
"Jadi dokter tinggal sendirian? Di rumah sebesar ini?"tanya Namesya begitu mereka sampai di rumah Alfin yang menurut gadis itu terlalu besar untuk menjadi tempat tinggal satu orang.
"Mama sering kemari. Jadi aku tidak selalu sendiri."jawab Alfin sembari mengarahkan Namesya menuju pintu kamar yang akan di tempati gadis itu,"ini kamarmu."katanya.
"Ya. Terimakasih."sahut Namesya dan lanjut membawa barang-barangnya memasuki kamar.
"Di dalam sudah ada kamar mandinya juga."tambah Alfin memberitahu detail ruangan yang semalam ia bereskan saat ide untuk bertukar tempat tinggal dengan Namesya muncul dalam benaknya.
Namesya tersenyum dan mengangguk,"Kebaikan dokter tidak akan pernah aku lupakan."kata gadis itu.
"masuklah. ganti bajumu. Aku harus mengembalikan seragam itu kepada pemiliknya lagi."ujar Alfin.
"Baiklah."balas Namesya.
Alfin lanjut menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, lelaki itu harus mengemas beberapa barang penting lainnya yang harus ia bawa ke apartemen Namesya. Sampai saat ini Alfin masih bingung dengan tindakannya sendiri yang membiarkan dirinya ikut campur dalam urusan orang lain. Padahal saat ini ia masih memikirkan masalah pribadinya yang harus mencari jalan keluar paling aman agar ibunya tidak lagi salah paham dan berhenti menjodoh-jodohkan dirinya lagi.
"Tidak mudah untuk membuat mama percaya kalau Namesya bukan pacarku."gumam lelaki itu."dan tidak mudah juga mencari seseorang untuk kunikahi. huh. aku harus bagaimana menghadapi kekacauan ini "Alfin mengacak rambut dengan kedua tangannya karena frustasi memikirkan problemnya sendiri.
Drrrt...
Alfin terperanjat saat ponselnya bergetar dan buru-buru menilik benda pipihnya. Ternyata Feres yang menghubunginya.
"Ya."katanya setelah menjawab panggilan Feres.
"Ini aku."terdengar suara Andin yang berbicara.
"Oh. Andin. ada apa? Kenapa kamu memakai ponsel Feres?"tanya Alfin.
"Feres memberitahu rencanamu padaku. Jadi aku datang ke apartemennya. Apa Mesya bersamamu?"jawaban sekaligus pertanyaan menjadi satu paket dalam ucapan Andin.
"Ya. Dia bersamaku."jawab Alfin.
"Apa dia baik-baik saja?"tanya Andin lagi.
"Kulihat dia baik-baik saja."balas Alfin.
"Aku takut dia melakukan hal nekad lagi."jujur Andin.
"Aku rasa dia tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi. Aku akan menjaminnya. Dia tinggal di rumahku, aku bisa mengawasinya melalui cctv selama dia di rumahku."Kata Alfin.
"Oh. Aku harap dia bisa melanjutkan hidupnya dengan baik-baik saja."tutur Andin,"jadi apa rencanamu selanjutnya?"tanyanya.
"Rencanaku..."gumam Alfin seraya menimbang-nimbang apa yang mungkin akan ia lakukan selanjutnya,"Aku akan adakan pesta kecil di apartemen Mesya. Ya. Pesta kecil setelah menempati rumah baru."katanya kemudian terkekeh.
"Itu ide bagus. Apa aku harus datang juga?"tanya Andin.
"Tentu saja."jawab Alfin.
"Ah. kau benar. Temanmu hanya aku dan Feres."ujar Andin kemudian terdengar wanita itu terkekeh.
"Ngomong-ngomong kenapa nomormu tidak aktif. Semalam aku mengirim pesan dan pagi tadi aku mencoba menghubungimu tapi tidak aktif."kata Alfin.
"Ah. itu... Ponselku hilang. Aku lupa memberitahu nomor baruku."jawab Andin.
"Oh. Begitu."gumam Alfin.
"Aku akan menghubungimu nanti. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang."pamit Andin.
"oke. selamat bekerja."balas Alfin.
Alfin bergegas mengumpulkan beberapa barang pentingnya dan keluar dari kamar bersama sebuah koper.
