
Bintang dengan setia menemani malam, sepasang mata kini tengah mengagumi keindahan paras cantik seorang wanita yang sedang ia nanti kedatangannya.
"Maaf membuatmu menunggu lama."Dengan wajah bersemu Andin mengutarakan maafnya.
"Tidak masalah."balas Kevin yang langsung bergerak membuka pintu mobil,"Silakan masuk tuan putri."
Andin tersenyum dan membalas,"Terimakasih."
Kevin bergegas memutari mobil dan memasuki bagian kemudi,"Kau cantik malam ini."pujinya pada Andin.
"Apa hanya malam ini aku tampak cantik?"tanya Andin.
Kevin terkekeh dan sudah mulai melajukan mobilnya melalui jalan,"Kau selalu cantik dengan jas putih kebesaranmu. Dan kau bertambah cantik dengan penampilanmu malam ini."kata lelaki itu.
"Sudah berapa banyak gadis yang kau puji dengan mulut manismu itu Hem."komentar Andin.
"Banyak."balas Kevin enteng,"Apa itu penting? Masalahnya aku juga pernah punya kekasih."kata lelaki itu.
Andin tahu jika Kevin pernah memiliki kekasih. Dan kekasihnya itu sudah meninggal, tidak mungkin ia cemburu dengan orang mati.
"Pujilah aku sesuka hatimu."kata Andin.
"Jangan bosan dengan segala pujianku nanti untukmu."balas Kevin.
Andin menatap lelaki di sampingnya dan tersenyum. Tidak mungkin ia tidak tahu jika lelaki di sampingnya selalu mengistimewakan dirinya. Tak perlu kata-katapun semua orang mengetahui perasaan lelaki itu pada Andin. Begitupun Andin. Wanita itu tahu belaka jika Kevin pasti mencintainya dan ia tak butuh pengakuan apapun jika sudah ada banyak bukti nyata untuknya.
"Ayo."Kevin mengulurkan tangannya untuk Andin, dan wanita itu keluar dari mobil dengan senyum merekah menyambut uluran itu.
"Terimakasih."Lirih Andin seraya menautkan tangannya ke lengan Kevin.
Mereka memasuki sebuah Hotel dan menuju Restoran bintang lima yang ada di lantai atas gedung. Suasana romantis serasa membuat Andin seperti seorang gadis dua puluh tahun yang sedang berkencan dengan kekasihnya.
"Bagaimana? Kau menyukai tempatnya?"tanya Kevin.
"Di manapun tempatnya, jika itu bersamamu aku pasti menyukainya."balas Andin.
"Benarkah."kata Kevin.
"Tentu saja."balas Andin.
Tak lama menu yang sudah mereka pesan datang. Mereka makan sembari menikmati pemandangan dari tempat yang sengaja Kevin pilih berada di dekat dinding kaca.
"Besok pagi aku ingin ke makam kedua orang tuamu."kata Kevin setelah ia selesai menyantap makanannya.
"Memangnya kau tidak sibuk?"tanya Andin.
"Untuk menemui calon mertua aku pasti akan menyempatkan waktu untuk itu."balas Kevin.
Andin meletakkan gelas minumannya dengan perlahan, netranya menatap Kevin dan tersenyum,"Menemui calon mertua."ia mengulang sedikit kata dalam ucapan Kevin.
Lelaki itu melebarkan senyumnya dan mengangkat satu tangannya memberikan isyarat pada pegawai restoran. Tak lama pegawai itu datang dengan seikat bunga mawar putih dan memberikannya pada Andin.
"Untukmu."kata Kevin seraya beranjak dari kursinya dan tiba-tiba lampu ruangan berganti menjadi remang-remang dengan kerlip-kerlip lampu hias, suara musik mengalun lembut dan saat itulah Kevin berjongkok di depan Andin yang telah memegang buket bunga,"Andini Larasati..."lelaki itu memanggil nama lengkap wanita itu,"Menikahlah denganku?"lanjutnya seraya mengulurkan sebuah kotak berisi cincin berlian yang memancarkan kilaunya di dalam ruangan bercahaya remang-remang itu setelah Kevin membukanya.
