Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Maaf


__ADS_3

'haruskah aku membiarkan diriku terbawa arus takdir yang terus mengalir tanpa lelah untuk berhenti. Aku ingin singgah dan menetap di suatu tempat. Tempat di mana hatiku dapat berlabuh, akan kutambatkan hatiku di sana.'


Alfin kembali ke ruang pribadinya setelah ia bertugas hingga sore. Pekerjaannya cukup menyita waktu sampai ia melupakan makan siangnya, terlebih saat ini pikirannya sedang cukup kacau. Ia sangat berharap kalau ibunya sudah pulang dari rumah sakit itu. Setidaknya ia ingin merehatkan pikirannya untuk sejenak dan tidak ingin mendengar banyaknya ocehan ibunya.


cklek


Alfin membuka pintu ruangannya dan mendapati ruangan itu sunyi, tidak ada tanda-tanda kalau ibunya ada di sana. Namun...


"Mesya."lirih lelaki itu saat melihat Namesya yang meringkuk di atas sofa,"hhh... maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam masalahku "gumam lelaki itu merasa bersalah karena sudah membuat gadis itu terlibat dalam masalah hidupnya.


"Ssyyyuuut..."Tiba-tiba suara lirih ibunya terdengar, Meylani baru saja keluar dari toilet."jangan berisik. Dia terlihat sangat lelah. Jadi mama membiarkan dia tidur di sana."jelas Wanita itu.


"Kenapa mama masih di sini?"tanya Alfin masih dengan nada berbisik.


Meylani melotot tajam menatap Alfin,"kamu ngga suka mama di sini? kamu sendiri kenapa ngga balik waktu jam istirahat tadi siang?"


"Alfin sibuk ma..."Alfin memberi alasan.


"Alasan kamu aja. Udah mama ngga percaya sama alasan kamu."Meylani tidak percaya.


"Terserah mama mau percaya atau engga."timpal Alfin.


"kamu ini. Udah. Mending kamu jagain Mesya. Mama ajak dia jalan-jalan tadi siang sekalian cari makanan. Pasti dia capek terus dia tidur."Kata Meylani.


"Mama... Mesya itu masih sakit, baru hari ini dia di bolehin pulang. Kenapa mama malah ajak dia jalan-jalan. Ya pasti dia capek."tegur Alfin.


"Ya ampun. Mama ngga tahu. Mesya ngga cerita kalau dia lagi sakit. Pantesan tadi pas baru pulang dari mall sebelah dia muntah-muntah. Mama ajak periksa ngga mau. Katanya dia mungkin masuk angin."tutur Meylani menceritakan apa yang terjadi pada Mesya beberapa waktu lalu.


Alfin menghela nafas dan menatap Mesya yang masih meringkuk nyaman di atas sofa,"ya sudah. Mendingan mama sekarang pulang. Biar Alfin yang jaga Mesya di sini."perintah Alfin.


"Tapi Mesya ngga apa-apa kan? Mama takut menantu mama sakitnya kambuh lagi gara-gara mama."Meylani khawatir.


"ngga apa-apa ma... Udah. mendingan mama pulang. Alfin lebih bisa jaga Mesya di sini."kata Alfin.


"Huh. Kamu memang harus lebih bisa jaga Mesya. Ya udah. Kalau gitu mama pulang dulu. Jagain menantu mama. Awas kalau sampai dia kenapa-kenapa."Meylani akhirnya menyerah dan menurut untuk pulang.


"iya maa... Mesya aman kok sama Alfin."kata Alfin.


Meylani tampak enggan untuk pergi, namun wanita itu tentu harus pergi sekarang."Kapan-kapan kamu harus kenalin dia sama mama papa secara langsung."pesan Meylani sebelum pergi dari ruangan itu.


"Iya ma..."sahut Alfin seraya mengantar ibunya keluar.


"Pokoknya mama ngga mau denger alasan apapun. Kamu harus bawa dia main ke rumah."kata Meylani.


