Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
salah sangka


__ADS_3

Aroma khas kopi hangat menusuk Indra penciuman Namesya yang baru terjaga dari lelapnya. Menguap, meregangkan otot-otot tubuh yang masih menginginkan untuk bersantai, namun ia harus bergerak lebih agar netranya tak kembali terpejam, terlena karena hangatnya tempat tidurnya yang nyaman. Namesya bangun dan turun dari tempat empuk itu, sudah bisa menebak aroma kopi yang ia cium itu pasti berasal dari dapur apartemennya.


Tak lebih dari dua puluh menit, Namesya sudah keluar dari kamar lengkap dengan pakaian rapi. Meletakan tas berisi barang-barangnya, gadis itu lanjut duduk di kursi menatap kekasihnya, Alfin sedang sibuk seorang diri di dapur.


"Selamat pagi..."sapa Alfin sembari menuang adonan ommelet ke atas wajan.


"Selamat pagi... Kopinya dingin loh."Namesya membalas sapaan sekaligus mengingatkan lelaki itu tentang kopi yang sudah mendingin di meja.


"Hari ini aku bawain bekal ya. Biar kamu ngga telat makan kalau kamu sibuk dan ngga sempat ke kantin."kata Alfin seraya membalik ommelet buatannya.


Senyum merekah terlukis di wajah Namesya, ia beranjak menghampiri Alfin dan memeluk lelaki itu dari belakang,"Terimakasih... Harusnya aku yang pagi-pagi buatin bekal buat kamu."kata Namesya.


"Nanti kalau udah jadi istri jangan lupa buatin bekal ya."balas Alfin seraya menengok Namesya di belakangnya.


"Jadi istrinya kapan..."Namesya merengek manja.


"Secepatnya... Tunggu tanggal mainnya aja."balas Alfin.


"Ditunggu selalu..."balas Namesya menanggapi sembari terkikik pelan, kenyataannya ia memang sudah siap jika lelaki itu mengajaknya menikah.


Setelah bermesraan di dapur, Alfin dan Namesya sarapan bersama dengan menu ala kadarnya buatan tangan seorang lelaki yang begitu mencintai wanitanya.


"Oh ya aku lupa belum minta bantuan kak Kevin buat jemput Raya di bandara."kata Namesya teringat janjinya pada raya, tangannya langsung bergerak mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Emangnya sampai jam berapa?"tanya Alfin.


"Katanya jam sepuluh."balas Namesya yang sedang mengetik pesan untuk kakaknya, Kevin.


Alfin mengangguk menanggapi sembari bergumam "oh" namun tidak begitu jelas terdengar, lelaki itu fokus pada sarapannya.


"Halo kak Kevin." Namun Namesya memutuskan untuk menghubungi langsung Kevin karena takut Kevin tidak kunjung melihat pesannya.


"Ada apa? tumben pagi-pagi telfon kakak."ujar Kevin di sebrang.


"Bisa minta bantuan? Kak Kevin tolong jemput Raya di bandara nanti jam sepuluh. Bisa ya."Namesya langsung pada intinya.


"Jam sepuluh..."Kevin terdengar menimbang,"Oke. Bisa. Emang Raya ngga sama suaminya."


"Suaminya sibuk..."balas Namesya sembari menyuapkan satu sendok sarapan ke mulutnya.

__ADS_1


"Oh... Ya udah. Nanti kakak jemput dia."balas Kevin.


"Ya udah aku tutup ya. Jangan lupa jemput Raya."Namesya memutuskan sambungan dan kembali pada sesi sarapannya.


Di sebrang Kevin langsung menyimpan ponselnya, ternyata lelaki itu sedang berada di apartemen Andin. Wanita itu sedang berada di kamar, bersiap-siap untuk berangkat


ke rumah sakit.


"Siapa? Mesya?"tanya Andin yang sempat mendengar Kevin berbicara di telfon.


"Iya."Balas Kevin tanpa menjelaskan alasan Mesya menghubunginya,"Udah selesai? berangkat sekarang?"tanya lelaki itu.


Andin mengangguk sembari mengecek isi tasnya,"Nanti malam ngga usah jemput. Aku lanjut tugas malam ini. Ada pasien yang harus operasi nanti malam."kata wanita itu.


Ya. Saat ini Andin dan Kevin memang sudah sangat dekat, meskipun tanpa adanya status jelas dalam kedekatan mereka. Namun Kevin selalu bersikap seperti seorang kekasih yang akan selalu ada untuk Andin, salah satunya mengantar jemput wanita itu bekerja. Bagi Kevin, sebuah kenyataan akan sikapnya lebih penting sebelum sebuah pernyataan menjelaskan semua alasan dari sikapnya selama ini.


