
Alfin memilih mundur dari perdebatan yang mengawali paginya dengan mengabaikan segala ocehan ibu tercintanya yang tak mau mengalah barang sedetik. Ia tak mau menambah dosanya dengan terus melawan ibunya melalui segala bantahan yang ia lontarkan.
Berangkat lebih awal menuju tempat pelariannya adalah cara terbaik untuk menghindar, ia pun langsung bergegas menuju Rumah Sakit dan meninggalkan ibunya di rumah.
"Selamat pagi Dokter Tama..."sapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya, berbeda dengan keluarganya yang memanggilnya dengan nama Alfin, di Rumah Sakit kebanyakan dari semua perawat dan Dokter-Dokter lain lebih memilih memanggilnya dengan sebutan Dokter Tama.
Diikuti senyum ramah, Alfin membalas sapaan mereka,"Pagi..."balasnya tanpa menghentikan langkah.
"Dokter Alfin selamat pagi..."kali ini sapaan sesama Dokter yang menyapanya.
Alfin sudah mengenal siapa yang menyapanya dengan nama Alfin, hanya satu orang di Rumah Sakit itu yang selalu memanggilnya dengan nama itu.
"Dokter Feres selamat pagi juga..."ia balas menyapa dan kali ini menghentikan langkahnya untuk menunggu seorang laki-laki bernama Feres yang sudah memakai jas putih khas seorang Dokter dengan kemeja warna biru langit yang ada di balik jas putih itu.
"Kau sudah datang sepagi ini? Apa kau sudah rindu pada pasien-pasienmu."canda Dokter Feres seraya menepuk bahu Alfin, keduanya sudah cukup lama menjalin pertemanan sejak Alfin bergabung di Rumah Sakit itu.
Alfin dan Feres melanjutkan langkah mereka,"Aku bangun pagi sekali hari ini. Kurasa aku punya banyak pekerjaan yang harus segera kutangani."Alfin memberi alasan atas kedatangannya pagi ini, sekalipun bukan sepenuhnya alasan itu menjadikan dirinya berangkat pagi hari ini.
"Wah aku rasa kau tidak hanya memperhatikan pasienmu, tapi sepertinya kau mencintai mereka."kelakar Feres.
Alfin tersenyum kecil dan menggeleng menanggapi ocehan temannya itu,"apa aku harus menikahi mereka semua jika aku mencintai mereka."ia balas bergurau.
"aku tidak akan melarangmu jika kau menginginkan mereka."Feres tak kalah untuk membalas candaan Alfin.
Memikirkan apa yang sedang mereka buat menjadi bahan candaan, Alfin termenung sejenak memikirkan tuntutan ibunya yang sudah sangat keterlaluan kali ini. Bagaimana ia tidak terusik jika ibunya mengancam akan menjodohkannya dengan putri siapapun yang mau menjadi pendamping hidupnya.
"Huft."Alfin membuang nafasnya memikirkan setiap huruf yang diucapkan dalam setiap kata yang ada dalam kalimat ancaman ibunya.
"Apa ada masalah?"tanya Feres yang menyadari perubahan ekspresi wajah Alfin yang tak bisa menutupi apapun yang tengah dipikirkan lelaki itu.
"ya. Memang ada."balas Alfin tak berusaha untuk menutupinya.
"Kau bisa menceritakannya padaku saat makan siang nanti. Aku dan Andin akan menjadi pendengar setia untuk masalahmu."kata Feres.
"cih."Alfin berdecak,"setelah mendengarnya kau pasti hanya akan menertawaiku tanpa memberikan solusi baik untukku."timpal Alfin.
Feres terkekeh dan berkata,"tapi bukankah Andin akan selalu memberikanmu solusi yang kau butuhkan."
Alfin tersenyum kecil dan mempercepat langkahnya,"mengobrol denganmu hanya akan mengulur waktuku untuk sampai ke ruanganku."katanya.
"Katakan saja kalau kau rindu pada ruanganmu."sanggah Feres, kali ini Alfin tak lanjut menanggapi ucapan Dokter spesialis jantung itu.