"Aku sudah seperti akan pindah rumah saja."gumam Alfin, langkahnya menuruni tangga seraya menjinjing kopernya.
"Dokter."Suara Namesya memanggil Alfin.
Alfin sedikit mendongak dan melihat Namesya berdiri di ujung tangga sedang menatapnya."Ya."sahutnya sedikit terlambat.
"Dokter sudah mau pergi lagi?"tanya Namesya.
"Ya."Jawab Alfin yang sudah sampai di ujung tangga, berdiri di hadapan Namesya.
"Mm ... ini seragam yang tadi aku pakai."Namesya mengulurkan kantong.
Alfin mengangguk dan menerima kantong itu,"Kalau begitu aku pergi sekarang."pamitnya.
"Ya."sahut Namesya.
Alfin kembali melangkah diikuti Namesya di belakang. Mereka berjalan menuju pintu dan Namesya berhenti di teras melihat kepergian Alfin.
__ADS_1
"Oh ya. Mesya."Alfin berhenti melangkah menuju mobil dan berbalik arah.
"Ada yang ketinggalan?"tanya Namesya.
"Bukan. Aku hanya ingin memberitahumu kalau besok akan ada yang datang membersihkan rumah. Besok pagi aku akan mampir sebelum ke rumah sakit."kata Alfin,"Dan aku butuh nomor ponselmu. Tulis nomormu."Alfin mengulurkan ponselnya meminta Namesya menulis nomor gadis itu di sana.
"Nomor ponselku."Lirih Namesya seraya menerima ponsel Alfin.
"Ya. Kamu harus mengabariku kalau kau butuh sesuatu."balas Alfin menjelaskan alasannya.
"Mmm... begitu."Gumam Namesya.
"Ya sudah. Itu saja."Alfin kembali berbalik dan pergi.
###
"Mungkin ponselmu bisa kutemukan kalau ponselmu tidak kehabisan daya."Ujar Feres setelah mencoba melacak keberadaan ponsel Andin yang katanya hilang, namun tidak tahu kapan benda itu hilang.
Andin juga baru memberitahu Feres perihal ponselnya yang hilang setelah selesai menghubungi Alfin. Namun wanita cantik itu tidak ingat kapan tepatnya benda itu hilang, sebab wanita itu jarang menggunakan ponsel yang nomornya hanya diketahui beberapa orang saja. Wanita itu lebih sering menggunakan ponsel lainnya yang hanya ia gunakan untuk kepentingan bekerjanya, ponselnya yang hilang hanya digunakan wanita itu untuk bermain game saat waktunya senggang dan hanya Feres, Alfin serta beberapa orang terdekatnya saja yang mengetahui nomor itu.
"Sudahlah tidak apa-apa. Lagian di ponsel itu tidak ada yang penting."kata Andin.
"Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami nomormu yang lain.?"tanya Feres.
Andin tersenyum kecil,"Aku pikir satu nomor saja cukup."katanya masih menyisakan senyum.
"ish. Dasar kau ini."Decih Feres seraya mengacak rambut Andin dan lelaki itu beranjak dari sofa saat bel rumahnya berdenting.
Feres tertegun saat melihat Kevin yang sedang berdiri di depan pintu apartemennya, layar monitor kecil menunjukkan siapa yang datang saat itu.
"Kenapa dia balik lagi? perasaan baru beberapa jam dia pergi."gumam Feres seraya menilik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 10 siang, baru pagi tadi Kevin pulang dari Apartemen Feres.
Klek
"Ada angin apa nih? Masih kangen sama gue hem.?"ujar Feres begitu pintunya ia buka.
Kevin tersenyum dan menunjukkan dua kantong berisi belanjaan yang ada di lantai,"Alfin mengundangku ke pestanya."katanya memberitahu.
Feres mengerutkan kening melihat dua kantong itu,"Lalu kenapa bawa belanjaannya ke sini? Perasaan Alfin belum memberitahu kapan pestanya."tanya Feres.
"Ini belanjaan Alfin. Aku bertemu dengannya di mall, jadi aku membantunya membawa barang-barang ini."tutur Kevin.
Feres menoleh dan melihat Andin sudah berapa di belakangnya, wanita itu tampak tertegun saat melihat Kevin,"Dia teman kuliahku. Kevin."Feres menjelaskan.
