
Kicauan burung pagi ini samar-samar terdengar, Namesya membuka kelopak matanya perlahan. Hidungnya yang cukup sensitif menghirup aroma harum yang membuatnya merasa nyaman dan enggan untuk beranjak dari tempat tidur.
"Mmm..."Namesya kembali memeluk guling di balik selimut, memejamkan matanya menikmati aroma harum yang tercium hidungnya,"Bau apa ini? Kenapa rasanya sangat membuatku tenang dan nyaman saat menghirupnya."tanya gadis itu penasaran akan asal dari bau itu.
Namesya pun kembali membuka matanya dan duduk di tempat tidur dengan tatapan mengamati ruangan itu. Sangat jelas tidak ada siapapun di kamar itu selain dirinya, namun bau itu tidak ia cium sebelumnya sejak ia tinggal di rumah itu.
"Aku seperti pernah mencium aroma ini. Tapi di mana."Namesya begitu merasa penasaran sampai saat ponselnya berdering, gadis itu cukup dibuat terkejut.
"Huft... Bikin kaget saja."gumam Namesya seraya meraih ponselnya di atas bantal.
Sejenak Namesya terdiam melihat nama kontak yang menghubunginya,"ada apa dokter Alfin pagi-pagi menghubungiku?"tanyanya seraya mengusap layar ponsel itu.
"Halo. Dokter."sapanya.
"Mesya. Apa aku mengganggu tidurmu?"tanya Alfin di sebrang.
"Tidak. Aku sudah bangun sejak tadi."jawab Namesya.
"Oh. Begitu."ujar Alfin terdengar lirih."Aku pikir kamu masih tidur. Aku tidak tega membangunkanmu tadi pagi. Jadi aku masuk ke kamarmu saat kamu masih tidur."
"Dokter masuk ke kamar? Untuk apa?"tanya Namesya.
"Itu. Aku meletakkan uang di dalam laci. Nanti kalau ada Bu Sasmi datang tolong berikan padanya."jawab Alfin.
"Bu Sasmi itu siapa?"tanya Namesya yang tidak ingat perkataan Alfin kemarin kalau hari akan ada asisten rumah tangga yang datang membereskan rumah.
"Beliau orang yang biasa membereskan rumahku. Hari ini beliau akan datang."jawab Alfin.
"Oh... iya aku ingat. Maaf aku lupa."ujar namesya mengakui dirinya lupa
"Ya benar. Tolong ya nanti berikan upahnya untuk Bu Sasmi."pinta Alfin.
Namesya membuka laci meja di dekat tempat tidur dan melihat beberapa lembar uang ratusan di sana,"Semuanya?"tanya Namesya.
"Ah. Tidak... Beri beliau satu lembar saja."jawab Alfin.
"Oh..."gumam Namesya sembari mengangguk dan menutup kembali lacinya.
"Sisanya untukmu."Kata Alfin meski Namesya tidak menanyakan akan diapakan sisa uang yang ada di laci itu.
"Hah. Apa?"tanya Namesya kurang jelas.
"Sisa uangnya untukmu. Aku memesan sarapan untukmu dari restoran yang kemarin kita datangi. Aku lihat kamu menyukai makanan yang kemarin itu. Nanti akan ada kurir yang mengantarnya."kata Alfin.
"Hump."Namesya langsung membekap mulutnya saat teringat akan rasa dari menu yang katanya diperuntukan bagi wanita hamil.
"Mesya... ada apa? kamu baik-baik saja?"tanya Alfin di sebrang.
Meski tahu Alfin tidak melihatnya, Namesya menggelengkan kepala dengan tangan masih membekap mulut menahan mual di perutnya. Namun karena tidak tahan lagi dengan gejolak di perutnya, Namesya beranjak dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Hoek... Hoek... Hoek..."Namesya memuntahkan seluruh isi perutnya yang semalam ia isi dengan makanan yang Alfin belikan untuknya. Rasanya sangat menyiksa.
Sementara itu di sebrang Alfin terdengar memanggil-manggil Namesya dengan rasa cemas karena mendengar suara Namesya yang muntah-muntah. Memang samar, tapi Alfin yakin kalau Namesya sedang muntah.
"Mesya... Mesya... Apa kau baik-baik saja?"seru Alfin dari ponsel Namesya yang masih terhubung."Mesya... Mesya..."Alfin kembali memanggil dengan nada cemas.
