
Namesya kembali ke kamarnya dan mencoba untuk memakan kembali makanannya yang hanya ia makan sedikit pagi ini. Namun bungkusan kecil di atas tempat tidur cukup membuatnya penasaran.
"apa itu?"gumam Namesya dengan langkah menuju tempat tidur, mengambil bungkusan kecil yang ternyata isinya adalah sebuah kerudung hitam,"kerudung."gumamnya lagi,"kenapa ada kerudung hitam di sini? ini milik siapa? terus siapa yang taruh kerudung..."Namesya menutup mulutnya dengan tatapan melebar dan memperhatikan kerudung hitam itu dengan teliti,"ini milikku."ujarnya yakin.
"ya. ini memang kerudungku."katanya seraya memastikan jika benda itu benar-benar miliknya, ia masih ingat saat pergi ke rumah duka waktu itu tanpa sadar sudah menjatuhkan kerudungnya entah di mana karena menghindari kejaran kakaknya."Siapa yang naruh kerudung ini di sini? Bagaimana orang itu tahu kalau kerudung ini milikku.?"tanyanya penasaran.
Namesya menggigit bibirnya mencoba mengingat siapa yang sempat ia temui waktu itu, setidaknya orang itu pasti mengenalnya.
"Atau jangan-jangan..."Namesya ingat saat dirinya tanpa sengaja menabrak dada Dokter Alfin di dekat mobil,"Dokter Alfin kah? Aku cuma ketemu sama dia waktu itu di tempat parkir umum dan di sana aku sembunyi di dekat mobil. setelah dari sana aku baru sadar kalau kerudungku jatuh entah di mana. iya. pasti dokter Alfin. ngga mungkin orang lain. dan lagi pasti ngga ada yang tahu kalau saat ini aku ada di rumah sakit."Namesya terus menebak,"oke. coba nanti aku tanya langsung sama Dokter Alfin."Namesya memutuskan untuk bertanya langsung.
tok
tok
tok
"permisi nona Mesya."terdengar seruan Dokter Rendra setelah sebelumnya terdengar suara ketukan pintu.
"oh. dokter."sapa Namesya seraya meletakkan kembali kerudungnya kedalam bingkisan.
"Bagaimana keadaan nona Mesya pagi ini? apa perutnya masih terasa perih dan sakit?"tanya Dokter Rendra di bantu perawat jaga yang mengecek tekanan darah Namesya.
"sudah ngga perih dok."jawab Namesya.
Dokter Rendra melirik makanan Namesya dan berkata,"masih susah makannya ya."
Namesya tersenyum,"ya. masih sedikit susah dok. tapi ini juga mau makan kok dok."katanya.
"hmm... ya. ya. kata Dokter Andin kehamilan di trimester pertama memang begitu. Tapi asalkan nona Mesya mencoba tetap memakan sesuatu mudah-mudahan keadaan nona cepat pulih seperti semula."kata Dokter Rendra.
"jadi kapan kira-kira saya boleh pulang Dok?"tanya Namesya.
"oh. siang ini nona Mesya sudah saya perbolehkan pulang. tapi saya sarankan nona Mesya untuk berkonsultasi dengan dokter Andin mengenai kehamilan nona. mengingat sejak awal nona adalah pasien dokter Andin jadi ada baiknya nona menunggu Dokter Andin menemui nona terlebih dulu."kata Dokter Rendra.
"jadi saya sudah boleh pulang Dok?"tanya Namesya pada Dokter Rendra yang sudah mengijinkan dia pulang.
"ya. asalkan anda bisa menjaga pola makan anda dengan baik."Sahut Dokter Rendra dengan ramah."dan itu. tunggu ijin dari Dokter Andin. Saya akan mengurusnya agar Dokter Andin menemui anda siang nanti."
"Baik dok."sahut Namesya dengan raut senang.
'hhh... akhirnya aku udah boleh keluar dari gedung bau ini.'batin Namesya yang merutuk gedung rumah sakit itu yang berbau obat.
