
Alfin sedang membereskan meja kerjanya saat dering ponsel membuatnya berhenti sejenak demi menjawab panggilan dari sang ratu yang sangat ia sayangi.
"halo ma... Alfin sudah akan pulang. Mama jangan menungguku pergilah tidur."ujar Alfin sebelum mendengarkan alasan ibunya menghubungi dirinya,"apa?"gumamnya dengan wajah tertegun setelah mendengar ucapan ibunya yang memberitahunya kalau wanita yang siang tadi mengantar makanan untuknya meninggal akibat kecelakaan, tak lain wanita itu ialah Natasya kekasih Kevin.
"ya sudah. Alfin akan langsung ke rumah duka. Mama tunggu Alfin di sana."putus Alfin meminta ibunya menunggu di rumah duka.
Alfin menghela nafas seraya menatap ponselnya setelah panggilan terputus, ia kembali bergegas membereskan meja kerja dan pergi dengan tujuan menjemput ibunya.
Di rumah duka, semua orang memerankan peran masing-masing, ada yang menangis dengan perasaan tulus, ada yang sedih namun tak mampu menangis, ada pula yang hanya sekedar datang. Di depan tempat di mana Natasya terbaring tak bernyawa, di sana duduk bersimpuh seorang Kevin yang masih tak menyangka jika kekasihnya telah meninggal. Lelaki itu tidak menangis, namun luka dalam hati lelaki itu sungguh dalam.
'Tasya... aku hanya berharap kau pergi dengan tenang. Aku sudah memaafkanmu meskipun kau tidak pernah mengakui apa yang sudah kau lakukan di belakangku selama *ini.'B***atin Kevin**, lelaki itu sesungguhnya sudah lama tahu tentang perselingkuhan Tasya dengan laki-laki lain, namun ia tak pernah berusaha mengungkit hal itu sampai Tasya sendiri yang memberitahunya. Tetapi takdir berkata lain, wanita itu pergi tanpa pernah mengakui kesalahannya terhadap Kevin.
"Nak Kevin."Seorang wanita paruh baya menepuk bahunya dengan lembut.
"Tante. Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyembunyikan hubungan kami terlalu lama. Tapi..."Kevin menatap nanar wanita yang tak lain adalah ibu Natasya.
"Tante mengerti keadaanmu. Memang tidak mudah menjadi seorang publik figur yang terkadang harus menutupi segala hal."ujar wanita itu,"Tasya sudah pergi. Tante hanya berharap kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan bahagia. Dan... maafkan Tasya putri Tante."tambah wanita itu yang menyadari kalau ternyata putrinya berhubungan dengan laki-laki lain di belakang Kevin.
Kevin menggenggam tangan ibu Tasya dengan hangat,"Aku tidak pernah menyalahkan Tasya. Semua itu terjadi karena aku kurang perhatian padanya."
Ibu Tasya tersenyum di wajah berdukanya menatap wajah Kevin,"Sudahlah. Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Memaafkan Tasya sudah menjadi hal terbaik untuk putri bodoh Tante."
Dari kejauhan, seorang wanita berkerudung hitam tengah mengusap air mata di pipinya melihat Kevin dari sana. Saat tanpa sengaja Kevin melihat wanita itu, Kevin langsung bergegas menembus kerumunan.
"Mesya..."gumam Kevin yang mengenali wajah wanita berkerudung itu sebagai adiknya yang diusir dari rumah.
__ADS_1
Wanita itu adalah gadis berwajah pucat yang bertemu Alfin di rumah sakit, gadis yang menjerit seorang diri di dalam Apartemen sembari melempar test pack melalui jendela dan mengenali kepala Ferres, gadis itu tak lain adalah Namesya Ayunda Kusuma.
"Mesya..."seru Kevin memanggil adiknya sembari terus menerobos kerumunan.
Mendengar namanya di panggil, Mesya langsung bergegas pergi sebelum Kevin berhasil menemuinya. Ia belum siap untuk bertemu dengan kakak yang selalu melindunginya dan menceritakan alasan dirinya diusir dari rumah, meskipun sudah bisa dipastikan kalau ayah dan ibu mereka pasti sudah memberitahu Kevin tentang alasan dirinya diusir.
Namesya terus berlari sampai ia yakin Kevin tidak akan bisa menjangkaunya lagi.
"Hosh. Hosh..."nafasnya mulai tersengal karena lelah menghindar sampai ia bersembunyi di balik dinding tempat parkir,"Huft... bagaimana ini. aku harus cepat-cepat pergi dari sini."
