
Sesuai rencana, malam hari Namesya ikut ke pesta hajatan teman ibu Alfin di sebuah hotel berbintang. Dari lokasinya saja Namesya sudah menduga pesta seperti apa dan orang-orang seperti apa yang menghadiri pesta itu.
Namesya mengenakan gaun berwarna biru laut dengan high heels yang tidak begitu tinggi. Tentu saja Alfin memilih high heels yang aman di pakai oleh wanita hamil. Kedatangannya bersama Meylani cukup menyita perhatian banyak tamu, beberapa ada yang langsung menghampiri dan menyapa mereka dengan ramah.
"Halo jeng Lani. Apa kabar?"sapa tamu itu seraya bercipika cipiki dengan ibu Alfin sebelum mengarahkan tatapan penuh rasa penasaran terhadap Mesya,"ini..."
"Calon menantu saya jeng."Meylani langsung menggandeng Namesya tanpa ragu memperkenalkan gadis itu sebagai calon menantunya.
"Calon menantu... Bukankah waktu itu bukan gadis ini yang menemani jeng Lani pergi ke acara arisan?"tanya wanita itu.
"Oh. Itu calon menantu saya yang lain. Apa jeng Rina lupa kalau saya punya dua orang putra..."timpal Meylani.
"ah... jadi ini pacarnya Alfin..."kata wanita itu yang melempar senyum aneh pada Namesya, seolah wanita itu tidak menyukai kenyataan jika dirinya kekasih Alfin, Namesya pun mengangguk sebagai rasa hormatnya pada orang yang lebih berumur darinya.
"Ya. Sudah jeng saya mau menemui jeng Saras dulu."pamit Meylani dan berlalu pergi menemui pemilik acara.
Malam itu keduanya bertemu beberapa tamu yang mengenal Meylani sebagai istri seorang pengusaha sukses. Hingga di pertengahan acara beberapa orang saling berbisik saat sepasang suami istri memasuki aula gedung.
"Lihat. Mereka tetap berani datang meski salah satu putranya sedang hangat menjadi perbincangan publik."bisik salah satu tamu yang duduk di dekat Namesya.
"Iya. Itu akibatnya punya anak seorang artis. Sekali buat kesalahan bisa membuat bisnisnya ikut bermasalah. Aku dengar anaknya bahkan menghamili dua gadis sekaligus. hih amit -amit ya jeng. Itu pentingnya menjaga anak-anak dengan ketat."bisik yang lain.
Karena penasaran Namesya pun mengedarkan pandangannya mencari sumber yang menjadikan beberapa orang berbisik-bisik ria membicarakan Maslah orang itu.
Deg
Namesya mengerjapkan netranya melihat siapa yang sedang berjalan memasuki aula dan menghampiri tuan acara.
'tante Siska sama om hardi.'batin Namesya begitu melihat jelas siapa dia orang itu.
Agak terasa sulit untuk Namesya sekedar menelan saliva, gadis itu takut untuk bertemu dengan dua orang itu dalam masa persembunyiannya. Ia tidak ingin persembunyiannya terbongkar jika sampai bertemu mereka.
"Sayang."Meylani menyentuh tangan Namesya yang terlihat gugup.
"I-iya mah."sahut gadis itu seraya menatap Meylani.
"Kamu kenapa?"tanya Meylani seraya menyentuh rambut Namesya.
"Enggak mah. Cuma agak gugup aja lihat banyak orang terkenal di sini."jawab Namesya.
"Oh... kamu akan terbiasa nanti. Mama akan sering-sering ajak kamu ikut mama keacara seperti ini."balas Meylani.
Namesya menggigit bibir setelah tersenyum menanggapi perkataan Meylani,"Mah. kalau aku pulang duluan boleh nggak."ijinnya.
"Oh. Kamu pasti capek ya."kata Meylani,"Ya udah. Tapi mama nemuin teman mama dulu ya."
"Mmm ... boleh ngga kalau Mesya ngga ikut. Kaki Mesya kayaknya lecet deh."kilah Namesya.
"Ya udah ngga apa-apa. Kamu kalau mau ke mobil dulu juga ngga apa-apa."balas Meylani.
"Makasih mah. Kalau gitu Mesya keluar dulu ya."pamit Namesya.
"iya."Meylani membiarkan Namesya pergi lebih dulu.
Dengan sangat hati-hati, Namesya melangkah sembari berusaha bersembunyi agar kepergiannya tidak begitu menyita perhatian orang-orang.
"Eh. Maaf."gumamnya saat tanpa sengaja dirinya menabrak seorang wanita.
