
Menjelang makan siang, Alfin sudah selesai dengan pekerjaannya dan hendak kembali ke ruang pribadinya. Sembari berjalan, lelaki itu mengutak-atik ponselnya menulis, dan mengirimkan pesan untuk Namesya.
Mesya. Jangan lupa minum obat dan vitaminmu.
Begitulah isi pesan Alfin untuk Namesya, singkat, jelas dan tidak bertele-tele. Namun mampu membuat sang penerima tersenyum lebar dan merasa begitu senang.
Namesya sedang duduk sembari memakan bakso di sebuah kedai pinggir jalan. Gadis itu baru saja pulang dari supermarket terdekat dan meminta Arumi membawanya ke tempat pedagang bakso yang menurut Arumi enak.
"Kak Mesya. Baksonya..."tegur Arumi yang menuruti permintaan Namesya untuk tidak menyebut Namesya dengan sebutan nona, gadis berambut pendek sebahu yang di ikat PQa
"Eh. Ya ampun. Ceroboh sekali aku."ujar Namesya melihat baksonya jatuh di meja hanya karena merasa senang menerima pesan dari Alfin.
"Kak Mesya kenapa?"tanya Arumi.
"Ngga. Ngga kenapa-kenapa."jawab Namesya.
Arumi tak mau ambil pusing dan lanjut memakan bakso miliknya. Setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah Alfin dan menemani Namesya belanja cukup membuat perut gadis itu keroncongan.
"Oh ya. Kamu bilang, kamu cuma tinggal sama Bu Sasmi. Kalian cuma berdua begitu?"tanya Namesya.
"Iya. Sejak kecil aku tinggal sama Bibi. Kata Bibi orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih bayi. Bibi juga tidak pernah berkeluarga, jadi kami hanya tinggal berdua."jawab Arumi tidak menutupi apapun perihal dirinya dari Namesya.
Tatapan iba Namesya langsung terpancar dari sorot matanya, tangannya terulur menyentuh tangan Arumi yang bebas."Maaf."lirih Namesya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Aku bahagia dengan keadaanku. Setidaknya aku masih memiliki Bibi yang sangat menyayangiku."Ujar Arumi seraya menebar senyum lebar menutup kesedihannya yang sudah biasa ia sembunyikan dan ia simpan dalam hatinya.
"Kamu anak baik. Bu Sasmi pasti sangat bangga memilikimu."ujar Namesya dengan mata merahnya yang menggenang.
"Aduh. Kakak kenapa sedih..."tegur Arumi dan buru-buru menyerahkan tisu pada Namesya.
"Ah. Akhir-akhir ini aku memang sedang rentan segala-galanya termasuk emosiku. haha..."timpal Namesya berusaha menenangkan perasaan sedih dalam hatinya saat ini."Ayo. Habiskan baksonya. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang. Boleh ya. Aku ingin menemui Bu Sasmi, menjenguknya. Kamu bilang beliau sedang sakit."
"Tapi kak... Apa tidak merepotkan."Arumi tampak segan.
"Sama sekali tidak."jawab Namesya sembari tersenyum,"Aku ingin bertemu dengan Bu Sasmi..."
"Baiklah."Arumi menyetujui keinginan Namesya.
Namesya pun mengantar Arumi pulang setelah sebelumnya membawa pulang terlebih dahulu belanjaannya. Arumi sampai lupa belum membalas pesan yang Alfin kirimkan. Hal itu membuat Alfin penasaran dan mengecek keadaan rumah melalui cctv yang ia salurkan ke laptop.
"Kenapa di semua ruangan kosong?"tanya lelaki itu melihat seluruh ruangan tampak lenggang, Alfin akhirnya memutar video kembali kewaktu saat ia pergi dari rumah."Hhh... Aku pikir dia kemana."gumam Alfin saat melihat video yang memperlihatkan Namesya baru kembali dengan membawa belanjaan."Tapi dia pergi kemana lagi?"tanyanya melihat Namesya kembali pergi setelah meletakkan belanjaan di atas meja.
Lelaki itu mencoba menghubungi Namesya, namun tidak tersambung."Semoga saja dia tidak pergi jauh. atau bertindak macam-macam."gumamnya.
###
"Oh. Ponselku habis baterai."Namesya baru mengetahui ponselnya kehabisan daya saat hendak memesan taksi online untuk mengantarnya pulang.
"Kenapa kak?"tanya Arumi.
"Ponselku mati. Aku tidak bisa memesan taksi kalau begini."jawab Namesya.
