
Terlalu fokus melambaikan tangannya pada Alfin membuat Namesya tak bisa menghindar saat tiba-tiba punggungnya menabrak seseorang di belakangnya.
Bruk
"Eh. Maaf."Namesya buru-buru meminta maaf dan bergegas melepaskan diri dari dekapan
tangan berbalut jas yang memeluknya dari belakang akibat insiden menabrak tanpa sengaja itu.
Namesya buru-buru membalikkan tubuhnya dan di buat terkejut setelah melihat siapa orang yang di tabraknya itu.
"Eh. Tuan Bos. Maaf saya tidak sengaja."kata Namesya sembari menundukkan wajahnya melihat bosnya itu.
"Lain kali kalau jalan itu jangan sambil mundur."Tegur Bosnya yang seorang CEO perusahaan itu, laki-laki yang membuat Alfin terbakar cemburu sejak Alfin mengetahui siapa nama bos Namesya saat ini.
Arlan Hari Isnandar, entah apa yang membuat Alfin begitu tak suka dengan lelaki tampan itu. Dan sekarang insiden itu kembali membuat Alfin tersulut api cemburunya saat melihat Arlan memeluk Namesya. Padahal meskipun Arlan tak memeluk Namesya, gadis itu tidak akan jatuh. Panas api dalam kecemburuannya membuat kaki Alfin bergerak maju hendak menerobos pintu.
"Maaf tuan. Selain karyawan tidak ada yang boleh melewati pintu ini."Seorang penjaga menghalangi Alfin.
Dengan kasar Alfin menghembuskan napasnya,"bedebah sialan."umpatnya setengah bergumam setelah melirik penjaga dan kembali menatap ke arah keberadaan Namesya.
"Mesya. Sudah berapa kali saya katakan kamu tidak perlu menunduk seperti itu di hadapan saya."Tegur Arlan karena Namesya yang masih menunduk di hadapannya.
"Hah. Maksud Tuan bos? perasaan saya tidak pernah mendengar Tuan bos menyuruh saya seperti itu."Namesya menjadi bingung dengan ucapan Arlan yang katanya pernah menyuruhnya untuk tidak menunduk saat di hadapan laki-laki itu.
"Kamu pelupa sekali."komentar Arlan seraya menebar senyum dan mengarahkan tatapannya tepat ke arah Alfin."Hai Fin."Sapa Arlan seakan laki-laki itu mengenal dekat Alfin, bahkan Arlan melambai.
Saat itulah Namesya kembali teringat kalau ia menabrak Arlan saat Alfin masih berada di sana, tentu saja lelaki itu pasti melihat semua adegan kecil ini.
"Kebetulan kamu di sini."Arlan melewati Namesya dan melangkah keluar pintu menghampiri Alfin, asisten pribadi lelaki itu dengan setia mengikuti sang bos besar sedangkan Namesya hanya berdiri diam melihat apa yang mungkin akan dilakukan laki-laki itu selanjutnya.
'Kenapa mereka terlihat saling mengenal? Apa yang Alfin sembunyikan dariku? Kenapa dia selalu tampak kesal setiap kali bertemu dengan bosku?'batin Namesya bertanya-tanya tentang sikap Alfin yang aneh setiap bertemu dengan Arlan.
"Apa mereka pernah ada konflik di masa lalu?"gumamnya masih dengan fokus ke arah dua lelaki tampan itu.
"Mesya."seorang karyawan memanggil Namesya.
"Ya."sahut Namesya yang terpaksa harus mengalihkan perhatiannya.
"Tadi bos menyuruhku untuk memintamu mengecek laporan yang sudah ada di meja hari ini."kata karyawan itu.
"Oh. Ya. Terimakasih udah kasih tahu."balas Namesya, dengan enggan Namesya pergi dari tempat itu untuk mengerjakan pekerjaannya.
Sementara itu, Alfin kini sudah berhadapan dengan Arlan yang menatapnya sembari tersenyum. Senyum yang menawan, namun bagi Alfin senyum itu tampak seperti senyum penuh arti sesuatu. Sesuatu yang buruk ada di balik senyuman itu.
"Ada apa denganmu? Kau selalu menatapku dengan sinis seperti itu."tanya Arlan, namun senyumnya penuh ejekan.