Lain dengan Feres yang berprofesi sebagai Dokter Spesiali Jantung, Alfin sendiri adalah seorang Dokter Spesialis Mata. Usianya yang sudah menginjak 29 tahun membuat ibunya semakin mendesaknya untuk segera menikah.
Alfin terus melangkah setelah dirinya berpisah dengan Feres yang ruangannya cukup jauh dari ruang praktek Alfin.
"Aku tidak bisa membiarkan mama menjodokanku dengan gadis pilihannya."gumamnya saat ingatannya teringat saat dirinya belum menempati rumahnya sendiri,"jangan sampai mama membawa gadis yang bahkan belum lulus SMA untuk dijodohkan denganku seperti waktu itu."gerutunya tentang ibunya yang pernah membuat janji temu dengan temannya yang memiliki putri yang belum lulus SMA dan mengenalkan gadis itu padanya.
Brugh
Alfin tanpa sengaja menabrak seseorang yang ternyata adalah seorang gadis yang melangkah berlawan arah dengannya, tepatnya di depan ruang praktek Dokter Andin.
"kau baik-baik saja?" tanya Alfin yang baru saja mencegah gadis itu jatuh akibat insiden tabrak bahu keduanya, ia menatap penuh selidik pada gadis di hadapannya berharap tak menemukan hal yang salah akibat dari senggolan mereka.
"aku baik-baik saja. Maaf."jawab gadis itu seraya mundur tanpa memandang lawan bicaranya, yaitu Alfin.
"Apa kau yakin? wajahmu pucat sekali."selidik Alfin menyadari akan wajah sang gadis yang tampak begitu pucat, sepucat bulan.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Maaf saya permisi."balas sang gadis seraya berlalu pergi sebelum Alfin lebih banyak melayangkan pertanyaan tentang keadaan gadis itu.
Alfin hanya membiarkan gadis itu pergi dengan harapan bahwa gadis itu memang baik-baik saja. Sebagai seorang Dokter ia memang memiliki perasaan yang begitu peka jika melihat ada hal tak wajar dari pasiennya maupun pasien Dokter lain.
"Wajahnya sepucat bulan, bagaimana dia bisa berkata kalau dia baik-baik saja."gumam Alfin masih merasa tak percaya dengan pengakuan gadis pucat itu, ia menengadah menatap tulisan yang tertulis di daun pintu ruang praktek Andin yang menunjukkan bahwa ruangan itu hanya diperuntukkan bagi semua wanita hamil yang ingin memeriksakan kandungannya.
Mengedikkan bahu, Alfin berlalu menuju pintu ruangannya sendiri.
#*#
Di dalam ruang praktek Dokter Andin, wanita berparas cantik yang memiliki rambut panjang sebahu dan terikat menjadi satu ikatan tengah memegang kepalanya yang sikunya bertumpu di atas meja.
"Bisa-bisanya dia memutuskan hal sebesar itu secara sepihak. Beruntung dia menemuiku bukan menemui yang lain."gumam wanita itu sebelum benda berwarna Rose gold yang tergeletak manis di atas meja bergetar menandakan ada yang menghubunginya melalui benda itu.
Sejenak wanita itu mengerjap, diam mengenali nomor yang tertera dengan nama yang masih menjadi nama untuk nomor itu, tak lama ibu jarinya bergerak mengusap layar ponsel mengarahkannya menuju ikon warna merah, ia me-reject panggilan dari nomor bernama Suamiku itu.
"Hhhh..."Andin menghela nafas dan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi kerja miliknya,"aku sudah putuskan untuk melepaskanmu sesuai keinginanmu dan orang tuamu. Bisakah kau membiarkan aku menenangkan diri sebelum hadir ke pengadilan."lirihnya dengan mata terpejam menahan sesaknya dada saat ia berusaha menarik nafasnya.
Saat waktu istirahat tiba, Alfin masih menangani pasiennya yang tengah memeriksakan mata setelah menjalani operasi satu bulan yang lalu. Lelaki itu mengabaikan panggilan Feres yang sudah pasti akan mengajaknya menuju kantin Rumah Sakit, seperti biasa dalam setiap kesempatan. Namun sebagai seorang Dokter, Alfin lebih memilih menangani pasiennya sampai tuntas.
