Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Kangeeeennnn


__ADS_3

Hampir satu minggu berlalu sejak Namesya pindah. Baik Alfin maupun Namesya, tak ada yang saling menghubungi ataupun sekedar memberi kabar. Mereka sama-sama memutuskan untuk menahan rindu masing-masing. Entah kapan rindu itu akan terobati.


"Kamu masih lama masuk kerjanya?"tanya Kevin pada Namesya yang sedang mencuci piring bekas mereka makan malam.


"Mungkin aku akan mengundurkan diri."kata Namesya tanpa menoleh.


"Kenapa?"tanya Kevin penasaran.


"Mmm... Entahlah. Aku takut bertemu Alfin kalau aku tetap bekerja di sana."jawab Namesya menimbang perasaannya.


"Hhh..."Kevin menghela napas dan menanggalkan ponsel dari tangannya,"Kenapa mesti ngehindar. Kakak heran sama kamu. Di ajak pulang ngga mau. Apa ngga capek ngehindar terus. mau Sampai kapan?."


"Aku masih belum siap ketemu papah sama mama."lirih Namesya.


"Siapnya kapan? Nunggu anak kamu lahir baru kamu siap ketemu papah sama mama."cetus Kevin.


"Kak... Udah dong jangan pojokin Mesya terus. Mesya masih butuh waktu buat ngumpulin keberanian Mesya buat ketemu apapun sama mama."Namesya berhenti mencuci piring demi menatap Kevin.


"Terus gimana sama Alfin? Mau ngehindar terus?"tanya Kevin.


"Aku ngga ngehindar. Dia aja ngga pernah kasih kabar jadi bukan aku yang ngehindar. Aku pindah ke sini juga demi kebaikan dia."jawab Namesya.


"Jadi Alfin sama sekali ngga pernah kasih kabar ataupun kirim pesan atau telfon kamu?"tanya Kevin dan di balas gelengan kepala oleh Namesya,"Bukannya kamu bilang dia ungkapin perasaannya sama kamu malam itu?"tanya Kevin lagi."Kalau dia memang suka sama kamu kenapa dia sama sekali ngga ada pergerakan apapun?"tanyanya lagi lebih kepada dirinya sendiri.


"Bisa aja dia nyesel udah ungkapin perasaannya dan udah sadar kalau suka sama aku itu ngga gampang. Lagian laki-laki mana yang dengan bodohnya mau Nerima keadaan aku yang seperti ini. Pasti dia sedang berusaha lupain perasaan sukanya sama aku. Dan lagi dia cuma bilang menyukaiku, bukan mencintaiku."kata Namesya.


"Bukan masalah menyukai atau mencintainya. Tapi menjalin hubungan dengan seseorang jangan hanya sebatas percaya pada kata-kata aku mencintaimu. Tapi nilailah seberapa besar dia menghargai hubungan kalian. seberapa besar dia memperjuangkanmu."ujar Kevin memberi nasihat.


Namesya menghela napas mengingat betapa seringnya Rio mengatakan cinta padanya tapi pada akhirnya lelaki itu berbalik arah memunggungi dirinya dengan dalih ingin melindunginya dari publik.


"Aku dengar ibu Alfin sakit. Mungkin Alfin sedang sibuk merawat beliau."kata Kevin.


"Apa? mama sakit?"tanya Namesya dengan tatapan cemas dan masih tetap menyebut ibu Alfin dengan sebutan itu.


"Mama."Kevin tersenyum mendengar Namesya menyematkan sebutan itu untuk ibu Alfin,"Kamu bahkan sudah dekat dengan ibunya."komentarnya.


"Mmm itu... Aku tidak bisa menolak permintaannya waktu beliau memintaku memanggilnya dengan sebutan itu."dalih Namesya.


"Dan kamu merasa nyaman."timpal Kevin.


"Ya."jawab Namesya seraya mengangguk,"Tapi kakak tahu dari mana kalau mama sakit?"tanyanya.


"Itu..."Kevin menggaruk tengkuknya dan mengambil ponselnya,"Ah kakak lupa menghubungi seseorang."ujarnya sebelum berlalu pergi dari dapur dan duduk di sofa ruang tamu.


Namesya mengerutkan kening melihat tingkah Kevin yang menurutnya terasa mencurigakan,"Kenapa aku merasa Kak Kevin menyembunyikan sesuatu."gumamnya seraya mengelap tangan basahnya.


