Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Menghindar


__ADS_3

Taksi yang membawa Namesya pulang ke Apartemennya tiba tepat di depan gedung dan gadis itu keluar dengan ragu. Gadis itu takut kalau kakaknya mencarinya di sana atau mungkin menunggunya di depan pintu sampai ia kembali. Namesya turun sembari mengamati sekitarnya berharap tidak ada kakaknya di sana.


"Semoga saja kak Kevin ngga nyari aku di sini."gumam Namesya seraya melangkah tanpa mengurangi rasa cemasnya.


"Mesya tunggu."Seru Feres yang baru saja keluar dari taksi.


Namesya terperanjat kaget dan menoleh keasal suara sebelum membuang napas lega mengetahui yang memanggilnya adalah Feres, bukan Kevin.


"Kenapa kamu terlihat seperti terkejut?"tanya Feres.


"Oh. ya. Saya memang terkejut mendengar suara Dokter memanggilku."jawab Namesya.


'apa kau mengira bukan aku yang memanggilmu?'batin Feres bertanya.


"Dokter kenapa ada di sini?"tanya Namesya.


"Oh. Aku memang tinggal di sini. Belum lama. Rumahku sedang di renovasi jadi aku tinggal di sini untuk sementara."jawab Feres.


"Oh... begitu."Gumam Namesya.


"Ayo kita naik sama-sama."ajak Feres.


"ya."sahut Namesya yang kembali was was mengamati sekitarnya.


"Kamu cari siapa?"tanya Feres.


"Ngga. Aku ngga cari siapa-siapa."balas Namesya.


Feres mengangguk dan berkata,"ayo."


"ya."Namesya melangkah berdampingan dengan Feres dengan kepala menunduk.


Memang terlihat aneh menyadari Namesya terus menerus menundukkan kepala saat berjalan di sampingnya. Namun tidak mungkin Feres bertanya apa penyebabnya.


'apa dia malu berjalan berdampingan denganku?'batin Feres.


'tapi kenapa? apa aku terlalu tua untuk sekedar berjalan di sampingnya? apa aku kurang pantas berjalan di sampingnya?'tanyanya lagi dalam hati.


"Dokter. Apa Dokter mengenali wajah Kevin Ardhani Kusuma?"tiba-tiba Namesya menanyakan hal itu pada Feres.


"Kevin Ardhani Kusuma. Mmm... ya aku mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya. Bukankah dia kakakmu. Memangnya kenapa?"Feres balas bertanya.


"Darimana Dokter Tahu kalau dia kakakku?"tanya Namesya,


"Mmm... Ya tahu saja. Dia teman kuliahku dulu."jawab Feres.


"oh... Kalau begitu kalau nanti Dokter melihatnya di sekitar tempat ini tolong beri tahu aku. Aku sedang menghindarinya."kata Namesya meminta bantuan.


"oh... jadi kau berjalan menunduk terus karena takut bertemu kakakmu."kata Feres menemukan jawaban atas pertanyaannya tentang cara Namesya yang berjalan sembari menunduk.


"Iya. Aku harus menghindarinya dulu untuk saat ini. Tolong bantu aku kalau dokter melihat kakakku di sekitar sini."pinta Namesya.


"Iya iya ... Kamu tenang saja. Kalau perlu aku akan memasukkanmu ke dalam saku kemejaku kalau ada dia nanti."kata Feres sedikit bergurau.


"Hah."Namesya tersenyum menanggapi gurauan Feres.


Mereka akhirnya sampai di depan lift yang akan membawa mereka naik ke lantai tempat mereka tinggal. Feres lebih dulu menekan tombol yang mengarahkan di mana lantai apartemennya berada.


"Jadi Dokter tinggal di satu lantai yang sama denganku?"tanya Namesya melihat angka yang di tekan Feres.


"Ya."jawab Feres, lelaki itu tersenyum menatap Namesya di sampingnya.


"Oh. Ternyata kita bertetangga."gumam Namesya sembari mengangguk.


"Aku sering melihatmu."tutur Feres,"Dan aku cukup terkejut saat melihat Alfin menggendongmu dalam keadaan basah kuyup malam itu. Kupikir kamu kecelakaan."


"Oh. Itu..."Namesya merasa malu mengingat apa yang hampir saja ia lakukan malam itu.


"Jadi apa kau sudah benar-benar baik-baik saja?"tanya Feres.


"Ya. Aku sudah baik-baik saja. Dokter Rendra sudah meresepkan obat untukku."Jawab Namesya.