"huh."wanita itu mendengus tampak kesal karena minumannya sedikit bergoyang dan hampir tumpah akibat dari tabrakan Namesya."Lain kali kalau jalan itu hati-hati. Kamu pikir tempat ini milik nenek moyang kamu."ujar wanita itu ketus.
"Ada apa Sherly?"tanya seorang laki-laki menyebut nama gadis yang ternyata bernama Sherly.
"Ah. Bukan apa-apa kak. Ini cuma masalah kecil aja. Gadis kecil ini menabrakku dan hampir membuat minumanku tumpah ke gaunku."jawab Sherly pada laki-laki yang ternyata adalah kakak gadis itu,"kakak sudah selesai? Ayo kita pulang. Aku sudah bosan di sini."ajak gadis itu pada kakaknya.
Namesya hanya terdiam mendengar komentar Sherly yang menganggapnya seorang gadis kecil. Pada dasarnya tubuhnya memang kecil dan tak sesuai dengan usianya yang sudah berusia 26 tahun. Dia memang terlihat seperti anak-anak jika di lihat dari wajah dan postur tubuhnya.
"Lagian kenapa sih kak Andin pakai ngotot minta cerai dari kakak. Kurang apa coba keluarga kita memperlakukan dia yang ngga bisa kasih keturunan buat kakak."Ujar Sherly menggurui Andin.
"apa? kak Andin?"gumam Namesya mendengar nama Andin di sebut dalam percakapan dua kakak adik yang sudah berjalan menuju pintu keluar gedung,"Ah. Mungkin hanya kebetulan namanya sama."gumamnya lagi dan melanjutkan langkahnya menuju keluar gedung.
Sampainya di luar gedung, Namesya lanjut melangkah menuju tempat mobil ibu Alfin terparkir. Saat sudah hampir sampai, seseorang tiba-tiba meraih tangannya.
"Eh."Namesya refleks menggerakkan tangannya menepis tangan orang itu.
Plak
"Auh."keluh laki-laki itu yang tanpa sengaja sudah Namesya tampar.
"Aduh maaf."sesal Namesya melihat laki-laki itu memegangi pipinya.
"Tidak apa-apa. Saya yang salah."ujar laki-laki itu yang ternyata adalah Andra teman kuliah Kevin dan Feres.
"Maaf. Saya pikir anda orang jahat. Saya refleks."kata Namesya penuh permohonan maaf.
"Ya. tidak apa-apa. Ditampar berkali-kali pun tidak masalah kalau yang menamparku gadis secantik kamu."timpal Andra dengan bualannya.
Namesya tersenyum kaku mendengar bualan laki-laki di hadapannya ini,"Sekali lagi maaf."
"Ya. Ya. ngomong-ngomong apa kau sama sekali tidak mengenaliku?"tanya Andra seraya menggerakkan telunjuknya memutari wajahnya sendiri.
"A-apa maksud anda?"tanya Namesya.
"Oh. baiklah. Aku bisa memakluminya kalau kau memang tidak mengenali wajah tampanku ini."jawab Andra kembali dengan sifat narsismenya yang sering sekali kambuh di depan gadis cantik.
"oh. Maaf. Aku memang tidak mengenal anda. Kalau begitu permisi. Saya harus segera pulang."Namesya hendak pamit dan sudah hampir membuka pintu mobil, namun Andra kembali mencegahnya dengan menekan pintu mobil.
"Tunggu sebentar nona. Biarkan aku memperkenalkan diri. Aku yakin kau akan mengingatku setelah aku mengenalkan diriku padamu."kata Andra.
Namesya masih berdiri memunggungi Andra dan merasa jengah dengan sikap laki-laki itu, ia pun berbalik dengan merubah wajah ramahnya menjadi wajah jutek saat menatap tajam kearah Andra yang kemudian melangkah mundur melihat aura tidak baik yang terpancar dari tatapan gadis itu.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya ingin memastikan apa benar kau gadis yang pernah aku kenal sebelumnya."kata Andra.
"alasan basi."gerutu Namesya.
"Oh. Sungguh. Aku hanya ingin memastikan apa pandanganku benar atau salah. Masalahnya di mataku kamu masih terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu. Kau masih terlihat seperti gadis kecil imut yang pernah kulihat di rumah temanku."kata Andra.
"Kalau tidak ada yang penting saya permisi sekarang."pamit Namesya.
"Eh. tunggu sebentar. Baiklah. Baiklah."cegah Andra seraya menyentuh lengan Namesya dan lagi-lagi ia harus segera melepaskan tangannya saat melihat Namesya menatapnya dengan tatapan sengit."Oke. Aku akan bertanya."uara lelaki itu,"Apa kau adik Kevin?"tanya Andra.