"Oh... Biar kupesankan."Kata Arumi yang langsung kembali masuk kedalam rumah kecilnya untuk mengambil ponsel.
"Eh."Namesya hendak mencegah, namun terlambat.
Tak lama kemudian Arumi sudah keluar dengan membawa ponsel,"Sudah kak."kata Arumi.
"Terimakasih ya. Maaf merepotkanmu."ujar Namesya.
Arumi tersenyum kecil menampilkan lesung kecil di pipi gadis itu,"Sama sekali tidak merepotkan. Aku sendiri tidak pernah menyangka akan bertemu orang sebaik kak Mesya. Bahkan Kak Mesya mau menjenguk bibi kemari."ujar Arumi.
"Ah. Kamu pandai sekali memuji."timpal Namesya.
"Ini memang benar kak. Selama aku bekerja seperti ini. Aku tidak pernah bertemu orang sebaik kak Mesya yang memandangku setulus itu. Biasanya aku hanya melihat pandangan mereka yang menatapku seakan aku ini seperti kotoran. Itu sebabnya aku tidak yakin untuk mengajak kak Mesya makan di warung kecil itu, bahkan mengajak kak Mesya ke rumah kecilku ini."kata Arumi mengeluarkan unek-uneknya selama ini tentang pandangannya terhadap orang-orang yang memang kebanyakan terlihat memandangnya rendah.
Namesya merasa kalau batin Arumi pasti pernah terluka oleh seseorang di sekitarnya."Kau tahu. Keadaanku bahkan lebih parah darimu."kata Namesya.
__ADS_1
"Maksud kak Mesya."tanya Arumi.
"Aku sendiri tidak punya tempat tinggal."ujar Namesya sebelum tersenyum kecil."Kita punya jalan hidup yang berbeda. Namun jika kita menyadari bahwa diri kita itu manusia, maka tidak akan ada yang namanya merendahkan atau merasa rendah. Jika kamu merasa orang-orang merendahkan mu, maka tetaplah berjalan tegak dan percaya diri. Lakukan yang terbaik untuk hidupmu dan lalui jalan yang baik saat kau ingin memperbaiki hidupmu."
Arumi tiba-tiba memeluk Namesya karena merasa tenang mendengar nasihat Namesya untuknya,"Aku sangat beruntung bertemu dengan kak Mesya."Ujar Arumi sembari terisak.
"Hei. jangan menangis. Nanti Bu Sasmi mengira aku nakal padamu."gurau Namesya sebelum membalas pelukan Arumi sembari mengelus rambut gadis itu, saat ini ia merasa seperti seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya.
Tin
Momen singkat itu terpecah saat mendengar suara klakson mobil di depan rumah. Namesya bersiap pergi setelah pelukan mereka terlepas.
"Aku pulang ya."pamit Namesya,"semoga bibi lekas sembuh. Dan jangan ragu untuk mampir kalau kamu ingin bertemu denganku. Aku juga akan memberitahumu alamat rumah baruku nanti setelah aku menemukan rumah baru."
"Iya kak."sahut Arumi.
Namesya bergegas masuk ke taksi online dan melambai pada Arumi yang masih berdiri di depan rumah menatap kepergiannya.
"Hati-hati kak."Teriak Arumi.
"Ya..."sahut Namesya.
###
Sementara itu, di rumah Alfin. Laki-laki itu sedang kalap melihat ibunya tiba-tiba mengunjungi rumahnya tanpa memberitahu. Sore itu Alfin baru tiba di apartemen dan kembali mengecek ponselnya, namun tanpa disangka ia justru melihat ibunya sedang berada di rumahnya. Alhasil, Alfin langsung pergi ke rumahnya.
'apa yang harus aku katakan nanti kalau Namesya pulang?'batin Alfin.
'Mama sudah salah paham sebelumnya. Dan sekarang kalau sampai tahu Mesya tinggal di sini akan semakin runyam dan mama semakin salah paham nanti."batinnya lagi sementara tangannya terus mengetik pesan pada Namesya yang ponselnya masih mati.
"Alfin. Ada apa denganmu?"tanya ibunya.
"Ah. Memangnya Alfin kenapa? Alfin baik-baik saja."jawab Alfin.
"Kamu terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mama."ujar ibu Alfin dengan tatapan curiga,"Dan sejak kapan kamu menyediakan bahan makanan di rumah?"tanya wanita itu yang mengetahui putranya jarang memiliki persediaan makanan seperti yang tercecer di atas meja dapur.
"Hhhh... Kau tidak mau jujur pada mama Hem."wanita itu semakin memojokkan Alfin.
