
Setelah keluar dari ruangan Andin, Namesya dan Alfin tidak langsung pulang. Namun Namesya memaksa Kevin untuk menunjukkan ruangan tempat istri teman Kevin di rawat. Tentu saja Kevin tahu kalau Namesya tidak percaya pada ucapannya. Beruntung Kevin tidak berbohong mengenai istri temannya yang memang pasien Andin.
"Itu ruangannya. Kamu ngga percaya sama kakak Hem."kata Kevin menunjukkan ruangan tempat ibu pasca melahirkan tinggal.
"Siapa tahu aja alasan yang satu itu cuma alibi."kata Namesya.
"Memangnya ada apa sih?"tanya Alfin penasaran,"Kamu mau jenguk teman juga?"
"Ah. ngga. Tadinya mau ikutan jenguk istri teman kak Kevin, tapi aku ngga bawa buah tangan."jawab Namesya sembari mengembangkan senyum dan memeluk lengan Alfin.
"Ya udah. Tunggu apa lagi, ayo pulang. Sebentar lagi kakak ada jadwal pemotretan."Ujar Kevin seraya menilik jam tangannya sembari berlalu lebih dulu.
Alfin menatap Namesya penuh tanya, namun yang mendapatkan tatapan Alfin hanya mengedikkan bahu sembari tersenyum,"Ayo."ajak Namesya.
Dengan jarak lima lima langkah di belakang, Alfin dan Namesya berjalan berdampingan dengan tangan Namesya yang terus melingkar di lengan Alfin membuat lelaki itu tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali menoleh menatap Namesya untuk sejenak.
"Mesya."
Suara seseorang yang memanggil Namesya membuat Alfin dan Namesya berhenti melangkah, begitupun Kevin yang kemudian membalikkan tubuh untuk melihat siapa gerangan orang yang memanggil Namesya.
Seseorang dengan tatapan sumringah dan senyum mengembang tengah menatap Namesya, meskipun ada ekspresi lain dari orang yang bersama orang yang memanggil Namesya beberapa detik lalu. Pelukan tangan Namesya semakin erat memeluk lengan Alfin, gadis itu tersenyum kecil menatap satu di antara dua orang itu yang terus melangkah menghampirinya.
"Hai. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini."ujar orang itu, Melia.
Namesya melirik sekilas perut Melia yang sudah terlihat membuncit,"Hai."Namesya membalas sapaan Melia dan tatapannya seolah begitu acuh akan keberadaan Rio yang tidak tampak baik-baik saja melihat Namesya bersama Alfin.
Melia melirik Alfin sekilas seolah menginginkan Namesya memperkenalkan laki-laki itu padanya, namun Namesya hanya tersenyum dan mengeratkan pelukan tangannya lagi di lengan Alfin. Tanpa mengatakan apapun, seharusnya Melia tahu posisi laki-laki yang saat ini berdiri di samping Namesya.
"Sayang. Aku sudah lapar."keluh Alfin.
"Oh ya."Namesya langsung menoleh menatap Alfin sembari tersenyum, senyum yang sesungguhnya tanpa paksaan apapun,"Ah. Melia. Maaf aku sedang buru-buru. Aku harus pergi sekarang."ujar Namesya berpamitan pada Melia.
"Sayang sekali. Sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu."ujar Melia.
Menanggapi ucapan Melia, Namesya hanya tersenyum kecil dan mengangguk kecil sembari berkata,"Permisi. mungkin lain kali."
Tanpa menunggu tanggapan dari Melia, bergegas Namesya pergi dan terus memeluk lengan Alfin. Melihat sikap tenang Namesya membuat Kevin menghela napas lega, karena dilihat dari sorot mata Namesya tampak jelas gadis itu sepertinya sudah lebih kuat untuk mengontrol emosi, ataupun mengendalikan perasaannya dalam menghadapi masalah. Dengan lirikan tajam tak bersahabat Kevin melirik Rio dan Melia sebelum lelaki itu berlalu mengikuti langkah Namesya dan Alfin.
Tap
Tap
Tap
"Mesya tunggu..."
Kini giliran Andin yang berlari tergopoh-gopoh mengejar Namesya dan Alfin yang sedang menunggu Kevin mengambil mobil di tempat parkir. Namesya heran melihat Andin yang tampak sedang terburu-buru sampai harus mengejarnya sampai begitu.
