Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Hati tak bertuan


__ADS_3

Alfin dan Andin sama-sama sedang dibuat khawatir karena mereka tak mendapatkan kabar dari Namesya dan Kevin yang sejak kemarin tidak pulang. Bahkan ponsel mereka tidak ada yang aktif satupun.


"Kemarin Mesya memberitahuku pergi ke rumah orang tua Raya. Tapi aku tidak tahu di mana rumahnya."kata Alfin.


"Kevin juga memberitahuku begitu. Dan aku tidak tahu di mana villanya."imbuh Andin.


"Kalian sedang membicarakan apa?"Feres yang baru bergabung di kantin bertanya.


"Kevin dan Mesya tidak bisa kami hubungi sejak kemarin malam. Mereka pergi ke villa oranga tua Raya."jawab Andin.


"Villa orang tua Raya... maksud kalian Soraya?"tanya Feres yang memang pernah mengenal Soraya sebagai teman Namesya saat dulu ia sering berkunjung ke rumah Namesya dan beberapa kali melihat teman Namesya itu di sana.


"Iya."jawab Alfin,"Dia datang dari Jepang. Mau menghadiri Reuni."imbuhnya.


"Hmmm... Kalau villa keluarganya sepertinya aku tahu alamatnya. Tapi memang jauh dari sini. Kau akan menemukan matahari tenggelam jika dari sini kau berangkat pagi."kata Feres.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke sana."ajak Alfin.


"Masalahnya pekerjaan kita bagaimana..."gusar Andin mengingat pekerjaannya yang akhir-akhir ini begitu padat.


Tiga dokter itu sama-sama memijat pelipisnya masing-masing, bingung untuk memilih pergi mencari Mesya dan Kevin atau tetap bekerja mengabdi pada pasien-pasien mereka.


###


Kevin dan Namesya di buat bingung karena ponsel mereka tidak bisa menangkap sinyal di villa itu.


"Pasti kak Alfin nyariin aku kalau begini."keluh Namesya yang memandangi benda pipihnya dengan sedih.


"Huft. Sama kakak juga pasti udah buat kakak iparmu khawatir."Balas Kevin.


Namesya mendengus,"Punya pacar aja belum udah ngaku-ngaku aku punya kakak ipar."ejeknya.


"Kalau ngga di sini kakak udah jadiin Andin calon istri."balas Kevin.


Namesya tersenyum mengejek dan berlalu dari teras villa, memasuki villa dan duduk di sofa. Gadis itu juga sudah ingin pulang dari tempat itu, namun Arlan masih belum ada tanda-tanda mengembalikan mobil Kevin. Entah apa yang ada dalam otak Arlan saat ini hingga membuatnya dan Kevin masih tetap berada di tempat itu, Villa di tengah hutan lebat. Dan tentunya Raya masih berada di dalam kamar yang terkunci, hanya penjaga yang bisa membuka pintunya itupun atas ijin Arlan.


"Hei. Kenapa bosmu belum mengembalikan mobil kami?"tanya Namesya pada penjaga yang sedang bertugas.


"Tidak tahu nona."jawab penjaga itu.


"Mau sampai kapan kalian mengurung Raya seperti itu? Kenapa dia tidak di biarkan bebas? Toh aku dan kakakku tidak akan membawanya kabur."oceh Namesya.


"Maaf nona. Kami hanya menjalankan perintah."balas si Pria penjaga.


Kesal mendapatkan jawaban yang tak memuaskan membuat Namesya mendengus, membuang napas kasar.


Brak


Gadis itu dengan lancangnya menendang daun pintu kamar tempat Raya berada dan memelototi para penjaga itu. Dan gadis itupun berlalu dari tempat itu tanpa ada tanggapan berarti dari kedua penjaga yang ada di sana.


"Kau kesal padaku tapi kenapa pintu itu yang kau tendang."kata Arlan yang terlihat berdiri di ujung tangga.


Melihat biang dari rasa kesalnya berdiri tanpa rasa bersalah semakin membuat dadanya bergemuruh menahan kekesalannya.


tap


tap


tap


Langkah kaki Namesya dengan pasti mengarah menuju keberadaan Arlan, tangannya bertolak pinggang, tatapan berang menatap lelaki itu, cakarnya sendiri bahkan sudah terasa sangat gatal ingin melukai wajah lelaki itu.