"Terimakasih Dokter."ujar wanita yang menemani suaminya memeriksa keadaan matan pasca operasi.
"Sama-sama."balas Alfin dengan ramah dan pasienpun berlalu dari ruangannya.
Tangannya meraih ponsel di laci meja, Alfin mengecek ponselnya yang kembali bergetar,"Ya. aku sudah selesai. Pesankan saja untukku seperti biasa , aku akan segera sampai."katanya langsung setelah layar ponsel menempel di telinganya sembari melangkah keluar.
Sampainya di kantin, Alfin mengedarkan pandangannya mencari Feres yang sudah lebih dulu pergi untuk mengisi perutnya.
"Dimana Andin?"tanya Feres.
Feres mengangguk,"kurasa dia sudah pergi."katanya seraya meneguk air mineral miliknya.
"Pergi."Alfin sudah duduk dan mulai menyendok makan siangnya, tatapannya menatap penuh tanya pada Feres yang seolah mengetahui sesuatu.
"Apa dia tidak memberitahumu kalau dia akan bercerai dengan suaminya."kata Feres menerangkan.
Alfin menggeleng dan menyuapkan nasi beserta lauk ke mulutnya,"dia tidak cerita apa-apa padaku tentang hal itu."katanya kemudian.
"Ah, benar. Akhir-akhir ini kau sibuk sekali dengan pekerjaanmu sampai kau tak sempat makan di kantin bersama."ujar Feres.
Bahu Alfin terangkat sekilas,"jadi apa yang kau ketahui tentang rencana perceraian Andin?"tanyanya langsung.
"Ya. Kau tahu sendiri keluarga suaminya sudah lama menuntut perihal keturunan dari Andin. Kurasa Andin sudah tidak tahan dengan sikap keluarga suaminya itu, terutama ibu mertuanya."ungkap Feres yang sudah seperti ibu-ibu arisan yang suka bergosip.
Alfin memang sempat mendengar keluh kesah Andin tentang rumah tangganya yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan dan dambaan bagi dirinya yang seorang wanita. Namun, Alfin tak pernah menyangka jika keluh kesah itu akan berujung pada kata perpisahan melalui perceraian.
"Jadi apa kau akan melanjutkan perasaanmu yang sempat kau tunda?"tanya Feres tiba-tiba.
"Apa?"Alfin balik bertanya.
Feres meletakkan sendoknya dan berkata,"bukankah kau menyukai Andin."
Alfin mengerutkan kening, berhenti mengunyah makanan di mulutnya dan membalas tatapan Feres,"Aku hanya sempat mengaguminya. Aku sudah lama tidak memikirkan rasa kagumku padanya."balasnya.
"Kenapa kau tidak menggunakan kesempatan ini untuk mempertahankan rasa kagummu dan merubahnya menjadi suka."timpal Feres.
"Aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu. Pekerjaanku masih banyak dan aku tak sempat memikirkan hal itu untuk saat ini."balas Alfin.
__ADS_1
"Bukankah ibumu juga sedang menuntut calon menantu darimu?"tanya Feres memastikan jika masalah Alfin dengan ibunya masih terus berlanjut selama Alfin tidak membawa seorang wanita ke hadapan ibunya.
"Apa kau pikir akan semudah itu melakukannya. Bisa saja aku menyukai Andin, tapi apakah Andin juga menyukaiku sebagai seorang lelaki."timpal Alfin seraya menggelengkan kepala,"sebaiknya kau juga cari calon menantu untuk ibumu sebelum ibumu berubah menjadi seperti ibuku karena putranya terlalu lama melajang."tambahnya penuh sindiran.
