
Seorang pegawai menunduk hormat saat Arlan melewati lorong menuju ruang tamu VVIP tempat di mana Raya berada saat ini. Setengah penasaran, Arlan memasuki ruangan itu dan netranya langsung tertuju pada seorang wanita yang terlihat tidur di sofa.
"Siapa dia? Aku tidak mengenalnya."gumam Arlan, kening lelaki itu berkerut samar sebab ia sama sekali tidak mengenali wanita cantik itu sebagai kliennya.
"Tuan."Panggil Tirta yang setengah berlari menyusul Arlan.
Arlan menoleh menatap Tirta penuh tanya,"Siapa dia? Apa kita pernah bertemu dengannya? Atau dia salah satu klien kita? Selama ini aku tidak pernah menemu klien di malam hari. Aku sangat mengenali semua klienku dengan baik."
"Maaf Tuan. Saya tidak tahu pasti. Tapi pihak resepsionis mengatakan jika wanita itu kekasih anda dan mengaku ingin bertemu dengan nona Mesya. Karena kami takut ada keributan di antara nona Mesya dan wanita itu, jadi saya terpaksa meminta anda yang menemui wanita itu langsung."jawab Tirta.
"Keributan apa yang bisa memicu mereka berdua ribut di sini?"tanya Arlan tidak mengerti arah perkataan Tirta.
Tirta dengan wajah ragupun berkata,"Maaf sebelumnya. Sebenarnya selama ini banyak yang bergosip tentang hubungan Anda dan nona Mesya. Beberapa berpikir kalau Tuan menyukai nona Mesya, dan saya takut jika wanita itu benar-benar kekasih anda dan datang kemari karena ingin menyerang nona Mesya."
Arlan mengangguk paham dan kembali menatap Raya yang tertidur begitu pula di atas sofa,"Kau boleh kembali bekerja."perintahnya pada Tirta.
"Baik Tuan."balas Tirta yang kemudian berlalu dari ruangan, tak lupa menutup pintu membiarkan Arlan tetap di dalam.
Sementara itu, Arlan melangkah mendekati sofa. Memperhatikan wajah Raya dengan teliti,"Aku seperti pernah melihatmu. Tapi entah di mana."gumam lelaki itu merasa pernah bertemu dengan Raya, lebih tepatnya mungkin pernah melihat wanita itu di suatu tempat.
"Ergh."Raya tampak mengigau sembari bergerak membalikkan tubuhnya hingga rambutnya yang semula menutupi lehernya kini tersingkir dan menampakkan sesuatu yang tersembunyi dari balik rambut panjang wanita itu.
Arlan mengerutkan dahi melihat lebam yang membiru di leher bagian belakang wanita itu, tak hanya di leher, bahkan bagian punggung wanita itu tampak ada lebam yang tak sepenuhnya terlihat karena tertutup oleh pakaian wanita itu.
Akhirnya, Arlan memutuskan untuk duduk diam di sofa yang bersebrangan dengan sofa tempat raya tidur. Menunggu wanita itu terbangun.
Dua jam berlalu, perlahan Raya mengerjapkan netranya dan langsung duduk begitu teringat ia sedang menunggu Namesya.
"Ah. Aku tertidur lama sekali."gumam wanita itu setelah menyadari dirinya tidur hampir dua jam lebih tangannya merapihkan rambutnya agar tetap tergerai menutupi lehernya.
Wanita itu celingukan menatap sekeliling ruangan itu dan merasa penasaran karena sepertinya Namesya tidak datang menemuinya. Sebab jika sahabatnya itu menemuinya, pasti ia di bangunkan oleh Namesya. Saat naluri kemanusiaannya tiba-tiba menyerang, wanita itu langsung beranjak dari sofa dan bergegas menuju pintu yang ia yakini adalah sebuah toilet.
Cklek
"Akh..."Raya memekik saat melihat seorang laki-laki setengah telanjang berada di balik pintu yang ia buka itu ternyata bukanlah toilet, melainkan ruang pribadi Arlan yang di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur.
