Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Bukan aku yang salah


__ADS_3

Dengan sangat berat hati, Feres membiarkan Arumi pergi dan berharap gadis itu tidak melakukan hal bodoh. Namun Feres tetap waspada dan mengikuti taksi yang membawa Arumi pergi. Gadis itu memang turun di depan gang kompleks rumahnya, namun cukup lama Arumi hanya berdiri menatap ke dalam gang tanpa ada tanda gadis itu akan melangkah maju.


Arumi berkali-kali menilik ponselnya yang bergetar karena panggilan dari Bu Sasmi. Namun gadis itu sama sekali tidak menjawab satupun panggilan wanita yang selama ini mengaku sebagai bibinya. Tapi hari ini, malam ini detik ini, waktu seakan ingin Arumi putar jauh mundur. Arumi ingin waktu ini kembali ke masa di mana orang tuanya tidak saling mengenal satu sama lain.


"Kenapa aku harus lahir?"lirih Arumi yang tak tahu cara untuk menangis karena luka hatinya terlalu dalam mengetahui jika ternyata selama ini ia hidup bersama ibunya."Kenapa aku harus lahir kalau aku tidak di akui."lirihnya lagi dengan tatapan getir, Arumi menatap ponselnya sejenak.


Prak


Gadis itu menghantamkan ponselnya ke batang pohon mahoni yang ada di sisi jalan. Benda itu retak dan tentunya sudah rusak.


"Apa sulitnya mengakuiku sebagai anak. Aku tidak masalah jika seumur hidupku orang-orang menghujatku dengan sebutan anak haram. Tidakkah kau tahu selama ini aku selalu mendambakan belaian seorang ibu, bahkan aku sering memimpikan sosok ibu yang bahkan tidak aku ketahui seperti apa wajahnya. Aku selalu memimpikan sosok seorang ayah yang selalu tak jelas seperti apa wajahnya. Tidakkah kau tahu betapa aku sangat bahagia setiap kali aku bermimpi tentang ayah dan ibu."oceh Arumi sebelum gadis itu berlari jauh dari gang.


Feres berusaha mengejar, namun laki-laki itu kehilangan jejak Arumi yang entah lari kemana.


"Sial. Bagaimana ini? Aku harus menemukan Arumi."umpat Feres setelah menemukan jalan bercabang dan tidak tahu harus memilih jalan yang mana.


Feres akhirnya berbalik arah dan kembali ke tempat mobilnya terparkir. Saat itulah Arumi keluar dari persembunyiannya.


"Maaf. Tidak semudah itu aku menganggapmu kakakku. Bahkan ibu kita sudah pasti berbeda. Apakah ibumu akan menganggapku putrinya."gumam Arumi,"Bukan aku yang salah. Tapi aku tetap akan dipandang salah oleh siapapun. Tidak ada anak haram yang di anggap suci oleh orang-orang."lirihnya lagi sebelum berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Arumi hanya akan mengikuti langkah kakinya yang terus melangkah tanpa arah. Kakinya akan berhenti berjalan dengan sendirinya setelah lelah. Saat hujan perlahan turun, Arumi tetap berjalan menyusuri jalan.


Jeddar


"Aaa."Arumi berteriak sembari menutup kedua telinganya saat tiba-tiba guntur terdengar mengambang di atas langit.


Meskipun merasa takut, Arumi tetap melangkah sembari tetap menutupi kedua telinganya. Bahkan saat gadis itu menyebrang dengan sembrono tangannya tetap menutup kedua telinganya. Rasa takutnya akan petir membuat Arumi tidak mendengar suara klakson mobil yang melaju ke arahnya.


"Aaaa..."


Brak


Mobil itu tak bisa mengelak dan langsung menghantam tubuh Arumi yang tiba-tiba menyebrang begitu saja. Kejadian itu berlangsung begitu cepat sampai Arumi tidak bisa membedakan antara rasa sakitnya dengan rasa takutnya.


"Bukan aku yang salah."lirih gadis itu sesaat sebelum pandangannya menggelap.