Andin benar-benar dibuat terharu oleh kejutan Kevin untuknya. Meskipun meleset, sebab Andin mengira jika Kevin mungkin akan menyatakan perasaan padanya bukan melamarnya seperti yang telah terjadi saat ini. Wanita itu tak bisa menahan air mata yang telah menggumpal di pelupuk matanya, dan gumpalan bening itu luruh begitu saja menjarah pipi mulusnya yang putih bersih.
"Aku melamarmu... Kenapa kau menangis..."Kevin menghapus jejak air mata di pipi Andin sembari tersenyum.
"Aku..."Andin masih bingung untuk mengungkapkan perasaannya saat ini,"Tahukah kau. Aku bahagia saat ini."katanya kemudian.
"Tentu saja."balas Kevin yang masih setia jongkok di depan Andin.
"Tahukah kau bahwa aku mencintaimu."ucap Andin.
"Ah. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu."keluh Kevin,"Tapi tidak masalah. Sebab aku juga mencintaimu... Dan semua orang tahu aku mencintaimu."katanya kemudian.
Andin kembali terisak mendengar kata-lata Kevin yang sangat membuatnya bahagia, ia menangis bahagia kali ini. Sangat bahagia.
"Jadi,"kata Kevin,"Menikahlah denganku."ia mengulang ajakannya dan kali ini Andin mengangguk di ikuti derai air matanya yang tak mau berhenti,"Terimakasih."kata Kevin lagi sebelum menyematkan cincin itu ke jari manis lentik milik Andin, kemudian mencium tangan putih mulus itu dengan sayang.
Tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan momen bahagia mereka memeriahkan suasana tempat itu. Terlebih lagi Kevin yang seorang publik figur membuat beberapa orang mengabadikan momen itu dalam sebuah foto maupun video pendek sebelum mereka bagikan menjadi status media sosial masing-masing.
__ADS_1
Mulai malam ini, semua yang berhubungan dengan Kevin dan Andin telah jelas. Keduanya saling mencintai. Dan Kevin tidak mau membuang banyak waktunya untuk menunda apapun dan memilih untuk langsung melamar Andin daripada hanya sekedar menyatakan cintanya.
"Jadi, besok kita ke makam ayah dan ibu?"tanya Andin saat mereka ada dalam perjalanan pulang.
"Ya. Aku ingin berkenalan dengan mereka. Meminta restu mereka untuk menikahi putri cantik mereka."Balas Kevin yang menggenggam tangan Andin dan menciumnya dengan satu tangannya yang bebas.
"Baiklah. Aku juga sudah lama tidak berkunjung."kata Andin.
"Terimakasih sudah memberiku kepercayaan untuk memilikimu."Kata Kevin.
"Terimakasih sudah mau mencintaiku dengan banyaknya kekurangan yang ada dalam diriku."balas Andin.
"Bagiku kau sempurna."kata Kevin.
"Terimakasih."Andin memeluk lengan Kevin dengan manja, dan Kevin mencium puncak kepala wanita itu dengan sayang.
Di malam yang sama, namun tempat yang berbeda. Alfin sedang berkunjung ke rumah orang tua Namesya bersama gadis itu. Dengan sikap canggungnya menghadapi orang tua gadis yang ia cintai, Alfin cukup merasa gelisah duduk berhadapan dengan ayah Namesya. Mereka berdua sedang bermain catur.
"Ah. Aku kalah lagi."Keluh Alfin karena lagi-lagi kalah dari ayah Namesya.
Edi Wira tersenyum puas bisa mengalahkan Alfin dalam dua kali putaran main."Masih mau bermain lagi."kata lelaki paruh baya itu.
"Sepertinya tidak."Balas Alfin dan terkekeh pelan.
"Baiklah. Kita lanjutkan lain kali. Sepertinya wanita-wanita itu sudah selesai memasak."balas Edi Wira.
Tak lama Namesya datang menghampiri dan mengatakan jika makan malam telah siap. Dia lelaki itu beranjak dari kursi masing-masing dan melangkah bersama menuju dapur.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"tanya Edi Wira memulai percakapan.
