Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Efek menahan rindu


__ADS_3

Sepekan pun berlalu begitu cepat sejak hilangnya Arumi yang membuat semua orang yang terlibat dan mengenal gadis itu ikut resah dan khawatir. Tak luput juga Namesya yang sangat mengkhawatirkan Arumi, seolah-olah gadis itu hilang di telan waktu. Tak ada titik terang yang bisa menunjukkan keberadaan Arumi saat ini.


"Bagaimana kak? Belum ada kabar tentang Arumi?"tanya Namesya pada Andin.


Pagi itu Andin datang ke apartemen Namesya karena Namesya mengeluh selalu mual setiap pagi dan setiap habis makan selalu saja mual. Tak jarang lambung Namesya hanya menadah makanan beberapa menit saja setelah ia makan karena sehabis makan selalu muntah.


"Belum. Dokter Feres bahkan sudah mengerahkan semua anak buah keluarganya untuk mencari. Tapi belum ada yang menemukannya."jawab Andin sembari memeriksa perut Namesya.


"Semoga saja Arumi baik-baik saja."lirih Namesya.


"Alih-alih memikirkan orang lain kamu juga jangan lupa memikirkan dirimu sendiri. Berat badanmu bahkan turun. Kamu mengeluh mual setiap pagi. Tidak bisa makan dan tidur dengan nyaman."kata Andin.


Namesya tersenyum kecil,"Mau bagaimana lagi. Bukankah itu umum bagi wanita hamil."katanya.


"Memang umum. Tapi bukan berarti tidak bisa di atasi."balas Andin.


"Jadi bagaimana mengatasinya?"tanya Namesya.


"Sudah coba air jahe hangat setiap pagi?"tanya Andin.


"Aku memang selalu meminumnya. Tapi aku selalu merasa ada yang kurang dari air jahe buatanku. Dan itu sama sekali tidak memberikan efek apapun, aku tetap mual dan muntah setelah minum air jahe."jawab Namesya.


"Aku heran. Biasanya kalau obat tidak mempan air jahe akan mempan meredakan mual."gumam Andin.


"Apa buatan orang lain itu bisa mempengaruhi rasa?"tanya Namesya.


"Maksudmu?"tanya Andin.


"Mmm... sebelumnya aku memang pernah minum air jahe buatan seseorang. Dan itu efektif meredakan mualku. Dan berhari-hari kemudian aku tidak mual-mual lagi."jawab Namesya.


"Apa Alfin yang membuatkan air jahe untukmu."kata Andin.


"Mmm... Ya."balas Namesya.


Andin mengerutkan keningnya menatap Namesya,"Yang aku sering temui wanita hamil akan selalu bisa mengatasi masalah kehamilannya dengan bantuan dari suaminya. Tapi di sini, Alfin bahkan bukan ayah anakmu tapi keberadaannya malah memberikan efek positif untukmu. Apa kamu merasa nyaman bersama Alfin."


Namesya menggaruk kepalanya sembari tersenyum,"Entahlah."gumamnya.


"Ah... itu artinya mual mu ini ada hubungannya dengan emosi kalian. Bisa saja kamu merindukan Alfin dan itu akan berefek pada kondisi kehamilanmu. Kenapa tidak kamu percepat saja waktunya. Satu bulan hanya akan membuatmu kurus kering."kata Andin.


"Heh. Kak Andin ada-ada saja."gumam Namesya meskipun dalam hatinya ia merasa ucapan Andin memang cukup meyakinkan.


"Alfin juga pasti sudah sangat merindukanmu. Dia selalu terlihat murung dan sedih di luar pekerjaannya. Dia juga sudah tampak kurus."kata Andin berusaha memprofokasi Namesya.


"Hhh... Aku masih harus menemui orang tuaku."Kata Namesya.


"Kalau begitu temui mereka secepatnya sebelum Alfin berubah menjadi tengkorak hidup."gurau Andin.


Cklek


"Mesya... Kamu lihat sikat gigi kakak ngga..."Suara Kevin terdengar bersamaan dengan suara pintu kamar yang terbuka.


Andin dan Namesya menoleh bersamaan melihat keadaan Kevin yang tampak berantakan layaknya orang yang baru bangun dari tidurnya, bahkan laki-laki itu bertelanjang dad*. Kevin masih mengucek matanya yang masih mengantuk dan belum menyadari keberadaan Andin yang tampak terkejut melihat postur tubuh Kevin yang terlalu bagus, bagitu menurut pemikiran Andin.


"Aku membuangnya."Jawab Namesya.