"Kenapa kau terus mengurung Raya? Dan kapan kau akan melepaskan kami. Kau tidak tahu kalau kami juga punya keluarga di rumah. Mereka pasti sedang kalang kabut mengkhawatirkan kami."cerocos Namesya.


Senyum Arlan mengembang dan memberikan isyarat pada penjaga untuk membuka pintu kamar tempat Raya berada,"Sudah aku lakukan."katanya menunjuk pintu kamar yang sudah terbuka," Kau dan Kevin sudah bisa pulang dari sini."imbuhnya.


Namesya menoleh ke arah pintu yang terbuka,"Raya..."gadis itu langsung menghambur menghampiri Raya, memeluk sahabatnya.


"Mesya..."lirih Raya.


"Ayo kita pulang sekarang."ajak Namesya.


Namun Raya menggeleng,"Tidak Mesya."lirihnya.


"Apa maksudmu tidak? Om dan Tante pasti sudah mengkhawatirkanmu. Dan lagi Hiro sudah di tahan dan kau tak perlu khawatir dia akan memaksamu pulang bersamanya."kata Namesya tidak mengerti.


Raya mengarahkan tatapannya pada Arlan yang sedang bersandar pada dinding dekat tangga,"Aku akan tinggal di sini."katanya kemudian.


"Apa laki-laki itu mengancammu?"tanya Namesya seraya menunjuk Arlan, dan yang mendapatkan tuduhan hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tidak. Dia tidak mengancamku."bantah Raya,"Ini keputusanku. Aku harus melunasi hutangku padanya. Dan ini kemauanku sendiri."


"Hutang apa maksudmu?"tanya Namesya semakin bingung.


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang padamu. Setelah semua urusanku selesai, aku pasti akan kembali. Sebaiknya kau dan kak Kevin cepatlah pulang."balas Raya.


"Tapi-"


"Tidak ada penolakan Mesya... Sungguh ini semua adalah keputusanku. Aku akan baik-baik saja di sini."potong Raya.


"Bagaimana dengan om dan Tante?"tanya Namesya.


"Aku sudah mengurusnya."kini Arlan yang angkat bicara membalas pertanyaan Namesya,"Aku sudah memberitahu mereka tentang Hiro. Dan mereka tidak ada pilihan lain selain membiarkan putrinya bersamaku untuk sementara."


"Kau pasti juga mengancam mereka bukan?!"tuduh Namesya.


"Oh. Ayolah... Apakah seburuk itu aku di mata dan pikiranmu? Setidaknya aku tidak akan menyiksa temanmu seperti apa yang di lakukan Hiro. Justru sebaliknya."Kata Arlan dan langsung pergi menuruni tangga setelah kata terakhir kalimatnya terucap.


"Dasar pria gila."umpat Namesya.


"Sudahlah Mesya. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku yakin aku akan baik-baik saja di sini. Percayalah padaku jika kau sulit percaya padanya."bujuk Raya.


"Tetap saja aku tidak tenang."lirih Namesya,"Lalu bagaimana dengan acara reuninya..."imbuhnya,"bukankah kita akan ke acara itu bersama."


"Aku pastikan kita akan bertemu di sana."janji Raya.


"Aku tidak punya pilihan selain percaya padamu."Lirih Namesya dan memeluk Raya dengan erat.


"Mesya."


Namesya dan Raya melihat kearah suara Kevin berasal,"Ya kak."sahutnya.


Kevin melangkah menghampiri dua adiknya itu,"Ayo kita pulang."ajaknya pada Namesya,"Dan kau harus baik-baik saja sampai dia mengijinkanmu pergi dengan bebas."imbuhnya pada Raya, dan Raya mengangguk sebagai jawaban.


Dengan berat hati, Namesya dan Kevin pergi dari tempat itu meninggalkan Raya yang mengantar kepergian mereka dari balkon kamar lantai dua vila.