Tatapan Andin masih tampak linglung saat beralih menatap Feres,"Kevin."gumam wanita itu.
Kevin tidak heran jika Andin terkejut melihatnya, mungkin karena sebelumnya mereka sudah bertemu."Kita ketemu lagi."sapanya seraya tersenyum.
"Oh. Iya."sahut Andin seraya mengangguk kecil dan membalikkan tubuh sembari mengerjapkan matanya,"benarkah itu dia?"gumamnya sangat lirih.
Wanita itu menjadi teringat saat pertemuan pertamanya dengan Kevin dalam situasi yang sangat-sangat memalukan untuknya, menurutnya begitu. Tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan laki-laki itu di sini, bahkan kenyataannya Kevin adalah teman Feres.
"Kenapa bengong?"tegur Feres setelah kembali masuk dan melihat Andin terlihat diam saja.
"Apa?"Andin balas bertanya.
Feres menghela napas dan mengambil ponselnya,"Alfin nyuruh kita kerumahnya."kata Feres.
"Kerumahnya? Ngapain?"tanya Andin.
"Dia mau rayain pesta dadakan."jawab Feres.
"Oh."Gumam Andin.
"Terus kenapa masih duduk? Ayo kita ke sana."tanya Feres karena Andin masih duduk santai di sofa.
"Hhhh..."Andin menghela napas dan beranjak.
"Ponselnya."Feres mengingatkan saat Andin tidak mengambil ponsel di meja.
Andin tersenyum samar dan meraih benda itu,"hampir lupa lagi."
Feres menggelengkan kepala dan membiarkan Andin keluar lebih dulu. Namun Feres heran saat Andin justru tidak melangkah ke pintu apartemen Namesya yang saat ini di tempati Alfin.
"Kenapa belok ke situ?"tanya Feres.
"Katanya mau ke rumah Alfin."jawab Andin dengan wajah polosnya.
"Huh."Feres menghela napas lagi dan mengacungkan telunjukknya,"itu. kamu lupa itu."
__ADS_1
"Astaga. Maaf."Andin menepuk dahinya sendiri dan berganti haluan menuju pintu apartemen Namesya.
Di dalam, Alfin tengah mengurus belanjaannya di atas meja bar dapur. Lelaki itu bingung harus memulainya dari mana. Tentu saja Alfin harus jujur jika dirinya tak pandai dalam hal memasak. Bahkan semua bahan dan bumbu yang ia beli itu adalah hasil pilihan Kevin yang tanpa sengaja bertemu dengannya di mall.
Selepasnya dari rumah, Alfin berniat untuk belanja beberapa kebutuhan dapur untuk Namesya. Mengingat isi dapurnya tidak ada apapun yang bisa di masak selain mi instan dan telur. Alfinpun berniat membeli sayuran atau buah untuk Namesya. Tapi di mall ia justru bertemu dengan Kevin yang saat itu hanya memakai masker dan topi, tentu saja itu dilakukan Kevin untuk berjaga-jaga agar tidak bertemu dengan penggemar yang biasanya suka lupa tempat dan waktu serta keadaan jika sudah bertemu dengan idolanya.
Akhirnya iapun berdalih sedang memilih bahan-bahan untuk ia masak di apartemen sebagai hidangan pesta dadakannya. Dan Karena tidak ingin seluruh apartemen bau, Alfin memilih makanan yang mungkin saat di masak tidak menimbulkan atau bahkan menyisakan bau yang berlebihan di sana.
Ting
tong
Bunyi bel mengalihkan perhatian Alfin dari belanjaannya. Lelaki itu bergegas melangkah menuju pintu dan langsung membukanya tanpa melihat siapa yang bertamu di rumah palsunya itu.
"Masuk."perintahnya langsung.
"Dimana Kevin?"tanya Feres saat tidak melihat Kevin di sana.
"Katanya ada kepentingan mendadak."jawab Alfin yang langsung kembali ke dapur.
"Memangnya mau masak apa?"tanya Andin yang tampak lega saat tak melihat keberadaan Kevin."Ini untuk hidangan pesta? cuma sayur sama buah? Ngga ada daging atau ikan gitu?"tanya Andin.
