
Pukul sembilan malam Alfin baru tiba di rumahnya, Namesya dan Kevin masih menunggunya dengan bermain game online di ponsel masing-masing. Alfin membuang napas lega saat melihat Namesya tengah duduk bersama Kevin di sofa dengan fokus pada layar ponsel.
"Dokter."Namesya menyapa saat menyadari keberadaan Alfin,"baru pulang?"Namesya menilik jam dinding.
"Ada kerjaan tambahan. Kalian sudah makan malam?"jawab sekaligus bertanya saat Kevin menatapnya.
"Sudah."jawab Kevin.
"Oh."gumam Alfin yang sudah duduk bersebrangan dengan dua kakak beradik itu,"Mmm... Aku minta maaf soal Mesya."tutur Alfin lebih dulu.
Kevin melirik Namesya dan kembali menatap Alfin,"Adikku baik-baik saja. Dia tidak perlu bersembunyi lagi. Untuk soal kebohongan kalian..."Kevin melirik Namesya dan Alfin bergantian dengan kening mengkerut,"aku masih bisa memakluminya."
Diam-diam Alfin dan Namesya sama-sama menghela napas lega,"Sekali lagi maaf."lirih Alfin.
"Tidak masalah. Setidaknya aku sudah menemukan adikku dan aku akan membawa adikku pergi dari sini."balas Kevin.
"Apa tidak bisa besok saja. Malam ini kalian tidur di sini."kata Alfin.
"Aku akan menjemput Mesya besok pagi. Malam ini aku harus menemui seseorang."kata Kevin seraya melirik jam tangannya.
"Oh begitu."gumam Alfin.
"Memangnya kakak mau kemana? Ini sudah jam malam. Memangnya masih ada jadwal pekerjaan semalam ini?"tanya Namesya.
"Ini urusan pribadi. Bukan pekerjaan."Kevin mengakhiri katanya dengan senyuman.
Namesya tidak menuntut penjelasan lebih mengenai urusan pribadi kakaknya ini,"Semoga urusan kakak cepat selesai."ujarnya mendoakan.
"Ya udah kakak pergi sekarang. Dan ingat besok pagi kakak yang akan antar kamu balik ke apartemen. Oke. Tunggu kakak sampai kakak datang."kata Kevin menatap Namesya sebelum beralih pada Alfin,"titip Mesya."katanya pada Alfin.
"Ya. Mesya aman di sini."balas Alfin.
Kevin pun pergi dari rumah itu, raut wajah Kevin membuat Namesya penasaran. Ada gurat kecemasan di wajah kakaknya itu.
"Urusan pribadi seperti apa yang kak Kevin maksud."gumam Namesya setelah mengantar Kevin sampai teras rumah.
"Mesya."tegur Alfin.
"Ya."sahut Namesya menoleh, menatap Alfin yang berdiri di mulut pintu.
Alfin tampak menunduk sembari mengusap tengkuknya, dan menghela napas,"Aku ingin bicara."kata lelaki itu.
"Mmm... Dokter mau bicara apa?"tanya Namesya.
"Ini... soal permintaanku untuk menjadikanmu pacarku."balas Alfin.
"Oh... tentang sandiwara kita."komentar Namesya.
"Ya."gumam Alfin seakan lupa kalau ia meminta Namesya untuk membantunya bersandiwara,"Bisakah kita mengakhirinya saja."katanya seraya menatap kedua mata Namesya.
"Apa? Mengakhirinya?"Namesya merasa tersentak mendengar kata mengakhiri keluar dari mulut Alfin.
Alfin masih tetap menatap Namesya dan berjalan mendekat mengikuti instingnya sebagai manusia yang ingin mempertahankan keberadaan seseorang untuk tetap di sisinya,"Ya. Kita akhiri sandiwara kita. Dan... Aku ingin mengubah sandiwara kita menjadi kenyataan."kata Alfin masih menatap lekat kedua mata Namesya yang tampak bingung.
"Aku... Aku tidak mengerti maksud dokter."gumam Namesya setelah sebelumnya menunduk sejenak dan kembali menatap Alfin.