"Kak Andin. Ada apa? Kenapa lari-lari seperti itu?"tanya Namesya.
"Hosh. Hosh... Aku. Aku harus menjelaskan sesuatu..."kata Andin di sela napasnya yang tersengal.
"Menjelaskan sesuatu..."Namesya menatap Andin yang sedang berusaha berdiri tegap dan menetralkan pernapasannya,"Ah... Apa ini soal kak Andin dan kak Kevin tadi? Ya ampun... Aku tidak akan ikut campur urusan kak Kevin. Apapun yang kalian lakukan aku tidak akan ikut campur. Kalau memang kalian nyaman, aku tidak akan menentangnya."ujar Namesya yang salah mengira jika Andin ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi di ruangan dokter wanita itu dengan Kevin.
"Hah. Itu..."
Tiiiiinnn
Andin sedikit tersentak mendengar suara klakson mobil Kevin yang sudah bertengger di belakang Namesya dan Alfin yang sedang berhadapan dengan Andin.
"Cepetan. Kakak ada kerjaan. Jangan urusin urusan yang ngga penting."teriak Kevin dari dalam mobil yang kaca mobilnya sedikit terbuka.
__ADS_1
"Kami harus pulang kak."pamit Namesya.
"Eh. Tapi-"
"Sudah. Jangan dipikirkan. Kak Andin fokus bekerja saja dulu. Lain kali kak Andin bisa jelaskan lebih mendetail padaku."potong Namesya.
Alfin dan Namesya bergegas memasuki mobil Kevin yang sudah tidak sabar ingin pergi dari tempat itu. Sementara andin hanya bisa menatap kepergian mobil Kevin yang membawa Namesya pergi.
"Baiklah. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya."gumam Andin dan langsung berbalik pergi kembali ke ruangannya.
###
Sampainya di depan rumah, Kevin hanya mengantar Namesya dan Alfin sampai depan gerbang dan langsung pergi meskipun Namesya dan Alfin menyuruhnya untuk tinggal beberapa menit. Tanpa menjelaskan kembali alasannya, Kevin pergi begitu saja mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat.
"Hhhh..."Kevin berkali-kali menghela napas saat mengemudi sembari fokus pada jalan yang harus ia lalui.
Drrrrtttt
Kevin menjawab panggilan sembari tetap fokus pada jalanan yang sedikit ramai pengemudi.
"Halo."Kevin tampak mengerutkan kening dan lagi-lagi menghela napas,"Oke. Aku akan mengurusnya sendiri."ujarnya sebelum mengakhiri panggilan merubah jalur tujuan awalnya.
Ternyata Kevin kembali ke rumah sakit dan melangkah dengan langkah lebar menuju ruangan Andin. Tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan salam, Kevin membuka pintu ruangan wanita itu.
"Lepaskan aku."Teriak Andin saat Kevin memasuki ruangan itu.
Terlihat jelas oleh Kevin saat tangan seorang laki-laki bernama Frengky Abraham, mantan suami Andin yang menolak untuk bercerai tengah mencekal tangan Andin. Tatapan Frengky seakan ingin menghunus jantung Kevin saat itu, namun kevin sama sekali tidak gentar sedikitpun dan melangkah menghampiri dua manusia itu dengan langkah lebar namun lambat.
"Sepertinya anda salah ruangan tuan."Ujar kevin.
Frengky mendengus dan tetap enggan melepaskan tangan Andin dari genggamannya,"Saya rasa anda yang sudah salah ruangan. Saya di sini ingin menjemput istri saya untuk pulang."jawab laki-laki bertubuh tinggi tegap, namun tetap tidak bisa mengalahkan pesona Kevin yang mampu memikat seribu wanita sekaligus dengan ketampanannya.
Frengky mendongak dengan tatapan arogan,"Sampai kapanpun dia tetap istri saya. Saya tidak mengakui perceraian kami. Dan tidak ada yang bisa merebutnya dari saya. termasuk anda."Frengky menekan dada Kevin dengan telunjuknya.
Kevin menghela napas dan melangkah lebih dekat sembari menatap Frengky penuh kebencian,"Saya paling tidak suka melihat seorang laki-laki menindas perempuan. Jika mempertahankan dia tidak bisa membuatnya bahagia, lebih baik anda melepaskannya agar dia menjadi lebih bahagia. Laki-laki sejati akan merelakan apapun untuk membuat seseorang yang berharga baginya bahagia."kata Kevin.
