Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Tes DNA


__ADS_3

Selepas dari mengantar Arumi, Feres tidak langsung pulang ke apartemennya tapi laki-laki itu pergi ke rumah sakit. Lelaki itu menemui dokter yang bertugas di laboratorium rumah sakit dan menyerahkan dua sampel rambut yang sudah ia simpan di dalam plastik kecil.


"Tolong lakukan tes DNA ini dan langsung serahkan hasilnya padaku."Pinta Feres.


"Milik siapa ini? Milikmu?"tanya Dokter itu.


"Aih. Jangan banyak tanya. Lakukan saja perintahku."kata Feres.


"Ya. ya... Tenang saja kau akan tahu hasilnya satu minggu ke depan."jawab dokter itu.


"Apa tidak bisa lebih cepat?"tanya Feres.


"Tidak bisa. Tetap patuhi prosedurnya."balas dokter itu tegas.


"Ya. ya. terserah kau saja. Aku hanya ingin tahu hasilnya."ujar Feres,"Ya sudah. Aku pergi."pamit lelaki itu.


Karena penasaran, Feres akhirnya nekat mengambil rambut Arumi saat laki-laki itu membungkam gadis itu yang sedang bersembunyi dari Evan. Feres dengan sengaja membuat tangannya tersangkut di rambut Arumi saat itu sampai beberapa rambut gadis itu rontok dan Feres menyimpannya tanpa sepengetahuan gadis itu.


Bukan tanpa alasan. Ayahnya menyuruhnya mencari keberadaan Bu Sasmi dan memastikan apakah wanita itu memiliki anak atau tidak. Dan Feres curiga karena perintah itu membuatnya berpikir, jangan-jangan ayahnya pernah memiliki hubungan terlarang dengan Bu Sasmi. Ia berharap dugaannya itu salah. Karena yang ia tahu, ayahnya sangat mencintai ibunya. Kecil kemungkinan untuk ayahnya menghianati ibunya.


Awalnya Feres pun cukup percaya kalau Arumi keponakan Bu sasmi. Namun ada sedikit kecurigaan dalam hatinya setelah mengetahui Arumi tidak mengetahui seperti apa orang tua gadis itu. Setidaknya seharusnya Bu Sasmi memiliki foto orang tua Arumi jika wanita itu memang bibi Arumi. Ia tidak percaya jika sebuah keluarga sama sekali tidak memiliki foto keluarganya, meskipun hanya satu seharusnya Bu Sasmi memiliki foto ayah atau ibu Arumi.


"Hhh... Semoga hasilnya tidak sesuai dengan apa yang aku takutkan."gumam Feres dengan perasaan takut dan cemas.


Setelah dari rumah sakit, Feres melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah orang tuanya. Ia ingin menanyakan perihal alasan ayahnya meminta dirinya menemukan Bu Sasmi.


"Selamat malam Tuan."Sapa sang pelayan saat Feres memasuki rumah megah orang tuanya.


"Malam."Jawab Feres sembari tersenyum kecil.


"Cukup! Diam dan jangan mencoba membela dirimu sendiri!"


Feres mendengar suara bentakan ayahnya dari ruang keluarga. Ia menatap pelayan yang masih berdiri di dekat pintu.


"Ada apa?"tanya Feres pada pelayan itu.


"Itu Tuan. Anu. Tuan Rio ada di dalam."jawab pelayan itu.


"oh."gumam Feres.


Lelaki itu mempercepat langkahnya menuju ruang keluarga di mana ayahnya sedang berdiri memelototi Rio yang duduk di sofa dengan kepala menunduk, ibunya duduk di samping Rio sembari mengelus punggung adiknya itu dengan tatapan cemas.


"Sudah berapa kali papah katakan! Papah tidak menyetujui hubunganmu dengan Melia. Tapi kenapa kamu malah menghamilinya dan membuat Mesya menghilang. Kenapa kamu malah memilih Melia? apa kamu pikir karirmu akan selamat dengan menikahi Melia!? Dengan kau menjadi artis saja papah tidak menyukainya. Ini yang papah takutkan dengan kau menjadi artis dan kau berulah. Itu akan berdampak pada bisnis papah."Teriak ayah Feres dan Rio masih menatap tajam atas Rio yang terus menunduk.


"Pah... Sudah. Apa kita tidak bisa membicarakannya baik-baik."lerai ibu Feres dan Rio dengan suara lembut.