Namesya sendiri masih berjuang di dalam kamar mandi mengeluarkan apa yang mungkin masih ada dalam perutnya. Sampai kakinya terasa gemetar dan tangan beserta tubuhnya lemas. Tapi gadis itu memaksa kakinya melangkah keluar dan kembali duduk di tempat tidur.
Alfin masih terus memanggil Namesya dengan kecemasan yang bertambah karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari orang yang dipanggilnya,"Mesya ... tolong jawab aku... apa kau baik-baik saja.?"tanya lelaki itu dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang berlari."Mesya..."
Namesya memejamkan matanya yang terasa berat dan pandangannya tampak mengabur, berusaha menarik napas dan mengumpulkan tenaga untuk menjawab panggilan Alfin.
"Dokter... Aku-"
Brugh
Namesya tak lagi sanggup menahan kesadarannya, gadis itu pingsan, ponselnya terjatuh ke lantai sementara tubuh gadis itu ambrug di tempat tidur. Mendengar suara benda jatuh cukup membuat Alfin di sebrang kalap. Laki-laki itu masih berada di restoran dan memang sedang berlari kecil menuju mobilnya hendak pulang lebih dulu begitu mendengar suara Namesya muntah. Dan kini laki-laki itu sedikit tidak sabar untuk segera sampai kembali ke rumahnya demi melihat keadaan Namesya yang tidak terdengar apapun di sebrang.
"Nona..."
Alfin memperjelas pendengarannya saat mendengar suara seseorang memanggil nona di sebrang.
"Nona... Nona... apa anda baik-baik saja? Nona... apa anda mendengar saya? nona... Nona... aduh bagaimana ini. Kenapa nona ini tinggal sendirian?"kembali suara penuh kecemasan itu terdengar, semakin membuat Alfin kalap dan yakin jika Namesya tidak sedang baik-baik saja.
"Mesya... semoga kamu baik-baik saja..."gumam Alfin yang akhirnya sampai di depan gerbang rumahnya.
Alfin bergegas keluar mobil dan berlari lagi menuju rumahnya, tujuan utamanya kamar yang di tempati Namesya.
"Mesya...Hosh... Hosh... Hosh..."napas Alfin tersengal setelah membuka pintu kamar dan mendapati Namesya terbaring di tempat tidur dan seorang gadis muda tengah duduk di tepi tempat tidur sembari bergerak gelisah.
"Kamu siapa?"tanya Alfin.
__ADS_1
"Oh. syukurlah. Ternyata ada orang lain di rumah ini."kata gadis itu yang langsung bangkit dari tepi tempat tidur Namesya.
"Kamu siapa?" Alfin kembali bertanya setelah berdiri di hadapan gadis itu.
"Saya Arumi. Hari ini saya menggantikan bibi saya membersihkan rumah ini."jawab gadis yang mengaku bernama Arumi dan bertanya,"Tapi Anda sendiri siapa?."
"Oh. Kamu menggantikan Bu Sasmi."Gumam Alfin,"saya pemilik rumah ini."lelaki itu menjawab pertanyaan Arumi.
Seketika Arumi menunduk hormat sembari berkata,"Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau anda pemilik rumah ini. Saya pikir hanya nona ini yang tinggal di sini."
"Ya. ya. tidak apa-apa. Ya sudah. kamu boleh mulai bekerja. Biar saya yang akan mengurus Mesya."ujar Alfin.
"Baik tuan. Saya permisi."Arumi pamit undur diri dari kamar itu.
"Oh ya. Tunggu."Cegah Alfin saat Arumi baru beberapa langkah menuju pintu.
"Ya tuan. Ada yang bisa saya bantu."kata Arumi.
"Tolong buatkan minuman jahe hangat untuknya. Lalu apa kamu sudah tahu tugas kamu di sini?"Alfin memerintah sekaligus bertanya.
"Saya beberapa kali pernah menggantikan bibi saya membersihkan rumah ini. Tapi saya tidak pernah bertemu tuan dan nona, jadi saya tidak tahu kalau tuan pemilik rumah ini."jawab Arumi.
Alfin mengangguk paham,"ya sudah. Kamu boleh pergi. Jangan lupa minuman jahenya."katanya.
"Baik tuan."Arumi pamit untuk kedua kalinya dan gadis itu pergi menuju dapur membuat minuman jahe hangat lebih dulu.
Sementara di kamar, Alfin memeriksa keadaan Namesya yang masih pingsan."Huft. Sepertinya dia mengalami morning sicknes."gumam Alfin mendiagnosis penyebab Namesya pingsan, teringat akan gadis itu yang sedang hamil.
