Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Setelah Dunia merestui


__ADS_3

Plak


"Argh..."Arlan mengerang menahan sakit pada hidungnya yang langsung mengeluarkan sedikit darah segar, Raya tiba-tiba membenturkan dahinya ke hidung lelaki itu dengan keras. Wanita itu kesal karena Arlan tak juga menyingkir dari atas tubuhnya, masih mengungkungnya sembari menatapnya.


"Minggir."Raya mendorong tubuh Arlan yang sedang memegangi hidungnya yang berdarah, wanita itu melangkah menuju sofa sedangkan Arlan menuju kamar mandi.


"Kau berani padaku tapi kenapa kau tak bisa melindungi dirimu dari Hiro."Kata Arlan setelah membersihkan hidungnya di kamar mandi.


Raya sudah memejamkan matanya,"Bukan urusanmu."balas wanita itu tanpa membuka matanya.


Arlan masih merasakan ngilu di hidungnya, lelaki itu menggelengkan kepala melihat sikap keras Raya terhadapnya.


"Kau mencintai Hiro."kata itu meluncur begitu saja dari mulut Arlan.


"Tidak setelah dia memukulku."balas Raya masih dengan mata terpejam.


"Dan kau mencintainya saat dia belum berani memukulmu."kata Arlan yang masih berdiri menatap Raya dari sisi tempat tidur.


Raya langsung bangun, duduk di sofa menatap jengkel ke arah Arlan,"Dan aku akan sangat mencintainya jika dia menghargai pernikahan kami. Dan aku tak akan bertemu pria gila sepertimu jika Hiro menghargai ku sebagai istrinya."katanya kemudian.


"Apa kau juga akan melakukan hal yang sama jika saat itu aku yang berdiri di sampingmu sebagai suamimu. Apa kau akan menerima pernikahan itu meskipun hatimu terpaksa."kata Arlan.


"Jika dunia merestui. Aku akan mencintai semua lelaki di dunia ini selama lelaki itu tidak menyakitiku."balas Raya sebelum kembali berbaring di sofa dengan memunggungi Arlan, meringkuk seperti bayi di sana.


Arlan menghela napas,"Sepertinya kau juga sudah berubah gila sekarang."gumamnya sebelum kembali berbaring di atas tempat tidur.


Pluk


Arlan mendapatkan lemparan bantal sofa dari Raya, namun tak mendengar umpatan apapun dari wanita itu.


###


Hari telah berganti esok. Sesuai rencana yang sudah di buat, Kevin dan Andin pergi ke makam orang tua Andin. Keduanya menaburkan kelopak bunga di dua pusara yang berdampingan itu.


"Assalamu'alaikum ayah... Ibu..."Salam Andin,"Maaf Andin tidak pernah datang berkunjung. Tapi hari ini Andin datang membawa kabar baik untuk kalian. Sekarang Andin sudah bertemu dengan laki-laki yang benar-benar mencintai Andin."wanita itu menghapus air mata yang telah meluncur begitu saja dan Kevin mengusap punggung wanita itu dengan sayang.


Sesi perkenalan singkat pun di lakukan Kevin di depan makam itu sebelum Kevin melanjutkan melantunkan doa untuk kedua orang tua Andin diikuti wanita itu. Setelah mereka selesai berdoa, merekapun pamit.


"Sekarang kita tinggal menemui Ayah dan ibuku."kata Kevin setelah mereka tiba di dalam mobil.


Andin menggigit sedikit bibirnya dan berkata,"Apa tidak masalah mereka mendapatkan menantu yang sudah berstatus janda sepertiku."


Kevin tersenyum kecil dan mengusap pucuk kepala Andin yang hari ini mengenakan hijab,"Ayah dan ibu tidak seperti itu. Mereka pasti akan merestui kita. Apalagi mereka sudah lama mengenalmu dengan baik. Untuk masalah setatusmu sekarang, itu tidak akan menghalangi apapun."kata lelaki itu.


"Terimakasih. Aku beruntung bertemu denganmu."lirih Andin.


Kevin kembali mengelus puncak kepala Andin dan berkomentar,"Kau semakin cantik dengan hijabmu."


