
Selepas dari menyelesaikan pekerjaannya, Feres bergegas pulang ke rumahnya. Lelaki itu memutuskan tinggal di rumahnya sejak Arumi mau bekerja di sana.
"Arumi..."Panggil Feres begitu ia memasuki rumahnya."Apa dia sudah pulang?"tanyanya seraya menilik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul tujuh malam,"Aku sengaja pulang cepat tapi dia sudah pulang."gumam Feres.
Feres pun lanjut menaiki tangga menuju kamarnya dan mulai menanggalkan pakaiannya di sana. Lelaki itu melepas kemejanya dan menampilkan punggung putihnya yang di sana ada sebuah bekas luka.
Grek
grek
grek
Feres menoleh cepat menatap pintu kamar mandinya yang pegangannya bergerak-gerak. Kening lelaki itu berkerut tajam.
brak
brak
brak
Feres terkejut mendengar suara gedoran dari dalam kamar mandinya. Tanpa menunda untuk berpikir, Feres langsung berlari kecil menuju pintu kamar mandi itu.
"Arumi. Apa kamu di dalam?"tanya Feres memastikan.
"Dokter... Arumi ngga bisa buka pintunya."keluh Arumi dari dalam kamar mandi.
Feres mencoba memutar pegangan pintu kamar mandinya dan ternyata memang tidak bisa di buka.
"sepertinya pintunya rusak. Tunggu sebentar aku akan mengambil alat di bawah."kata Feres yang langsung pergi keluar kamar dan menuju gudang mengambil peralatan untuk membongkar pintu.
Tak berselang lama, Feres sudah mulai membongkar pegangan pintu dan berhasil membuka pintu. Feres langsung masuk dan melihat Arumi sedang duduk di dalam kamar mandi memeluk lutut.
"Hah. Kamu ngga apa-apa kan? Sejak kapan kamu terjebak di dalam? Ah sial. Hari ini para pekerja libur jadi tidak ada yang melaporkan ini padaku."cecar Feres yang berjongkok di depan Arumi, lelaki itu bahkan belum sadar kalau dirinya masih bertelanjang dada.
"Aku terjebak sejak pagi. Tadi pagi aku sempat jatuh terus nabrak pintu dan pintunya langsung ke kunci ngga bisa di buka."kata Arumi yang tampak pucat.
"Ya ampun. Kamu pasti ketakutan. Sudah. Ngga apa-apa. Ayo keluar."Ajak Feres,"Tapi kamu ngga ada luka kan? kamu kebentur ngga waktu jatuh nabrak pintu."kata Feres cemas.
"Ngga kak. Cuma punggungnya aja yang nabrak tapi udah ngga apa-apa kok."jawab Arumi setelah berdiri dan seakan baru melihat keadaan Feres yang bertelanjang dada membuat gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya.
"Oh. Maaf. Tadi aku lagi ganti baju terus buru-buru buka pintu jadi belum sempat ambil baju gantinya."ujar Feres yang langsung menyadari keadaanya.
"I-iya."jawab Arumi gugup.
Feres bergegas keluar lebih dulu mendahului Arumi, hal itu membuat Arumi melihat bekas luka yang cukup panjang di punggung lelaki itu. Arumi terdiam melihat bekas luka itu.
"Ada apa Arumi?"tanya Feres karena merasa diperhatikan oleh Arumi, dan perasaannya itu memang benar.
"Eh. tidak."jawab Arumi yang langsung bergegas keluar dari kamar mandi dengan kepala menunduk.
Feres menghela napas dan berkata,"Kamu jangan dulu pulang. Kita makan malam di luar sekalian ajak Bibi kamu juga."
"Apa? Kenapa?"tanya Arumi.
"Ah. Itu. Aku cuma mau yakinin bibi kamu kalau kamu aman di sini. Selain kamu terjebak di kamar mandi akan aku pastikan kamu aman."jawab Feres.
"Oh. Begitu."Gumam Arumi.
"Ya sudah. Kamu tunggu aku di bawah. Sebentar lagi aku akan turun."perintah Feres.
"Iya."balas Arumi dan langsung lanjut pergi.