Namesya mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat wajah laki-laki di hadapannya saat ini."Memangnya kenapa?"tanya Namesya.
"Oh. Jadi kau benar-benar Mesya adiknya Kevin."kata Andra.
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa? Aku tetap tidak mengenal anda."kata Namesya.
"Ya. iya. baiklah. Tidak masalah. Aku hanya ingin memastikan saja. Masalahnya beberapa hari lalu Kevin mengeluh kalau katanya kamu menghilang."kata Andra.
"A-apa Kaka Kevin menyuruh Anda mencariku?"tanya Namesya dengan tatapan was-was.
"Sekalipun tidak meminta bantuan aku tentu akan dengan senang hati membantunya mencari adik kesayangannya yang cantik ini."kata Andra kembali mengeluarkan pujiannya untuk Namesya.
'aduh. bagaimana ini? pasti dia akan memberitahu Kak Kevin."batin Namesya risau.
"Apa ada masalah?"tanya Andra melihat wajah Namesya berubah menjadi cemas.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Dan lagi aku tidak menghilang. Buktinya aku ada di pesta ini. Aku hanya sedang ingin menenangkan diri. Permisi."Namesya bergegas memasuki mobil sebelum Andra kembali mencegahnya.
"eh. Aku belum memberitahu namaku padamu."kata Andra melihat mobil sudah membawa Namesya pergi.
Namesya menyuruh supir pribadi ibu Alfin untuk segera melaju dan menunggu ibu Alfin di halaman gedung. Setidaknya dia ingin menghindari laki-laki yang mengaku sebagai teman Kevin.
"Bukankah itu mobil Tante Lani."gumam Andra yang mengenali mobil Meylani yang di masuki Namesya,"Ah. tadi aku bahkan melihat Tante masuk bersama seorang gadis. Ternyata gadis itu mesya. Aku tidak melihatnya dengan jelas karena aku hanya melihat punggungnya. Tapi bagaimana Tante bisa mengenal mesya."
"Andra."
Andra dikagetkan oleh suara seorang gadis yang tak lain adalah Sherly. Gadis itu berada di dalam mobil bersama laki-laki yang tak lain adalah Frengky, kakak gadis itu.
Andra menurunkan pandangannya menatap Sherly yang masih berada di dalam mobil dengan kaca mobil terbuka.
"Sherly. Kamu bukannya tinggal di Paris?"tanya Andra.
"Memangnya aku tidak boleh pulang ke negaraku sendiri hah."uajr Sherly yang tampak marah.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak menyangka bisa bertemu denganmu setelah sekian tahun tidak pernah mendengar kabarmu yang entah masih hidup atau sudah mati setelah Feres menolakmu mentah-mentah waktu itu."Andra terkikik sejenak dan tawanya terhenti dengan terpaksa saat melihat Frengky menatapnya dengan tatapan tak suka melihat adiknya di olok-olok.
"Maaf. Aku hanya bercanda."kata Andra pada akhirnya.
"Maafmu diterima."ujar Sherly.
Andra tersenyum mendengar ucapan Sherly yang tentunya memiliki maksud di balik penerimaan maaf itu."Jangan memintaku membantumu untuk menjadi makcomblang antara kau dan Feres lagi. Kau tidak ingat saat kita melihat mereka berkelahi di rumah Evan. Bahkan sekarang masih ada bekas luka di punggung Feres karena terkena pecahan kaca waktu itu."kata Andra.
"Tidak. Aku tidak ada niat untuk mengejarnya lagi."kata Sherly,"Aku sudah move on. Oke. jadi jangan mengingatkanku lagi pada perasaan itu lagi."imbuhnya.
"Baguslah."gumam Andra
"Tapi aku butuh bantuanmu."kata Sherly.
"apa?"tanya Andra.
"Aku ingin kau membantu Kakakku kembali rujuk dengan kak Andin "kata Sherly.
"Sherly..."tegur Frengky yang duduk di samping Sherly sembari mengutak atik ponsel.
"Kak... Aku tahu kakak mencintai kak Andin. Apa salahnya menentang keluarga kita demi cinta. Tidak masalah kalau kakak tidak punya keturunan. Aku akan dengan suka rela membagi anakku nanti untuk kalian rawat. Anggap saja kalau anakku itu anakmu."kata Sherly.
Andra hanya terbengong melihat perdebatan kakak adik di dalam mobil yang kemudian melaju tanpa pemiliknya pamit padanya. Andra menggelengkan kepala heran.
