. Iya kan?"cecar Meylani.


Alfin menghembuskan nafas dan menunduk,"Ya."satu kata yang hanya terdiri dari dua huruf itu mampu menambah tatapan sumringah Meylani dan satu kata itu sudah membuat Namesya terkejut.


'apa? Dokter Alfin mengakuiku sebagai pacarnya'batin Namesya tidak percaya.


'maafkan aku sudah melibatkanmu dalam masalah pribadiku. tapi aku terpaksa melakukannya. aku terdesak waktu dan aku juga lelah dengan ancaman ibuku yang selalu mewujudkan apa yang beliau ucapkan.'batin Alfin penuh sesal dan mewakilkan tatapannya untuk menyampaikan maafnya terhadap Namesya.


"Nah. Kalau ngakunya dari tadi kan mama ngga perlu hubungin Ressa."kata Meylani yang sudah kembali menempel di dekat Namesya, menggandeng lengan gadis itu sembari mengelus lembut rambut Namesya yang tak di ikat itu,"Ayo. Kita duduk lagi."ajak wanita itu.


Namesya mengerjakan matanya yang sedari tadi masih bingung menghadapi satu masalah ini. Saat melihat tatapan Alfin yang penuh rasa bersalah, gadis itu hanya bisa mengikuti arahan Meylani dan duduk kembali bersama di sofa.


"Ini. Tas kamu."Meylani menyerahkan tas Namesya.


'ah. benar. tas itu. kalau saja aku tidak sembarangan meletakan tas itu di sana. pasti hal ini tidak akan terjadi .'batin Alfin merutuk.


"Kenapa masih di situ? Katanya mau kerja?"tanya sekaligus sindirian Meylani terhadap Alfin.


Alfin pun terperanjat dan langsung menyambar barang-barang yang biasa ia bawa ke ruang prakteknya di atas meja.


"Aku pergi mah."pamitnya.


"eh. eh. cuma sama mama pamitnya."komentar Meylani.


"memangnya apa la..."Alfin menyadari satu hal lain yang terlalu mendadak baginya,"Ah maaf. Aku buru-buru sekali. aku lupa... mmm... Mesya Aku pergi dulu."pamitnya pada Namesya dan langsung melesat pergi sebelum telinganya mendengar komentar ibunya atas caranya berpamitan pada Namesya.


"huh dasar laki-laki."komentar Meylani.


"Tante."Namesya memberanikan diri memanggil wanita itu dengan hati-hati.


"Iya sayang ada apa?"sahut Meylani seraya menggenggam tangan Namesya.


Hangat


Aneh. Ada kehangatan yang terasa begitu menenangkan yang di rasakan Namesya saat Ibu Alfin menggenggam tangan gadis itu. Kehangatan itu terasa membuat Namesya tenang dan nyaman. Ditambah lagi tatapan Meylani yang begitu meneduhkan hatinya. Membuat mata Namesya memanas karena hal itu membuat gadis itu merindukan ibunya.


'jangan menangis.'batin Namesya menyuruh dirinya sendiri untuk tidak menangis.


"Sayang... Ada apa? Kenapa kamu sedih?"tanya Meylani begitu melihat ada genangan air di kedua sudut mata Namesya.


"Oh. Ngga kok Tante. Mesya ngga kenapa-kenapa. Cuma agak perih aja matanya."Bantah Namesya seraya mengusap kedua sudut matanya dengan jari-jarinya.


"Yakin kamu ngga apa-apa? Atau kamu takut sama Alfin? kamu takut kena marah Alfin yah?"tanya Meylani.


"Ngga Tante. Ngga apa-apa. Beneran. Mesya baik-baik aja."bantah Namesya meyakinkan.


"yakin ya. ngga apa-apa."Meylani masih ragu.


Namesya mengangguk seraya tersenyum kecil menampilkan satu lesung di pipi kiri gadis itu,"iya Tante."lirihnya.


"Ya udah kalau gitu."Meylani memilih percaya dan berkata,"Oh iya. Maaf ya. Tadi Tante lancang buka-buka tas kamu. Habisnya Tante penasaran pas lihat ada tas perempuan di sini. Jadi Tante cuma pastiin kalau itu memang tas perempuan."


"Oh."Namesya melirik tas yang sudah ada di pangkuannya.


"Kamu ngga marah kan?"tanya Meylani.


"Oh. ngga Tante. Mesya ngga marah kok."balas Namesya.


"Syukurlah. Tante sempet takut kalau kamu marah."ujar Meylani,"Tapi beruntung Tante lihat tas kamu disini. Jadi Tante tahu hubungan kalian hari ini. Ah. Tante ngga nyangka kalau jodoh anak Tante itu deket banget."


Namesya hanya mampu sekedar tersenyum menanggapi ucapan Ibu Alfin tentang dirinya dan Alfin. Gadis itu bahkan tak pernah bermimpi memiliki kekasih seorang dokter. Tapi hari ini tiba-tiba dirinya sudah dianggap menjadi kekasih seorang dokter. Tak tanggung-tanggung dirinya langsung dipertemukan dengan ibu lelaki itu.


'sebaiknya aku harus tanyakan langsung pada Dokter Alfin. Apa dia akan membohongi ibunya seperti ini? Sampai kapan? bagaimana kalau nanti ibunya menuntut kami untuk menikah? terlebih lagi sekarang aku sedang mengandung? apa jadinya kalau beliau tahu aku sedang mengandung? astaga... pasti beliau akan mengira jika anak ini anak dokter Alfin.'batin Namesya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya sementara telinganya mendengarkan ibu Alfin menceritakan banyak hal dan senyum serta tatapannya mewakilkan bibirnya menanggapi setiap cerita wanita itu.


'*Cerita. Yah. ini hanyalah sebuah cerita hidupku yang tiba-tiba sudah menjadi kekasih seseorang yang baru beberapa kali bertemu denganku. Pertemuan yang tiba-tiba, apakah ini bisa di sebut dengan takdir? Takdir seperti apakah yang akan ku jalani nanti jika aku menerima kenyataan di awal pertemuan ini?'

__ADS_1


😊😊😊😊*


__ADS_2