Feres terkekeh mengingat dirinya sendiri juga belum pernah mengenalkan calon menantu pada keluarganya, jangankan calon menantu, dekat dengan wanita saja ia sangat sulit melakukannya. Feres bukan lelaki yang mudah untuk didekati oleh gadis manapun sekalipun ada banyak gadis yang berusaha mendekatinya. Apalagi semenjak ia merasakan betapa perihnya melepaskan seseorang yang begitu ia cintai tanpa sempat untuk dirinya mengungkapkan perasaannya. Menyimpan perasaan terlalu lama juga tidak terlalu bagus untuk dirinya. Namun di saat ia sudah lama mengabaikan perasaan itu dan berusaha menguburnya, ia harus kembali bertemu dengan seseorang yang pernah mengisi relung hatinya tanpa melakukan apapun terhadapnya. Hal itu mengingatkan kembali perasaan yang sempat terkubur, namun tidak begitu dalam sampai ia bisa menyeruak kembali keluar saat ingatannya kembali memancing rasa itu.
"Oh ya. Tadi pagi aku sempat berpapasan dengan seorang gadis."suara Alfin menarik setengah ingatan Feres yang sempat melayang itu,"wajahnya pucat sekali."tambahnya.
"Oh ya. Dimana kau melihatnya?"Feres balas bertanya.
"Di depan ruang Andin. Aku rasa dia pasien Andin. Di sana tidak ada ruang praktek Dokter lain selain ruanganku dan Andin. Dan aku merasa tidak memiliki pasien seperti dia."kata Alfin.
"Bagaimana rupanya? Apa dia cantik?"tanya Feres seraya mengeringkan mata penuh arti.
"Sudah kukatakan, wajahnya pucat."jelas Alfin.
"sepucat bulan."tanya Feres.
"ya."balas Alfin,"sepucat bulan. Bahkan lebih pucat dari bulan. Dia terlihat seperti orang sakit."tatapannya menerawang mengingat bagaimana wajah pucat yang terus menunduk, seakan jiwa gadis itu tidak ada di sana jika melihat tatapan kosong yang terlukis di wajah gadis itu.
"meskipun pucat, bukankah bulan akan tetap terlihat cantik."kata Feres.
"Ya. dia tetap terlihat cantik meskipun pucat."balas Alfin yang entah mengarahkan kata cantik untuk rembulan atau untuk sang gadis.
Senyum Feres mengembang mendapati Alfin tengah melamun saat membalas ucapannya, entah untuk siapa kata cantik itu tertuju, tapi Feres tak peduli.
"Makananku sudah habis. Apa kau tidak akan menghabiskan makananmu."kata Feres.
"Oh. Kau sudah selesai."balas Alfin seraya menatap piring kosong di depan Feres,"Kau pergilah dulu. Aku akan menyelesaikan makananku."
Feres mengangguk dan segera beranjak dari kursi,"Jangan lupa untuk mencari calon menantu untuk kau persembahkan pada ibumu."godanya seraya terus melanjutkan langkahnya.
Alfin hanya berdecih dan melirik tajam kearah kepergian Feres, ia belum memiliki kesempatan untuk membalas godaan temannya itu.
"Tunggu sampai aku menemukan titik lemahmu dan aku akan meledekmu."ancam Alfin.
Tak terasa hari cepat berlalu di saat Alfin enggan untuk pulang. Tentu saja ia enggan karena mengingat ibunya yang saat ini masih tinggal di rumahnya. Namun, tidak mungkin jika ia bermalam di Rumah Sakit dan membiarkan ibunya seorang diri di rumahnya. Menghindar tidak akan membuatnya bebas dari serangan ibunya yang selalu tiba-tiba memberinya banyak kejutan.
Dalam perjalanan pulang, Alfin tergerak untuk menepikan mobilnya saat melihat rembulan yang tampak begitu indah bersinar di langit bersama tebaran bintang yang melengkapi indahnya langit luas.
"Memang pucat,"komentarnya setelah lama memandangi bulan dari dalam mobilnya,"tapi tetap cantik dan indah."tambahnya sebelum menutup kaca pintu mobil dan melajukan kembali kereta besinya menuju istana kecilnya yang nyaman dan damai, tapi tidak untuk malam ini atau beberapa hari kedepan.
.
.
.
.
.
**salam hangat dari
Thor Thor yang baru belajar ini...😊😊😊
maaf ya kalau tulisannya kacau atau isinya yang ngga nyambung...**
__ADS_1