"Kamu tidur di rumah sakit lagi?"tanya Kevin yang sejatinya sudah terbiasa mengetahui Andin yang sering tidur di rumah sakit karena pekerjaan wanita sebagai dokter kandungan yang akan tiba-tiba di butuhkan. Meskipun ada dokter pengganti, namun Andin lebih memilih menangani semua pasiennya sendiri.


"Mau bagaimana, ini pekerjaanku."balas Andin, mengedikkan bahu dan menautkan tas ke bahu sementara keduanya melangkah menuju pintu.


"Besok malam ada acara ngga?"tanya Kevin setelah mereka berdua keluar dan berjalan menuju lift.


Kevin mengangguk,"Kalau ngga ada halangan aku mau ngajak kamu makan malam."kata lelaki itu.


Andin menoleh sekilas dan tersenyum tipis,"Kita lihat besok. Aku ngga bisa janji."ujar wanita itu.


"Oke."balas Kevin.


Mereka memasuki lift yang hanya mereka berdua di dalamnya. Raut wajah Andin terlihat ingin menanyakan sesuatu pada Kevin, namun wanita itu belum memiliki kesempatan pas untuk mempertanyakan sesuatu yang cukup membuatnya terganggu.


"Mmm... Kayaknya Arumi udah di lamar sama seseorang. Aku ngga tahu kalau dia punya pacar."kata Andin pada akhirnya.


Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Andin telah dibuat merasa nyaman diperlakukan baik oleh kevin. Dan rasa nyaman itu membuatnya berharap lebih, namun ia takut untuk sekedar berharap. Sebab ia pernah tersakiti dalam pernikahannya bersama Frengky, mantan suaminya yang akhirnya menyerah untuk membuatnya tetap bersama lelaki itu. Dan selama ini, Kevin selalu berada di sampingnya, membantunya segala hal melewati sekian banyak masalah yang timbul tenggelam dan datang silih berganti.


Andin berharap, mungkin suatu hari nanti Kevin akan memberikan suatu pernyataan untuk memperjelas sikap lelaki itu selama ini. Sebab, Kevin tak pernah mengatakan bahwa lelaki itu ingin berteman dengannya ataupun hal lain. Hubungan mereka benar-benar tidak jelas, meskipun mereka sering bersama.


Dan kini sesuatu telah membuat Andin memiliki suatu pertanyaan, yaitu tentang Arumi yang tidak ia ketahui jika gadis itu memiliki kekasih. Gadis itu pernah menghilang, namun akhirnya kembali setelah satu bulan berlalu, dalam keadaan baik-baik saja. Tak banyak yang Andin ketahui pasti tentang Arumi, namun wanita itu menjadi penasaran saat melihat cincin berlian dengan bentuk cantik dan elegan melingkar di jari manis Arumi.


Masalahnya... Andin pernah melihat cincin itu di ruangan Kevin, di cafe lelaki itu. Tepatnya di atas meja. Benda itu dengan indahnya teronggok di dalam sebuah kotak cincin berwarna gold berbentuk hati, dengan penutup yang terbuka membuat Andin melihat benda cantik itu di sana, sangat indah dan elegan. Saat itu senyum Andin menjadi merekah, berpikir jika benda itu mungkin akan diberikan Kevin padanya. Namun perkiraan itu harus jatuh berkeping saat melihat benda itu jelas melingkar di jari manis gadis lain. Gadis yang masih sangat muda, cantik dengan kesederhanaannya, dan tentunya gadis itu pasti masih single. Belum menikah seperti dirinya, berbeda dengan dirinya yang sudah berstatus janda. Meskipun ia seorang janda yang masih utuh tersegel, itu hal pasti karena mantan suaminya adalah seorang laki-laki impoten.

__ADS_1


Dulu... Andin sama sekali tidak mempermasalahkan kekurangan lelaki itu dalam hal s*k$. Namun karena Andin tak juga memberikan keturunan untuk keluarga Frengky, menjadikan hal itu masalah yang akhirnya mengundang masalah lain dan menguak masalah tersembunyi yang lain juga. Dan yang membuat Andin kecewa adalah Frengky pernah menyuruhnya untuk berhubungan dengan orang lain jika ia menginginkan kehangatan di atas ranjang. Namun Andin tahu benar, itu di lakukan Frengky semata untuk menutupi keadaan lelaki itu yang ternyata impoten, sama sekali tak bisa terbangun sekalipun suara genderang bertabuh hebat di sekitar lelaki itu memancing bira*i.