Frengky mendengus dan langsung menarik kerah baju Kevin dengan kedua tangannya, Andin langsung menyingkir setelah tangannya berhasil lepas dari cekalan tangan Frengky.
"Siapa anda sampai berani mencampuri urusan saya."geram Frengky.
"Saya hanya tidak suka anda berlaku semena-mena terhadap perempuan. Anda tidak mencintainya, untuk apa anda mengekangnya dalam status pernikahan yang tidak ada cinta di dalamnya. Maaf. Saya terpaksa menyelidiki latar belakang anda dan keluarga anda."Kevin menunjukkan map berisi berkas-berkas yang ia kumpulkan selama beberapa hari ini, lelaki itu menatap Frengky dengan senyum mengejek dan mendekatkan wajahnya ke telinga Frengky untuk berbisik,"Saya mengetahui semua rahasia anda dan keluarga anda. Bahkan saya sangat tahu permainan kotor keluarga anda saat kakek anda menyabotase kepemilikan perusahaan yang saat ini anda pimpin."
"Apa maksud anda."Frengky semakin geram dan langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Kevin,"Jangan bawa-bawa nama keluargaku. bedebah brengse*."umpat Frengky.
Andin memekik saat tubuh Kevin terhuyung ke lantai, namun Kevin tetap tersenyum saat tangannya menyapu darah segar yang mengucur dari hidungnya. Melihat kelakuan Frengky semakin membuat Andin murka, wanita itu benar-benar membenci mantan suaminya itu yang selalu bertindak dengan emosi.
"Pergi dari sini!"Teriak Andin,"Aku bilang pergi...!"
"Andin. Aku tidak akan pergi jika kamu tidak ikut denganku. Aku sudah berjanji akan berubah. Aku akan melindungimu. Sungguh aku tidak seperti mereka yang sangat mengharapkan keturunan darimu. Tidak masalah bagiku tidak memiliki penerus. Asal kau tetap bersamaku."ucap Frengky dengan tatapan memelas penuh belas kasih dan iba dari Andin yang tengah berjongkok di samping Kevin.
"Jangan harap aku akan kembali. Aku sudah tidak tahan dengan perlakuan keluargamu. Berapa kali harus aku katakan padamu, jangan memintaku kembali kalau kamu tidak bisa melindungiku di depan keluargamu. Aku bosan dengan janjimu. Aku bosan dengan sikapmu. Aku lelah menjalani kehidupan pernikahan kita. Apa sulitnya bagimu melepaskanku Hem. Bukankah dulu kamu yang sangat menentang pernikahan kita. Empat tahun menikah denganmu dan aku tidak pernah bahagia denganmu."Teriak Andin yang kemudian menekan tombol darurat sebagai sinyal untuk memberitahu pihak keamanan agar mereka mengusir Frengky.
Frengky menatap perih wajah murka Andin yang selama ini selalu bersikap lembut pada lelaki itu, namun Frengky tak pernah sekalipun mengindahkan sikap lembut Andin. Sudah terlambat untuk Frengky mempertahankan Andin setelah cukup lama wanita itu tidak pernah di perlakukan layaknya sebagai seorang istri. Bahkan publik tidak mengetahui pernikahan mereka.
"Andin... Aku mohon beri aku satu kesempatan lagi untuk membahagiakanmu."Frengky tertunduk dan bersujud di atas lututnya.
Kevin mendengus melihat kelakuan Frengky, ingin sekali lelaki itu menarik Frengky keluar dari ruangan itu.
"Maaf. Aku tidak bisa kembali pada keluarga yang sudah menghancurkan keluargaku."kata Andin yang sudah lama mengetahui tentang konspirasi keluarga Frengky yang telah menghancurkan perusahaan keluarga Andin bertahun-tahun yang lalu sejak Andin masih SMP.
Frengky mendongak menatap andin,"Andin..."Frengky tak bisa mengelak dari tuduhan Andin terhadap keluarganya, karena memang itu kenyataannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bertahan selamanya bersama keluarga yang sudah membunuh orang tuaku. Aku hanya akan terus mengingat luka yang susah payah aku lupakan."Lirih Andin yang tangannya gemetar menahan amarahnya.