Alfin memang datang ke rumah orang tua Namesya untuk melamar kekasihnya itu dan meminta ijin untuk menikahi Namesya secepatnya. Dan Orang tua Alfin memang sempat datang, terutama untuk menemani Alfin melamar Namesya, namun karena ada sebuah undangan pesta ulang tahun dari perusahaan klien, orang tua Alfin pulang lebih dulu setelah mengetahui dengan jelas keputusan Edi Wira yang menerima lamaran Alfin untuk Namesya.
"Mungkin menunggu kak Kevin menikah lebih dulu."balas Namesya.
"Memangnya kakakmu sudah jelas punya calonnya."komentar Ibu Namesya.
"Sudah. Mungkin sekarang kak Kevin sudah melamarnya juga."balas Namesya.
"Biarlah pah. Yang penting nanti dia pulang bawa calon mantu buat kita."kata ibu Namesya.
"Udah sering datang kesini juga mah calon mantunya."kata Namesya seraya mengambil sepotong daging dan meletakkannya ke piring Alfin.
"Ada beberapa orang sering datang kemari sayang."kata ibu Namesya.
Namesya tersenyum dan berkata,"Yang jelas dia satu profesi dengan calon menantu mama yang satu ini."
"Maksudmu Dokter juga."kata Ibu Namesya.
Edi Wira menaikkan sebelah alisnya dan mengangguk,"Selesaikan makanan kalian dan pergilah tidur."perintahnya.
Namesya mengangguk dan menurut sesuai perintah ayahnya. Menghabiskan makan malamnya dan pergi ke kamarnya setelah membereskan sisa makan malam mereka.
Di dalam kamar. Namesya kembali teringat saat-saat dirinya masih mengandung anaknya yang terlahir tanpa sempat menghirup udara di dunia.
"Aku mungkin akan menikah. Tapi apakah aku masih bisa memberikan keturunan untuknya?"lirih Namesya.
Gadis itu masih ingat saat tanpa sengaja mendengar perbincangan dokter Andin dengan dokter kandungan lainnya tentang keadaan rahim Namesya yang mungkin tidak bisa mengandung lagi akibat dari kecelakaan di tangga waktu itu. Hal itulah yang membuat Namesya selalu ragu untuk melanjutkan hubungannya dengan Alfin, takut jika ia tak bisa memberikan keturunan untuk lelaki itu.
"Anak adalah rezeki. Jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin."Begitulah jawaban Alfin saat Namesya sempat mengutarakan kegelisahannya.
Karena jawaban itulah Namesya berani bertahan melanjutkan hubungannya dengan Alfin. Ia pun berharap jika suatu hari setelah ia menikah nanti akan ada bayi mungil yang hidup dalam rahimnya lagi, melahirkan bayinya dan melihat bayinya tumbuh dengan baik dalam perlindungannya bersama Alfin.
####
Plak
Sebuah tamparan keras melayang ke pipi yang langsung membuat telinganya berdengung. Raya tersungkur di atas tempat tidur setelah satu tamparan itu melayang di pipinya. Wanita itu menangis, dan tanpa belas kasih orang yang telah menamparnya itu mengguncang tubuhnya dengan lancang dan kasar. Sembari memukul bagian-bagian tubuhnya yang lain hingga menyisakan bekas biru lebam di bagian itu.
"Hiks.... Hiks..."Raya menangis, tubuhnya berguncang dan air matanya terus mengalir membanjiri wajahnya.
"Raya... Raya..."
__ADS_1
Wanita itu membuka matanya saat mendengar suara asing yang memanggil namanya. Netranya mengerjap saat yang ia tangkap bukanlah wajah lelaki kejam yang telah menampar dan mengguncang tubuhnya dengan kasar bagai seekor monyet yang mengguncang pasangannya tanpa belas kasih.
"Raya..."suara asing itu kembali terdengar.
"Aku bermimpi."gumam Raya setelah sadar bahwa dirinya baru saja bermimpi, mimpi buruk tentang masa lalunya yang mengerikan.
Arlan, lelaki itu terbangun saat mendengar suara rintihan Raya yang terlihat menangis dengan mata terpejam. Lelaki itu sudah mengguncang tubuh Raya agar terbangun, namun wanita itu masih terus merintih menangis. Dan akhirnya Arlan mengangkat tubuh wanita itu agar terduduk dan kembali mengguncang lembut bahu Raya sampai akhirnya terbangun dengan sisa air mata mengalir dari sudut-sudut matanya.
