Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Gara-gara status


__ADS_3

Flashback satu tahun lalu...


Arumi adalah satu-satunya perempuan yang hari itu melamar pekerjaan sebagai Cleaning servis. Dan beruntung gadis itu di terima setelah melalui sedikit wawancara. Salah satu orang yang bertugas wawancara hari itu adalah Jonathan, asisten pribadi Evan.


Sebab itulah Jonathan merasa familiar dengan wajah Arumi karena mereka sempat bertemu saat Arumi melalui wawancara hari itu. Hanya saja kapasitas ingatan Jonathan mungkin sedang berkurang saat itu sehingga Jonathan melupakan wajah cantik yang menjadi satu-satunya perempuan yang di terima wawancara hari itu.


Hari itu secara khusus Evan memang menyuruh Jonathan terjun langsung untuk memberikan wawancara dan memerintahkan Jonathan untuk langsung menerima jika ada seorang gadis bernama Arumi malamar pakerjaan hari itu. Entah dari mana Evan mengetahui kalau hari itu Arumi akan melamar pekerjaan di sana.


flashback off dan kembali pada masa sekarang di mana Arumi masih terbaring tenang di atas tempat tidur pesakitan rumah sakit itu.


"Dokter yakin kalau dia baik-baik saja?"tanya Jonathan yang merasa khawatir dengan keadaan Arumi yang belum ia ketahui namanya.


"Semuanya dalam kondisi stabil. Sekarang hanya perlu menunggu kesadaran pasien pulih dari trauma yang terjadi karena kecelakaan itu. Dan kami menemukan adanya zat yang berasal dari obat anti depresan. Sepertinya nona ini sudah lama mengalami depresi sehingga nona ini mengkonsumsi obat anti depresan. Jika di tambah dengan trauma karena kecelakaan ini, itu memungkinkan pasien enggan untuk memulihkan kesadarannya."jawab dokter yang menangani Arumi.


"Ah. begitu rupanya. Kasihan sekali dia."Jonathan menatap iba pada Arumi,"Pasti keluarganya sedang sibuk mencarinya kemana-mana. Apa aku perlu melaporkan dia ke polisi agar aku bisa cepat menemukan identitasnya."


Sudah dua hari Jonathan menjaga Arumi yang tidak kunjung sadar itu dan sudah dua hari pula ia tidak bekerja. Evan menyuruhnya fokus merawat gadis itu. Saat itu Jonathan berpikir untuk menjadikan wajah Arumi sebagai status di aplikasi Wup-nya dengan caption 'Semoga lekas sembuh'.


ddrrrrttt


Jonathan menjawab panggilan video dari Evan yang katanya akan membantunya mencari tahu siapa gadis yang sudah ditabraknya itu. Saat panggilan terhubung, saat itu kamera belum teralih ke kamera depan sehingga dari layar ponsel Evan langsung bisa melihat jelas siapa gadis yang sedang terbaring lemah itu.


"Jo. Coba dekatkan lagi kameranya ke wajahnya."perintah Evan setelah Jonathan mengganti kamera ke kamera depan.


Jonathan menurut dan mengarahkan kamera depannya ke wajah arumi,"memangnya ada apa dengan wajahnya tuan?"tanya Jonathan.


"Hanya ingin memastikan sesuatu."jawab Evan.


"Begini tuan."kata Jonathan.


"Oke sudah."timpal Evan,"Sekarang hapus statusmu itu."perintah lelaki itu.


"Kenapa tuan?"tanya Jonathan.


"hapus saja sekarang."perintah Evan dengan sangat tegas.


"Baik tuan."jawab Jonathan.


"Setelah itu urus kepindahannya ke rumah sakit dokter pribadiku."perintah Evan lagi.


Jonathan tidak tahu maksud pasti Evan, namun lelaki itu tak bisa melakukan hal lain selain mengikuti perintah bosnya itu. Dan akhirnya Jonathan menghapus statusnya dan langsung menghubungi rumah sakit dokter pribadi keluarga Aditama untuk mengurus kepindahan Arumi ke rumah sakit itu.