"ya sudah. saya permisi."pamit Dokter Rendra yang kemudian berbicara dengan perawat,"suster tolong urus data kepulangan nona Mesya. sekaligus data konsultasi nona Mesya untuk dokter Andin."
"Baik Dokter."sahut perawat dengan nada sopan.
Namesya tak begitu peduli dengan apa yang dua orang itu bicarakan. Saat ini ia sudah cukup senang karena sebentar lagi dia akan keluar dari sana.
"Oh iya. aku belum cari tempat tinggal yang kira-kira ngga jauh dari kantor."gumam Namesya,"ngomong-ngomong ponsel sama tas aku di mana?"tanyanya saat menyadari keberadaan tasnya yang tidak ada di ruangan itu.
"aku baru ingat dari kemarin aku ngga lihat tasku. Duh gimana dong. semua identitas ku ada di sana. ponselku, identitas karyawan, ATM, dompet dan segala macem ada di sana. gimana aku mau cari tempat tinggal kalau ponselnya ngga ada. masa iya aku mesti keliling tempat buat nyari tempat tinggal. Ya kalau cepet ketemu, kalau engga gimana."kata Namesya,"duh gimana ya."
Namesya berjalan mondar-mandir di kamar itu berusaha berpikir mencari jalan keluar. Cukup lama ia berpikir, namun tak menemukan titik terang.
"lagian dimana yah kira-kira tasku?"tanya Namesya.
###
Sementara itu di ruangan Alfin sudah datang ibu lelaki itu bersama seorang wanita cantik. Sesuai dengan dugaan Alfin bahwa ibunya akan datang bersama seorang gadis. Namun saat itu Alfin sedang rapat bersama seluruh jajaran Dokter di rumah sakit itu.
"Mas Alfinnya di mana Tante?"tanya gadis itu yang diperkirakan baru berusia 26 tahun. Sudah cukup usia untuk di nikahkan dengan Alfin, begitu menurut Meylani Wardani, ibu Alfin.
"Tadi pagi sih bilang katanya pagi ini ada rapat. Mungkin masih rapat."jawab Meylani seraya masuk ke ruang kerja Alfin."kamu duduk saja dulu. kita tunggu Alfinnya selesai rapat terus nanti siang kita ajak Alfin makan siang bareng."imbuh wanita itu.
Wanita yang entah masih gadis atau sudah menjanda itu menurut duduk dengan gaya anggunnya, menyilangkan kakinya setengah memamerkan paha mulusnya yang langsung terekspos saat rok mininya naik begitu wanita itu duduk. Tatapannya terus Travelling menatap sekeliling ruangan itu hingga kedua mata berbulu lentik itu melihat sesuatu yang cukup membuatnya tertarik.
"Bukankah itu tas branded keluaran terbaru bulan lalu. Aku sampai ngga kebagian karena kehabisan stok."gumam wanita itu saat melihat sebuah tas branded bermerk terkenal teronggok diam di sudut sofa tempat wanita itu duduk."Bukankah itu tas perempuan. Masa sih mas Alfin pake tas perempuan."lirih wanita itu seraya mengambil tas itu dan bermaksud untuk membukanya.
"Ressa. Tas siapa itu?"tanya Meylani.
Wanita bernama Ressa itu menoleh dan tersenyum salah tingkah,"ngga tahu Tante."jawab Ressa.
Meylani menatap Ressa dan berkata,"kenapa ada tas perempuan di ruangan Alfin? Kita ngga salah ruangan kan? ah. ngga mungkin salah. saya baru saja lihat foto Alfin di dalam. Tapi siapa pemilik tas ini."
__ADS_1
"Atau jangan-jangan mas Alfin sudah punya pacar?"tebakan sekaligus pertanyaan yang Ressa lontarkan.
"Masa sih."komentar Meylani.