"Ukh."Namesya akhirnya menunjukkan reaksi setelah Alfin mengoleskan minyak angin di kening gadis itu serta membiarkan aroma minyak angin tercium di depan hidung.
"Akhirnya sadar juga."Alfin menghela napas lega melihat Namesya mulai membuka matanya.
"Dokter."lirih Namesya setelah menyadari keberadaan Alfin di kamar itu.
"Kamu baik-baik saja?"tanya Alfin.
Namesya memutar ingatannya saat ia tiba-tiba mual dan muntah-muntah hebat sampai tubuhnya melemah dan hilang kesadaran,"Aku pingsan."gumam Namesya.
"Iya. Kamu pingsan. Aku mendengarmu muntah-muntah jadi aku langsung kembali lagi dan melihatmu pingsan."kata Alfin.
"Oh. Maaf merepotkan dokter. Seharusnya dokter sudah di rumah sakit."sesal Namesya.
"Tapi Dokter jadi harus bolak-balik ke sini."ujar namesya.
"Tidak apa-apa. Sudahlah jangan kamu pikirkan."timpal Alfin,"jadi bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih merasa mual, pusing?"tanya Alfin.
"Masih sedikit mual sama pusing."jawab Namesya.
"Sepertinya itu reaksi umum wanita hamil. Aku sudah menyuruh Arumi membuatkan jahe hangat untukmu. Kata Andin minuman hangat itu bisa meredakan mual."kata Alfin.
"Siapa Arumi?"tanya Namesya.
"Oh. dia yang hari ini datang membersihkan rumah ini."jawab Alfin.
"Oh..."gumam Namesya seraya mengangguk mengerti.
Tok
tok
Dari arah pintu yang masih sedikit terbuka, Arumi mengetuk daun pintu. Alfin dan Namesya sama-sama menatap keasal suara.
"Permisi tuan. Ini jahe hangatnya."kata Arumi setelah membuka pintu.
"Iya."Sahut Alfin memberi isyarat untuk Arumi meletakkan jahe hangatnya ke atas meja.
'Asisten rumahnya masih muda sekali. Kelihatannya usianya tidak jauh berbeda dari usiaku.'batin Namesya berkomentar setelah melihat Arumi.
"Mesya."Alfin menyadarkan Namesya yang terdiam saat menatap Arumi.
"Eh. Ya."sahut Namesya.
"Dia Arumi. Hari ini dia akan bekerja di sini. Apa kau ingin dia menemanimu di sini sementara? Dia boleh tinggal di sini kalau kamu mau."kata Alfin.
"Hah. Apa?"Namesya tidak mengerti maksud Alfin.
"Kalau kamu merasa kesepian tinggal di sini sendiri. Mungkin Arumi bisa tinggal di sini untuk menemanimu, jadi kamu ngga sendirian."kata Alfin menjelaskan maksudnya, lelaki itu menatap dua gadis itu bergantian.
"Itu..."Namesya menatap Arumi yang hanya terdiam.
"Bagaimana Arumi? apa kamu bisa tinggal di sini sekalian?"tanya Alfin pada Arumi.
__ADS_1
"Tapi, sebenarnya saya punya beberapa pekerjaan yang lain. Saya tidak yakin kalau untuk menetap di sini."kata Arumi.
"Memangnya kamu bekerja di mana?"tanya Alfin.
"Saya sudah menandatangani kontrak kerja di gedung apartemen. Saya tidak bisa melanggar kontrak itu dengan menetap di sini. Dan lagi, nanti bibi saya akan tinggal sendirian di rumah kalau saya menetap di sini."kata Arumi.
Alfin mengangguk mengerti posisi Arumi saat ini,"Baiklah. Tidak apa-apa. Saya pikir kamu tidak terikat dengan kontrak kerja di tempat lain."kata Alfin.
"Memangnya kamu kerjanya sampai malam?"tanya Namesya.
"saya bagian sift malam. Itu sebabnya kalau siang saya bisa bekerja di tempat lain seperti ini."jawab Arumi.
"Oh... Begitu."gumam Namesya.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak tinggal di sini saja saat siang. Maksudku kamu bekerja di sini saat siang."kata Alfin.
"Tapi..."Arumi tampak bingung.
"Kamu boleh memikirkan kembali tawaran saya. Kalau kamu masih ragu itu tidak masalah."Kata Alfin.
"Saya akan memikirkannya kembali."balas Arumi.
"Ya sudah beritahu saya kalau kamu berminat untuk menjadi asisten rumah tetap saya dan tinggal di sini. Kalau begitu saya harus pergi sekarang."Alfin melirik jam tangannya dan menatap Namesya yang sedang menyeruput jahe hangat buatan Arumi.