Setelah menunggu beberapa menit, Feres turun menghampiri Arumi dengan penampilan casual. Cukup berbeda melihat Feres berpenampilan tanpa jas dan kemeja seperti biasa.
"Kamu yakin ngga ada luka apa-apa?"tanya Feres.
"Ngga kok. Aku baik-baik aja. Cuma punggung aja yang pas habis nabrak pintu kerasa sakit."jawab Arumi.
__ADS_1
Feres membawa Arumi menuju sebuah restoran, meskipun merasa heran dan penasaran, namun Arumi tetap berjalan di belakang Feres sampai mereka tiba di tempat yang sudah Feres pesan.
"Dokter bilang kita ke sini sama bibi juga?"tanya Arumi.
"Oh. Ada yang menjemput bibi nanti. Kita tunggu saja bibi di sini."jawab Feres.
Arumi mengangguk dan menoleh menatap pemandangan dari balik dinding kaca restoran. Feres memilih tempat di lantai dua sehingga mereka bisa menikmati pemandangan kota malam hari.
"Arumi."Feres mengalihkan perhatian Arumi dari menatap pemandangan.
"Ya."jawab Arumi yang langsung menatap Feres penuh tanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?"tanya Feres meminta ijin.
"Mmm... Silakan."balas Arumi.
"Apa kamu yakin kalau bibi kamu tidak punya satupun foto kedua orang tua kamu? maaf kalau pertanyaanku membuatmu mengingat masa lalumu."kata Feres.
Arumi mengangguk paham dan meminum air putih yang sudah tersedia di atas meja,"Aku memang penasaran kenapa bibi tidak memiliki satupun foto mereka. Padahal kata bibi ibuku itu adiknya, apa mungkin kalau bibi tidak memiliki satupun foto masa kecil atau masa remaja mereka? Tapi aku bahkan tidak pernah mempertanyakan semua itu pada bibi. Aku selalu merasa bersyukur bibi berhasil menyelamatkanku dari maut. Dan aku tidak mau membebani bibi dengan menanyakan banyak hal tentang masalah itu."jawab Arumi yang sesekali tersenyum kecil menutupi kegetiran perasaannya.
"Bagaimana kalau ternyata bibi Sasmi itu berbohong?"tanya Feres.
"Berbohong."gumam Arumi, keningnya berkerut samar menatap lelaki di depannya dengan rasa penasaran,"Apa bibi terlihat seperti kriminal yang akan menculik anak orang? Apa dokter berpikir aku ini anak orang yang diculik oleh bibi?"tanyanya.
Feres terkekeh,"Bukan begitu maksudku. Maksudku bagaimana kalau ternyata orang tuamu itu masih hidup, dan bagaimana pendapatmu jika Bu Sasmi itu ternyata adalah ibu kandungmu."kata Feres.
Arumi tertawa kecil,"Dokter ini lucu sekali. Apa karena aku sangat mirip dengan bibi sampai dokter berpikir aku ini anaknya? Ya ampun. Kalaupun aku ini anak kandung bibi, untuk apa bibi menyembunyikan identitas itu dan tidak mau mengakuiku. Sebagai perempuan aku tidak akan tidak mengakui anakku sekalipun anakku tidak mendapat pengakuan dari ayahnya."kata Arumi sama sekali tidak merasa curiga dengan semua perkataan Arumi.
"Bagaimana kalau ternyata bibi Sasmi itu ibu kandungmu?"tanya Feres.
"Hmmm... Akan terasa aneh jika tiba-tiba aku harus memanggilnya ibu. Tapi kalau memang begitu kenyataannya... mungkin aku akan butuh banyak waktu untuk menerimanya."jawab Arumi.
Gadis itu merasa semua pertanyaan Feres memiliki hubungan dengan alasan lelaki itu mengajaknya makan malam bersama bibinya.
"Apa dokter mengetahui sesuatu tentang keluargaku?"tanya Arumi mulai curiga.
"Oh. Aku akan menjelaskannya nanti saat bibi datang nanti."jawab Feres.