Alfin tersenyum kecil,"Aku tidak menyembunyikan apapun dari mama."katanya.
"Sebelumnya kamu sudah menyembunyikan hubunganmu dengan Mesya di belakang mama. Jadi mama harus menaruh lebih banyak kecurigaan mama sama kamu. Jangan-jangan kamu sudah menikahi Mesya tanpa sepengetahuan mama. Alfin... ayolah. Katakan sejujurnya semua yang kamu sembunyikan dari mama. Apa kamu takut mama tidak menyetujui hubungan kalian sampai kalian tega menyembunyikannya. Kamu tentu tahu seperti apa keluarga kita. Mama dan papah tidak pernah membatasi pergaulan anak-anak mama, kamu dan Ryan. kami tidak peduli seperti apa pilihan kalian asal kalian menemukan pasangan hidup yang mencintai kalian sepenuh hati."Ibu Alfin memberikan wejangan panjang terhadap anaknya itu.
Cklek
Kepala Alfin berputar cepat begitu mendengar suara pintu rumah yang terbuka dari luar, Ibu Alfin memicingkan matanya melihat Alfin terlihat gugup dan khawatir.
"Alfin..."ibu Alfin semakin menatap curiga putra sulungnya itu.
Saat itu Namesya tidak melihat keberadaan ibu Alfin dari arah pintu karena terhalang dinding, sedangkan Alfin menatap gadis itu dengan cemas serta pasrah. Lain dengan Namesya yang mengembangkan senyum cerahnya melihat keberadaan Alfin di sana.
"Dokter..."Seru Namesya, gadis itu melangkah cepat mengurangi jarak antara mereka,"Dokter sudah pulang? Aku pikir Dokter pulang ke apartemenku."
"Mesya..."Lirih Alfin yang tak tahu harus berkata apa saat ini.
"Mesya sayang..."sapa ibu Alfin yang merasa kehadirannya belum terlihat oleh Namesya, wanita itu mendekat ke tempat Alfin berdiri agar Namesya melihatnya.
"Oh."Namesya melongo melihat ibu Alfin yang sedang menatapnya sembari tersenyum,"i-ini."gadis itu seketika menghentikan langkahnya dengan tatapan penuh tanya.
"Ternyata benar..."kata ibu Alfin yang sudah melangkah dan berdiri di samping Namesya,"Maaf mama datang tidak kasih kabar dulu. Habisnya kalau kasih kabar pasti Alfin sembunyiin kamu lagi dari mama. Ayo kita ngobrol di depan. Tadi mama bawa oleh-oleh. Kamu pasti suka."wanita itu langsung menggandeng Namesya, mengajak gadis itu duduk di sofa ruang tamu.
"E. Tant-"
"Syyuuut... Udah. Ngga perlu ditutup-tutupin lagi hubungan kalian dari mama. Dan jangan sebut Tante, panggil mama... oke."Ibu Alfin memotong ucapan Namesya dan membuka bingkisan.
Namesya menoleh kearah Alfin yang masih berdiri di dapur, sedang menatap kearah Namesya yang duduk di samping ibu lelaki itu. Gadis itu melontarkan pertanyaan melalui tatapannya, namun Alfin hanya mengedikkan bahu dan terlihat menghela napas sebelum berlalu menuju lantai dua.
"Hei... Jangan liatin Alfin terus."tegur ibu Alfin.
__ADS_1
"Eh. Anu. ngga kok Tante."jawab Namesya asal.
Ibu Alfin menatap Namesya yang menyebut wanita itu dengan panggilan Tante lagi,"kamu ini pelupa sekali. Udah di kasih tahu panggil mama... ma-ma... jangan Tante."
"Tapi..."Namesya tidak tahu harus berkata apa untuk memberikan alasan.
"Ngga ada pake tapi. Udah mama udah tahu kalau kamu tinggal di sini. Iya kan. ngga sia-sia mama bayar orang buat ngawasin rumah ini."kata Meylani, ibu Alfin.
"Apa."Namesya melongo mendengar penuturan wanita di hadapannya.
Meylani tersenyum melihat wajah terkejut Namesya,"ngga usah kaget begitu. Mama nglakuin itu karena mama ngga mau kecolongan lagi. Bisa-bisanya kalian main kucing kucingan sama mama."tutur ibu Alfin.