Andin menunduk, wajahnya tersipu malu,"Aku akan mengenakannya terus jika kau mengijinkan."katanya mengungkapkan keinginannya.


"Jika kau mengenakannya saat kau bekerja itu tidak masalah."balas Kevin.


"Maksudnya?"tanya Andin.


"Aku akan protes jika kau terus memakai hijabmu saat bersamaku di kamar setelah kita menikah."balas Kevin yang langsung mendapatkan satu cubitan di pinggangnya,"Auh. Argh. Geli."keluhnya seraya melepaskan tangan Andin yang mencubitnya.


"Rasain."ejek Andin.


"Oke kita pulang sekarang ya. Ketemu calon mertua kamu."kata Kevin.


Lelaki itu mlajukan mobil melalui jalan pulang menuju rumahnya. Tentu saja untuk mengenalkan Andin sebagai seorang wanita untuk menjadi calon menantu pertama keluarga Kusuma, bukan lagi sebagai seorang dokter kandungan.


"Halo Sayang..."Sambut Sukma saat melihat kedatangan Kevin bersama Andin, wanita itu langsung menggandeng tangan Andin memasuki rumah,"Pah... Kevin udah pulang nih. Sama Andin juga..."teriak wanita itu memanggil suaminya.

__ADS_1


"Ngga usah teriak-teriak juga kali mah... Papah belum tuna rungu. Telinga papah masih berfungsi dengan baik."protes Edi Wira.


Sukma hanya tersenyum kecil dan terus menuntun Andin menghampiri Edi Wira. Wanita itu dengan sopan menyalami Edi Wira sebelum duduk di sofa.


"Kamu mau minum apa sayang? pasti capek kan."tanya Sukma dan langsung menyuruh Kevin membuatkan minuman untuk mereka,"Kevin. Cepat bantu adikmu di dapur. Tadi mama sudah menyuruh adikmu membuatkan minuman."


"Kalau sudah nyuruh Mesya kenapa mesti nyuruh Kevin juga ma..."keluh Kevin.


"Udah sana nanti adikmu."perintah Sukma.


"Udah telat kali mah."Suara Namesya terdengar dari arah dapur.


"Tuh kan mah. Kata Mesya juga udah telat."kata Kevin.


"Kamu ini."Sukma memukul lengan Kevin yang langsung membantu Namesya meletakkan empat gelas jus ke meja.


"Ni mah. Udah bantu."kata Kevin.


Edi Wira hanya menjadi penonton perilaku anak dan ibu itu dalam sikap diamnya. Sedangkan lelaki paruh baya itu mendapati Andin yang biasanya datang dengan jas kedokteran saat dulu memeriksa Namesya, kini terlihat sangat berbeda dengan hijab yang menutupi rambut wanita itu.


"Khem."Edi Wira berdeham dan meletakkan korannya,"Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit? Lancar, bukan?"tanyanya pada Andin.


"Alhamdulillah lancar Om."jawab Andin.


"Kok Om sih..."protes Sukma,"panggil aja Papah sama Mama..."


"Ma..."tegur Kevin yang merasa dirinya belum memberitahu maksud kedatangannya kali ini bersama Andin pada orang tuanya, namun sikap ibunya sudah berlebihan.


"Apa? Kamu mau menyembunyikan ini dari mama sama papah Hem?"jawab Sukma seraya mengangkat tangan Andin yang telah melingkar cincin indah di jari manis wanita itu.


Kevin menggaruk kepalanya dan berkata,"Itu yang mau Kevin bicarakan. Tapi kalau kalian sudah tahu, ya sudah. Sekarang Kevin hanya mau jawaban restu dari kalian saja."


"Kevin."Edi wira membuka suara dengan tatapan serius mengundang tanda tanya di kepala Andin dan Kevin.


"Kau sudah mantap dengan keputusanmu?"tanya Edi Wira.


Kevin menoleh ke arah Andin yang terpisah oleh keberadaan ibu lelaki itu,"Tentu saja. Aku yakin dengan keputusanku."katanya dengan mantap.