Arlan baru saja membersihkan tubuhnya, karena ia harus bersiap untuk memenuhi sebuah undangan ulang tahun perusahaan kliennya. Sejatinya, ruangan itu adalah ruangan pribadinya namun pegawainya selalu menamainya sebagai ruangan VVIP dan Arlan tidak mempersoalkan nama itu. Dan ia baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk melilit pinggangnya saat Raya membuka pintu kamar itu.
Mendengar pekikan seorang wanita, Arlan menoleh ke arah pintu dengan ekspresi tanpa dosa dan tetap melangkah menuju ruang ganti dengan santai. Sedangkan raya sudah keluar dan menutup pintu kembali.
"Ada apa ini? Bukannya Mesya tapi kenapa malah laki-laki yang ada di ruangan ini."gumam Raya sembari memperhatikan ruangan itu,"Ruangan VVIP..."gumamnya lagi,"Jangan-jangan yang ada di dalam itu bos Mesya."duganya.
Cklek
Mendengar pintu terbuka, Raya buru-buru kembali ke sofa dengan perasaan kacau.
deg. deg. deg
Sepertinya Raya bahkan mampu mendengar suara degup jantungnya sendiri saat perlahan telinganya mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya.
"Tuan. Maafkan saya. Saya tidak ada maksud apapun. Saya teman Mesya. Karena Saya takut tidak di perbolehkan menemuinya jadi saya membiarkan pegawai anda salah paham mengenai saya."kata Raya yang tiba-tiba sudah berdiri namun berkata tanpa menatap lawan bicaranya.
"Benarkah."Ujar Arlan merasa terhibur melihat wanita di hadapannya itu ketakutan.
"Sungguh Tuan."balas Raya memberanikan diri menatap Arlan menunjukkan kejujurannya melalui ucapan dan tatapannya.
Arlan mengenakan jasnya dengan cepat dan bertanya,"Jadi Mesya itu temanmu?"
Raya mengangguk karena netranya cukup dibuat terpesona oleh gerakan Arlan saat mengenakan jasnya. Seketika bayangan tubuh atletis lelaki itu yang sempat ia lihat melintas dalam pikiran Raya dan langsung di tepis oleh wanita itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Hei nona. Apa yang sedang kau pikirkan?"tegur Arlan karena tidak mendengar raya menjawab pertanyaannya.
"Eh. Ya. Maaf."balas Raya yang gugup mendapatkan tatapan Arlan yang terasa membuat jantungnya ingin melonjak keluar dari dalam dirinya.
"Siapa namamu?"tanya Arlan.
__ADS_1
"Na. Namaku..."gumam Raya.
"Ya namamu. Bukankah di sini hanya ada kita berdua. Jadi aku bertanya siapa namamu."balas Arlan.
"Soraya."jawab Raya singkat.
"Soraya..."gumam Arlan,"Tidak. Aku tidak pernah bertemu atau menjalin hubungan dengan wanita bernama Soraya."lirihnya memastikan dirinya tidak pernah mengenal wanita dengan nama itu.
Raya mendengar lelaki itu bergumam, namun tidak jelas terdengar oleh telinganya.
"Jadi. Apa boleh saya bertemu dengan Mesya tuan."kata Raya.
Arlan menilik jam tangannya,"Tentu saja. Tapi jam istirahat sudah lewat. Mungkin dia akan menemuimu saat pulang nanti. Pukul lima sore."balas Arlan.
"Oh... Apa tidak apa-apa kalau saya menunggunya di sini?"tanya raya ragu.
"Tentu saja. Atau kalau kau mau menemuinya di ruangan saya juga silahkan."jawab Arlan.
"Di ruangan anda."gumam Raya.
"Ya. Di ruangan saya ada ruangan lagi, dan itu ruangan khusus untuk sekretaris pribadi saya. Mesya."balas Arlan.
"Oh..."Gumam Raya seraya mengangguk.