"Karena kau sudah tahu punya tetangga seorang dokter, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan ku jika kau sakit."kata Feres,"Apartemenku ada tepat di samping apartemenmu."imbuh lelaki itu dengan pe-denya.


"Oh. Memangnya Dokter Feres sama seperti Dokter Rendra spesialis penyakit dalam."kata Namesya.


"Mmm... Lebih tepatnya spesialis jantung. Jadi kalau kau merasa jantungmu berdebar-debar saat bersamaku kau harus memberitahuku agar aku cepat mengobatinya."Ujar Feres bergurau.

__ADS_1


Gurauan lelaki itu berhasil membuat Namesya tertawa namun gadis itu menahan agar tawanya tidak terlalu keras dengan membekap mulutnya.


"Kenapa ketawa? Lucu ya?"tanya Feres pura-pura polos.


"Dokter ternyata lucu tapi narsis kayak Kak Kevin."Jawab Namesya.


"Ah. Benar juga. Dulu kakakmu itu memang sangat narsis di kampus."Feres membenarkan.


Ting


Denting lift pertanda telah berhenti memutus percakapan mereka dan keduanya bergegas keluar dari lift. Dan Namesya kembali memasang mata dengan awas melihat sekelilingnya. Gadis itu berjalan mengendap-endap dan berhenti di balik dinding, melongokkan kepala melihat ke arah pintu apartemennya. Feres mengikuti gerakan Namesya di belakang gadis itu dan menatap Namesya yang tampak cemas.


"Hah."Namesya segera bersembunyi saat netranya melihat Kevin yang sedang mondar-mandir di depan pintu apartemennya.


"Kamu tenang saja. Aku akan menyingkirkan kakakmu dari sana."kata Feres.


"Bagaimana caranya?"tanya Namesya.


"Kamu di sini saja dulu. Nanti kamu masuk ke apartemen kalau aku sudah berhasil mengajak Kakakmu pergi dari sana."Feres memberitahu rencananya.


Namesya mengangguk dan tetap berdiri di sana setelah Feres pergi meninggalkannya di sana. Setelah cukup yakin Feres sudah bertemu kakaknya, gadis itu memberanikan diri mengintip lagi dari balik dinding. Dari sana Namesya melihat Feres terlihat tengah berbincang dengan Kevin sampai akhirnya Kevin mengikuti Feres memasuki Apartemen yang berada tepat di sebrang Apartemen Namesya.


"huft."Namesya bergegas melangkah menuju apartemennya dan dengan hati-hati membuka akses apartemennya yang tidak menimbulkan bunyi.


Namesya menutup pintu Apartemennya lagi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi apapun yang mungkin akan di dengar Kevin. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di daun pintu, menghela napas dengan mata terpejam. Beberapa saat kemudian air mata meluncur lancar dari sudut matanya di susul isaknya. Beruntung Apartemennya kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengar tangis atau teriakannya dari dalam sana.


"Sampai kapan aku bisa terus menghindari kak Kevin? Aku tidak mau membuatnya terlibat dengan masalahku. Dia pasti akan bertindak brutal jika sampai tahu aku hamil dan Rio tidak mau bertanggung jawab."Tubuh Namesya perlahan merosot, terduduk di sana dan terus menangis.


####


Kevin sudah berkali-kali datang dan menggedor pintu Apartemen Namesya sejak dia mengetahui berita tentang Rio yang akan menikah dengan seorang model terkenal yang sebelumnya telah di gosipkan menjadi kekasih laki-laki yang Kevin sendiri tahu bahwa Rio adalah kekasih Namesya, adik tercintanya. Kevin ingin mendengar penjelasan langsung dari Namesya tentang kebenaran di balik berita itu. Pasalnya dalam berita juga di sebutkan Rio telah menghamili wanita yang akan dinikahi laki-laki itu.


"Mesya... Mau sampai kapan kamu menghindari kakak?"teriak Kevin di depan pintu Apartemen Namesya.


"Dhani."Panggil Feres yang sejak keduanya menjadi teman sejak SMA lelaki itu lebih sering memanggil Kevin dengan nama Dhani.


Kevin menoleh ke asal suara dan melihat laki-laki berkemeja warna biru langit tengah berdiri di sampingnya."Feres."Kevin menyebut nama temannya yang sudah lama mereka hilang kabar.


"Hei. Ngapain di sini? Apartemen cewekmu?"tanya Feres pura-pura tidak tahu.


"Apa? oh. Bukan. Bukan cewekku. Tapi adikku."jawab Kevin,"Ngomong-ngomong apa kabar? Kamu tinggal di sini juga?"tanya Kevin.