Alfin mendengus, mengalihkan tatapannya sekilas dan kembali fokus menatap lawan bicaranya. Sepertinya memang ada masalah yang pernah terjadi di antara mereka di masa lalu. Namun Alfin berusaha meredam rasa kesalnya terhadap Arlan dan memasang senyum untuk menutupi perasaan sesungguhnya.
"Aku selalu baik-baik saja. Dan untuk tatapanku ini... Kurasa kau pantas mendapatkan tatapan seperti ini."kata Alfin, tatapannya fokus menatap Arlan.
Arlan tetap dengan sikap santainya dan bertanya,"Kau tidak takut aku menggantikan posisimu.?"
Dengan tenang Alfin tersenyum kecil,"Berhentilah menjadi pecundang. Tempatkan dirimu sendiri di tempat yang seharusnya. Tapi yang jelas tidak akan ada kesempatan untukmu menggantikan posisiku kali ini."
"Kau yakin?"Ujar Arlan.
Alfin mengedikkan bahu, tangannya terulur merapihkan dasi Arlan yang sedikit miring,"Aku tak pernah mempedulikan apa yang terjadi di masa lalu."katanya sembari mengusap ujung dasi Arlan,"Tapi aku tak akan membiarkan masa lalu kembali terjadi."imbuhnya sebelum menepuk kedua bahu Arlan dan pergi meninggalkan Arlan yang tampak memicingkan mata melihat kepergian Alfin.
"Tirta."Arlan memanggil asistennya yang langsung maju satu langkah.
"Ya tuan."balas asisten yang bernama Tirta itu.
"Selidiki dengan teliti siapa Namesya. Cari tahu kelemahan hubungan mereka."perintah Arlan sebelum beranjak meninggalkan tempat itu dengan tatapan penuh ambisi.
####
"Mesya."Arlan menghampiri Namesya yang masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus dia teliti untuk kemudian dia serahkan ke meja atasannya itu.
"Ya tuan bos. Maaf. Dokumennya belum selesai semuanya."balas Namesya.
__ADS_1
Arlan melirik tumpukan tinggi dokumen-dokumen yang sengaja ia atur agar Namesya sibuk dengan pekerjaannya hingga lewat jam makan siang tanpa gadis itu sadari."Kau belum makan siang bukan?"tanya Arlan.
"Hem."Namesya melirik jam digital yang ada di atas meja kerja dan cukup terkejut melihat angka yang tertera di sana,"Astaga. Aku melewatkannya."gumam gadis itu menyesal karena tak bisa memenuhi janjinya untuk makan siang bersama Alfin di luar area kantor."Maaf tuan. Saya harus pergi sekarang."pamitnya setelah mengecek ponselnya yang ia simpan di dalam tas dan sudah ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Alfin.
"eh tunggu dulu. Kamu mau kemana? Aku ingin mentraktirmu makan siang."Cegah Arlan yang gegas meraih pergelangan tangan Namesya.
"Tuan tidak perlu mentraktirku. Aku sudah ada janji untuk-"Ucapan Namesya terjeda saat suara pintu di ketuk dengan keras dari luar pintu.
Tok
tok
tok
Arlan dan namesya menoleh kearah pintu yang di ketuk dari luar, tak berselang lama pintu terbuka dan Tirta masuk membawa dua kotak berlogo sebuah restauran berbintang.
"Tuan. Makan siang yang anda pesan."kata Tirta.
Arlan mengangguk memberikan isyarat untuk meletakkan kotak berlogo itu ke tempat seharusnya dan di balas anggukan kecil oleh Tirta.
"Mesya saya sengaja membeli makanan untukmu. Kamu terlihat sangat sibuk sekali hari ini jadi saya pikir kamu bisa makan di ruangan ini dan tidak perlu turun."kata Arlan.
"Tapi Tuan saya-"
"Sudah... saya tahu kamu pasti sungkan tapi sekarang singkirkan rasa sungkan itu dan makan sekarang. Saya tidak mau dianggap sebagai bos kejam jika kamu sampai pingsan karena kamu telat makan karena pekerjaan."potong Arlan tak ingin memberikan sedikit celah untuk Namesya menolak apa yang sudah ia lakukan saat ini.