"Iya ma... iya... udah sana mama pulang istirahat di rumah. Oke..."perintah Alfin lagi.


Meylani pun pergi, namun hati wanita itu sudah merasa tenang dan lega mengetahui putra sulungnya sudah memiliki kekasih. Meskipun semua itu hanya kesalahpahaman.


"Hhhh..."Alfin mendesah setelah menutup pintu ruangan dan kakinya melangkah menghampiri Mesya yang tampak kedinginan di ruangannya yang ber-Ac.


Alfin menambah suhu ruangan agar menjadi terasa hangat dan melepas jas putihnya untuk menyelimuti Mesya yang masih terlelap. Selanjutnya, lelaki itu duduk di depan laptopnya. Lelaki itu mulai memikirkan cara agar ia bisa meluruskan kesalahpahaman itu.


"bagaimana caranya supaya mama percaya kalau Mesya itu bukan pacarku?"tanyanya seraya memijit pelipisnya."tapi kalau aku memaksa mama untuk percaya, pasti mama akan mewujudkan acamannya itu. astaga..."


"Dokter."Suara Mesya menyita pikiran Alfin yang tengah bingung, lelaki itu mengarahkan tatapannya ke tempat di mana Mesya kini berdiri.


"Oh. Apa aku mengganggu tidurmu?"tanya Alfin yang langsung bangkit dari duduknya.


"Tidak. sama sekali tidak."balas Namesya.


"syukurlah."gumam Alfin, lelaki itu mulai menarik nafas dalam-dalam dan berkata,"Soal mama. Aku akan mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha membuat mama mengerti dan percaya kalau ini hanya kesalahpahaman."


"Maaf. Kalau saja aku tidak datang ke sini. pasti semua ini tidak akan terjadi."lirih Namesya.


"bukan salahmu. Sungguh ini bukan salahmu."Alfin menyanggah ucapan Namesya.


"tapi..."


"Sungguh ini bukan salahmu. Jangan merasa bersalah seperti itu. Justru aku yang harus meminta maaf karena kau harus ikut terlibat dalam masalah pribadiku."Alfin memotong ucapan Namesya.


"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak."lirih Namesya.


"Sudahlah. jangan di pikirkan. biar itu menjadi urusanku. aku yang akan berusaha menjelaskan semua ini pada mama."balas Alfin.


"baiklah."gumam Namesya.


Alfin mengangguk kecil dan bertanya,"mama bilang kamu muntah-muntah lagi?"


"Cuma pusing sedikit."jawab Namesya.


"Kamu yakin sudah baik-baik saja?"tanya Alfin lagi.


"Ya. Kata Dokter Rendra asal aku bisa menjaga pola makanku aku bisa cepat sembuh."jawab Namesya.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"tanya Alfin,"maksudku di mana kamu tinggal selama ini?"


"Aku tinggal di Apartemen. Tapi..."Namesya khawatir jika nanti kakaknya akan mendatangi apartemennya.


"Kenapa?"tanya Alfin.

__ADS_1


"Ah. bukan apa-apa. Aku cuma lupa apa kunci apartemenku ada di dalam tasku."Namesya langsung beralih meraih tasnya dan mengaduk isinya,"oh. ini dia."gumamnya saat ia menemukan kunci apartemennya.


"ketemu?"tanya Alfin yang sudah berdiri di samping Namesya.


"ini."Namesya menunjukkan kunci apartemennya yang terdapat boneka kelinci berukuran kecil sebagai gantungannya, gadis itu tersenyum kecil seraya menatap Alfin.


Mata cerah Namesya yang memiliki warna hitam kecoklatan itu tampak terlihat tegas saat menatap Alfin, bulu lentik menghiasi mata indahnya, bibir berwarna pink alami itu tampak tersenyum. Untuk beberapa detik Alfin cukup tertegun melihat dengan dekat dan baru kali ini ia memperhatikan wajah Namesya yang memang cantik.