"Nona. Nona. Astaga. Bagaimana ini?"Ucap seorang laki-laki berpakaian rapi sembari berusaha menghubungi jasa ambulans."Halo. Halo. Saya ingin melaporkan kecelakaan di ruas jalan anggrek nomor 3. Ada satu korban di sini."ucap laki-laki itu dengan gugup karena dirinya sadar telah membuat nyawa seorang perempuan dalam bahaya.


"Nona. Tolong jangan mati. Aku bisa masuk penjara kalau anda mati."ujar laki-laki itu yang telah melepaskan jasnya dan menggunakan jasnya itu untuk menghalau pendarahan yang ada di kepala Arumi,"Ya ampun. Mimpi apa aku semalam. Kenapa aku harus menabrak orang seperti ini."


Tak berselang lama ambulans datang dan langsung membawa tubuh terluka Arumi. Laki-laki itu tanpa melupakan kesalahannya mengikuti ambulans di belakang. Sampainya di rumah sakit terdekat, Arumi langsung mendapatkan penanganan. Sementara laki-laki yang telah menabrak Arumi harus mondar-mandir di depan ruangan dengan perasaan cemas.


"Bisa tolong hubungi keluarga pasien? Kamu harus mendapatkan persetujuan operasi untuk pasien."seorang perawat tiba-tiba keluar.


"Saya bahkan tidak tahu siapa keluarganya. Tapi saya yang bertanggung jawab atas kecelakaan pasien. Saya yang akan menanggung semua biaya pengobatannya, jadi tolong lakukan yang terbaik untuk pasien."kata laki-laki itu.


"Baik. Silakan isi formulir persetujuan ini. Dan urus administrasinya."perintah perawat itu.


Laki-laki itu menandatangani surat persetujuan operasi darurat itu dan langsung pergi menuju tempat administrasi yang telah ditunjukkan padanya.


"Siapa nama anda tuan?"tanya petugas administrasi.


"Saya Jonathan."jawab laki-laki yang mengakui memiliki nama Jonathan itu.


"Baik. Ini silakan anda pergi ke kasir."perintah petugas itu.


"Terimakasih."jawab Jonathan.


Drrrttt


"Aish. Siapa lagi ini. Tidak tahu apa aku sedang pusing karena menabrak orang."omel Jonathan sembari menjawab panggilan tanpa melihat siapa pemanggilnya,"Ya. Ada apa!?"katanya ketus.


"Kau berani berkata kasar padaku Hem?"suara di sebrang panggilan membuat langkah Jonathan terhenti dan menilik layar ponselnya memeriksa siapa yang menghubungi lelaki itu.


"Maaf. Tuan. Saya tidak melihat kalau ternyata anda yang menghubungiku."kata Jonathan.


"Hem..."Sahut orang itu.


"Saya. Saya menabrak orang tuan. Saya. Saya sedang mengurusnya di rumah sakit mitra arivva."kata Jonathan.

__ADS_1


"Apa.?"tanya orang itu yang terus di panggil tuan oleh Jonathan.


"Benar tuan saya tidak bohong. Kalau tuan tidak percaya tuan bisa datang kemari. Saya tidak sengaja menabraknya karena gadis itu tiba-tiba menyebrang."kata Jonathan berusaha meyakinkan atasannya itu, lelaki itu terus melangkah menuju kasir dan memberikan rincian biaya yang harus ia bayar untuk operasi Arumi.


"Baiklah. Aku percaya padamu."Sahut bos Jonathan.


"Te-Terimakasih tuan."Jawab Jonathan.


"Apa kamu sudah menghubungi keluarganya?"tanya bosnya itu.


"Belum tuan. Gadis itu bahkan tidak mbawa identitas apapun. Ponselpun tidak ada. Jadi saya belum tahu identitasnya."jawab Jonathan.


"Hhh... Dasar pengemis sinting. Pasti dia sengaja membuat dirinya sendiri celaka agar nanti setelah sadar dia bisa menuntutmu dan meminta uang ganti rugi darimu."tuduh bos Jonathan.


"Jadi aku harus bagaimana tuan?"tanya Jonathan.


"Sudah kamu tenang saja. Aku akan pastikan dia tidak akan bisa menuntutmu setelah dia sadar nanti."kata bos Jonathan.


"Dia mengalami gegar otak tuan. Saat ini dokter sedang melakukan operasi darurat."kata Jonathan.