"Mimpi buruk."kata Arlan menebak mimpi yang membuat Raya menangis.
Raya mengangguk dan menunduk, rambut wanita itu yang tergerai membuat sosoknya tampak horor bagaikan hantu perempuan yang tengah menunduk dalam kegelapan. Arlan menyibak rambut itu dan menghela napas.
"Tak bisakah kau memimpikanku saja alih-alih memimpikan Hiro."kata Arlan berniat untuk bergurau.
Pluk
Raya malah memukul dada Arlan. Sama sekali tidak terdengar lucu baginya.
"Kau pikir kau bisa meminta dirimu memimpikan putri salju menikah denganmu."komentar Raya.
"Aku tak perlu meminta bermimpi menikah dengan putri salju."balas Arlan dan melanjutkan,"Karena aku sudah memiliki seorang putri dengan keindahan yang mewakili banyaknya kecantikan para putri."
Raya menyipitkan mata dan mendengus, wanita itu bergerak turun dari tempat tidur. Namun Arlan menariknya kembali duduk.
"Mau kemana?"Tanya Arlan.
"Aku bermimpi buruk karena kau memindahkanku ke tempat besar dan panas ini."kata Raya seraya memukul tempat tidur yang ia duduki.
"Benarkah begitu."komentar Arlan,"Apa perlu aku membeli sofa berukuran besar agar aku juga bisa tidur di sana bersamamu."katanya menunjuk sofa tempat Raya sebelumnya tidur dan Arlan memindahkan wanita itu ke kasur.
"Berhentilah mengocehkan hal yang tidak penting."cibir Raya yang kembali beranjak dari tempat tidur itu.
"Aaakh..."
Wanita itu memekik saat Arlan menariknya cukup keras sampai tubuhnya terlentang di atas tempat tidur dan lelaki itu langsung mengungkungnya.
"Menurutmu apa yang lebih penting dari mengoceh Hem."kata Arlan.
"Tidak tahu."balas Raya.
"Bagaimana kalau kuberitahu."Kata Arlan yang mulai mendekatkan wajahnya.
"Jangan macam-macam denganku. Kau berjanji hanya ingin melepaskan ku dari Hiro dan akan melepaskan ku setelah semua urusan dengannya selesai."Teriak Raya.
"Itupun jika kau tidak mencintaiku. Jika kau mencintaiku, maka aku tidak akan melepaskanmu. Dan menjadikanmu Tuan untuk hatiku."balas Arlan.
"Sudah kubilang. Carilah gadis lain yang masih perawan dan tersegel agar kau tidak merasa rugi."cecar Raya.
"Tapi aku lebih suka dengan yang sudah memiliki banyak pengalaman."goda Arlan seraya menyentuh bahu raya yang sedikit terbuka.
"Gila."umpat Raya.
"Bisa dikatakan begitu. Aku mungkin gila. Dan kau yang sudah membuatku gila."kata Arlan,"Aku gila karena hanya kau yang bisa kulihat dengan jelas saat malam. sementara yang lain tak berwarna, kau justru berbeda. Di saat yang lain tak beraturan kau sungguh terlihat begitu indah. Aku sudah cukup di buat gila karena itu. Karena kau berbeda. Dan itu yang membuatku gila memikirkannya."
Bagaimanapun Raya tak mengerti maksud ucapan Arlan. Wanita itu belum tahu mengenai penyakit aneh Arlan yang penglihatannya akan berubah kacau saat malam tiba. Karena jika tidak gelap, maka Arlan hanya bisa melihat semua benda berwarna kelabu. Dan ia akan sulit mengenali wajah seseorang dengan perubahan warna itu. Namun hal itu tak berlaku pada Raya. Wanita itu tetap memancarkan warna dalam dirinya meskipun hari telah malam. Hal itu cukup membuat Arlan pusing memikirkan alasannya, namun ada kebahagiaan dalam benak lelaki itu.
Sebab ia bisa melihat keindahan sebuah kecantikan di waktu malam. Tak ada kelabu apa lagi hitam. Segalanya bisa ia lihat sama persis seperti ketika ia melihat wanita itu di waktu siang.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
😊😊😊😊