Malam itu seperti beberapa malam yang sudah berlalu, Namesya tidur dengan perasaan gelisah. Ingin menyangkal perasaan yang timbul tenggelam dalam benak dan pikirannya, namun selalu saja buntu.


"Mama sakit."gumam Namesya seraya menggenggam ponselnya,"Mama sakit apa yah?"


Namesya kembali duduk di atas tempat tidurnya, menatap nomor ponsel yang tertulis jelas nama pemiliknya di sana. Ibu jarinya bergerak gelisah antara mengikuti perintah otaknya atau hatinya, hatinya ingin menekan nomor itu, namun otaknya menolak ibu jarinya untuk bergerak.


"Ya ampun... Kenapa aku cemas sekali seperti ini. Apa selama aku di sini alasan aku gelisah adalah karena mama sedang sakit?"keluhnya,"Bagaimana ini. Aku sangat penasaran dan ingin tahu keadaan mama yang sebenarnya."


Saat Namesya menimbang keputusannya, tanpa sengaja ibu jarinya yang sedang bergerak menyentuh nomor ponsel Alfin dan panggilan langsung tersambung begitu saja sebelum Namesya menyadari ulah dari ibu jarinya itu.


"Halo. Mesya."terdengar suara Alfin dari ponsel Namesya.


"hah."Namesya terkesiap saat melihat layar ponselnya sudah menunjukkan telah tersambung dengan nomor ponsel Alfin,"Bagaimana ini."lirihnya.


"Halo. Mesya. Kamu di sana? Halo."Suara Alfin kembali terdengar.


"Ha-halo dokter."akhirnya Namesya memberanikan diri menyuarakan suaranya.


"Benar ini kamu."terdengar Alfin seperti bergumam.


"Ya ini aku."gumam Namesya, pikirannya seakan kosong tak tahu harus bertanya atau berkata apa.


Untuk beberapa saat keduanya sama-sama terdiam sampai akhirnya Alfin bertanya,"Bagaimana kabar kalian?"


"Kalian?"tanya Namesya, bingung dengan kata kalian yang Alfin tunjukan.


"Ya. Kalian. Kamu sama anakmu. Apa dia baik-baik saja?"Alfin menjelaskan.


"Oh... itu ..."kata Namesya seraya tersenyum menyadari kepedulian Alfin terhadap anak dalam perutnya,"Ya. kami baik-baik saja."Jawabnya.


"Syukurlah."kata Alfin terdengar lega,"Akhir-akhir ini aku sibuk sekali sampai tidak sempat untuk menghubungimu."katanya menjelaskan tanpa menunggu Namesya bertanya mengenai apa yang ia lakukan selama beberapa hari ini.

__ADS_1


"Apa mama baik-baik saja? Aku dengan mama sakit."tanya Namesya.


"Ah. mama... Dia sudah agak mendingan. tapi ngomong-ngomong kamu tahu dari mana kalau mama sakit? Apa Andin memberitahumu? Atau Feres?"tanya Alfin.


"Mmm ... Kak Kevin yang kasih tahu. Tapi ngga tahu kak Kevin tahu dari mana."jawab Namesya,"Memangnya mama sakit apa?"tanyanya.


"Itu..."Alfin terdengar ragu untuk menjawab,"katanya kangen sama kamu. Dia beberapa hari ngambek karena kamu pindah sampai mogok makan dan akhirnya penyakit maghnya kambuh. Heh. terdengar konyol bukan."Alfin terdengar mendengus.


"Oh... Maaf. Gara-gara aku pindah mama jadi sakit."kata Namesya.


"jangan berpikir begitu. Mama saja yang banyak bertingkah. Kalau kangen kenapa ngga ke rumah kamu. Padahal mama udah minta alamat kamu dari Arumi."Jawa Alfin yang sangat tahu maksud semua kelakuan ibunya.


Namesya tersenyum kecil menyadari sikap konyol wanita yang sudah membuatnya nyaman dan tenang seperti saat dirinya dekat dengan ibunya sendiri,"Aku baru tahu kalau kangen bisa bikin orang sakit."katanya bergurau.


"Memangnya kamu ngga kangen?"tanya Alfin yang sukses membuat Namesya membeku.


"Kangen ... sama siapa maksud dokter?"tanya Namesya dengan suara melambat.