"Apakah aku akan bertemu dengan gadis yang akan mencintaiku juga? Tapi kapan?"tanya Andra pada angin yang kebetulan lewat berhembus dan berlalu ketika itu juga,"datang tak dijemput pulang pun tak pernah pamit. itulah angin."gumamnya sebelum lanjut pergi dari tempat itu.
###
Sepanjang perjalanan pulang, Namesya berkali-kali melirik ke arah spion mobil. Takut kalau Andra mengikuti mobil yang membawanya pulang.
"Ngga mah. Mesya agak kebelet."balas Namesya berbohong.
Meylani tertawa kecil,"Ya ampun... kamu kenapa manis sekali... pantas saja Alfin menyukaimu."puji wanita itu.
Namesya membalas pujian itu dengan senyuman kecil. Merasa bersalah sudah membohongi wanita baik di sampingnya ini.
"Oh ya sayang. Kenapa kamu ngga tinggal di rumah Alfin aja. Ngga usah nyari kontrakan."kata Meylani teringat kalau Namesya sedang mencari tempat tinggal.
"Aku ngga enak sama tetangga kalau terlalu lama tinggal di rumah. Kasihan dokter Alfin juga kalau terus-terusan tidur di rumah sakit karena kami ngga mau ada pandangan buruk dari tetangga."jawab Namesya.
"hmmm... begitu rupanya..."gumam Meylani,"kalau begitu gimana kalau Tante sama om ke rumah orang tua kamu. Biar kami ngelamar kamu sekalian terus kalian nikah aja."
'aduh... aku salah ngomong kah?'batin Namesya merutuki dirinya sendiri.
"Gimana sayang?"tanya Meylani.
"Aduh. itu... Mesya bahkan belum kasih tahu orang tua Mesya kalau Mesya punya pacar."kata Namesya.
"Ah. Kamu ternyata bandel juga yah. Pasti orang tua kamu larang kamu pacaran."kata Meylani.
"Masalahnya... itu... Mereka ada niat mau jodohin Mesya gitu sama anak temennya. Tapi Mesya ngga mau."jawab Namesya semakin banyak ia berbohong.
"Hhh... Untung kamu ngga mau dijodohin. Ya sudah deh. coba nanti mama bantu cari tempat yang aman dan nyaman ya buat kamu. Kamu cutinya tinggal berapa hari?"tanya Meylani.
"Masih lama mah. Mungkin sekitar dua Minggu lebih."jawab Namesya.
"Ya sudah."balas Meylani.
"Eh. Mesya udah sampai mah. Mama ngga mau mampir dulu?"tanya Namesya menawarkan namun hatinya berharap wanita itu menolaknya.
"ah. ngga sayang. Mama harus pulang. Soalnya besok pagi-pagi sekali mama harus pergi."harapan Namesya terwujud dengan penolakan Meylani.
Namesya menghembuskan napas lega dan tersenyum,"ya sudah. Mama hati-hati ya."kata Namesya.
"Iya sayang."balas Meylani.
Namesya memasuki rumah setelah melambai membiarkan ibu Alfin pergi. Gadis itu heran melihat seluruh lampu di rumah itu padam, sedangkan rumah-rumah yang lain tidak.
"Kenapa lampunya mati? apa ada masalah?"tanya Namesya penasaran.
Namesya mengambil ponselnya dan menghidupkan senter di ponsel itu sembari melangkah ke samping rumah.
"Haaa."Teriak Namesya saat melihat wajah Alfin yang tersorot senter dari arah bawah hingga terlihat seperti hantu.
"Oh. kamu sudah pulang."kata Alfin.
"Ya."jawab Namesya yang masih merasa terkejut sembari memegangi dadanya."kenapa listriknya mati?"tanya Namesya.
"tidak tahu. Sepertinya ada masalah dengan mesinnya. Aku harus menghubungi pak Ahmad untuk mengeceknya."kata Alfin.
"Apa malam ini rumahnya akan gelap?"tanya Namesya yang sudah mendapat jawaban pasti.
Alfin mengangguk,"Kenapa? Kamu takut gelap?"tanyanya.
__ADS_1
"Tidak juga. Hanya saja... hmmm... itu... yah. aku memang takut gelap."Namesya tidak bisa mengelak tentang dirinya yang takut gelap.
"Tenang saja. Aku punya banyak lilin di rumah. Ayo kita masuk."ajak Alfin.
"Hoaaammm... Baiklah."Namesya menguap dan melangkah di belakang Alfin.
"Mama ngga mampir?"tanya Alfin.
"Ngga. Katanya besok harus pergi pagi-pagi."jawab Namesya.
"Oh..."gumam Alfin.
"Dokter ngga jadi lembur? katanya ada lembur."kata Namesya yang sudah merasa sangat mengantuk.