Beberapa jam kemudian, petugas dari rumah sakit dokter pribadi Evan datang untuk menjemput Arumi. Setelah melalui beberapa prosedur yang bisa di lewati dengan mudah, Arumi pun di pindahkan.


Tidak tahu apa yang sedang Evan rencanakan. Namun lelaki itu tidak tahu akan takdir yang akan berubah suatu hari nanti. Takdir itu berubah sejak rasa pedulinya pada Arumi tumbuh semakin subur di dalam hatinya.


Di rumah sakit yang baru, Arumi di tempatkan di kamar VIP yang ruangannya lebih mirip seperti kamar hotel, begitu luas dan sama sekali tidak seperti kamar rumah sakit pada umumnya. Ya namanya juga VIP, sudah pasti semuanya beda dari segi apapun jika di bandingkan dengan kamar non-VIP.


"Kenapa tuan memindahkannya ke kamar sebagus ini?"tanya Jonathan.


"Untuk melindungi citra perusahaan kita."jawab Evan, tentu saja itu hanya sebagian dari alibi lelaki itu.


"Maafkan saya tuan. Gara-gara kecerobohan saya tuan harus berkorban sebanyak ini."lirih Jonathan merasa jika apa yang dilakukan Evan benar-benar demi citra perusahaannya.


"Sudahlah. Jangan di pikirkan. Fokus saja pada pekerjaanmu. Mulai sekarang biarkan perawat di sini yang akan merawatnya. Kamu fokus pada pekerjaan di kantor. Susi tidak bisa membuat kopi seenak buatanmu."kata Evan, lagi-lagi membuat alibi agar Jonathan tidak perlu merawat Arumi di rumah sakit itu.


"Tapi kalau nanti dia sadar dan mencariku bagaimana?"tanya Jonathan.


"Aku akan turun tangan dan membungkam mulutnya dengan uang. Sudah. jangan terlalu cemas dan berhenti memikirkan gadis itu."kata Evan.

__ADS_1


"Baik tuan."Jonathan menurut,"Jadi saya sudah boleh kembali bekerja di kantor."katanya memastikan.


"kalau kamu masih mau bekerja ya berangkat ke kantor sekarang."perintah Evan.


"Baik tuan."Jonathan langsung pergi mengikuti Evan yang berjalan di depannya.


"Kamu berangkat saja dulu. Aku harus menemui dokterku sebentar."perintah Evan.


"Kalau begitu saya akan menunggu tuan di mobil."kata Jonathan.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar."tolak Evan.


"Karena itu saya akan menunggu tuan di mobil. Bukankah cuma sebentar."Jonathan bersikukuh.


Evan melotot dan berkata,"Pergi lah kekantor lebih dulu. Buatkan aku kopi seperti malam itu, dan jangan lupa bereskan ruanganku. Bersihkan seluruh dinding kacanya serta pel lantainya."


Jonathan cukup merasa heran dengan perintah Evan yang terdengar sangat konyol, sebab semua pekerjaan selain membuatkan kopi itu pasti sudah dikerjaan oleh cleaning servis kantor.


"Hhh... Tuan Evan kadang-kadang memang aneh."gumam Jonathan sembari menghidupkan mesin mobilnya.


Sementara itu, Evan memang menemui dokter pribadinya yang memeriksa keadaan Arumi.


"Apa ada yang salah dengan operasinya? Kenapa dia belum bangun juga?"tanya Evan penasaran.


"Tidak ada. Semua alat vitalnya berfungsi normal, hanya saja setiap pasien akan mengalami trauma yang berbeda-beda setelah mengalami kecelakaan. Sepertinya pengaruh depresi menjadi faktor penyebab mengapa pasien enggan untuk bangun dari alam bawah sadarnya."tutur sang dokter.


"Depresi?"Evan melirik Arumi yang terbaring dengan infus serta alat bantu pernapasan.


"Benar. Kami juga menemukan adanya zat yang terkandung dalam obat anti depresan dalam darahnya. Dia sudah cukup lama mengkonsumsi obat tersebut, bisa diperkirakan sekitar dua tahun."jawab dokter berrambut dua warna dengan empat mata menghiasi wajah tuanya.