Tiba-tiba Arlan melangkah mendekat mengulurkan tangan ke samping, lebih tepatnya ke bahu kiri Raya.
"Kau akan membuat Mesya Khawatir dengan keadaan seperti ini."Kata Arlan seraya menarik sedikit baju Raya agar sepenuhnya menutupi lebam di bahu wanita itu.
Glek
Raya menelan salivanya menyadari lelaki di hadapannya ini melihat lebam di bahunya. Wanita itu menggigit bibirnya dan menunduk, tidak tahu harus berkata apa untuk sesuatu yang telah di lihat lelaki itu.
"Baiklah. Saya pergi sekarang. Pegawai di depan akan menunjukkan di mana Mesya sekarang."Kata Arlan.
Arlan keluar dari ruangan meninggalkan Raya dengan kekhawatirannya saat ini. Takut jika sahabatnya akan mengetahui keadaannya jika sampai sahabatnya melihat luka di tubuhnya saat ini.
###
Pukul lima sore, Namesya menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Tangannya dengan terampil membereskan meja kerjanya.
"Raya."Mesya memanggil Raya yang sedang duduk di sofa, wanita itu menemuinya satu jam yang lalu di sana atas perintah dan ijin dari Arlan.
"Sudah selesai."tanya Raya, wanita itu beranjak dari sofa menghampiri Namesya.
"Ayo pulang."Ajak Namesya dan Raya mengangguk.
Kedua wanita itu turun, berjalan beriringan sembari bercanda tawa membuat pegawai yang semula ketakutan mempertemukan mereka berdua menatap mereka dengan perasaan heran.
"Apa yang terjadi?"bisik pegawai yang duduk di balik meja resepsionis.
"Aku tidak tahu. Mereka terlihat akrab dan baik-baik saja."timpal yang lain.
"Lihat. Mereka bahkan bercanda seperti itu."komentar yang lain.
"Sudah-sudah. Berhentilah bergosip."tegur yang lain.
"Benar. Lagian nona Mesya kan sudah punya pacar. Aku melihatnya kemarin saat mengantarnya. Tampan dan tidak kalah tampan dari bos kita."imbuh yang lain.
"Iya benar. Mungkin Tuan bos hanya sekedar menghormati nona Mesya saja."balas yang lain lagi.
"Atau mungkin Bos dan pacar nona Mesya itu berteman, dan perlakuan bos hanya karena ingin melindungi pacar temannya saja."timpal lagi yang lain.
###
Sampainya di apartemen, Namesya bergegas menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sekali. Sedangkan Raya lebih memilih melihat-lihat apartemen itu setelah membuang isi kantung kemihnya yang sempat tertunda karena kejadian di ruang VVIP itu membuat wanita itu terpaksa menahan keinginannya untuk membuang air tak berguna itu.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa malam ini?"tanya Namesya yang keluar dari kamar mandi dengan rambut digulung dengan handuk.
"Hmmm... Udah lama pengen banget bakso. Kamu masih ingat nggak sama warung baksonya pak woro?"kata Raya antusias mengingat kenangan beberapa tahun lalunya bersama Namesya yang sering membeli bakso di warung Pak Woro.
"Oh... Kalau gitu nanti aku ajak kak Kevin sekalian deh. Dia bisa nganter nggak yah, Soalnya warungnya udah pindah. Jauh banget dari sini."Balas Namesya yang memang sedang mengutak-atik ponselnya.
"Kenapa ngga naik taksi aja. Kasihan kak Kevin. Pasti dia lagi sibuk."timpal Raya.
"Sibuk PDKT."Namesya menimpali.
"PDKT. Kak Kevin udah punya gebetan beneran?"tanya Raya.
Namesya tersenyum menatap Raya,"Begitulah. Sama seorang Dokter."kata Namesya.
"Wah. Seneng akhirnya Kak Kevin laku juga."gurau Raya sebelum tertawa gelak.
"Ya udah. Kamu mandi sana. Nanti kalau kak Kevin ngga bisa anter coba aku tanya kak Alfin."kata Namesya.