Namesya melirik meja tempat Tirta menyiapkan makanan yang sudah di beli lelaki itu. Belum sempat Namesya memutuskan pilihannya antara pergi menemui Alfin atau makan di ruangan itu, Arlan sudah menarik lembut tangannya memaksa dengan cara halus agar Namesya memilih tetap tinggal di ruangan itu.
"Duduk dan makanlah dengan tenang. Setelah itu baru kau lanjutkan pekerjaanmu lagi."kata Arlan seraya mendudukkan Namesya di sofa.
Namesya melirik meja kerjanya yang nyatanya pekerjaannya memang masih banyak dan akan memakan banyak waktu jika ia harus turun di tambah lagi waktu makan siang karyawan telah lama ia lewatkan. Akhirnya Namesya mengirimkan pesan pada Alfin akan dirinya yang tidak bisa turun menemui lelaki itu untuk makan siang karena pekerjaannya yang menumpuk.
"Tuan tidak makan siang?"tanya Namesya karena melihat Arlan hanya duduk diam di sampingnya.
'kenapa juga bos harus duduk di sampingku. membuatku tidak enak saja. Kalau dia tidak makan kenapa tidak kembali saja ke tempat kerjanya. Apa dia akan menontonku makan.'batin Namesya heran dan merasa tidak nyaman karena keberadaan Arlan di sampingnya, sedangkan lelaki itu bisa saja duduk bersebrangan dengannya bukan malah duduk di sampingnya.
Namesya menggeleng pelan karena nyatanya ia tidak pernah melihat lelaki itu pergi makan siang. Lelaki itu akan tetap berada di ruangan selain keluar meeting.
"Ya sudah. Makanlah."perintah Arlan dan di balas anggukan oleh Namesya yang menyimpan banyak perasaan heran akan sikap bosnya itu.
Arlan tersenyum menatap wajah Namesya yang begitu polos di matanya. Lelaki itu melirik Tirta yang masih berada di ruangan itu. Hanya satu lirikan Tirta mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan itu menyisakan Namesya yang sedang menikmati makan siangnya dan Arlan yang sesekali menatap keberadaan Namesya di sana.
'Kenapa bos memesan makanan sebanyak ini hanya untukku.'batin Namesya yang melahap makanan itu dan perutnya yang telah lama merasakan lapar bereaksi dengan gembira.
'Benarkah dia tidak pernah makan siang? Kenapa? Apa ada masalah dengan pencernaannya yang membuatnya harus menghindari makan siang?'Batin Namesya sembari sesekali melirik Arlan yang sedang fokus pada ponselnya.
"Halo."Kini terdengar Arlan sedang menjawab sebuah panggilan dari ponsel lelaki itu,"Apa? Reuni? Kapan? Hemmm... Tidak masalah aku pasti datang. Oke."
'apa? Reuni? Kenapa sejak kemarin aku selalu mendengar acara itu? huh. jangan bilang kalau tuan bos juga alumni dari SMA itu juga.'batin Namesya.
"Mesya."Arlan kini memanggil gadis itu yang sedang mengunyah makanannya.
"Ya."dengan mulut berisi makanan Namesya menjawab.
Arlan terdiam sejenak melihat bagaimana Namesya yang menjawab panggilannya dengan keadaan mulut berisi makanan. Ingin rasanya lelaki itu tertawa kecil melihat kedua pipi Namesya yang mengembang karena makanan serta bibir yang bergerak karena gerakan mengunyah yang dilakukan gadis itu.
"Apa tanggal 15 bulan depan kau ada acara?"tanya Arlan.
"Memangnya ada apa?"tanya Namesya setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Kalau kau tak ada acara maukah kau menemaniku hadir di acara reuni bersamaku?"tanya Arlan.
"uhuk. uhuk."Namesya tersedak karena air minumnya mendengar ajakan Arlan.
"Hei. pelan-pelan."tegur Arlan seraya mengusap punggung Namesya dengan lembut.
"Terimakasih."ujar Namesya saat Arlan mengulurkan tisu untuk mengelap mulutnya.
"Sama-sama."balas Arlan yang masih mengusap punggung Namesya.
__ADS_1
"Khem."Namesya berdeham dan menggeser duduknya menjauh dari Arlan,"Saya sudah baik-baik saja."kata gadis itu memberikan kode agar Arlan berhenti mengusap punggungnya.