"Aku pikir... Aku ingin mempertahankanmu untuk tetap berada di sisiku."kata Alfin,"Aku tidak ingin jauh darimu. Aku... Aku menyukaimu"Alfin menghela napas lega setelah ia berhasil mengungkapkan perasaannya,"Ya. Aku menyukaimu. Aku ingin hubungan sandiwara kita berakhir karena aku menyukaimu, dan aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar sandiwara."
Namesya masih tertegun mendengar pengakuan Alfin padanya. Ceritanya akan lain jika dirinya tidak dalam keadaan seperti saat ini. Ia pasti akan tersenyum bahagia dan langsung menghambur memeluk Alfin jika keadaannya tidak seperti ini. Sayangnya, Cinta Alfin tidak datang di waktu yang tepat.
"Apa wanita yang dokter maksud itu... aku."susah payah Namesya mengucapkan kata-kata itu.
"Ya."jawab Alfin seraya tersenyum.
Namesya menunduk, memejamkan mata sejenak dan kembali menatap Alfin sembari menarik napas sekaligus membuangnya,"Dokter tahu keadaanku sekarang. Sekalipun aku memiliki perasaan yang sama, itu tidak mudah untuk kedepannya. Apa kata orang kalau dokter memilihku."kata Namesya,"Aku... Aku sudah tidak lagi sempurna."imbuhnya dengan menahan sesak di dada.
Alfin mengerjapkan mata melihat raut kesedihan yang terpancar di wajah Namesya,"Yang aku tahu. Aku menyukaimu. Aku ingin melindungimu, memilikimu dan hidup bersamamu. Aku tidak menuntut kesempurnaan apapun darimu."katanya seraya menggenggam kedua tangan Namesya.
"Tapi..."Namesya menunduk dan menitihkan air matanya.
Alfin merengkuh tubuh Namesya, memeluknya dengan lembut,"Aku akan menunggumu jika kamu ragu pada perasaanku. Aku akan menunggumu sampai kamu yakin bahwa aku menyukaimu tanpa menuntut kesempurnaan darimu. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku tidak peduli siapa ayah anakmu. Aku akan menerima anakmu seperti aku menerima masa lalumu."ucap Alfin seraya mengelus rambut Namesya.
__ADS_1
"Hiks. Hiks. Hiks ... Kenapa dokter bodoh sekali. Kenapa dokter harus menyukaiku. Ada banyak wanita sempurna di luar sana, tapi kenapa dokter menyukaiku."kata Namesya sembari terisak melepaskan tangisnya, namun Alfin hanya mempererat pelukannya saat Namesya memukuli punggung lelaki itu."Kenapa harus aku. Hiks. Hiks."
"Aku akan menunggumu."Lirih Alfin seraya mengecup puncak kepala Namesya.
####
Cuit
Cuit
Cuit
Matahari menyapa pagi, cuitan burung kecil di luar semakin menyemarakkan hari setelah terbangun dari tidur malam. Sekaligus membangunkan Namesya dari tidurnya yang singkat akibat semalam tak bisa terlelap begitu saja karena memikirkan ucapan Alfin yang mengungkapkan perasaan padanya.
"Apa semalam hanya mimpi? Rasanya aku tidak percaya ada laki-laki seperti dia di dunia ini. Benarkah dia akan menerima masa laluku? Menerima anakku? Apa dia sudah berpikir matang sebelum memutuskan untuk mengatakan semuanya padaku semalam."gumam Namesya mengingat tentang kejadian semalam,"Aku takut akan ada penyesalan nantinya. Aku takut dia menyesal jika aku menerima pengakuannya begitu saja."
Tok
tok
tok
Namesya terperanjat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Tak ingin tahu siapa yang mengetuknya, Namesya justru kembali membenamkan dirinya di balik selimut. Bersembunyi jika ia bisa melakukannya.
"Mesya..."
Terdengar suara memanggil namanya dari luar dan Namesya mengenali suara itu bukanlah suara Alfin.
"Kak Kevin."gumam Namesya seraya membuka kembali selimut dan menatap daun pintu yang perlahan terbuka.
"Ya ampun Mesya..."Kevin mengeluh melihat Namesya masih terbungkus selimut,"Kenapa belum siap-siap Hem? kamu lupa kalau kakak mau jemput kamu pagi ini."celoteh lelaki itu sembari menghampiri adik kesayangannya yang masih di atas tempat tidur bak putri tidur.