"Apa!? Kenapa kamu membuang...nya."Kevin melambatkan ucapan dan menurunkan nada bicaranya saat netranya yang baru terasa awas melihat keberadaan Andin,"Khem. Khem."Laki-laki itu segera menguasai emosi dan menutupi rasa malunya mengingat keadaannya saat ini terlihat oleh Andin,"Ya sudah. Kakak akan membelinya lagi nanti. Ya. Tidak apa-apa kalau kamu membuangnya."Ujarnya sembari dengan gaya coolnya kembali masuk ke dalam kamar.


"Argh. Sial."Gerutu Kevin setelah pintu kamarnya tertutup,"Aih. Malu sekali aku."gumamnya sembari menatap dirinya sendiri yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan.


"Kak... Aku punya sikat gigi cadangan di kamarku. Kalau kakak mau ambil saja."terdengar teriakan Namesya dari luar kamar.


"Ngga perlu. Kakak ngga suka pakai sikat gigi warna pink. Kakak akan pergi beli nanti."jawab Kevin.


"Emangnya kakak pede keluar rumah sebelum sikat gigih."timpal Namesya lagi.


"aish. Dasar bocah tengil."Kevin menyambar handuk kimononya dan keluar setelah memakainya,"Dimana sikat giginya?"tanya Kevin sembari berusaha menatap Namesya dan mengabaikan keberadaan Andin di sana.


"Di kamar mandi. Di lemari kecil."jawab Namesya menunjuk kamarnya sendiri.


"Oke."jawab Kevin dan langsung berlalu menuju kamar Namesya.


Di kamar namesya, Kevin menghela napas setelah berusaha kembali menjaga imagenya di depan Andin.


"Astaga... Kenapa aku harus gugup setiap kali bertemu dengannya. Huft. Ayolah. Aku sudah meminta maaf padanya mengenai foto waktu itu. Bukankah dia sudah memaafkanku dan katanya dia tidak mempermasalahkan hal itu karena wajahnya tidak terlihat."gerutu Kevin sembari memasuki kamar mandi dan bergegas mencari sikat gigi yang di maksud Namesya.


Benar saja. Di dalam lemari hanya ada satu sikat gigi berwarna pink. Kevin terpaksa mengambilnya dan membawanya ke kamarnya.


"Kamu harus jelaskan kenapa kamu membuang sikat gigi kakak."kata Kevin sembari berjalan menuju pintu kamarnya, enggan untuk menoleh karena masih ada Andin di sana.


"Aku tidak sengaja menjatuhkannya ke toilet. Jadi tentu saja aku harus membuangnya. Memangnya kakak mau memakainya lagi."jawab Namesya.

__ADS_1


"Kamu ngapain ke toilet kakak?"tanya Kevin.


"Ngapain lagi memangnya? Aku mual saat mencium bau dari kamar kakak. Dan aku menemukan sesuatu yang menjijikan di toilet kakak jadi aku-"


"Oke. oke. Sudah cukup penjelasannya."Kevin semakin di buat malu oleh adiknya karena Namesya mengungkit tentang masalah toiletnya yang bau.


"Aku belum selesai menjelaskan duduk permasalahannya."Namesya tidak terima Kevin memotong ucapannya.


Brak


Namesya terkikik pelan melihat betapa merahnya wajah Kevin. Sudah pasti kakaknya itu malu karena ulahnya mengungkit masalah toilet di depan Andin.


"Pencernaan kakakku kurang baik. Dia sering sembelit. Sudah aku kasih tahu jangan diet-diet segala. Ya itu jadinya kalau dietnya tanpa prosedur tepat."tutur Namesya tentang Kevin.


"Memangnya kakakmu tidak ada dokter pribadi yang mengatur pola makannya?"tanya Andin.


"Dia tidak mau. Katanya kalau sudah berurusan dengan dokter pasti menu untuk dietnya akan susah untuk dia telan. Katanya pasti tidak enak rasanya. Jadi dia lebih memilih diet sesuai keinginannya."jawab Namesya.


"Ada-ada saja."Komentar Andin seraya tersenyum kecil dan membereskan barang-barangnya,"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi sekarang. Aku sudah meresepkan obat dan vitamin untukmu. Dan resep yang paling ampuh mengatasi mualmu itu sebenarnya ada pada Alfin."pamit wanita itu.


"Hhhh... Akan aku pikirkan resep terakhirnya. Besok aku ingin ke rumah ayah dan ibu."balas Namesya.


"Oke. Semoga berhasil dan lancar. Hati-hati di jalan."pesan Andin.


"Pasti."balas Namesya.


Setelah kepergian Andin dari apartemen Namesya, perlahan Kevin keluar dari kamar dengan hati-hati. Laki-laki itu lebih dulu mengeluarkan kepalanya untuk melihat keluar dan menghela napas saat hanya melihat Namesya di sana.


"Kenapa dokter itu tiba-tiba kemari?"tanya Kevin seraya membuka kulkas.


"Karena aku yang meminta."jawab Namesya.


"Oh."gumam Kevin sebelum meneguk air minumnya.