Ingatannya masih sangat jelas mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu saat segerombol orang datang dan membunuh orang tuanya. Salah satu dari mereka adalah kakek Frengky yang menjadi pemimpin gerombolan itu, kematian kedua orang tua Andin hanya bisa di saksikan oleh kedua mata Andin yang tak bisa melakukan apapun untuk melindungi mereka. Andin hanya bisa bersembunyi di dalam lemari yang menyerupai dinding.
Melihat tangan Andin gemetar, Kevin meraih tangan itu dan menepuk punggung Andin dengan lembut. Tak berselang lama, dua petugas keamanan memasuki ruangan Andin dengan raut khawatir.
"Tolong bawa laki-laki ini pergi."perintah Andin seraya menunjuk Frengky.
Dua petugas itu langsung bertindak dan hendak menyentuh Frengky yang masih bersujud di atas lutut, namun lelaki itu menepis tangan mereka dan langsung berdiri.
"Saya bisa pergi sendiri."ujar Frengky.
Frengky menatap Andin yang masih menatap lelaki itu penuh kebencian. Tak bisa lelaki itu pungkiri jika selama ini lelaki itu juga terpaksa mempertahankan pernikahan mereka demi melindungi aset keluarganya karena mereka tahu bahwa Andin adalah putri dari pemegang saham tertinggi di perusahaan yang saat ini Frengky pimpin.
"Andin. Asal kamu tahu. Aku hanya sebuah boneka hidup dalam keluargaku sendiri. Aku tidak pernah benar-benar melakukan apa yang aku inginkan. Aku hanya berusaha melindungi keluargaku."ucap Frengky sebelum pergi dari ruangan Andin.
Andin merasa lemas tak bertulang setelah kepergian Frengky, wanita itu menangis sejadinya setelah cukup lama menahan gejolak kebencian yang ingin ia salurkan namun tak bisa ia lakukan dengan gegabah. Kevin lagi-lagi menepuk punggung Andin dengan lembut, namun wanita itu justru semakin terguguk dengan tangisnya sampai wanita itu tanpa sadar menyembunyikan wajah menangisnya di dada Kevin.
###
Di kediaman Alfin, Namesya baru saja menerima panggilan dari orang tuanya yang memintanya untuk pulang setelah urusan Alfin selesai. Dengan berat hati Alfin mengijinkan Namesya untuk pulang setelah Bu Sasmi datang. Karena kondisi Alfin yang masih dalam tahap pemulihan, Bu Sasmi akan tinggal di rumah Alfin sesuai permintaan Namesya untuk menjaga Alfin.
"Aku pulang ya."pamit Namesya.
Alfin tak menjawab, hanya diam sembari memandangi tangan Namesya yang lelaki itu genggam.
"Ada Bu Sasmi yang jaga. Aku juga akan sering-sering ke sini."kata Namesya.
"Aku yang ngga tega kalau kamu bolak-balik ke sini. Nanti kamu capek, kasian dedek juga."kata Alfin.
"Terus maunya apa? Aku ngga boleh pulang gitu?"tanya Namesya.
"Iya. Jangan pulang dan tetaplah disini. Bersamaku."jawab Alfin sembari menatap kedua netra Namesya.
"Cepet sembuh dulu. Jangan mikir yang aneh-aneh dan jangan minta yang aneh-aneh. Oke."kata Namesya,"Kak Kevin udah di jalan mau jemput. Bentar lagi sampe."imbuhnya.
"Nanti aku kangen lagi."Alfin merajuk seperti anak-anak.
"Ish. ngga malu apa. Udah gede juga kaya anak-anak."komentar Namesya karena Alfin bergelayut di lengannya.
"Biarin."balas Alfin.
"Ya udah. Nanti lepasin kalau kak Kevin udah sampai."Namesya membiarkan Alfin tetap bergelayut di lengannya.
Entah apakah keputusannya ini benar, namun biarlah waktu tetap berlalu bersama kisah hidupnya. Ada kisah yang tertinggal dan ada kisah yang ditunggu. Ada masa lalu yang tertinggal dan ada masa depan yang di nanti.
.
.
.
.
.
.
😊😊
Ada yang baca ngga yah?ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1