"Ternyata kamu tetangga adikku."ujar Kevin.


"Adikmu yang mana? Memangnya kamu punya adik lain selain Mesya?"tanya Feres.


"Ya. Adikku cuma dia. Dia tinggal di sini."kata Kevin menunjuk apartemen Namesya.


"Wah. Kayaknya kamu salah alamat atau gimana? Ini Apartemen Ryan, adik temanku."Kata Feres, tentu saja lelaki itu berbohong.


"Apa? Apartemen adik temanmu? Bagaimana bisa?"Kevin tidak yakin.


"Ya. Belum lama ini sih. Katanya pemiliknya pindah tempat dan Ryan membelinya dari pemilik sebelumnya."Alibi Feres.


"Jangan-jangan Mesya menjualnya."gumam Kevin.


"Eh. Ayo mampir ke rumahku."Ajak Feres.


"Tapi kamu yakin pemiliknya sudah ganti."Kevin masih tampak ragu.


"Kalau kamu ngga percaya nanti ku hubungi orangnya. Dia jarang pulang cepat. Lebih sering pulang larut. Bagaimana kalau kamu mampir dulu ke rumahku."Feres kembali mengajak Kevin mampir.


Kevin menatap pintu apartemen Namesya dengan perasaan ragu, merasa tidak yakin jika Namesya menjual apartemen demi menghindari keluarganya.


'apa yang sebenarnya terjadi padamu? kenapa kamu menghindari kakak seperti ini?'batin Kevin.


"Sudah. Ayo mampir dulu."Feres kembali mengajak Kevin.


Begitulah cara Feres membantu Namesya menghindari Kevin dan lelaki itu berhasil membantu gadis yang sejak lama ia kagumi. Namun hanya dirinya seorang yang mengetahuinya.


"Ayo duduk dulu. Mau minum. Yang hangat atau yang dingin?"Feres mempersilakan Kevin duduk dan menawarinya minum.


"Terserah. Apapun itu."balas Kevin yang masih linglung dengan memikirkan keadaan adiknya saat ini.


"Oke."Feres melangkah menuju dapur minimalisnya, membuka kulkas dan mengambil dua botol minuman dingin.


"Aku baru tahu kamu tinggal di sini."kata Kevin saat melihat Feres kembali dengan dua botol minuman."thanks."ucapnya berterimakasih.

__ADS_1


"Belum lama ini aku tinggal di sini lagi. Rumahku sedang ada sedikit perbaikan. Ini Apartemen lamaku."jawab Feres.


"Oh. Jadi kamu sama sekali ngga tahu kalau Mesya tinggal di sebrang?"Kevin kembali menyinggung tentang Namesya.


Feres meneguk sedikit minuman bersoda miliknya dan menggeleng,"tidak. Aku hanya tahu adik temanku membelinya dari seorang agen."katanya berbohong lagi.


'Sorry Dhan. Gue ngga bermaksud bohongin Lo terus. Tapi untuk saat ini biarin Mesya merasa tenang lebih dulu sebelum dia siap ketemu sama kamu.'batin Feres.


Kevin mempermainkan minuman bersoda di tangannya, menatap botol itu dengan kening berkerut tajam. Ia meneguk minuman itu perlahan dan sesekali menghela napasnya. Sementara itu, Feres mengirim pesan pada Alfin untuk meminta bantuan.


###


Alfin sedang berdiri menatap gedung Apartemen Feres, lelaki itu tentu mengantar mobil Feres di tempat itu. Namun saat lelaki itu hendak pergi dari area gedung netra lelaki itu melihat Namesya dan Feres tengah melangkah berdampingan.


"Apa mereka hanya kebetulan tinggal di gedung yang sama?"tanyanya,"Kenapa Feres tidak cerita kalau mereka tinggal di gedung yang sama?"


Karena merasa heran, akhirnya Alfin mengikuti mereka dari jarak jauh sampai mereka memasuki lift. Alfin sempat teringat dengan cerita Feres yang menceritakan tentang cinta pertama yang sudah lama berusaha dilupakan oleh Feres tiba-tiba hadir dan entah karena apa mereka bertetangga di gedung yang sama.


Alfinpun hanya sekedar ingin tahu dan naik ke lift lain menuju lantai tempat Feres tinggal. Dari sana Alfin menyimpulkan berdasarkan cerita Feres, bahwa cinta pertama Feres itu kemungkinan besar adalah Namesya. Terbukti dengan keduanya turun di lantai gedung yang sama, dan bahkan mereka tinggal di tempat yang bersebrangan. Keduanya bertetangga. Alfin melihat gerak gerik keduanya dari jauh, dari mulai melihat Namesya yang berjalan mengendap-endap di balik dinding sampai Feres mengajak Kevin masuk ke apartemen dan di susul Namesya yang masuk ke apartemen gadis itu sendiri.