Disebrang Alfin tengah mengacak rambutnya, merutuki dirinya sendiri karena sudah memberikan pertanyaan konyol itu pada Namesya,"Itu... Mungkin kamu kangen sama rumahku. Ya. rumahku."kata Alfin setengah menahan kegugupannya.


Namesya tertawa kecil dan berkata,"Kangen sama rumah ya. Hmmm... Sedikit kangen sih sama kamar di situ. Sama dapurnya... sama bak mandinya... sama suasana rumahnya... sama... mmm..."


"Sama aku gimana."Alfin semakin berani mengungkapkan rasa rindunya caranya sendiri.


"Sama dokter..."Namesya menahan senyumnya sendiri agar efek senyumnya tidak terdeteksi saat ia berbicara,"Memangnya boleh."lirihnya.


"Kamu di mana?"tanya Alfin mengalihkan pembicaraan yang akan membuatnya semakin ingin menemui Namesya.


"Aku... di kamar. Kenapa?"jawab Namesya.


"Oh. Sendirian?"tanya Alfin.


"mmm... Ngga. Kak Kevin ada di sini."jawab Namesya.


"Oh. Bisa buka pintunya sebentar?"tanya Alfin yang ternyata sedang berdiri di depan pintu apartemen Namesya.


"apa?"Namesya refleks langsung turun dari tempat tidurnya, berdiri di sana dengan rasa tidak percaya akan pendengarannya.


"Aku di depan rumahmu."kata Alfin.


"Aku..."Alfin terdengar menghela napas dan melanjutkan ucapannya,"Aku ingin melihat wajahmu. Sebentar saja."


Namesya menyentuh dadanya, jantungnya berdebar begitu kencang di dalam sana, senyumnya mengembang dan dalam beberapa saat sudah keluar dari kamarnya, berjalan pelan menuju pintu apartemen.


"Aku akan pulang kalau kamu tidak bisa keluar."kata Alfin karena tidak mendengar pergerakan ataupun suara apapun dari ponselnya yang masih terhubung dengan nomor Namesya.


Cklek


Pintu terbuka dan Namesya tampak tersenyum kecil setengah menahan malu,"Ha- Hai."sapanya tergagap setelah menurunkan ponsel dari telinganya.


Alfin memutuskan sambungan dan menyimpan ponselnya ke dalam saku, selanjutnya menatap Namesya yang berdiri di ambang pintu.


"Hai."Alfin melambai dengan tatapan sama gugupnya saat bersitatap dengan Namesya yang tak menyurutkan senyumnya."Apa... aku mengganggu waktumu?"tanya Alfin.


"Mmm... Tidak juga."balas Namesya.


"Aku... Aku ingin memastikan kalian baik-baik saja."Kata Alfin.


"Bukankah dokter sudah bertanya seperti itu tadi. Kami baik-baik saja."kata Namesya.


"Tetap saja aku harus melihatnya langsung. Baru aku bisa tenang."timpal Alfin.


"Apa sekarang sudah tenang?"tanya Namesya.


"sekarang..."Alfin menatap Namesya,"haha..."lelaki itu tertawa kecil seraya bergerak gelisah menatap kesegala arah,"sekarang aku malah takut untuk meninggalkanmu. Apa ini terdengar normal?"


Namesya tertawa kecil dan menunduk sejenak,"sangat tidak normal."katanya.


"Apa yang harus kulakukan kalau sudah begini. Aku benar-benar bingung untuk mengatasinya. Aku semakin ingin menemuimu meskipun aku tahu keadaanmu."kata Alfin,"Aku harus bagaimana?"lirih lelaki itu.


"Dokter... Hanya perlu menemuiku kalau memang ingin menemuiku."kata Namesya memberikan sinyal positif untuk lelaki itu.


"Benarkah? Apa hanya aku yang merindukanmu seperti orang gila. Aku hanya bisa berdiri di depan gedung setiap pulang dari rumah sakit. Ingin menemuimu tapi takut kamu terganggu dengan kehadiranku."kata Alfin.


"Dokter..."Namesya tidak melanjutkan kata-katanya mengenai perkataan Alfin yang mengatakan selalu berdiri di depan gedung.


"Ya. Bukankah aku seperti orang gila. Beberapa hari ini aku selalu berdiri di depan gedung. Ingin menemuimu."jujur Alfin.

__ADS_1


Namesya menunduk dan menghela napas,"Bodoh."gumamnya.