"Papah sudah malu mah. Papah malu pada semua kolega dan teman bisnis papah yang selalu menanyakan kebenaran tentang Rio."Balas ayah Feres yang bernama Rahardi Sanjaya.


"Pah... Semua ini terjadi karena ketidak-sengajaan. Aku tidak pernah mengira kalau Melia akan hamil dan tiba-tiba muncul seperti ini. Dia yang menjebakku saat kami merayakan pesta."ujar Rio berusaha membela dirinya.


"Kalau kau tahu dia menjebakmu kenapa kamu tidak mengelak saja hah.!"bentak Rahardi.


"Tidak semudah itu pah. Aku tidak punya bukti kuat untuk menyangkalnya. Kalau aku menyangkalnya itu sama saja aku membantah hubungan kami yang sebelumnya."Kata Rio.


"Lalu apa kau akan tetap memilih Melia dan meninggalkan Mesya. Begitu."kali ini Feres angkat bicara setelah sebelumnya hanya berdiri jauh dari keberadaan keluarganya itu.


"Kak. Bukan begitu maksudku."Ujar Rio sedikit kaget melihat keberadaan Feres.


"Lalu. Apa kau akan menikahi keduanya?"tanya Feres.

__ADS_1


"Itu. Aku..."Rio tidak bisa berkata-kata.


"Kau pikir kau ini siapa Hem? Kau mempermainkan perasaan dua orang wanita yang sama-sama menyukaimu. Kau memanfaatkan kepolosan Mesya dan kau memanfaatkan Melia untuk kelancaran karirmu. Kau terlalu serakah Rio. tidak bisakah kau lebih tegas dengan perasaanmu sendiri. Apa kurangnya Mesya sehingga kau memilih mempertahankan hubungan sandiwaramu dengan Melia di depan publik. Dan kau memilih memunggungi Mesya."kata Feres mengeluarkan unek-uneknya selama ini."Kau bahkan memilih berpaling dari Mesya di depan para wartawan dan lebih memilih mengakui kehamilan Melia di depan mereka. Kau tidak pernah mencintai Mesya seperti janjimu padaku dulu."imbuh Feres dengan raut wajah penuh kekecewaan.


Kecewa karena telah melepaskan cinta pertamanya untuk adiknya, namun adiknya tidak mampu menjaga kepercayaannya.


"Kak. Aku mencintai Mesya. Aku tidak mengakui Mesya di depan wartawan karena aku tidak mau Mesya dalam masalah. Aku takut dia di cemooh oleh teman-temannya di tempat kerja. Atau bahkan dia bisa saja di keluarkan dari pekerjaannya karena sudah mencoreng nama baik perusahaan tempat dia bekerja. Aku tahu aku salah. Dan aku memang menyesalinya."ujar Rio mengungkapkan alasannya tidak mengakui Namesya saat wartawan tiba-tiba menyerbunya yang sedang bersama Namesya serta Melia sekaligus.


Saat itu Namesya memang meminta untuk bertemu di sebuah cafe kecil, tapi ternyata Melia mengikuti Rio dan wartawan mengikuti Melia. Saat itu setelah Namesya mengakui dirinya mengandung, Rio belum sempat menunjukkan rasa bahagianya mengetahui hal itu karena tiba-tiba Melia menghampiri mereka dengan keadaan perut tampak membuncit karena terbalut pakaian ketat. Setelah itu wartawan menyerbu mereka.


Feres mendengus mendengar alasan Rio,"jika kau benar-benar menyesal. Kenapa kau hanya diam dan tidak berusaha mencari Mesya. Dan bertanggung jawab atas perbuatanmu padanya."


"Aku sudah mencarinya. Tapi aku belum berhasil menemukannya."jawab Rio.


"Kau mungkin sudah terlambat saat kau menemukannya nanti."kata Feres dengan perasaan dongkol dan meninggalkan ruangan itu mengikuti Rahardi yang sudah lebih dulu pergi dari sana.


Feres langsung menemui Rahardi di ruang kerja ayahnya dan mendapati laki-laki yang sudah tidak lagi muda itu sedang duduk bersandar di sandaran kursi dengan mata terpejam.


"Pah."panggil Feres dan duduk di kursi dekat meja kerja ayahnya.


"Kau tidak perlu mencarinya lagi."kata Rahardi.


"Maksud papah apa?"tanya Feres.


"Papah sudah bertemu dengannya hari ini."jawab Rahardi.


"Di mana?"tanya Feres.