'Cantik'batin Alfin memuji paras ayu Namesya yang kini sedang memegang benda pipih milik gadis itu.


"daya ponselmu habis. Sebaiknya kau mengisinya lebih dulu."ujar Alfin.


"Oh. benar juga."Namesya setuju dan kembali merogoh tasnya mengambil charger ponselnya."Di mana tempatnya?"tanya gadis itu seraya menatap Alfin.


"Di sana."Alfin menunjukkan tempat biasa ia memasang chargernya.


"Oh. Iya."Namesya melangkah menuju tempat yang di tunjukkan Alfin.


Di luar, langit sore tampak cerah tak terlihat ada gumpalan awan hitam yang akan menurunkan hujan kapan saja. Namun sore ini mungkin akan ada sunset yang indah di ujung barat nanti. Biasanya Alfin akan berdiri di balkon ruangannya melihat matahari tenggelam. Namun kali ini ia hanya duduk di kursi kerjanya, sementara Namesya duduk di sofa.


"Dokter."tiba-tiba gadis itu memanggil Alfin.


"Ya."Sahut Alfin, lelaki itu menatap Namesya.


"Mmm... Sebenarnya aku kemari ingin menemui dokter. Aku ingin berterimakasih karena dokter sudah menolongku."kata Namesya.


"menolongmu."Alfin tak paham maksud Namesya.


"Iya. Kalau Dokter tidak menolongku waktu itu, mungkin aku sudah melakukan kesalahan besar."jelas Namesya.


"oh... Itu..."gumam Alfin,"Terkadang kita memang melakukan kesalahan agar kita bisa belajar dari kesalahan itu. Jadi, saya harap kamu bisa belajar dari kesalahan itu dan tidak mengulanginya lagi."


"Ya. Akan selalu aku ingat nasihat dokter."balas Namesya yang di balas anggukan kecil Alfin."Oh ya. Apa kerudung ini Dokter yang menemukannya?"tanya Namesya.


Alfin menatap kerudung yang di pegang Namesya dan mengangguk,"ya. saya menemukannya di dekat mobil saya waktu itu. Mungkin kau menjatuhkannya waktu itu."jawab lelaki itu dan bertanya,"Apa kau menghindari kakakmu? Beberapa saat setelah kau pergi aku bertemu dengan seorang laki-laki dan menanyakan seseorang yang ciri-cirinya sama persis denganmu."


"Mmm... Aku memang menghindari kakakku waktu itu. Aku kesana hanya ingin melihat kakakku. Kupikir penyamaranku tidak ketahuan, tapi dia mengenaliku dan langsung mengejarku."tutur Namesya.


Alfin mengangguk paham dan bertanya,"apa kakakmu tidak tahu tempat tinggalmu?"


"dia tahu."jawab Namesya.


"apa dia tidak mencarimu di sana?"tanya Alfin.


"Mungkin saat ini sudah. Tapi dia belum lama ini pulang dari Bali dan dia tidak tahu apa yang terjadi padaku di sini saat dia di Bali."jawab Namesya.


"mmm Lebih sering menjadi model. Dia belum lama ini terjun di dunia akting."jawab Namesya.


"Oh ... begitu rupanya. jadi apa rencanamu kalau ternyata nanti kakakmu ada di apartemenmu?"tanya Alfin.


"Itu... Entahlah."gumam Namesya.


"Kau tak memiliki kenalan atau teman dekat."Alfin bertanya.


"Itu... Aku tidak mau merepotkan teman-temanku."jujur Namesya.


Alfin mengangguk dan berkata,"Ku dengar di kantor ada fasilitas tempat tinggal untuk karyawannya. Bagaimana kalau aku suruh Ryan untuk mengurusnya untukmu."


Namesya melebarkan tatapannya dan menggoyangkan kedua tangannya sembari berkata,"jangan. Aku tidak mau merepotkan pak Ryan."