"Kakak kenapa selalu bertingkah aneh sih setiap ketemu kak Andin."komentar Namesya.


"Itu karena kamu memanggilnya kakak."balas Kevin.


"Apa hubungannya coba."timpal Namesya.


"Ya aneh aja denger kamu sebut dia begitu. Secara kakak kamu itu cuma aku, nih."balas Kevin seraya menepuk dadanya sendiri menunjukkan bahwa hanya dia


"Terus kalau nanti kakak menikah memangnya aku ngga boleh panggil kakak sama istri kakak."jawab Namesya.


"Ya udah. Kakak nikah aja sama kak Andin supaya kakak ngga ngerasa aneh kalau aku panggil kakak sama kak Andin."Jawab Namesya seraya beranjak dan pergi menuju kamarnya.


"Ish. Aneh-aneh aja kamu kalau ngomong."protes Kevin,"Hei. jangan ngomong sembarangan. Hei."Kevin mengikuti Namesya.


Brak


Hampir saja hidung Kevin menjadi korban jika lelaki tidak mundur selangkah dengan cepat saat Namesya menutup pintu di depan wajahnya.


"Ngga aneh. Kakak cowok Kak andin cewek."Balas Namesya dari dalam kamar.


Kevin mendengus dan memilih diam memutus perdebatan anehnya dengan Namesya. Lelaki itu berbalik ke dapur, mengoles rotinya dengan selai coklat sebelum memanggangnya. Kevin mengacak rambutnya mengingat kesalahpahaman publik mengenai foto-fotonya yang tersebar di media.


Saat ini dirinya sedang dalam masalah karena foto-foto tak senonoh yang menuding dirinya adalah orang dalam foto itu sedang beredar di media dan menjadi perbincangan publik. Tentu saja hal itu membuat semua kontrak pekerjaannya bermasalah.


"Sial."umpatnya bersamaan dengan rotinya yang sudah siap makan setelah di panggang, Kevin menatap rotinya tanpa nafsu dan mengambil makanan itu.


"Argh. Panas."keluh Kevin karena tak sengaja jarinya menyentuh panggangan yang panas dan otomatis roti yang sudah ia pegang terlepas, jatuh ke lantai.


Tatapan Kevin menatap roti yang jatuh itu seperti dirinya yang bisa saja jatuh setelah karirnya rusak gara-gara beberapa foto di media. Kevin menengadahkan kepala, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.


"Oke. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan bertahan. Dia belum tahu siapa aku. Ingin menghancurkanku dengan bukti receh seperti ini."Gumam Kevin yang tatapannya telah berubah mengerikan dan menyeringai.


"Kak."Panggil Namesya dari ambang pintu.


"Apa?"sahut Kevin masih dengan wajah kesalnya menatap Namesya.


"Kak Andin minta nomor kakak. Aku kasih atau ngga? Tapi udah aku kasih sih."kata Namesya.


"Ngga usah nanya kalau kamu udah memutuskan jawaban sendiri."Kevin memungut roti panggangnya dan memakannya sembari menahan kesal.


"Maaf. Cuma mau kasih tahu aja biar nanti ngga kaget kalau ada nomor baru masuk."balas Namesya dan kembali masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Namesya mengetik pesan untuk Andin.


'Kak. Maaf. Kak Kevin minta nomor kakak katanya mau konsultasi tentang makanan yang pas untuk dietnya. Nanti ku kirim nomor kak Kevin. Tapi kayaknya kak Kevin agak gengsi mau konsultasi.'


Begitu isi pesan Namesya untuk Andin. Kenyataannya Andin tidak meminta nomor Kevin, namun Namesya merasa masalah Kevin memang ada hubungannya dengan Andin.

__ADS_1


"Kalau mau menyelesaikan masalah. Cari tahu dulu dari akar permasalahannya supaya bisa cepat mengatasinya dengan benar."gumam Namesya setelah memastikan pesannya terkirim.


Namesya merebahkan dirinya di tempat tidur, menatap langit-langit kamar, tangannya perlahan merayap menyentuh perutnya.


"Apa ini efek rindu? Bahkan anakku lebih tahu siapa yang tulus."Gumamnya,"Baiklah. Besok akan aku selesaikan satu persatu masalahku."


Hari itu Namesya mengemasi sedikit barangnya yang akan ia bawa ke rumah orang tuanya. Tidak perlu banyak karena dia memiliki banyak barang di sana. Sebenarnya ia sudah memberitahu masalahnya pada orang tuanya. Dan tak sesuai dengan pemikirannya selama ini, orang tuanya tidak membencinya atau menyalahkan dirinya sepenuhnya.


Hanya saja ia perlu meyakinkan mereka kalau keputusannya adalah yang terbaik untuk dirinya dan anaknya kelak.