"Kalau Mesya memang cinta pertama Feres, Kenapa Mesya tampak tidak mengenal Feres saat mereka bertemu. Mesya tampak menganggap Feres seperti orang asing."gumam Alfin,"Apa mungkin Feres terlibat dengan cinta sepihak?"tanyanya menebak kemungkinan yang mungkin terjadi.


Drrrttt


Alfin terperanjat saat ponsel dalam saku celananya bergetar, tanda pesan masuk.


Fin udah anter mobilku? kalau udah aku mau minta tolong.


Begitu isi pesan Feres.


"minta tolong."gumam Alfin dan mulai mengetik pesan balasan untuk Feres.


Bantuan apa? Mobil sudah kuantar.


Tak lama kemudian Feres menghubunginya melalui panggilan.


"Ada apa?"tanya Alfin langsung.


"Aku butuh bantuan."kata Feres di ujung panggilan, namun terdengar seperti sedang berbisik.


"iya bantuan apa?"tanya Alfin.


"Mesya lagi ngehindar dari kakaknya. Aku kasih tahu kakaknya kalau apartemen Mesya udah di jual sama adik kamu. Kamu ada ide atau enggak supaya Kakak Mesya percaya kalau Mesya sudah ngga tinggal di apartemen sebrang apartemenku?"masih dengan suara lirih Feres menjelaskan dengan sangat jelas.


"Oh."komentar Alfin seraya menatap pintu apartemen Namesya dari jauh.


"Jadi gimana? kamu ada ide?"tanya Feres.


"Bilang aja aku yang tempatin Apartemennya. Aku ngga mau Ryan ikut terlibat. Bisa tambah runyam nantinya."perintah Alfin.


"Tapi aku udah terlanjur kasih tahu kalau yang beli itu Ryan."Timpal Feres.


"Ya bilang aja kalau Ryan cuma perantara antara aku sama penjual Apartemennya."balas Alfin.


"Ah. kamu benar juga. Ya sudah nanti akan aku atur strategi di sini supaya Dhani percaya kalau Mesya sudah ngga tinggal di sana."Kata Feres.


"Ya. Sudah aku mau pulang."kata Alfin hampir memutuskan panggilan saat Feres memanggilnya lagi.


"Alfin tunggu sebentar."cegah Feres.


"Apa lagi?"Tanya Alfin.


"Masalahnya tadi Dhani denger pintu seberang di buka. Apa ngga sebaiknya kamu ke tempat Mesya kita sandiwara sebentar."Kata Feres.


"Sandiwara."komentar Alfin,"Ngga semudah itu untuk mengaturnya. Bagaimana kalau di tempat Mesya ada banyak foto atau barang-barang yang mungkin di kenal sama kakak Mesya. Udah deh jangan aneh-aneh."


"Hmmm... ya sudah coba nanti kupikirkan cara supaya Dhani benar-benar percaya kalau Mesya sudah ngga tinggal di sana."ujar Feres pasrah.


"ya sudah."Kata Alfin sebelum memutuskan panggilan lebih dulu.


"ada-ada saja."gumam Alfin seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Tiba-tiba ia terdiam saat satu kata terlintas dalam benaknya.


"Sandiwara..."gumamnya,"Apa aku harus mencari wanita yang mau bersandiwara menjadi pacarku di depan mama kalau nanti mama percaya denganku kalau Mesya bukan pacarku."ujarnya saat tanpa sengaja rencana gila itu terlintas dalam benaknya.


"Ah. tidak. tidak. kalau nanti mama menyuruhku untuk segera menikah bagaimana? Bisa makin runyam urusannya kalau aku menikah tanpa ada rasa cinta nantinya."Alfin menolak sendiri pikirannya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku harus menghindari mama sebisaku. Aku tidak mau melibatkan Mesya lebih jauh lagi."Putusnya sebelum melangkah pergi dari tempatnya berdiri.


'Meskipun menghindar bukanlah cara tepat menghadapi masalah. Namun, nyatanya ada banyak orang yang sering menghindari masalahnya dengan harapan tak ingin semakin mempersulit keadaan. atau hanya sekedar ingin menenangkan hati agar hati merasa lebih kuat saat kembali menghadapi masalah itu'


__ADS_2