"Sebagai seorang ayah, Papah tidak mau kalau kamu sampai menyakiti anak orang. Kau sudah memutuskan maka apapun yang terjadi kedepannya kau maupun Andin harus berani menanggungnya. Terlebih kamu sebagai lelaki. Kau punya tanggungjawab besar nanti."kata Edi Wira menasehati Kevin.


"Kevin mengerti pah. Kevin tidak akan mengecewakan papah. Kevin akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab seperti papah yang telah memberikan cinta untuk keluarga kita."kata Kevin dengan tegas.


"Baiklah. Papah tidak akan banyak bicara. Papah hanya tidak mau putra papah mengecewakan anak orang."kata Edi Wira.


Andin hanya terus menunduk mendengarkan nasihat Edi Wira pada Kevin sampai wanita itu mendengar calon mertuanya itu memanggil namanya.


"Andin."panggil Edi Wira.


"Iya Om. Eh... Anu."Andin menoleh ragu pada Sukma yang kemudian tersenyum dan mengangguk,"Pah..."


"Laporkan pada papah jika anak nakal itu menyakitimu."kata Edi Wira.


"Ah... Di sini yang anak papah siapa."keluh Kevin, tentunya hanya sekedar bergurau kecil dengan Edi Wira.


"Kau anak mamah sama papah. Tapi Andin juga akan jadi anak mamah sama papah nantinya. jadi kamu harus mau berbagi kasih sayang papa sama mamah."kata Sukma.


"Iya. Iya..."balas Kevin.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"tanya Edi Wira.


"Secepatnya pah."jawab Kevin.


"Tentukan secepatnya tanggal pernikahan kalian."kata Edi Wira.

__ADS_1


"Aku yang mau nikah papah yang ngga sabar."komentar Kevin sembari meraih minumannya.


"Bukan kamu saja yang mau nikah."kata Edi Wira.


Sontak Kevin menatap Namesya yang sejak tadi hanya diam dan hanya berkutat pada ponselnya,"Maksud papah apa? Mesya juga mau nikah?"tanyanya.


"Semalam Alfin datang. Dia melamar Mesya."jawab Sukma mewakili Edi Wira.


"Wah... Kau sudah ngga sabar pengen nikah juga."ejek Kevin pada Namesya.


"Cih. Kakak sendiri gimana? Kakak juga udah ngebet pengen nikah kan."balas Namesya.


Kevin merubah raut wajahnya,"Jangan bilang kalau kamu..."Kevin tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa? Jangan ngeres ya. Kak Alfin ngga gitu orangnya."Namesya membela Alfin karena melihat tatapan curiga Kevin.


"Alfinnya enggak tapi kamunya yang iya."gurau Kevin yang langsung berdiri menghindar saat melihat Namesya melempar potongan buah ke arahnya.


"Sudah-sudah... Ngga malu apa berantem sama adik di depan calon istri."tegur Sukma pada Kevin dan langsung membuat Namesya menjulurkan lidahnya merasa menang.


Dua pasangan kakak beradik itu telah sama-sama menemui titik terang hubungan mereka masing-masing. Namesya yang semula merasa tersesat dalam dunianya yang berkabut hingga membuatnya hampir melakukan kesalahan setelah melakukan hal bodoh, namun akhirnya menemukan cahaya terang yang menuntunnya keluar dari dunia berkabut itu. Alfin adalah malaikat yang telah Tuhan kirimkan untuk Namesya, malaikat tak bersayap yang mencintai Namesya dengan sepenuh hati. Malaikat dalam kabut yang mengeluarkan Namesya dari dunianya yang hampir hancur lebur dalam tebalnya kabut.


####


Satu minggu telah tertinggal, Raya masih dengan tenang tinggal di villa Arlan. Menikmati hari-harinya yang sepi dan biasa saja. Satu hal yang menghiburnya adalah duduk di balkon menatap matahari tenggelam di waktu sore. Dengan harapan tak ada lagi hari esok, sehingga ia tak perlu menjalani kehidupannya lagi yang membosankan baginya.


"Kemana laki-laki gila itu pergi?"gumam Raya setelah merasa sedikit aneh karena sudah hampir satu minggu sejak malam saat Raya membenturkan dahinya ke hidung Arlan, lelaki itu tak pernah lagi mengunjunginya di villa. Bahkan Raya tak melihat ada tanda-tanda kedatangan lelaki itu.