Yah. Itu hanya sepenggal masa lalunya yang sudah lama ia ikhlaskan dan tak bisa ia lupakan tentunya. Sebab masa lalu tak akan benar-benar bisa dilupakan semudah lidah mengucapkannya. Saat ini, Andin hanya ingin memandang ke depan menentukan masa depannya akan seperti apa kelak.


Apakah ia akan menikah lagi?


Dengan siapa ia akan menikah lagi nanti?


Dan, apakah lelaki yang ia harapkan saat ini memiliki perasaan yang sama seperti dirinya?


'Apakah aku salah mengartikan sikapnya?'batin Andin bertanya sembarii sesekali melirik Kevin yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Kevin."Andin terlihat begitu ragu menyebut nama lelaki itu.


"Ya."Sahut Kevin yang sekilas menoleh dan tersenyum kecil pada lawan bicaranya.


"Kamu tahu tidak siapa pacar Arumi?"tanya Andin mengulang pertanyaan sebelumnya yang tidak mendapatkan jawaban.


"Hmmm... Ya. Aku tahu."jawab Kevin pasti.


'Apa pacar Arumi itu kamu? Itu sebabnya kamu tahu siapa laki-laki yang telah melamar arumi.'batin Andin.


"Oh."Gumam Andin dengan anggukan tanpa semangat.


"Kenapa memangnya? Aku pikir kalian sering bepergian bersama. Apa Arumi tidak pernah menceritakan pada kalian para perempuan tentang siapa laki-laki yang sudah melamarnya."kini Kevin yang bertanya.


"Dia terlalu pendiam. Aku seperti bicara dengan patung saat di dekatnya. Dia... Ah. Dia seperti berlian yang mengundang banyak orang untuk mendapatkannya. Namun ia seolah tak tahu dan tak mau tahu orang-orang di sekitarnya. Tapi dia akan seperti seorang adik yang begitu pengertian saat bersama Mesya."kata Andin dan melanjutkan seperti sebuah gumaman,"Atau seperti seorang kakak yang memperlakukan Mesya seperti adiknya."


"Dia memang seperti itu. Kalian tidak begitu dekat karena belum saling mengenal saja. Kalau sama Mesya ya tentu saja mereka dekat. Arumi pernah menggantikan bibinya mengurus rumah Alfin saat Mesya tinggal di sana. Saat itulah mereka menjadi dekat, kata Bu Sasmi Arumi jarang bisa bersosialisasi dengan orang lain. Dekat dengan Mesya adalah suatu kebahagiaan Bu Sasmi melihat Arumi bisa memiliki seseorang yang dekat dengannya."kata Kevin menceritakan awal pertemuan Namesya dengan Arumi beberapa bulan yang lalu.


Andin, wanita itu diam-diam membuang napas. Berat dan terasa sesak di dalam dadanya saat ini. Menerka berbagai hal yang mungkin telah terjadi sebelum ia mengenal Kevin.


'Lelaki terkenal dan baik sepertimu... siapa pun pasti akan sangat mudah mencintaimu.' Andin membatin seraya menatap jalan yang berlalu lalang tertinggal cepat karena laju mobil yang terus meluncur, namun rasa sesak itu masih ada di dalam dada.


'Jika Mesya sudah lama mengenal Arumi, pasti Kevin juga begitu, bukan? Arumi... Dia... Ah. Sial. Kenapa ada gadis semanis dan secantik dia di dunia yang penuh dengan topeng berkedok make up saat ini.' Gusar hati Andin semakin menjadi mengingat betapa polosnya kecantikan yang di miliki Arumi yang cantik dan manis meski tak memakai make up tebal.


Wanita itu jelas tak sadar jika isi pikiran dalam tempurung kepalanya yang bernama otak itu sangat jauh dari hal yang sesungguhnya. Sebab yang melamar Arumi jelas bukanlah Kevin, namun lelaki lain dalam cerita cinta dan kisah hidup yang lain pula. Meskipun cincin yang ada dalam ruangan Kevin memang benar adanya, namun keberadaan benda itu di sana di sebabkan karena pemilik benda itu, lelaki yang sudah melamar arumi tidak sengaja meninggalkannya di sana, atau mungkin terjatuh di ruangan Kevin.


Yang Andin pikirkan hanyalah sebuah prasangka yang salah. Hanya kesalah pahaman semata.

__ADS_1


__ADS_2