"Apa aku terlalu bodoh karena selalu merindukanmu."kata Alfin.


Namesya menggeleng pelan dan tersenyum,"Dokter sangat bodoh karena merindukan orang seperti diriku."


"Aku tidak bisa mencegahnya."Alfin menepuk dadanya,"Rasanya semakin sesak jika aku berusaha mencegahnya."


"Jadi aku harus bagaimana?"tanya Namesya.


"Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, aku siap menunggumu sampai kapanpun."balas Alfin.


"Ada banyak hal yang aku takutkan."lirih Namesya,"Ketakutan terbesarku adalah aku takut kehilangan untuk kedua kalinya."


Alfin menarik napas dalam-dalam dan dalam satu gerakan cepat menarik Namesya ke dalam pelukannya,"aku tidak akan membuatmu merasa kehilangan ataupun kecewa."katanya penuh keyakinan.


"Aku takut dokter menyesali keputusan dokter karena merindukanku."lirih Namesya.


"Tidak akan."balas Alfin.


"Aku masih merasa tidak pantas untuk menjadi seseorang yang bisa membuat dokter merindukanku."lirih Namesya lagi.


"Tidak ada yang tidak pantas. Bagiku kamu pantas mendapatkan rindu dariku."balas Alfin seraya mengecup puncak kepala Namesya.


"Aku takut kehilangan dokter."Namesya memecahkan tangisnya bersama dengan tangannya yang melingkar di pinggang Alfin yang mempererat pelukannya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu tanpa alasan jelas. Aku tidak akan meninggalkanmu jika bukan Tuhan yang memisahkan kita."kata Alfin.


Namesya kehabisan kata-kata dan hanya bisa melepaskan tangisnya dalam pelukan Alfin,"Katakan padaku saat kamu merindukanku. Dan aku akan datang menemuimu."kata Alfin.


Namesya melepaskan diri dari pelukan Alfin, menghapus air matanya dan tersenyum kecil,"jangan ragu untuk mengatakannya."pinta Alfin seraya membelai pipi Namesya.


Namesya mengangguk,"Apa aku boleh masuk? Aku sudah mengantuk."katanya.


Alfin tertawa kecil dan mengacak rambut Namesya,"masuklah. Sudah malam."perintah Alfin.


"Ya."balas Namesya.


"Aku akan pulang setelah kamu masuk."kata Alfin karena Namesya belum juga masuk.


"Mmm... Boleh aku memberi sesuatu."kata Namesya.


"apa itu?"tanya Alfin ingin tahu dan sangat penasaran.


"ini."Namesya mendekatkan diri dan mengecup pipi Alfin dalam satu gerakan singkat.


Brak


Namesya langsung kabur begitu saja tanpa peduli akan akibat dari perbuatannya itu. Setengah nyawa Alfin seakan enggan untuk beranjak dan membuat lelaki itu tertegun di depan pintu seraya meraba pipinya.


"Astaga... jantungku."lirih Alfin seraya menyentuh dadanya, senyumnya mengembang sempurna.


Sementara itu sang pelaku masih berdiri memunggungi pintu, tersenyum sendiri sebelum merutuki kelakuannya karena telah berani mengecup pipi lelaki yang belum lama hadir mengisi hidupnya namun mampu menghidupkan kembali perasaan dan hidup yang hampir saja mati jika lelaki itu terlambat menolongnya.


"Dasar bodoh."Namesya memukul kepalanya sendiri sebelum berlari kecil menuju kamarnya, merebahkan diri ke atas tempat tidur dengan perasaan berbunga.


"Aaa... bagaimana ini... Bisa-bisa aku malah tidak bisa tidur..."rengek Namesya karena terlalu memikirkan ulahnya sendiri.


"Kangen..."rengeknya merasa rasa rindu dalam hatinya semakin bertambah setelah bertemu Alfin.


Bukannya terobati tapi malah semakin menambah kadar rindu dalam dirinya. Namun tak bisa melakukan banyak hal kecuali menahan diri dan mencoba untuk mencari rasa kantuknya yang hilang entah kemana.


"Hoaaammm... Kangen..."rengek Namesya sebelum akhirnya menutup matanya karena akhirnya menemukan rasa kantuk yang ia cari.


.


.


.


.


.


.


.😊😊😊✌️✌️✌️😊

__ADS_1


__ADS_2