"Ya buktinya ada tas perempuan di sini. Tas siapa coba kalau bukan tasnya pacar mas Alfin."Ujar Ressa yang merasa kecewa melihat ada tas perempuan di ruangan Alfin yang itu artinya pasti Alfin sudah punya pacar saat ini.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu kalau itu tas pacar Alfin."tanya Meylani.
"Ya... Dulu waktu saya punya pacar juga sering bawa tas ke tempat kerja pacar saya."jawab Ressa.
"terus kenapa di tinggal begitu aja."selidik Meylani.
"Mungkin orangnya lagi ikut mas Alfin rapat. Atau lagi ngeluyur atau lagi ke mana gitu. Ah udahlah. Mending Ressa balik aja. Tahu mas Alfin udah punya pacar mending aku nolak ajakan Tante buat ikut ke sini."Ressa berlalu pergi begitu saja dengan perasaan dongkol.
"Eh nak Ressa. Kenapa ngga nunggu Alfin dulu. Nanti kita bicara sama dia, tanya langsung sama dia."cegah Meylani.
"Udah lah Tante. Aku ada urusan lain yang lebih penting. Mending Tante tungguin sendiri aja sampai mas Alfin sama pacarnya ke sini."tolak Ressa dengan wajah arogan dan bergegas berlalu pergi.
Apa bisa dikata, Meylani membiarkan Ressa pergi begitu melihat betapa sombongnya gadis itu. Bahkan sebagai orang yang lebih tua, Meylani merasa tidak di hormati oleh wanita itu."Syukur deh kalau Alfin sudah punya pacar. Untung Ressa sudah pergi. huh. apa jadinya kalau ternyata nanti Alfin suka sama tuh bocah. Dasar ngga punya sopan santun sama sekali sama orang tua."omel Meylani mengomentari perilaku Ressa.
Teringat dengan tas bermerk yang ada di atas sofa, Meylani buru-buru meriah tas itu dan tanpa ragu membuka isinya. Ada beberapa barang di dalam sana, ada iPhone yang sudah kehabisan daya sekaligus chargernya, ada kartu identitas karyawan, ada KTP, dan dompet berisi beberapa kartu ATM. Meylani lebih tertarik pada KTP dan langsung memandangi KTP itu membaca isi yang tertulis di kartu identitas itu.
"Namesya Ayunda Kusuma..."Meylani membaca nama di KTP itu yang ternyata memang milik Namesya,"benar-benar cantik. Aduh kok aku ngga sabar buat ketemu sama dia. pasti aslinya cantik."Meylani memasang wajah semringah mengira jika Namesya adalah kekasih Alfin.
"Tapi kapan mereka baliknya. Apa Alfin masih lama rapatnya. ponselnya saja di tinggalin di dalam."gerutu Meylani,"kalau cari mereka, mau cari kemana. kalau ngga ketemu terus gimana."mulai gelisah karena ketidaksabarannya untuk bertemu dengan Namesya,"hhh... sudahlah. sebaiknya mengalah dan tunggu mereka kembali ke sini. lihat saja nanti. mereka tidak akan bisa mengelak setelah kepergok nanti. Dasar anak nakal. di tanya kapan nikah katanya belum punya pacar. tapi nyatanya... nyimpen bidadari secantik ini di belakang orang tuanya. Atau jangan-jangan Ryan sudah tahu hubungan mereka dan ikut bersekongkol menyembunyikannya."
Meylani langsung mengutak atik ponselnya dan mencari nomor putra bungsunya. Tak lupa wanita itu juga mengambil kartu identitas karyawan milik Namesya yang cukup membuat Meylani bertanya-tanya.
"Jadi dia bekerja di kantor papah. Jadi sekretaris CEO. apa dulu waktu papah masih aktif di perusahaan sekretarisnya dia juga."gumam Meylani seraya menunggu jawaban dari panggilannya,"ah. biar nanti tanya langsung aja sama papah di rumah."
tuuuut
tuuuuuuut
tuuuuuuuuut
Meylani setia menunggu Ryandika, putra keduanya menjawab panggilan darinya. setelah cukup lama menunggu akhirnya putranya itu menjawab.