"Di rumah sakit."jawab Rahardi."Dia bersama keponakannya."imbuhnya.


"Apa papah percaya kalau Arumi itu keponakannya?"tanya Feres.


"Ya. Tadi pagi. Di depan rumah mereka. Mereka tinggal di sana setelah lama menetap di Bandung."kata Feres.


"Bandung? Kenapa di Bandung? bukankah kampung asal Sasmi ada di Yogyakarta.?"tanya Rahardi.


"Entahlah. Tapi aku mencurigai sesuatu."kata Feres.


"Apa?"tanya Rahardi.


Feres menatap ayahnya dan memberanikan diri bertanya,"Apa hubungan papah dengan Bu Sasmi?"


Raut wajah Rahardi langsung tampak lesu bercampur bingung. Entah apa yang di sembunyikan orang tua itu dari keluarganya selama ini.


"Pah. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui alasan apa yang membuat papah ingin sekali menemukan beliau."kata Feres.


"Papah tahu."Kata Rahardi,"Tapi entah apa pandangamu nanti terhadap papah setelah papah menceritakan alasan papah ingin mencari Sasmi."katanya.


"Apapun itu. Aku akan berusaha menanggapinya dengan bijak."ujar Feres meyakinkan.


"Kau sudah sangat dewasa nak."ujar Rahardi memuji sikap Feres dan hanya di tanggapi senyuman kecil oleh laki-laki itu.


Dengan berat hati akhirnya Rahardi menceritakan kisahnya di masa lalu yang menjadikan alasan mengapa pengusaha itu ingin mencari keberadaan seorang wanita biasa seperti Sasmi.


Sekitar 25 tahun yang lalu Siska Dewi Sanjaya, Ibu Feres dan Rio mengidap penyakit jiwa yang mengharuskan wanita itu tinggal di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Karena wanita itu akan berteriak histeris jika berada di lingkungan yang terlalu ramai dan tidak jarang wanita itu melukai dirinya sendiri.


Karena penyakit itulah Dokter menyarankan mereka untuk tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Rahardi pun akhirnya membangun sebuah villa di sebuah pulau kecil dan hanya ada vila miliknya di sana.


Mereka hanya membawa satu orang asisten rumah, dan asisten itu adalah Trisasmita yang biasa di panggil dengan nama Sasmi. Di tempat itulah Rahardi dan Sasmi melakukan kesalahan dan menjalin hubungan terlarang. Rahardi tergoda dengan sikap lembut Sasmi yang begitu penyabar merawat serta menemani keluarganya di pulau kecil itu. Karena sebelumnya semua pekerja selalu tidak tahan menghadapi sikap temperamen istri Rahardi yang suka mengamuk tiba-tiba dan akhirnya mengundurkan diri.

__ADS_1


Waktu terus berlanjut hingga Rahardi tidak tahan menahan perasaannya yang semakin hari semakin nyata bahwa dirinya menyukai Sasmi dan timbul keinginan untuk memiliki Sasmi seutuhnya. Akhirnya Rahardi memutuskan untuk menyatakan perasaannya hingga membuat Sasmi terkejut dan berniat ingin mengundurkan diri. Namun Rahardi mencegahnya dan berjanji untuk tidak akan mengatakan hal yang sama lagi pada Sasmi. Meski janji itu akhirnya di langgar oleh laki-laki itu karena kembali tidak tahan dengan perasaannya.


Mungkin setan sudah merasuki keduanya saat Rahardi mengakui perasaannya untuk kedua kalinya, dan saat itu Sasmi juga tidak bisa memungkiri jika dirinya juga menyukai Rahardi. Sasmi memutuskan membuka hatinya dan menerima pengakuan majikannya dan mereka menjalin hubungan terlarang itu diam-diam.


Malam yang seharusnya tidak pernah ada akhirnya terjadi, dua hati yang sedang dilanda kasmaran tak mampu membedakan antara cinta dan nafsu sesaat. Hingga akhirnya mereka melakukan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan malam itu dan untuk malam-malam selanjutnya.


Dan suatu hari, Sasmi menyadari adanya perubahan dalam dirinya dan satu hal yang disadari Sasmita, dirinya sedang mengandung benih majikan yang seharusnya tidak wanita itu cintai.


Namun kenyataan akan dirinya yang sedang mengandung sudah lebih dulu diketahui oleh ibu Rahardi. Wanita itu terpaksa pergi diam-diam karena ibu Rahardi mengancam akan membuat Rahardi dikeluarkan dari akta keluarga, yang itu artinya Rahardi tidak akan menjadi ahli waris keluarganya.