Senyum Feres mengembang mendengar langsung ucapan Arumi,"Andai kenyataan kau ini adikku, apa kau akan menerimaku sebagai kakakmu?"tanya Feres.
Arumi tertawa kecil sembari menggeleng pelan,"Bagaimana bisa aku menjadi adik dokter? Akan menjadi suatu kehormatan jika aku bisa menjadi adik dokter. Tapi rasanya itu mustahil."katanya tanpa berhenti tersenyum.
Feres mengedikkan bahu dan ikut meneguk air putihnya,"Tidak ada yang mustahil jika memang kenyataannya kau akan menjadi adikku."ujar Feres.
"Apakah bibi menjualku pada dokter?"gurau Arumi.
"Kurasa aku akan membelimu jika bibi mengijinkanku."balas Feres.
Arumi menghela napas dan menatap kembali pemandangan di luar,"Apa bekas luka di punggung dokter ada karena dokter menolongku?"tanya Arumi yang samar-samar mengingat wajah laki-laki yang menolongnya dari cengkraman Evan.
"Itu..."Feres terlihat enggan menjawab,"Itu bukan masalah."ujarnya.
Arumi kembali tersenyum getir,"Ternyata benar dokter yang menolongku waktu itu."gumamnya.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja. Meskipun aku tahu kamu sempat mengalami kesulitan. Aku harap kamu tetap bertekad untuk melupakan kenangan masa itu. Dan aku berharap kamu jangan pernah takut kalau suatu hari kamu bertemu lagi dengan Evan. Kamu harus bisa menghadapinya dengan kekuatanmu."kata Feres,"meskipun sulit, tapi kamu harus mencobanya dan lawan rasa takutmu saat bertemu dengannya."imbuhnya.
"Aku mungkin akan sulit mengontrolnya. Tapi aku akan berusaha. Dokter tidak perlu khawatir."jawab Arumi.
"Kakak mana yang tidak akan mengkhawatirkan adiknya. Tentu saja aku akan sangat mengkhawatirkanmu. Kamu ini adikku, aku bertanggung jawab penuh untuk melindungimu."timpal Feres tanpa sadar mengklaim Arumi sebagai adiknya.
"Hah. Sejak kapan aku menjadi adik dokter."komentar Arumi.
"Firasatku mengatakan kalau kamu akan menjadi adikku."balas Feres yang hanya di balas Arumi dengan dengusan tanpa menanggapi perkataan lelaki itu.
Drrrt
Feres langsung menjawab panggilan dari ayahnya,"Halo pah."sapa Feres."Apa?"Gumam Feres setelah mendengar ucapan ayah lelaki itu dari sebrang, raut wajahnya berubah serius bercampur sedih.
__ADS_1
"Hhh..."Feres menghela napas kasar setelah panggilan terputus.
"Kenapa dok?"tanya Arumi.
"Ah. Bukan apa-apa. Ada masalah pekerjaan di kantor jadi papah ngga bisa jemput bibi dan ngga bisa gabung makan malam bareng kita."jawab Feres dan lanjut bertanya," Kamu ngga apa-apa kan kalau kita cuma makan berdua?"
"Oh begitu. Jadi yang mau jemput bibi itu ayah dokter."gumam Arumi,"Kalau bibi ngga bisa ke sini ya udah ngga apa-apa kalau cuma makan berdua."imbuhnya menjawab pertanyaan Feres.
Akhirnya hanya Feres dan Arumi yang makan malam berdua di sana. Feres tidak mencoba menjelaskan apapun tentang alasan utamanya mengajak Arumi makan malam. Begitupun Arumi yang hanya fokus menyantap makan malamnya tanpa mengatakan apapun.
"Aku ke toilet dulu."pamit Arumi setelah selesai memakan makanannya.
"Oh. Mau ku antar?"tanya Feres.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri."jawab Arumi sembari tersenyum.
Tanpa memperhatikan sekeliling, Arumi pergi menuju toilet. Bukan untuk membuang isi perutnya, melainkan untuk membuka sebuah amplop yang ia ambil diam-diam. Bukan tanpa alasan gadis itu berani mengambil amplop itu, namun obrolannya bersama Feres membuatnya curiga.