"Mungkin dia sudah mati."lirih Raya sembari menyesap tehnya,"Ya. Dia pasti mati karena hidungnya mungkin patah karena ulahku malam itu. Atau dia mengalami kecelakaan saat pergi dari sini. Dan mungkin saja ia di serang segerombol macan kelaparan di tengah hutan."oceh wanita itu berimajinasi tentang alasan mengapa Arlan tidak lagi menemuinya seperti saat awal dirinya tinggal di villa itu.


"Sial. Kenapa aku memikirkan laki-laki gila itu. "Raya menyentak cangkir yang ia telah minum setengah dari isinya, merasa kesal seorang diri. Kesal dengan alasan yang tak begitu jelas, atau karena ia tak mau mengakui alasan yang sesungguhnya dan memilih mengelak dari alasan itu sendiri.


Tok


tok


tok


Raya tetap duduk tenang di kursi meskipun telinganya mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Wanita itu tetap tenang, sebab ia sudah tahu pasti siapa yang mengetuk pintu kamar itu. Pasti penjaga yang beberapa waktu sekali menemuinya untuk memastikan dirinya masih di sana atau hanya sekedar ingin menanyakan apa yang ia butuhkan.


"Aku butuh pembalut. Dan aku tidak yakin ada supermarket yang di bangun di hutan seperti ini."gerutu Raya yang memang sedang menstruasi, namun terpaksa tidak memakai pembalut karena tak ada di dalam kamar itu, dan ia terlalu malu untuk memintanya pada penjaga,"Ukh. Menyebalkan. Kenapa harus seperti ini. Menjijikan sekali rasanya."keluh Raya seraya bangun dari kursi karena di buat tak nyaman dengan keadaannya saat ini, ia bisa melihat bercak merah segar yang tercetak di atas kursi tempat ia duduk,"Sudah berapa kali aku mengganti celana dalamku."gerutunya sembari melangkah memasuki kamar dan terus menuju kamar mandi.


Setelah mengganti ****** ***** untuk kesekian kalinya, Raya memutuskan untuk berbaring di tempat tidur. Arlan telah menyingkirkan sofa di kamar itu membuat Raya akhirnya memilih tidur di atas tempat tidur dari pada harus tidur di lantai yang dingin. Setelah berbaring, wanita itu akhirnya terlelap dengan tenang. Jiwanya benar-benar sudah tenang setelah tinggal di tempat itu tanpa mendapatkan perlakuan buruk dari siapapun. Justru wanita itu yang akan mengamuk jika keinginannya tidak di penuhi oleh penjaga. Wanita itu cukup nakal untuk membuat para penjaga kewalahan dengan perintahnya yang sulit untuk di laksanakan.


Contohnya saja, Raya akan meminta di belikan makanan yang hanya ada di kota dan menuntut makanan itu masih dalam keadaan hangat saat sampai di villa. Karena perintah itu, Arlan mendatangkan koki handal yang bisa memasak masakan apapun hingga tak ada alasan bagi Raya untuk meminta makanan dari luar hutan.


Keusilan Raya yang lain adalah meminta penjaga menangkap ayam hutan untuk kemudian ia pelihara di halaman belakang villa. Keusilan Raya tak lebih dari sekedar tindakan pengusir rasa kesepian yang ada dalam diri wanita itu sendiri. Raya sudah seperti seorang putri yang terperangkap di dalam istana mewah namun di selimuti kabut kesepian, sehingga sulit untuk wanita itu menyerang lawannya dari balik kabut. Apalagi jika lawannya adalah egonya sendiri. Egonya yang selalu bersikeras menolak untuk mengakui satu rasa dalam hatinya saat ini. Sebuah rasa yang tak ingin ia ungkapkan, namun teras begitu membuatnya kesepian. Semakin kesepian. Begitu kesepian.


Ya. Rasa itu adalah sebuah kerinduan akan sosok seseorang yang tanpa sadar telah menyita seluruh pikirannya hingga ia tak menyadari dirinya sudah dibuat bergantung atas kehadiran lelaki itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


😊😊😊😊


__ADS_2