"Maaf."ujar Namesya seraya menunjukkan senyumnya,"aku kesiangan. ini juga baru bangun. Semalam ngga bisa tidur."Namesya beranjak duduk di atas tempat tidur.
"Kenapa ngga bisa tidur? kamu sakit?"tanya Kevin dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Namesya.
"Ngga... Ngga sakit. Ya cuma susah tidur aja."balas Namesya.
"Sesuatu apa maksud kakak? Memangnya apa yang bakal terjadi di rumah ini?"tanya Namesya dengan raut wajah gugup.
"Kakak pikir ada apa-apa semalam. Ada hantu atau kamu mimpi buruk. Kamu kan paling takut sama sesuatu yang berbau horor. Gelap aja kamu takut kan."kata Kevin.
Namesya menghela napas dan berkata,"sesuatu yang lebih dari kata horor."
"Apa?"tanya Kevin penasaran.
Namesya menggerakkan telunjuknya meminta Kevin mendekatkan telinganya dan lelaki itu mendekat tanpa curiga,"Aaaaa..."Namesya berteriak cukup kencang di telinga Kevin dan langsung kabur menuju kamar mandi.
"Mesyaaaa... Awas kamu nanti."ancam Kevin setelah menetralkan pendengarannya yang sempat oleng karena pekikan namesya, lelaki itu menggosok telinganya sembari berjalan keluar kamar.
"Mesya kenapa?"tanya Alfin begitu melihat Kevin keluar dari kamar.
"Dia baik-baik saja. Sangat baik malah."jawab Kevin sambil lalu tanpa memberi penjelasan lebih atas teriakan Namesya yang membuat Alfin terkejut dan langsung lari menuruni anak tangga menuju kamar Namesya.
Pagi itu sesuai janjinya, Kevin datang bermaksud untuk menjemput Namesya. Namun nyatanya adiknya itu belum bangun, justru memberi kejutan teriakan di telinganya. Jika bukan adiknya, mungkin Kevin akan memberi pelajaran setimpal pada Namesya.
Setelah selesai mandi dan berkemas, Namesya keluar dari kamar menemui Kevin di ruang tamu. Kevin tengah mengobrol dengan Alfin dan juga...
"Kak Andin..."Senyum Namesya merekah sempurna melihat keberadaan Andin di ruangan itu dan langsung menghampiri wanita itu memberikan pelukan.
Kevin yang melihat ekspresi serta perlakuan Namesya pada Andin cukup heran melihat kedekatan mereka. Beda dengan Alfin yang biasa saja melihat kedekatan Namesya dan Andin.
"Apa kabar? Kamu baik-baik aja kan? Tadi aku denger kamu teriak. Mau nyamperin tapi keburu ada telfon masuk."kata Andin setelah memberi pelukan pada Namesya.
"Aku baik-baik aja kok. Dia juga baik."Yar Namesya seraya mengelus perutnya yang masih rata.
"Syukur deh kalau kalian baik-baik aja."balas Andin.
"Kak Andin lagi sibuk ngapain sih kok ngga ada kabar?"tanya Namesya.
"Oh. itu..."Andin terlihat ragu untuk mengatakan tentang perceraiannya.
__ADS_1
"Apa itu tentang perceraian kak Andin?"bisik Namesya.
Andin tersenyum kecil dan mengangguk,"sudah beres. Aman."balas Andin sama-sama berbisik di telinga Namesya, saat itu Kevin yang tengah memperhatikan mereka buru-buru mengalihkan pandangan saat Andin menatap laki-laki itu.
"Jadi kak Andin sudah resmi jadi janda?"tanya Namesya masih tetap berbisik.
"Sudah."jawab Andin.
"Khem."Kevin berdeham kecil,"Mesya. Mau pulang jam berapa? Kakak ada pemotretan sama jadwal syuting dua jam lagi."kata Kevin menghentikan aksi bisik-bisik adiknya dengan Andin.
"Masih dua jam lagi kan?"tanya Namesya,"Aku masih mau ngobrol sama kak Andin."
"Dua jam lagi memang. Tapi perjalanan dari sini ke tempat pemotretan sama syuting itu butuh waktu 1 jam lebih. Belum lagi kakak mesti persiapan make up sama kostumnya."kata Kevin.