"Kalau begitu saya permisi."pamit Arumi yang langsung pergi dari kamar itu.
"Bagaimana? Apa perutmu sudah tidak mual lagi?"tanya Alfin saat Namesya berhenti meminum air jahenya.
"Sudah baik-baik saja."jawab Namesya seraya tersenyum meski bibirnya masih terlihat pucat.
"Syukurlah."komentar Alfin,"Ya sudah. Aku berangkat sekarang. Kalau kamu membutuhkan sesuatu panggil saja Arumi."pesannya seraya bangkit dari duduknya.
Namesya mengangguk,"Hati-hati di jalan.'ucap Namesya melihat Alfin merapihkan lengan kemeja.
Alfin berhenti menggulung lengan kemejanya dan menatap Namesya sebelum tersenyum kecil,"jaga dirimu."katanya sebelum beranjak pergi dari kamar itu.
Meninggalkan Namesya yang kini mengangkat tangan menyentuh dadanya. Gadis itu merasa degup jantungnya meningkat saat melihat sorot mata Alfin yang menatapnya dengan tatapan lembut seraya mengembangkan senyum kecil yang manis menambah kadar ketampanan lelaki itu.
"Ish. Apa yang aku pikirkan."Namesya menggelengkan kepala menepis perasaan senangnya mendapatkan tatapan lembut dari Alfin, gadis itu lanjut meminum air jahenya hingga tandas habis.
####
Arumi sedang mengepel lantai dapur saat Namesya menghampirinya. Gadis berkulit bersih dan berparas manis itu menghentikan gerakannya mengepel lantai.
"Ada yang bisa saya bantu nona?"tanya Arumi.
Namesya tersenyum dan duduk di kursi,"Cuma ingin ngobrol aja sama kamu. Apa pekerjaanmu masih banyak?"tanya Namesya.
"Oh. Saya masih harus mengepel ruang tamu dan membersihkan halaman."jawab Arumi yang merasa heran dengan perkataan Namesya yang ingin mengobrol dengannya.
"Oh. masih lama ngga?"tanya Namesya,"Sebenarnya aku ingin pergi ke supermarket. Mau beli bahan makanan. Kamu mau kan nemenin aku."
"Sepertinya tidak begitu lama."jawab Arumi.
"Ya sudah. Kamu lanjut kerja aja. Nanti kalau udah selesai ikut aku belanja ya."kata Namesya.
"Baik nona."balas Arumi.
"Oh ya. Jangan panggil aku nona. Kayaknya usia kita ngga begitu jauh. Dan lagian bos kamu itu Dokter Alfin, bukan aku."kata Namesya.
"E. maksud nona apa?"tanya Arumi tidak mengerti, sebab gadis itu mengira jika Namesya itu mungkin kekasih atau bahkan istri Alfin.
"Maksud aku kamu ngga usah sungkan sama aku. Kamu jangan panggil aku nona. Kalau aku lihat... kayaknya kamu lebih muda dariku. Namaku namesya Jadi kamu boleh panggil aku kakak aja."kata Namesya.
"Tapi saya tidak enak sama Tuan."jujur Arumi.
"hahaha..."Namesya tertawa melihat wajah polos Arumi,"Ya ampun... ngapain ngrasa ngga enak sama dokter Alfin. Apa hubungannya sama dia. Kan aku nyuruh kamu panggil aku pake sebutan kak jangan nona. Aku bukan pemilik rumah ini jadi kamu ngga perlu sungkan sama aku. Aku cuma tinggal sementara aja. Nanti kalau aku sudah nemuin tempat tinggal baru aku bakal keluar dari sini."jelas Namesya.
Arumi tampak semakin bingung dan menggaruk rambut kepalanya,"Saya pikir nona ini istri atau kekasih tuan Alfin."aku Arumi.
Namesya membekap mulutnya menahan tawa,"kamu ini ada-ada saja. Bukan... aku bukan kekasihnya, apalagi istrinya. Aku cuma..."Namesya mengerjap memikirkan apa hubungannya dengan Alfin saat ini,"kami hanya berteman. Dia menolongku dan membiarkanku tinggal sementara di sini sampai aku menemukan tempat tinggal baru."katanya kemudian,"Ya sudah. Kamu lanjut aja. Aku mau panggang roti dulu."Namesya beranjak dan menuju tempat keberadaan roti.
.
.
.
.
😊😊😊😊
__ADS_1