"Lembutnya jadi. Tapi aku langsung pulang."jawab Alfin sembari berhenti melangkah.
"Aduh."Namesya mengasuh saat dahinya membentur punggung Alfin yang tiba-tiba berhenti melangkah."Kenapa berhenti?"tanyanya.
"Aku butuh bantuanmu."kata Alfin.
"Bantuan? Apa?"tanya Namesya.
Alfin melihat layar ponselnya dan berkata,"Tolong hitung sampai duapuluh."
Namesya mengerutkan kening merasa aneh,"untuk apa?"tanyanya.
"Hitung saja."tegas Alfin.
"Hmmm baiklah."Namesya menurut dan mulai menghitung.
"Satu..."gadis itu mengerutkan kening melihat Alfin tersenyum di dalam gelap.
"Dua."ia merasa curiga.
"Tiga."semakin curiga karena senyum Alfin semakin lebar.
"Empat."kecurigaannya semakin memuncak.
"Lima."semakin bingung dengan sikap Alfin yang terasa misterius.
"enam."Namesya merasa tidak sabar saat Alfin memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"tujuh."gadis itu menggaruk rambutnya yang tidak gatal itu karena bingung.
"Delapan."rasa ingin tahu semakin menumpuk.
"Sembilan."Tatapannya semakin memicing menatap Alfin.
"sepuluh."keningnya juga semakin berkerut tajam.
"sebelas."Namesya melihat Alfin berdeham dan menunduk menatap kakinya sendiri.
"duabelas."Namesya menajamkan tatapannya melihat Alfin kembali menatapnya.
"tigabelas."ia melipat kedua tangan di antara dada dan perutnya.
"empatbelas."rasanya sudah tidak sabar berdiri di sana tanpa kepastian.
"limabelas."berharap permainan ini segera selesai.
"enambelas."gadis itu berpikir apa yang sedang di lakukan laki-laki dihadapannya ini.
"tujuhbelas."Namesya menggaruk keningnya semakin merasa bosan berdiri di sana.
"delapanbelas."ia kembali fokus menahan kantuknya.
"sembilan belas."ia menatap keatas dan hanya ada kegelapan di sana.
"Duapuluh."ia memejamkan mata sejenak dan membukanya.
"Selamat ulang tahun."kata Alfin seraya menyodorkan sebuah kotak kecil entah berisi apa.
Namesya mengerutkan kening dan melirik jam di ponselnya dan benar jam itu sudah menunjukkan pukul duabelas malam. tapi...
"Darimana dokter tahu ulang tahunku?"tanyanya.
"Identitasmu pernah aku sita."kata Alfin.
"oh. begitu."gumam Namesya.
"ini untukmu. Maaf. Aku tidak tahu kalau listriknya akan begini. Sebenarnya aku membeli kue di dalam."kata Alfin.
"apa ini?"tanya Namesya.
"buka saja."jawab Alfin.
"tapi... kenapa dokter repot-repot menyiapkan semua ini?"tanya Namesya.
"untuk dokumentasi."jawab Alfin.
Namesya tersenyum,"apa maksudnya?"tanyanya sembari membuka kotak kecil yang berisi sebuah kalung.
"Ya untuk dokumentasi. Dengan begini mama akan percaya kalau kita memang memiliki hubungan."jawab Alfin memberi alasan, meski itu adalah alasan palsu.
"ini..."Namesya merasa dirinya tidak seharusnya mendapatkan hadiah itu.
"Sini biar aku yang memakaikannya."Alfin malah menawarkan diri memakaikan benda itu di leher Namesya.
"eh. Tapi."Namesya hendak menolak.
"tidak apa-apa... Bukankah memang seharusnya seperti ini kalau kita memberikan hadiah untuk pacarnya. Aku juga sering melihat adegan seperti ini di drama-drama Korea yang sering kau tonton."kata Alfin.
"Apa? Dokter sudah seperti penguntit saja sampai tahu apa yang aku tonton."komentar namesya.
Alfin melepas pengait kalungnya dan mendekat untuk memakaikan benda itu di leher Namesya. Hal itu membuat Alfin berdiri begitu dekat di hadapan Namesya. Apalagi saat laki-laki itu mengaitkan pengait kalung itu dan menjadikan wajah laki-laki itu berada tepat di dekat telinga gadis itu.
Debar jantung Namesya kembali meningkat begitu saja saat hembusan napas Alfin mengenai telinga dan sisi wajahnya. Terasa hangat namun membuatnya merinding.
....
.
.
__ADS_1
.
.😊😊😊😊✌️✌️✌️