Alfin mengerutkan kening mendengar Namesya menyebut adiknya dengan sebutan pak,'apakah adikku sudah setua itu sampai dia memanggilnya dengan sebutan itu.'batinnya sementara senyumnya mengembang lebar, merasa lucu dan ingin sekali dia mengejek adiknya dengan sebutan yang sama seperti apa yang di katakan Namesya baru ini.


"Dokter Alfin?"tegur Namesya melihat Alfin yang tersenyum lebar dan terkesan seperti tengah menahan tawa.


"Yah."sahut Alfin yang masih tersenyum dan menatap Namesya.


Namesya tertegun melihat tatapan Alfin yang menatapnya dengan tatapan lembut, senyum lelaki itu cukup membuat Namesya terlena. Namun gadis itu segera menguasai hati dan tatapannya.


"Sebaiknya saya pulang sekarang saja."pamit Namesya.


"Kamu yakin? Bagaimana kalau saya antar kamu pulang?"Alfin menawarkan bantuan.


"Tidak perlu. Saya bisa pulang naik taksi."tolak Namesya.


"Hmm... Baiklah. Terserah kamu saja."Alfin mengijinkan Namesya pulang.


"Kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terimakasih Dokter sudah menolongku dan memberiku nasihat hidup untukku."pamit Namesya.


Alfin tersenyum dan bangkit dari kursinya,"Sama-sama. Saya berharap kamu akan menemukan jalan hidup yang lebih baik untuk ke depannya."


###


Namesya berjalan menyusuri koridor, melewati beberapa ruangan, melihat banyak orang sakit dengan tingkat parahnya masing-masing.


"Hhhh... Sudah sepantasnya aku menysyukuri keadaanku."lirihnya menyadari dirinya masih beruntung.


Namesya menghela nafas, menarik bibirnya membentuk senyuman khasnya yang cantik. Gadis itu telah siap menghadapi apapun masalah yang akan ia hadapi kedepannya.


"Dimana ya?"Namesya tampak mengacak isi tasnya berkali-kali mencari barangnya,"Kenapa ngga ada di sini ya?"tanyanya.

__ADS_1


"Mesya."


Gadis itu menoleh ke asal suara yang memanggilnya. Dari sana ia melihat Feres yang tengah berjalan menghampirinya.


"Dokter memanggil saya?"tanyanya.


"Memangnya ada orang lain di sini selain kamu?"Feres balas bertanya seraya menatap sekeliling mereka.


Namesya tersenyum dan berkata,"ya. memang tidak ada."


Feres tampak tertegun melihat Namesya tersenyum, tanpa otaknya menyuruh bibirnya ikut tertarik membentuk senyuman.


'senyum kamu masih sama seperti dulu.'batin Feres yang masih mengingat dengan detail setiap senyum Namesya sejak dulu.


'kenapa Dokter ini senyum -senyum seperti itu.'batin Namesya merasa heran melihat Feres terus tersenyum saat menatap gadis itu.


"Oh ya. Kudengar kamu sudah boleh pulang. Apa kamu akan pulang sekarang?"tanya Feres.


"Iya."jawab Namesya.


"Mau kuantar? kebetulan aku juga mau pulang."Tawar Feres.


"Tidak perlu. Aku ngga mau ngerepotin dokter."tolak Namesya, tentu saja ia memang tidak mau merepotkan orang lain.


"lalu? Kamu mau naik apa? Taksi?"tanya Feres.


"Mmm... Ya."jawab Namesya.


"Sudah pesan taksinya?"tanya Feres lagi.


"Mmm... Belum."jawab Namesya dengan nada lirih.


"Ya sudah. Kalau begitu kupesankan taksi untukmu."Ujar Feres seraya mengutak atik ponselnya.


"Jangan Dokter. Ngga usah repot-repot."cegah Namesya.


"Maaf. sudah kupesankan untukmu."Feres menunjukkan layar ponselnya yang masih menyala menunjukkan bukti pesanan taksinya untuk Namesya, lelaki itu juga tersenyum.


"Yah. Padahal aku mau memesannya sendiri tapi..."


"Mesya."