"Oh. Iya. Maaf. Kamu membuatku khawatir jadi saya hanya ingin memastikan kamu tidak tersedak lagi."balas Arlan dan kembali bertanya,"jadi bagaimana? Apa bulan depan kamu bisa menemaniku?"
"Mmm... Sepertinya tidak bisa. Masalahnya kebetulan bulan depan di tanggal yang sama saya juga ada acara reuni."jawab Namesya.
"Wah. Kenapa bisa kebetulan seperti itu."komentar Arlan,"Ah... Saya baru ingat. Bukankah kamu alumni SMA Generasi Bangsa."
"Eh. Itu..."
"Saya melihat dari dokumen karyawan dan baru ingat kalau ternyata kamu alumni dari SMA itu juga."Kata Arlan sebelum Namesya membalas ucapannya.
"Ya. saya memang alumni dari SMA itu."gumam Namesya.
"Apa kamu tahu kalau Alfin itu juga alumni dari SMA itu juga?"tanya Arlan.
"Hmm... Ya. Karena itu saya tidak bisa menemani tuan ke acara reuni itu. Saya akan pergi ke acara itu bersama Alfin."jawab Namesya.
Senyum Arlan mengembang tipis mendengar alasan jelas penolakan Namesya terhadap ajakannya,"Baiklah. Kalau begitu saya tidak bisa memaksa. Mungkin saya akan hadir bersama Tirta saja nanti."kata Arlan.
"Kenapa tidak bersama dengan tunangan anda saja?"tanya Namesya yang menurut berita yang telah beredar Arlan memang sudah memiliki tunangan.
"Tunangan."Komentar Arlan.
Dengan wajah bingung Namesya berkata,"Bukankah Anda sudah bertunangan dengan nona Larisa."
Arlan seketika tertawa kecil,"Kau juga termakan oleh berita sampah seperti itu juga rupanya."kata lelaki itu.
"Jadi, berita itu tidak benar."kata Namesya.
"Tidak sepenuhnya salah. Karena saya memang pernah menjalin hubungan dengannya, tapi tidak sampai bertunangan."balas Arlan.
"Oh."gumam Namesya yang tak ingin mengorek lebih banyak mengenai kehidupan pribadi bosnya,"Saya sudah selesai makan siang."ujarnya mengalihkan pembicaraan dan mulai membereskan barang-barang kotor sisa makanan.
"Sudah. Biarkan saja."Arlan mencegah Namesya membereskan meja itu dengan menghentikan gerakan tangan Namesya.
"Tapi-"
"Sudah. Biar nanti Tirta memanggil cleaning servis untuk membereskannya."bantah Arlan.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan kembali bekerja."Pamit Namesya.
Namesya sudah bangkit dari sofa saat Arlan berkata,"Apa kau juga mendengar tentang rumor siswa legendaris yang dulu beredar di sekolah."
"Siswa legendaris."gumam Namesya.
"Ya. Siswa yang punya banyak prestasi hingga dia menjadi idola seluruh siswi sekolah."Jelas Arlan.
"Saya hanya mendengarnya, tapi tidak begitu jelas tentang siapa siswa legendaris itu."balas Namesya.
"Oh. Kau tidak penasaran kenapa dia menjadi siswa legendaris? Kau juga tidak ingin tahu siapa siswa itu? Atau kau sudah tahu siapa siswa itu?"tanya Arlan seraya menatap Namesya yang masih berdiri di sana.
"Saya memang belum tahu. Tapi pada dasarnya saya memang tidak peduli dengan hal itu. Baik saat saya masih sekolah maupun sekarang."balas Namesya.
"Bagaimana kalau siswa itu adalah pacarmu?"tanya Arlan.
Tatapan Namesya memicing, pikirannya tak mengerti dengan arah serta maksud Arlan mengungkit tentang siswa legendaris itu dengannya. Bahkan ia tak peduli siapa siswa itu. Tapi jika siswa itu adalah pacarnya, mungkin ia harus menyembunyikannya dari teman-temannya yang mungkin sudah lebih dulu tahu siapa identitas siswa legendaris itu.
.
.
.
.
.
😁😁😁
__ADS_1