"Biar rumah ini ngga bau. Untuk daging sama ikan aku pesen makanan saji saja untuk nanti malam."kata Alfin.
"Astaga ya ampun..."gumam Namesya mengingat Alfin mang sangat sensitif dengan yang namanya bau sisa masakan yang biasanya memang akan tersisa di dalam rumah,"Masih ngga tahu cara mengatasi bau di dalam rumah."katanya.
"Ya. Masalahnya ini rumah orang."kata Alfin.
"Anggap aja rumah sendiri..."gurau Feres yang sudah bergabung setelah mengamati apartemen itu.
"Jadi mau di masak sekarang?"tanya Andin,"kalau acaranya nanti malam mending masak nanti sorean aja biar pas malemnya masih hangat."
"Gitu yah."gumama Alfin.
"Percaya aja sama perempuan ini. Dia paling tahu perkara urusan dapur."Feres mendukung usulan Andin.
"Kamu yang masak."Alfin langsung menunjuk Andin untuk memasak.
"Hmmm... Oke lah. Untung saja hari ini aku benar-benar bebas. Mungkin aku bisa banyak membantu."Andin setuju,"Tapi bisa ngga jangan cuma ini doang. Beli cake gitu. Biar agak rame."
"Udah pesen. Nanti sore juga di kirim."Balas Alfin,"Udah. Kamu ngurus yang ada di sini aja. Untuk hidangan lain biar beli di yang siap makan."
"Ya. ya... udah. terserah tuan rumah aja."Kata Feres.
"Eh. ngomong-ngomong kamar mandinya di mana?"tanya Andin.
"Tuh."Alfin menunjukan letaknya.
"Oh."Andin langsung menuju pintu yang dimaksud.
Sedangkan Alfin beralih perhatian pada Feres yang sedang berdiri di dekat jendela, menatap keluar apartemen. Laki-laki itu benar-benar merasa penasaran dengan apa yang ada dalam benaknya.
"Jadi, Cinta pertama Lo itu Mesya."tebaknya tiba-tiba setelah berdiri di samping Feres.
"Apa?"Feres tampak bingung.
"Lo bukannya pernah cerita perihal cinta pertama Lo yang Lo pendem bertahun-tahun. Dan Lo juga bilang kalau tempat tinggal kalian itu berdampingan. Apa yang Lo maksud berdampingan itu kalian tinggal di gedung yang sama."cecar Alfin.
Feres terlihat tersenyum miris, menunduk dan kembali menatap keluar gedung."Gimana Lo biasa tahu kalau dia itu Mesya."kata Feres.
"Dari cara Lo natap Mesya. Gua ngga pernah liat Lo natap cewek begitu intens. Dan perlakuan Lo juga terlalu jelas di mata gue."jelas Alfin.
"Yah. Mesya memang cewek itu."aku Feres.
Alfin menghela napas mendengar pengakuan Feres, senyum tipis terukir di bibirnya."Apa ada keinginan buat Lo ungkapin perasaan Lo sama Mesya?"tanyanya.
"ada."jawab Feres,"tapi itu ngga mungkin."imbuhnya.
"karena Mesya sedang hamil?"tanya Alfin.
Feres menggeleng,"itu bukan masalah kalau yang hamilin Mesya orang lain."kata Feres,"masalahnya Mesya hamil anak adik gue. Bahkan gue ngga siap untuk ngaku sama mesya kalau gue ini kakaknya Rio. Gue takut dia benci sama gue."
"Gue rasa Mesya bukan orang yang seperti itu. Lo bukan Rio. sekalipun dia adik Lo, bukan berarti Mesya bakal anggep Lo sama kaya Rio."kata Alfin.
Feres tersenyum dan menepuk bahu Alfin,"udahlah. Gue cuma pengen bantu Mesya dapat haknya."katanya.
"jadi apa rencana Lo?"tanya Alfin.
"Buat Rio bertanggung jawab atas Mesya."jawab Feres penuh tatapan yakin.
__ADS_1
Kening Alfin berkerut samar saat dirinya merasa tidak setuju dengan rencana Feres yang mungkin akan menyuruh Rio untuk mau mengakui kehamilan Namesya, bahkan mungkin akan membuat Rio menikahi Namesya. Namun logikanya mengatakan bahwa sudah sepantasnya Mesya mendapatkan hak itu.