Raya melambai, memasang senyumnya yang manis dan cantik, melalui senyum itu telah ia sampaikan bahwa keadaannya baik-baik saja saat ini. Setidaknya itulah harapan Raya. Sebab saat ini ia mungkin memang telah lolos dari kandang serigala, namun ia tidak yakin jika saat ini ia mungkin berada di dalam kandang singa.


Apakah singa ini buas ataukah sudah jinak dan tidak akan menyakitinya?


Saat ini ia tidak ada pilihan lain selain mengikuti aturan main dari Arlan.


Flashback


"Kau rugi telah membeliku dari lelaki b@jin9an itu!"geram Raya.


"Aku sudah punya cukup banyak uang. Jadi aku tak begitu pusing memikirkan kerugian kecil seperti ini."balas Arlan dengan tenang berbaring di samping Raya yang tetap meringkuk di pojok.


"Ada banyak perawan di luar sana. Mereka masih tersegel dan tak akan membuatmu rugi membeli mereka. Untuk apa kau membeli sampah kotor sepertiku dari pemulung seperti bajin9an itu."Kesal Raya menghadapi ketenangan lelaki di sampingnya yang ia tahu sudah membelinya dari Hiro.


"Masalahnya bumi ini sudah kehabisan perawan yang mau menjual dirinya padaku."balas Arlan lagi masih tetap diam berbaring di samping Raya, lelaki itu memejamkan matanya dengan berbantalkan lengannya sendiri.


"Maka carilah perawan-perawan itu di kandang sapi. Atau kandang Anjin9 sekalipun."timpal Raya, ketus dan sama sekali tak ada keramahan sedikitpun.


"Nona... Kenapa kau cerewet sekali? Tidakkah kau memiliki niat untuk berterimakasih padaku. Aku sudah menolongmu. Setidaknya dari suami bajin9anmu."Kata Arlan yang membuka netranya menatap keberadaan Raya.


"Cih."Raya mendesis,"Aku tidak yakin kau berbeda dari bajin9an itu. Jadi untuk apa aku berterimakasih."


"Setidaknya aku tidak akan memberikan bekas mengerikan di tubuh indahmu."balas Arlan dengan tatapan menyeringai.


"Kau sama tak punya hatinya seperti bajin9an bren9*** itu. Kau juga seorang Tuan yang tak punya hati."kesal Raya seraya melempar bantal ke wajah Arlan yang menatapnya.


Hahahahahaaa


Tawa Arlan menggelegar memenuhi ruangan itu karena mendapatkan lemparan bantal sekaligus umpatan dari Raya yang semakin beringsut di pojok tempat tidur, memeluk lutut begitu erat.


"Kau salah nona... Aku bukannya seorang Tuan yang tak memiliki hati. Tapi Hati ini memang tidak bertuan. Aku hanya sedang berusaha mencari Tuan untuk hatiku."kata Arlan setelah berhenti tertawa.


Raya tak bisa memungkiri jika dalam tatapan Arlan ia tidak menemui tatapan kekejaman yang sering ia temui dalam manik mata Hiro. Namun ia tidak pula bisa mengelak jika lelaki yang bersamanya saat ini pasti sama saja dengan Hiro.


Merasa percuma berdebat sengit dengan Arlan, Raya memilih diam di pojok. Menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia menangis dalam diamnya, dan Arlan tahu wanita itu tengah menangis.


"Bagaimana kalau kita membuat satu kesepakatan?"Arlan membuka suara.


"Aku yakin. Apapun hasil dari kesepakatan, tetap saja aku tak mendapatkan keuntungan apapun."kata Raya.


"Kau akan mendapatkan segalanya jika kau mau mengikuti permainanku."kata Arlan.


"Diam kau bren9***!"teriak Raya seraya melempar bantal yang lain ke wajah Arlan.

__ADS_1


"Kau harus bersaksi ke kantor polisi kalau kau ingin menjerat Hiro dengan hukum."Kata Arlan.


"Apa maksudmu?"tanya Raya tidak mengerti.


"Aku melaporkan Hiro. Dan polisi sudah menangkapnya. Kau hanya perlu bersaksi."jelas Arlan.


"Kau melaporkan Hiro? Bagaimana mungkin?"tanya Raya tidak percaya.