"Oke. Aku pergi mandi dulu."balas Raya yang sudah tahu siapa itu Alfin.
Raya pun bermaksud hendak mengambil baju gantinya, namun baru tersadar saat itu kalau kopernya tertinggal di ruang VVIP kantor Arlan.
"Astaga..."keluh Raya menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa?"tanya Namesya menatap Raya bingung.
"Koperku ketinggalan di ruangan bos kamu. Gimana dong. Untung sih tas isi barang-barang penting lain ada di tas. Tapi semua bajuku..."keluh Raya.
Namesya menggeleng melihat raya yang kebingungan,"Pake aja bajuku... kalau kamu mau sih..."saran Namesya.
"Yakin ngga apa-apa aku pake baju kamu."kata Raya.
"Ya iyalah ngga apa-apa. Yang harusnya tanya itu aku... ngga apa-apa kamu pake bajuku. Secara baju-bajuku itu ngga kayak baju-bajumu yang mahal-mahal itu."balas Namesya yang sangat mengetahui selera Raya yang suka baju-baju mahal dan barang-barang branded lainnya.
"Ish... Aku kaya gitu karena ku pikir aku bisa buat suamiku miskin biar dia tahu rasa. Tapi nyatanya malah dia ngga miskin-miskin juga."celoteh Raya,"Ya udah. Aku ambil bajumu aja."lanjutnya seraya memasuki kamar Namesya.
"Bukannya doain suami supaya tambah kaya malah harapannya pengen suaminya jatuh miskin. Ada-ada aja kamu."komentar Namesya mengikuti Raya memasuki kamarnya.
"Habis ngeselin."balas Raya yang sedang memilah baju Namesya.
Namesya menatap Raya yang terlihat aneh. Yang namesya tahu Raya bukanlah orang yang suka menutupi apapun yang ada dalam dirinya. Namun saat ini Raya seperti sedang menunjukkan keadaan yang sesungguhnya dalam rumah tangga sahabatnya itu.
"Kalau udah siap kasih tahu aku semuanya. Jangan di pendem."kata Namesya yang merasa jika saat ini raya sedang memendam kesedihan karena rumah tangganya.
Raya memeluk pakaian Namesya yang sudah di pilih, menatap Namesya dan mengembangkan senyumnya."Aku baik-baik saja."katanya sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Di kamar mandi. Raya menumpahkan bendungan air matanya di bawah guyuran shower yang mengalir deras menerpa tubuhnya. Tubuh putih mulusnya hampir di penuhi bekas lebam yang sebagian sudah memudar dan ada pula yang masih terlihat begitu segar.
Kenyataan memiliki suami seorang pengusaha yang kaya bukan malah membuatnya bahagia. Namun tersiksa lahir dan batin. Suaminya tidak hanya acuh di awal pernikahan mereka, bahkan setengah tahun ini ia sering mendapatkan pukulan di tubuhnya jika ia mulai mengungkit sikap suaminya terhadapnya.
Raya sadar jika pernikahan mereka tidak berlandaskan oleh cinta. Tapi kenapa suaminya mau menyentuhnya jika tidak mencintai dirinya, bahkan suaminya selalu berlaku kasar jika dirinya tidak sempurna dalam memuaskan hasrat suaminya di atas ranjang. Suaminya hanya memikirkan hasratnya seorang diri saat bersamanya, bahkan suaminya pernah secara terang-terangan mengajak wanita malam ke dalam rumah dan bercinta di sana, di dalam kamar tidur mereka.
Saat ini... Raya bertekad untuk tidak akan kembali ke rumah itu. Ia ingin bercerai apapun yang terjadi. Tidak peduli jika nanti seluruh dunia menghujatnya karena memilih berpisah dengan seorang pengusaha terkenal itu. Ia tak membutuhkan ketenaran apapun, yang ia butuhkan adalah kasih sayang dalam sebuah keluarga.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
😊😊😊😊