Sasmita tidak ingin Rahardi terpuruk nanti dengan mempertahankan dirinya tinggal di sisi lelaki itu. Ia tidak ingin menjadi wanita egois dengan tetap bertahan di sana mendampingi Rahardi yang hidupnya akan hancur jika mereka tetap bersama. Dan lagi, hubungan mereka adalah hubungan terlarang yang mungkin saja Rahardi akan mengelaknya.


Kembali pada kehidupan yang saat ini sudah lama berlalu dari masa lalu. Feres mendengarkan kisah hidup Ayahnya dengan seksama. Dan sesuai janjinya, Feres tidak menunjukkan kemarahan ataupun kekecewaan terhadap ayahnya.


"Setiap orang pasti pernah berbuat salah pah."kata Feres.


"Papah hanya ingin tahu kenapa Sasmi pergi tanpa pamit saat itu."kata Rahardi.


"Papah benar-benar mencintai Bu Sasmi?"tanya Feres.


Rahardi menatap putra sulungnya dan tersenyum kecil,"Jadilah laki-laki yang bertanggungjawab dan berani memperjuangkan siapapun yang kau cintai. Jangan seperti papah yang terlalu pengecut untuk memperjuangkannya."kata lelaki itu.


"Papah juga mencintai mamah?"tanya Feres lagi.


Rahardi menghela napas dan menatap kembali putranya,"Awalnya memang tidak. Kami menikah karena dijodohkan. Bahkan mamah kalian yang sejak awal sangat menentang perjodohan kami karena mamah kalian sudah memiliki kekasih saat itu. Tapi papah berusaha menjadi suami yang baik untuk mamah kalian meskipun papah juga tidak memiliki perasaan cinta pada mamah. Dan papah berhasil menemukan rasa cinta itu untuk mamah, dan papah memang mencintai mamah."kata lelaki itu tanpa menutupi apapun.


"Jadi papah sama mamah menikah karena dijodohkan."gumam Feres yang baru tahu akan rahasia itu.


"Ya. Tidak mudah menjalani hidup berkeluarga tanpa cinta. Itulah sebabnya papah selalu memberi kebebasan pada kamu dan Rio untuk memilih siapa gadis yang kalian cintai. Tapi papah menentangnya jika kalian mempermainkan mereka. Papah tidak ingin anak-anak papah merusak masa depan anak orang seperti papah yang sudah merusak masa depan Sasmita."jawab Rahardi.


Feres tersenyum kecil dan berkata,"Aku menyuruh temanku melakukan tes DNA papah dan Arumi."


"Apa?"Rahardi tidak percaya dengan apa yang di lakukan feres.


"Aku curiga pah. Aku curiga kalau Arumi itu bukan keponakan Bu Sasmi. Terlebih lagi setelah mendengar kisah papah dengan Bu Sasmi. Aku berpikir mungkin Bu Sasmi pergi diam-diam setelah tahu beliau hamil dan takut papah tidak mau mengakui kehamilannya. Atau mungkin takut papah menyuruhnya menggugurkannya. Jadi beliau pergi tanpa pamit."jelas Feres.


"Hhh... Apa yang akan kau lakukan jika Arumi itu anak papah?"tanya Rahardi.


Feres tersenyum,"tentu saja aku akan menyayanginya. Bagaimanapun juga jika dia benar-benar anak papah, itu artinya dia adikku. Rasanya aku lebih suka memiliki adik perempuan dari pada laki-laki."


Rahardi tersenyum mengetahui alasan Feres merasa tidak suka memiliki adik laki-laki, tentu saja lelaki itu tahu permasalahan putra-putranya yang sama-sama menyukai gadis yang sama.


"Papah berharap kamu akan menemukan gadis yang mencintaimu dan bahagia."ujar Rahardi.


"Tentu saja aku juga harus mencintainya. Kalau hanya cinta sepihak itu hanya akan saling menyakiti perasaan masing-masing."imbuh Feres.


"Ya. ya..."komentar Rahardi.


Obrolan seorang ayah dan anak itu menemui ujungnya. Tak ada perdebatan tak ada perselisihan. Mereka sama-sama memiliki pemikiran positif saat mereka dihadapkan dengan masalah. Terlebih lagi jika itu adalah sebuah masa lalu dan itu hanya sebuah masa lalu yang sudah lama berlalu.


.


.


.


.


😁😁😁✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2