Namesya menunduk, tak tahu harus berkata apa. Semuanya terasa semakin runyam baginya, tentu saja hal itu berlaku sama dengan Alfin. Akhirnya tak ada pilihan lain kecuali mengikuti skenario yang entah siapa yang membuatnya sehingga membuat Namesya harus bersikap seolah membenarkan semua kesalah pahaman ibu Alfin terhadap mereka.
Beruntung ibu Alfin tidak tinggal lama di sana karena ibu alfin harus menghadiri acara arisan di lingkungan wanita itu. Bahkan selama Meylani di sana, Alfin tidak turun lagi sejak laki-laki itu naik ke kamar. Hal itu membuat Namesya bingung, kenapa Alfin tidak turun dan kembali berusaha menjelaskan semuanya agar kesalahpahaman mereka tidak terus berlanjut.
Tok
tok
tok
Gadis itu memberanikan diri mengetuk pintu kamar Alfin, yang penghuninya sedang berdiri di depan jendela menatap keluar.
"masuk."Seru Alfin dari dalam.
Namesya membuka pintu perlahan dan mendapati kamar itu gelap tanpa penerangan, hari sudah gelap sehingga cahaya dari jendela yang terbuka itulah yang menjadi sumber penerangan yang membantu Namesya melihat keberadaan Alfin.
"Dokter. Kenapa tidak turun menemui mama."kata Namesya membuka suara, gadis itu masih berdiri di mulut pintu.
Bahu Alfin naik turun saat lelaki itu menarik napas dan menghembuskannya,"Maaf sudah semakin merepotkanmu."ujar lelaki itu seraya berbalik.
"A-apa maksud dokter?"tanya Namesya yang merasa ada aura menakutkan melihat Alfin berdiri membelakangi cahaya dari jendela yang terbuka tirainya.
"Kau tentu tahu maksudku. Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi dan terlibat masalah lagi dengan mama. Tapi aku justru membuatmu kembali terlibat dengan masalah pribadiku."kata Alfin.
"Dokter..."Namesya paham dengan arah pembicaraan Alfin saat ini.
"Maafkan aku. Aku tidak akan mencegahmu pergi jika kamu tidak nyaman tinggal di rumahku."kata Alfin.
"Dokter mengusirku."lirih Namesya, hatinya merasa tertusuk dan sedih mendengar ucapan Alfin.
Namesya buru-buru menghalau air matanya yang sudah mengalir karena sedih mendengar ucapan Alfin. Namun gadis itu heran dengan dirinya sendiri yang mudah sekali sedih sejak gadis itu mengetahui dirinya hamil.
"Tidak begitu. Aku sungguh tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya merasa bersalah karena kamu jadi terlibat dengan masalahku. Aku merasa aku sudah membuatmu susah."Alfin meralat ucapannya.
"Tapi aku sama sekali tidak merasa susah ataupun merasa direpotkan oleh dokter. Bahkan dokter juga terlibat dengan masalahku. Dokter juga sudah mencampuri urusanku. Aku juga sudah merepotkan dokter karena masalahku."Seru Namesya yang semakin tak bisa membendung tangisannya, gadis itu kemudian berjongkok menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis dengan menunduk.
Alfin pun bergerak melangkah menghampiri Namesya dan ikut berjongkok setelah menyalakan lampu kamar."Hei... jangan menangis. Aku sungguh tidak bermaksud mengusirmu."Alfin mencoba menenangkan Namesya,"aku hanya bingung harus dengan cara apa meluruskan masalah ini. Mama sudah salah paham terhadap kita, dan aku tidak tahu jalan keluarnya. Kau sendiri sedang berada dalam masalah, aku tidak mau membebanimu dengan melibatkanmu terlalu lama dalam masalahku."
"Jadi, kita harus bagaimana? Mama terlanjur mengira kita memiliki hubungan. Sebenarnya aku tidak keberatan jika dokter meminta bantuan padaku. Tapi..."Namesya menghela napas dan kembali terdiam.
"Kau yakin mau membantuku."tanya Alfin.
Namesya menengadahkan kepala menatap Alfin,"tentu saja. Dokter sudah banyak membantuku. Aku tidak akan keberatan jika harus terlibat dengan masalah dokter. Jika bisa membantu, maka aku tidak akan segan melakukan apapun untuk membantu dokter menyelesaikan masalah."
"Kalau begitu jadilah pacarku."Cetus Alfin tiba-tiba, seolah kata-kata itu keluar sebelum otaknya berpikir lebih jauh.
Terkejut. Tentu saja. Namesya membulatkan pandangannya menatap wajah lelaki yang masih jongkok di depannya sedang menatapnya serius.
"A-apa?"gumam Namesya.
...
....
.....
__ADS_1