"Halo putra mama yang tampan... lagi apa kenapa lama sekali jawabnya?"tanya Meylani.
"Lagi di kantor dong mah... lagi kerja. ini habis rapat sama klien."jawab Ryan.
"oh... ternyata dua putra mama itu pagi-pagi udah sibuk rapat semuanya."kata Meylani.
"iya mah... ini juga sebentar lagi mau nemuin klien lagi." sahut Ryan.
"oh... sibuk dong ya. mama ganggu ngga? mama mau tanya sesuatu."kata Meylani.
"ya mah. mau tanya apa?"timpal Ryan.
"Mama mau tanya soal sekretaris kamu yang namanya Namesya Ayunda Kusuma. apa bener dia sekretaris kamu?"tanya Meylani.
Sejenak Ryan diam di ujung panggilan,"Namesya Ayunda Kusuma."terdengar gumaman Ryan di ujung panggilan.
"Iya. Namesya Ayunda Kusuma. Dia sekretaris kamu kan? Dia pacar Alfin loh."kata Meylani tanpa ragu.
"Pacar kak Alfin? sejak kapan kak Alfin punya pacar mah? kok kak Alfin ngga pernah cerita sama aku? Mama tahu dari mana kalau Mesya itu pacar kak Alfin?"tanya Ryan yang nada bicaranya cukup terkejut mendengar penuturan Meylani.
"ya. tahu aja... tapi bener kan dia Sekretaris kamu."kata Meylani.
"ya. aku memang punya sekretaris yang namanya Namesya Ayunda Kusuma. Dia sedang cuti untuk satu bulan ke depan dan baru satu Minggu ini dia cuti. Tapi belum tentu Namesya sekretaris aku ini Namesya yang sama dengan Namesya yang mama kira pacar kak Alfin."terang Ryan.
"oke. kalau gitu biar nanti mama foto identitas karyawannya, terus mama kirim ke kamu. Di sini aja jelas banget kalau dia kerja di perusahaan kita kok."ujar Meylani.
"iya. iya... terserah mama deh kalau gitu."Ryan menyerah."ya udah dulu mah. aku harus pergi rapat lagi. nanti kita ngobrol lagi ya."pamit Ryan.
"ya udah. Kamu kerja yang bener ya. Jangan lupa sering-sering kasih kabar sama Qia biar kalian ngga merasa jauh. Nanti mama kirim foto identitas Ini ke kamu ya. biar kamu yakin dan percaya sama mama."kata Meylani.
"iya mah."
Meylani langsung mengambil gambar idestitas karyawan milik Namesya dengan kamera ponsel dan bergegas mengirim hasil fotonya pada Ryan. Meskipun putranya tidak langsung membuka isi pesannya itu tidak masalah. Setelah Ryan selesai rapat pasti putranya itu akan membalas pesannya.
"oke. selesai."gumam Meylani,"sekarang tinggal menunggu mereka kembali dan apa yang akan mereka katakan saat melihat ibu sekaligus calon mertuanya berada di sini."kata Wanita itu seraya tersenyum-senyum senang, tak sabar rasanya ingin bertemu dengan Namesya.
__ADS_1
###
Waktu terus bergulir cepat. Rapat dengan seluruh jajaran rumah sakit cukup memakan waktu begitu lama. Hampir tiga jam ia duduk di dalam ruang rapat, cukup menyita waktu dan juga pikirannya.
"Alfin."Andin berseru memanggil Alfin di depan lorong tempat ruang rapat di adakan.
"ya. ada apa?"tanya Alfin.
"Begini. Hari ini Namesya sudah boleh pulang. Apa tasnya masih ada di ruangan mu?"tanya Andin.
"ya."jawab Alfin singkat.
"oh. ya sudah itu saja. biar nanti aku kasih tahu Mesya buat ambil tasnya ke ruangan kamu."kata Andin.
"ya. Terserah."balas Alfin.