Di lain tempat di waktu yang sama, Alfin tengah berbaring lemas di rumahnya. Beberapa hari ini ia susah tidur, nafsu makannyapun benar-benar kacau. Lambungnya akhirnya bermasalah dan akan mual setelah makan sebelum memuntahkan makanan yang sudah ia makan. Alhasil hari ini ia benar-benar tidak bisa beraktifitas dan meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk istirahat di rumah karena memang dirinya sakit.


"Alfin... Ayo dong makan. Kamu aja maksa mama buat makan waktu mama sakit."bujuk Meylani pada putranya yang tetap berbaring di atas tempat tidur.


"Alfin ngga nafsu ma... Lihat makanannya saja Alfin langsung mual. Apa lagi kalau memakannya."balas Alfin dengan mata terpejam.


"Tapi kalau begini terus gimana kamu mau sembuh."kata Meylani,"mama udah suruh Ryan jemput dokter Heri untuk periksa kamu. nanti mereka datang kamu jangan bertingkah."


"Terserah."balas Alfin,"Obat apapun tidak akan manjur."Gumamnya.


"Kamu bahkan belum minum obat apapun gimana kamu tahu kalau obatnya manjur atau enggak."timpal Meylani,"Kamu ini dokter tapi ngga bisa jaga kesehatan kamu sendiri."gerutu wanita itu.


"Ma..."Alfin membuka matanya dan beranjak bangun, duduk dan bersandar sembari menatap Meylani dengan tatapan sayunya.


"Iya sayang. Kamu mau mama buatin apa?"tanya Meylani.


"Enggak ma... Alfin cuma mau minta maaf sama mama."kata Alfin.


"Jangan ngomong aneh-aneh ya."balas Meylani.


"Aku serius ma... Alfin punya banyak salah sama mama. Tapi Alfin bingung mau jelasin dari mana."kata Alfin.


Meylani meletakkan mangkuk berisi bubur ke atas nampan dan terdiam sejenak,"Mama tahu maksud kamu."kata wanita itu.


"Mama tahu apa?"tanya Alfin.


"Mama tahu kalau kamu sama Mesya itu bohongin mama."jawab Meylani.


Alfin cukup terkejut, namun lelaki itu hanya menunduk,"Maaf."ucapnya tulus.


Meylani menghela napas dan meraih tangan Alfin,"Mama tahu kamu melakukan semuanya karena tertekan dengan sikap mama. Mama hanya mencoba menyangkal semua kebohongan kalian dan pura-pura tidak mengetahuinya."


"Alfin mencintai Mesya ma."kata Alfin.


"Mama juga tahu itu. Mama tidak pernah melihatmu melibatkan diri dalam masalah orang lain."timpal Meylani.


"Mama tahu masalah Mesya?"tanya Alfin.


Meylani menghela napas dan mengangguk,"Mama tahu kalau Mesya itu sedang hamil. Mama sudah tahu semuanya."


"Ma..."Kini Alfin justru takut ibunya menentang hubungannya nanti dengan Mesya.


Meylani mengedikkan bahu,"Mama bisa apa kalau kamu memang mencintai Mesya."


"Apa mama tidak marah sama Alfin?"tanya Alfin.


"Siapa bilang mama ngga marah? Mama marah sama kamu karena kamu terlibat dengan seorang artis, bahkan kamu di anggap merebut pacar artis itu. Mama ngga suka kalau anak mama di fitnah seperti itu."Ujar Meylani.


"Jadi mama ngga marah kalau Alfin berusaha mengejar Mesya?"tanya Alfin.


"Dasar bodoh. Kenapa kamu tidak membujuk Mesya untuk rujuk saja dengan pacarnya."kata Meylani seraya menyentil dahi Alfin.


"Sudah Alfin lakukan. Tapi Alfin malah ngerasa sedih setiap ngebayangin kalau Mesya menerima pacarnya lagi."jawab Alfin.


"Mau bagaimana lagi. Kamu mencintai Mesya, tidak ada salahnya kamu mencintainya. Mama tidak akan menentangnya kalau kalian memang saling mencintai."kata Meylani.


Betapa Alfin merasa begitu bahagia mendengar restu ibunya secara langsung. Lelaki itu tersenyum sumringah dan langsung memeluk Meylani begitu erat.


"Terimakasih ma. Semoga restu mama bisa melancarkan urusan Alfin untuk meyakinkan Mesya kalau Alfin benar-benar mencintainya tanpa peduli dengan masa lalunya."ucap Alfin.


Meylani tersenyum seraya membelai punggung Alfin dengan lembut. Rasanya perasaannya sudah menemukan ketenangan mengetahui putra sulungnya menemukan seseorang yang dicintainya.


.


.


.


.


..

__ADS_1


😊😊😊


Rindu itu terkadang meresahkan...


__ADS_2