"Kak Kevin kalau mau ajak aku pergi sekarang tinggal ngomong langsung aja gimana sih. Ribet amat pake alesan jam pemotretan segala di bawa-bawa."omel Namesya yang membuat Alfin tersenyum kecil dan Andin terkikik pelan, sementara Kevin menjadi kikuk dan gugup.
"Ya itu maksud kakak."kata Kevin.
"Kalau nganter ke apartemen gimana kalau aku aja yang anter? Hari ini aku ngga ada jadwal di rumah sakit. Aku ambil cuti."kata Andin memberi solusi.
"Nah. Ide bagus. Udah kalau kak Kevin mau pergi sekarang pergi aja. Aku pulang sama kak Andin."usir Namesya.
"Kamu ngusir kakak? Kakak udah bela-belain kesini jemput kamu tapi kamu malah ngusir kakak."protes Kevin.
"Habisnya kakak kan ada pemotretan. Kalau emang udah tahu punya jadwal kerja kenapa pake ke sini segala. Kan bisa kabarin ngga bisa jemput. Kalau kakak ngga jemput juga aku bisa pulang sendiri."kata Namesya.
Kevin menghela napas dan memilih diam, tidak ingin berdebat dengan adiknya di depan dua orang yang baginya masih menjadi orang asing."Ya sudah terserah. Kakak harus pergi sekarang."kata Kevin.
"Ya sudah. Pergi sana."usir Namesya.
Perilaku dua adik kakak itu cukup membuat Andin terhibur setelah cukup lama di buat tertekan dan pusing karena urusan rumah tangganya yang harus dia akhiri. Senyumnya terus mengembang menciptakan lesung kecil di dagu wanita itu.
"Sudah biar nanti Mesya aku yang antar."Alfin angkat bicara.
"Terserah."balas Kevin dan langsung pergi dengan langkah seribu menuju pintu.
"Huh. Kerja terus yang di pikirin. Kayak ngga ada niat nyari jodoh lagi."gerutu Namesya mengomentari Kevin yang gila kerja.
"Emangnya kamu mau kalau punya suami ngga suka kerja."kata Alfin.
Namesya tersenyum kecil dan perasaannya tiba-tiba tak beraturan mengingat kejadian semalam dan di tambah lagi ucapan Alfin yang menyinggung tentang suami. Tak tahu harus berkata apa, hanya senyum yang bisa Namesya lakukan saat itu untuk menanggapi ucapan Alfin.
"Ngomong-ngomong mau sarapan apa? Biar aku pesen sekarang."tanya Alfin.
"Bukannya masih ada bahan makanan di kulkas? ngapain pesen. Mending masak aja."balas Namesya.
"Begitu."gumam Alfin yang sedang memilih makanan di aplikasi.
"Iya. Kalau ada bahannya mending masak aja."Andin mendukung usulan Namesya.
"Oke. Kalau begitu kalian berdua yang masak."putus Alfin.
"Ayo."Ajak Namesya pada Andin.
Pagi itu ketiga orang itu sarapan bersama di rumah Alfin. Namesya dan Andin yang memasak, sedangkan Alfin bertugas menata dan merapihkan meja makan dan tugas terakhirnya mencuci semua perkakas masak dan makan yang kotor.
Kegiatan lagi itu cukup menyita pikiran Namesya yang harus mempertimbangkan beberapa hal untuk kelangsungan hidupnya. Memikirkan tentang pengakuan Alfin, bahkan laki-laki itu bersedia menunggunya. Entah apakah lelaki itu akan tetap menunggunya sampai batas waktu yang tidak tentu.
Namesya sama sekali tak ingin memberikan harapan apapun pada Alfin, namun kenyataannya ia juga memiliki perasaan yang sama. Ia menyukai lelaki itu, ia merasa aman dan nyaman berada dekat dengan lelaki itu. Alfin adalah laki-laki pertama yang membuatnya tak harus berpikir lama untuk dekat dengan laki-laki itu. Bahkan Rio butuh waktu berbulan-bulan untuk mendekatinya, berbeda dengan Alfin yang langsung memberikan kesan nyaman sejak Namesya memutuskan untuk mempercayai laki-laki itu.
Berharap akan ada alasan untuk membuat Namesya berani melangkah mengambil keputusan untuk menerima perasaan Alfin dan berhenti membuat lelaki itu menunggunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
😊😊😊😊✌️✌️