"Apa kau menemukan kebohongan dalam mataku?"tanya Arlan menatap Raya meminta wanita itu mencari adanya kebohongan dalam matanya saat ini.


Raya menunduk karena tak menemui kebohongan dalam mata itu, tatapan yang membuatnya berdegup saat ini.


"Sudah ku katakan. Berterima kasihlah padaku. Aku sudah membuatmu terlepas darinya. Bisakah kau percaya pada Tuan yang tak punya hati ini."kata Arlan.


Kepala Raya semakin menunduk karena hatinya merasa bersalah sudah terlalu banyak bicara menuduh lelaki itu, menyamakan lelaki itu dengan Hiro.


"Aku mungkin kejam. Tapi aku tak pernah memukul seorang wanita."Ujar Arlan yang kembali memejamkan matanya,"Aku akan membiarkan Mesya dan Kevin pergi dari tempat ini jika kau bersedia tinggal di sini dan mengikuti semua perintahku. Ada banyak proses untuk membuat Hiro tetap tinggal di balik jeruji. Dan kau harus membantuku melancarkan semuanya."kata lelaki itu sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya.


Flashback berakhir...


"Aku sudah mengikuti perintahmu."kata Raya saat Arlan menghampirinya di balkon kamar setelah mobil Kevin melaju keluar dari area villa.


"Terimakasih."balas Arlan, lelaki itu berdiri di samping Raya.


"Apa Aku bisa mempercayaimu?"tanya Raya menelisik wajah Arlan dengan ragu.


"Kau masih ragu padaku."komentar Arlan seraya mematik rokoknya.


"Matikan."perintah Raya menunjuk rokok yang terselip di jari Arlan.


"Aku ingin merokok."bantah Arlan dan tetap menyulutkan api ke ujung tembakau berbentuk itu.


"Buang."Raya merebut rokok itu dan membuangnya ke bawah, kesal menatap lelaki itu.


"Aku masih punya banyak."Ujar Arlan yang hendak merogoh saku celananya.


"Tidak."cegah Raya,"Jauh-jauh dariku jika kau ingin merokok."tangannya memegang pergelangan tangan Arlan dan menatap lelaki itu dengan serius.


"Ini rumahku. Kenapa aku harus mengikuti aturan konyolmu."protes Arlan dan bersikeras melepaskan tangan Raya.


"Aku tidak suka asap rokok."kata Raya.


"Tapi aku suka merokok."balas Arlan.


"Jangan merokok di sampingku."kata Raya.


"Tapi aku ingin merokok di sini. Di sampingmu."Arlan bersikeras.


"Baiklah. Aku yang pergi."Raya hendak pergi, namun Arlan mencekal tangannya.


"Baiklah. Aku tidak akan merokok. Tetaplah di sini."Arlan mengalah dan mengembalikan bungkus rokok yang sudah ada dalam genggamannya ke dalam saku.


Raya mengerutkan kening menatap heran lelaki di sampingnya itu. Ia berdiri diam di sana, di samping Arlan yang masih terus mencekal pergelangan tangannya. Seakan lelaki itu tak ingin ia pergi dari tempat itu.


Keduanya tetap diam tak berucap, selain beberapa pikiran yang bersarang dalam otak masing-masing. Saat angin hutan menyapa dengan ramah, Raya memejamkan kelopak menutup manik matanya, menikmati belaian halus angin yang menyibak helaian rambut hitamnya.


"Harusnya aku tidak mengirim Hiro untuk menggantikanku."Kata Arlan yang sempat menikmati pemandangan di sampingnya, yaitu wajah Raya yang tampak tenang.


"Apa?"tanya Raya setelah membuka mata mendengar ucapan Arlan.


Arlan tersenyum, dan kembali memutus pandangannya dari menatap pemandangan cantik itu. Lelaki itu tak berniat untuk menjelaskan apapun atas ucapannya beberapa menit berlalu.


"Dasar aneh."gumam Raya dan ikut kembali menatap pemandangan alam dari tingginya lantai dua villa mewah itu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


😊😊😊😊 Maaf kalau banyak typo ya...


__ADS_2