"Baguslah. Sekalian mati saja dia. Aku sudah paham dengan orang-orang seperti itu. Hanya saja dia sedang sial sampai kelakuannya membuat dia sekarat."oceh bos Jonathan.


Jonathan merasa ragu dengan ucapan bosnya,"masa sih dia berani membahayakan dirinya sendiri seperti itu?"gumam Jonathan seraya mengingat wajah Arumi sesaat sebelum gadis itu hilang kesadarannya,"tidak mungkin gadis semanis itu melakukan hal bodoh seperti itu."gumamnya lagi.


"Hei. Jo cepat urus urusanmu dengan pengemis sinting itu. Dan kerjakan tugasmu di sini."perintah bos Jonathan dengan tegas dan jelas.


"Tapi tuan. Nanti kalau ada yang mencariku bagaimana?"tanya Jonathan.


"tinggalkan saja nomor ponselmu. mereka akan menghubungimu kalau pengemis sinting itu mati."balas bos Jonathan yang terus menerus menyebut Arumi sebagai pengemis sinting.


"Baiklah."Jonathan pasrah dan mengikuti perintah bosnya itu.


"Ya sudah."


Tut


Tut


Tut


Jonathan pun pergi menemui bagian administrasi untuk meminta ijin keluar karena ada pekerjaan yang harus segera ia tangani sekarang. Dan lelaki itu cukup bernapas lega karena pihak rumah sakit tidak mempersulitnya setelah ia meninggalkan nomor ponsel dan KTPnya sebagai jaminan dia tidak akan kabur.


Dengan tergopoh-gopoh, Jonathan langsung berlari menuju lift setelah tiba di gedung perusahaan dan langsung menemui atasannya di ruangan yang letaknya berada di lantai teratas gedung berlantai 25 itu.


Tok


Tok


tok


"Masuk."Seru penghuni ruangan yang di atas pintu terpampang jelas pemiliknya.


Jonathan masuk dan menghampiri bosnya yang duduk di kursi putar mambelakanginya, tampaknya bosnya itu sedang menatap pemandangan kota dari ketinggian.


"Bagaimana urusanmu dengan pengemis sinting itu?"tanya bos Jonathan bersamaan dengan kursinya yang berputar, laki-laki itu tak lain adalah Revandra Aditama yang telah diangkat sebagai direktur utama perusahaan keluarga Aditama setelah ayah laki-laki itu secara resmi pensiun dari jabatannya dan menyerahkannya pada Evan.


"Masih dalam proses operasi."jawab Jonathan.


"Ish. Bagaimana bisa ada orang sebodoh itu merelakan dirinya celaka hanya demi uang."komentar Evan.


"Saya rasa dia bukan pengemis tuan."bantah Jonathan.


"darimana kamu bisa menyimpulkan kalau dia bukan pengemis."timpal Evan.


"Dia... Dia cukup cantik tuan."jawab Jonathan sesuai dengan isi pemikirannya yang menganggap Arumi cantik sejak pertama melihat wajah Arumi yang meskipun berlumur darah gadis itu tetap terlihat cantik.


"Dasar bodoh."Evan melempar pulpen pada Jonathan karena jawaban konyol asistennya itu.


"Tapi dia memang cantik tuan."Jonathan berusaha teguh dengan pendapatnya.

__ADS_1


"Itu yang berbahaya."kata Evan.


"Maksud tuan?"tanya Jonathan.


"Cantik itu tidak bisa menjadi bukti kalau gadis yang kamu tabrak itu bukan pengemis. Bahkan jaman sekarang ada banyak penipu berkedok apapun yang tidak membuatnya di curigai."kata Evan.


"Oh. Begitu."gumam Jonathan.


"Sudahlah. Kamu hanya perlu memastikan dia mendapatkan perawatan semestinya. Dan kalau dia sembuh dia berulah, aku akan mengerahkan seluruh pengacaraku untuk melawannya."kata Evan.


"Iya tuan."jawab Jonathan,"Jadi. Ada apa tuan memanggil saya kembali ke kantor?"tanya Jonathan mempertanyakan alasan Evan menyuruhnya kembali ke kantor setelah beberapa menit lelaki itu baru tiba di rumahnya.