Tap
tap
tap
"Apa kakak sudah pergi? harusnya dia tidak menemukanku."gumamnya setelah menyadari tidak ada kakaknya di area itu.
"aku harus segera pergi dari sini."putusnya seraya berdiri dengan sangat perlahan sembari terus berjaga-jaga mengamati sekelilingnya.
Setelah merasa benar-benar aman, ia menghela nafas dan membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat sembari melangkah. Namun...
Bugh
Tiba-tiba wajahnya membentur dada bidang seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya sejak ia bersembunyi di sisi mobil itu. Hidungnya yang ngilu membuat dirinya meringis kesakitan,"Ssshhh..."ia mendongak sembari mengusap hidungnya menilik siapa pemilik dada yang sudah membuat hidungnya sakit. Bulu lentik netranya tergerak saat kelopaknya bergerak mengerjap, netra itu tengah bersitatap dengan sepasang netra coklat kehitaman milik lelaki yang sama halnya tengah menatapnya. Lelaki itu adalah Alfin yang hendak mengambil mobilnya, namun mendapati seorang gadis tengah berjongkok di samping mobilnya.
__ADS_1
"Maaf."gumam Namesya seraya menundukkan wajahnya.
"Apa nona baik-baik saja?"tanya Alfin.
"Oh. ya, aku baik-baik saja."balas Namesya dan melanjutkan,"permisi."
Alfin hanya membiarkan Namesya pergi meskipun dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang janggal dalam hatinya. Netranya bahkan masih mengikuti kepergian gadis itu yang kemudian menghilang setelah keluar dari area parkir.
"Aku seperti pernah melihatnya,"gumam Alfin masih berusaha berpikir di mana ia pernah melihat gadis itu,"tunggu. Bukankah... Ah. benar sekali. Dia gadis pucat yang kulihat di rumah sakit."iapun teringat tempat di mana ia melihat Namesya,"Apa yang dia lakukan di sini? kenapa dia terlihat seperti sedang menghindari seseorang."tanyanya penasaran, namun ia mengedikkan bahu dan bermaksud untuk membuka pintu mobilnya.
"Tunggu sebentar."seru seseorang yang tengah berlari, orang itu adalah Kevin yang kehilangan jejak adiknya gara-gara seseorang mengenali dirinya sebagai seorang aktor dan meminta tanda tangannya.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya Alfin.
"Oh. apa anda melihat seorang gadis? dia tidak begitu tinggi kira-kira setinggi ini."ujar Kevin seraya mengukur tinggi Namesya seukuran bahunya,"Dia memakai kerudung hitam."tambahnya lagi.
"Apa dia melakukan kesalahan?"tanya Alfin.
"Tidak."balas Kevin,"Dia adik saya. Sudah beberapa hari dia tidak pulang ke rumah. Jadi saya sedang mencarinya."jelasnya.
"adik."lirih Alfin mencoba mencari kebohongan di wajah Kevin,"Maaf. saya tidak melihat gadis yang memakai kerudung hitam lewat sini."katanya yang memang tidak mendapati Namesya mengenakan kerudung hitam.
"oh. Baiklah. terimakasih."ujar Kevin yang langsung berlalu pergi mencoba kembali mencari Namesya.
"Adik yang kabur dari rumah,"lirih Alfin seraya membungkuk hendak memasuki mobilnya, namun gerakannya terhenti saat matanya menangkap benda hitam yang ada di dekat mobilnya,"kerudung hitam..."gumamnya meyakini benda hitam itu adalah sebuah kerudung hitam, ia memungut benda hitam itu dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Sementara itu, Namesya yang sudah berhasil menghindar dari Kevin bergegas memasuki taksi yang ia cegah, menyebutkan alat tempat tinggalnya dan duduk dengan sisa rasa lelah karena dirinya berlari sepanjang pelariannya. Ia menatap nanar keluar taksi, hatinya benar-benar hancur. Perlahan tangannya meraba perutnya yang datar, air mata lolos begitu saja dari sudut-sudut matanya.
Namesya Ayunda Kusuma, ia adalah gadis cantik yang selalu tampil ceria hingga memudahkan ia memiliki banyak teman bahkan sampai pengagum. Sudah hampir dua tahun ia bekerja di sebuah kantor periklanan yang membuat dirinya bertemu banyak bintang, terutama model. Ia menyukai pekerjaannya yang awalnya dia hanya menyiapkan keperluan beberapa model yang akan melakukan casting iklan saat ia masih menjadi pegawai magang. Namun setelah setengah tahun bekerja keras, akhirnya ia mendapatkan posisinya sendiri sebagai sekretaris CEO kantor periklanan itu.