Dua orang itu menoleh ke asal suara dan melihat Alfin yang sedang melangkah menghampiri keberadaan mereka setelah sebelumnya lelaki itu memanggil Namesya.


"Ponselmu tertinggal di ruanganku. Belum penuh tapi aku pikir kamu akan membutuhkannya jadi aku menyusulmu."kata Alfin seraya mengulurkan ponsel Namesya kepada pemiliknya.


"Astaga ... pantas saja aku mencarinya di tas tidak ada. Aku lupa kalau aku sedang mengisi dayanya di ruangan dokter."kata Namesya sembari tersenyum lebih cerah sembari memandangi ponsel dan Alfin bergantian.


"Oh ya. Maaf kalau aku lancang. Aku membukanya tadi dan memesankan taksi untukmu. Kau belum memesan taksi kan?"kata Alfin.


Feres menatap Alfin merasa sedikit geram karena dirinya sudah lebih dulu memesan taksi untuk Namesya melalui ponselnya. Namun lelaki itu hanya bisa diam.


"Tapi aku sudah memesan taksi juga untuknya."kata Feres.


Alfin tersenyum serba salah menatap temannya itu dan berkata,"maaf. aku tidak tahu kalau anda sudah memesan taksi untuknya. tapi sebaiknya kita lihat saja nanti pesanan siapa dulu yang datang."


Feres menggelengkan kepala dan membuang nafas,"kau harus bertanggung jawab mengantar mobilku ke apartemenku kalau nanti pesananmu yang datang lebih dulu."katanya.


"tidak masalah. Besok aku libur, jadi aku tidak membutuhkan mobilku besok."kata Alfin seraya tersenyum menjengkelkan menurut Feres.


'kenapa Feres terlihat begitu perhatian dengan Mesya?'batin Alfin bertanya.


'Dasar sahabat tidak peka. Apa dia tidak tahu kalau aku tertarik pada Mesya? Bukankah aku sudah cukup jelas menunjukkannya?'Batin Feres merasa kesal dengan sahabatnya satu ini.


'huh. bagaimana ini? kenapa mereka bisa kebetulan memesan taksi untukku bersamaan.'batin Namesya seraya memandangi dua lelaki di sampingnya ini.


Akhirnya mereka bertiga menunggu di antara dua taksi yang sudah di pesan, pesanan siapa dulu yang datang lebih dulu. Tak lama kemudian, taksi online yang telah di tunggu pun tiba.


"atas nama Mba Mesya."Kata supir taksi itu memastikan nama penumpangnya.


"Benar. Saya sendiri."balas Namesya.


"Baik Mba silakan masuk."Sang supir mempersilahkan Namesya masuk.


Namesya menoleh kearah dua lelaki di sampingnya dan mengangguk seraya berkata,"terimakasih dokter. saya permisi."


"ya. hati-hati di jalan."sahut Feres sedangkan Alfin hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Itu pesananku. Ingat janjimu."kata Feres saat melihat satu mobil lagi sedang meluncur dan berhenti di depan mereka.


"Atas nama Feres."Kata supir taksi.


"Tentu saja. Mana kuncinya." Alfin meminta kunci mobil Feres.


"Ini."Feres menyerahkan kunci mobilnya dan bergegas masuk ke taksinya.


Setelah melihat kepergian Feres, Alfin bergegas menuju ke tempat parkir untuk memenuhi janjinya mengantar mobil Feres ke apartemen temannya itu. Tak ada yang menyadari akan keberadaan seorang laki-laki yang memakai topi dan berkacamata hitam serta masker tengah mengawasi mereka dari dalam mobilnya.


'saat hati di landa rasa bersalah, kata maaf adalah obatnya. Namun bagaimana jika satu kata itu begitu sulit untuk terucap. Bahkan menatapmu saja aku sangat sulit untuk melakukannya. Ada banyak kesalahan yang telah aku lakukan padamu. Maaf, aku tak bisa membuatmu bahagia.' Rio Ardi Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2