"Buatkan saya kopi."jawab Evan asal.


"Hanya kopi."kata Jonathan.


"Iya kopi. Cepat buatkan saya kopi tanpa gula dan seduh dengan air panas sempurna."perintah Evan.


"Baik tuan."Jonathan langsung undur diri dan keluar untuk membuatkan kopi,"Kopi tanpa gula dan seduh dengan air panas sempurna. Tuan Evan benar-benar aneh. kopi tanpa gula itu pasti pahit, dan kalau menyeduhnya pasti pakai air panas."gumamnya.


Sementara itu Evan sudah beranjak dari kursi dan menatap pemandangan kota yang di guyur hujan sehingga kerlip lampu kota terlihat buram karena terhalang hujan.


"Sherly apa kabarmu? Kamu itu sama sepertiku. Kita sama-sama menyukai seseorang yang tidak memiliki perasaan khusus pada kita. Tapi kenapa kamu tidak mau mencoba untuk menerimaku. Lihat, dari segi apapun aku sudah lebih baik dari Feres. Apa kamu akan tetap memilihnya setelah kamu melihatku seperti ini?"kata Evan bermonolog.


Evan menoleh menatap sampul sebuah majalah yang modelnya tak lain adalah Sherly, Evan tersenyum kecil,"kamu masih secantik dulu. Tapi sayang kamu tidak pandai memilih siapa yang pantas untuk kamu sukai."gumam Evan.


"Tuan. ini kopinya. Tanpa gula dan di seduh dengan air panas sempurna."ujar Jonathan seraya meletakkan kopi di atas meja.


"Ya. kamu boleh pulang."perintah Evan.


"Anda yakin tidak membutuhkan apa-apa lagi?"tanya Jonathan.


"Tidak. Aku sudah cukup menyusahkanmu hari ini. Kamu boleh pulang. Dan untuk beberapa hari kedepan tidak usah datang ke kantor."kata Evan.


"Apa maksud tuan? Apa tuan memecatku?"tanya Jonathan.


Evan menatap Jonathan dengan kening berkerut samar,"memangnya apa yang sudah kamu lakukan sehingga aku pantas memecatmu?"tanya Evan.


"Itu... Aku pikir tuan memecatku karena aku menabrak orang."kata Jonathan.


"Aku tahu kamu tidak sengaja melakukannya. Pasti pengemis cantik itu yang sengaja ingin menjebakmu tapi dia sial karena jebakannya sendiri."kata Evan yang mengubah kata sinting menjadi cantik untuk mengatasi Arumi.


"Darimana tuan tahu kalau dia cantik?"tanya Jonathan.


Evan menarik napas,"bukankah katamu dia cantik. Maka anggap saja dia cantik. Meskipun aku tidak yakin kalau dia cantik. Aku tidak begitu percaya dengan pandangamu menilai seorang gadis."katanya kemudian.


Jonathan tersenyum kecil dan mengangguk,"Kalau begitu saya permisi tuan."pamitnya.


"Hem."sahut Evan yang sudah duduk kembali dan memandangi foto sampul majalah.


Jonathan akhirnya pergi dan langsung kembali menuju rumah sakit. Operasinya telah berjalan lancar dan kondisi vital Arumi sudah stabil, hanya menunggu waktu kapan gadis itu akan sadar.


"Hhh... Syukurlah kamu selamat."gumam Jonathan yang sedang duduk di kursi samping tempat Arumi terbaring dengan berbagai alat terpasang di tubuh gadis itu.


Jonathan mengamati wajah Arumi dengan seksama,"Kenapa aku seperti pernah melihatnya? Tapi di mana ya?"lelaki itu menggaruk kepalanya mencoba memutar otak karena merasa familiar dengan wajah Arumi.


Alis kanan Jonathan terangkat sembari mengedikkan bahunya,"Ah. Bagaimana aku mengingat wajah semua orang sementara setiap hari aku bertemu dengan banyak wajah. Huft. Mungkin dia hanya mirip dengan beberapa kolega yang pernah aku temui sehingga aku merasa familiar dengan wajahnya."gumam Jonathan menyangkal pemikirannya tentang wajah Arumi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.😊😊😊😊✌️✌️✌️


__ADS_2