"Pasti ada hubungannya dengan isi amplop ini."gumam Arumi sembari menatap amplop putih,"Tapi kenapa ini hasil sebuah DNA?"tanyanya semakin penasaran.
Arumi memejamkan matanya perlahan dan memutuskan untuk membukanya. Netranya cukup jeli membaca deretan kata yang tertulis di selembar kertas itu.
"Hah."Arumi menutup mulutnya setelah membaca kesimpulan dari hasil tes dari kertas itu,"Apa maksudnya ini. Kenapa tes ini mengatakan kalau aku putri biologis Rahardi Sanjaya. Rahardi Sanjaya..."Arumi mencoba memutar otaknya tentang siapa itu Rahardi Sanjaya,"Apa beliau ayah dokter Feres?"tanyanya saat teringat nama lengkap Feres yang memiliki nama Sanjaya di belakang namanya,"Tidak mungkin."gumamnya tidak percaya,"bagaimana ceritanya aku ini anak ayah dokter Feres? Apa benar kalau aku ini di culik oleh bibi? Apa alasan bibi menculikku? Atau tes ini salah? Bagaimana bisa?"
Drrrttt
Di tengah rasa penasarannya, Arumi di kejutkan oleh getar ponselnya. Ternyata bibi Sasmi yang menghubunginya.
"Bibi."gumamnya.
Beberapa saat ada keraguan untuk menjawab panggilan itu. Namun tentunya ia harus mencari tahu kebenarannya. Ia harus mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi.
"Halo. Bibi."Arumi menjawab panggilan Bu Sasmi yang terdengar menghela napas.
"Arumi. Kamu di mana?"tanya Bu Sasmi.
"Aku di toilet. Habis makan malam sama dokter Feres. Memangnya ada apa bi? Bibi terdengar khawatir sekali."kata Arumi.
Sangat jelas sekali kalau bibinya itu memang menyimpan banyak rahasia di balik masa lalunya, terdengar suara bibinya itu mencemaskan sesuatu,"Cuma sama dokter Feres?"tanya Bu Sasmi.
"Iya. Tadinya ayahnya dokter Feres mau jemput bibi, tapi katanya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Jadi cuma kami berdua yang makan malam."jawab Arumi.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang."perintah Bu Sasmi.
"Makanan Arumi belum habis bi. Memangnya ada apa sih? Kan Arumi udah bilang, dokter Feres itu baik. Baik banget malah. Dia bahkan udah anggep Arumi seperti adik sendiri. Jadi dokter Feres ngga akan macem-macem apa lagi berbuat jahat sama Arumi."jawab Arumi dengan santainya, namun tangannya gemetar sembari meremas kertas di tangannya.
Kecemasan Bu Sasmi justru membuat Arumi menjadi berpikir jika hasil tes DNA yang ia pegang saat ini memanglah benar. Hanya tinggal mencari tahu siapa ibu kandungnya.
"Arumi... Tolong dengarkan bibi. Kamu jangan percaya apapun perkataan orang lain tentang siapa kamu. Tolong sayang. Jangan dengarkan apapun. Tolong pulang. Jangan tinggalkan bibi."suara Bu Sasmi benar-benar semakin cemas dan ketakutan.
Arumi mencoba bertahan untuk tidak menangis, perlahan ia menghirup udara agar ruang paru-parunya terisi."Aku akan pulang nanti. Setelah makan malam ku habis. Aku harus kembali bi, makananku belum habis saat perutku tiba-tiba mules."jawabnya.
Arumi memutuskan panggilan secara sepihak, melipat dan mengembalikan kertas yang sudah ia remas dan sedikit lusuh bagian pojoknya ke dalam amplop. Ia harus meminta penjelasan dari Feres tentang hasil tes ini. Arumi keluar dan mencuci tangannya dalam diam.
"Khem."
Arumi menoleh saat mendengar suara laki-laki berdeham dari arah sampingnya. Tatapannya melebar saat netranya bertemu pandang dengan seseorang yang sangat ingin ia hindari dan tidak ingin ia temui.
.
.
.
...
....
__ADS_1
.....
😊😊😊😊✌️✌️✌️✌️