Mereka lanjut berjalan beriringan dan kemudian di susul Feres,"Gimana tangan kamu?"tanya Feres menanyakan keadaan tangan Andin.
"Baik-baik aja. cuma lecet doang."Andin menunjukkan telapak tangannya yang tertempel beberapa plester di sana.
"Emang kamu ngapain kenapa bisa sampai lecet-lecet begitu?"tanya Alfin yang tidak tahu apa yang tadi pagi terjadi di taman rumah sakit.
"ah. tadi pagi manjat pohon mangga. Metik mangga."jawab Andin.
"kayaknya udah baikkan nih sama suami."timpal Feres.
"apa hubungannya? ngga ada sejarah Andini Larasati balikan sama Frengky Abraham. Sekali cerai tetep cerai ngga ada kata rujuk. Biarin aja nanti istri barunya tahu kalau Frengky itu..."Andin mengarahkan telunjuknya ke atas dan langsung ia melengkungkan dengan perlahan, cukup membuat Feres tertawa gelak sedangkan Alfin hanya tersenyum kecil."iyalah. Enak aja aku di kata-kata mandul. Dia yang mandul malah aku yang di kira mandul."omel Andin yang tak merasa sungkan jika sudah mengobrol dengan dua lelaki itu.
"Ya. ya... Semoga kamu ngga nyesel aja vakum dari keluarga Abraham yang katanya kekayaannya ngga bakalan habis tujuh turunan."kata Feres.
"ya kalau punya keturunan. kalau engga."timpal Andin.
"Sudah-sudah. Jangan marah-marah terus."lerai Alfin.
"Aku bukan marah. Cuma ngga habis pikir aja sama keluarganya. Heran aku."balas Andin.
"Ya udah. kita pisah di sini ya. bye. selamat bertugas."Pamit Feres yang langsung berbelok ke arah berlawanan dengan Andin dan Alfin.
"oke. selamat bertugas."balas Andin, sedangkan Alfin hanya melambai kecil dan tiba-tiba teringat akan satu hal.
"Astaga."Alfin melebarkan tatapannya saat teringat jika hari ini ibunya akan datang ke tempat ia bekerja bersama putri entah kenalan mama atau teman arisan mama atau teman kerabat mama yang tidak jelas.
"ada apa?"tanya Andin.
"Aku lupa kalau mama mau datang. Kalau mama sampai lihat ada tas perempuan di ruanganku pasti mama bakalan curiga."kata Alfin.
"ya bilang aja itu tas punyaku yang ketinggalan di ruangan kamu."kata Andin.
"oh. ya. oke. semoga saja mama ngga lancang buka-buka tas orang."kata Alfin.
"Kamu sih ngga nikah- nikah."celetuk Andin sembari cengengesan.
Alfin menggaruk tengkuknya dan berkata,"mama aja yang ngga sabaran. emangnya jodoh bisa di pungut di sembarang tempat. Kalau aku tahu jodohku ada di mana pasti udah aku susul dia aku bawa ke depan mama."
"ya. semoga aja kamu cepat-cepat ketemu jodoh kamu."ujar Andin.
"ya semoga saja."Alfin sangat berharap agar segera bertemu dengan jodohnya.
Mereka pun bergegas kembali ke ruangan pribadi mereka sebelum lanjut ke ruang praktek mereka yang sudah pasti pasien mereka sudah menunggu mereka beroperasi.
Cklek
Alfin membuka pintu ruangannya dan...
"Alfin."Ibunya sudah duduk bersama gadis itu, bersama Namesya.
Rupanya Alfin terlambat mencegah apa yang ingin ia cegah.
Itulah awal pertemuan Namesya dengan ibu Alfin yang tanpa di sengaja, kesalahpahaman sudah membuat wajah Meylani begitu tampak bahagia dan sumringah.
'terkadang takdir tidak pernah mengetuk pintu kehidupan ketika ia hadir. Namun pertemuan akan menjadi awal sebuah takdir kehidupan seseorang.'
😊😊😊
__ADS_1