"Dua tahun dia mengkonsumsi obat anti depresi."gumam Evan,"Hhh..."lelaki itu menghela napas berat demi mengurangi rasa sesak yang tiba-tiba terasa dalam dadanya.


"Apa gadis ini pacarmu?"tanya dokter itu.


"Apa dia gadis incaranmu?"tanya dokter itu lagi.


Evan menggeleng pelan,"Dia tertabrak oleh sekretarisku. Aku harus ikut bertanggung jawab karena ini menyangkut citra perusahaan. Dokter harus bisa membuatnya bangun apapun caranya."kata Evan.


"Saya akan melakukan yang terbaik."jawab sang dokter.


"Bagus."balas Evan sebelum berlalu meninggalkan ruangan itu.


Di tempat yang lain, semua orang di buat cemas karena hilangnya Arumi sejak hari itu. Feres dengan semua koneksinya sudah mencoba mencari tahu keberadaan Arumi. Sedangkan Bu Sasmi hanya bisa menangis meratapi hilangnya Arumi.


"Ini semua karena ulah putramu. Andai dia tidak ikut campur dan membuka rahasia pasti Arumi tidak akan menghilang seperti ini."Umpat Bu Sasmi pada Rahardi.


"Aku sudah melarangnya menunjukkan hasil tes DNA itu. Tapi Arumi yang mengambilnya dan membukanya sendiri tanpa sepengetahuan Feres."bantah Rahardi.


"Andai aku tahu Feres itu putramu, aku akan bersikukuh melarang Arumi bekerja di rumahnya."kata Bu Sasmi.


"Mita... Ayolah. Aku mohon jangan seperti ini. Bagaimanapun juga aku ini ayah Arumi. Aku juga berhak melindunginya. Feres dan Rio tetaplah kakak Arumi meskipun mereka beda ibu tapi mereka adalah anak-anakku juga. Dan seperti yang kamu tahu, Feres sangat menyayangi Arumi meskipun dia tahu rahasia masa lalu kita."kata Rahardi,"Andai waktu itu kamu tidak pergi mengikuti perintah ibuku. Pasti semua ini tidak akan terjadi."


"Apa kamu pikir aku pergi tanpa alasan. Kau pasti sudah bukan lagi penyandang nama Sanjaya kalau aku tetap bertahan di sana bersamamu."kata Sasmi.


Rahardi membuang napas kasar dan meraup wajahnya dengan kedua tangannya,"Apa kamu takut aku menjadi miskin jika ibuku mencoret namaku dari daftar nama keluarga? Apa kau takut aku tidak bisa membahagiakanmu dengan aku keluar dari daftar nama keluarga? Aku bahkan rela membuang semua harta dari keluargaku jika aku di beri pilihan untuk memilih."kata Rahardi.


Sasmi menatap Rahardi,"Bukan kemiskinanmu yang aku takutkan. Aku hanya tidak ingin memisahkan seorang putra dari ibunya. Aku tidak ingin menjadi benalu yang merusak kebahagiaan sebuah keluarga. Aku yang terlalu bodoh karena terhasut oleh perasaanku sendiri dan melupakan kenyataan bahwa kau sudah memiliki anak dan istri."katanya dengan tegas penuh penekanan.


"Bisakah kita melupakan semua masa lalu. Bisakah kita berdua bekerja sama untuk membahagiakan putra putri kita. Membahagiakan Arumi. Aku ingin memberinya banyak hal yang tidak pernah aku berikan padanya sebagai seorang ayah. Aku mohon Mita. Bisakah kita mengesampingkan masa lalu kita dan fokus pada Arumi saja. Katakan padanya bahwa kau dan aku adalah orang tua kandungnya saat kita menemukannya nanti."kata Rahardi penuh permohonan tulus.

__ADS_1


"Dia pasti akan mengatasi dirinya anak haram jika kita memberitahunya."kata Sasmi.


"Maka ayo kita bekerja sama untuk membuktikan bahwa dia bukanlah anak haram. Dia lahir bukan karena kesalahan. Hanya takdir yang membuat kita menjadi seperti sekarang. Semua yang terjadi bukan salahnya. Ayo kita bahagiakan Arumi."pinta Rahardi.


Sasmi menangis mengingat semua kenangannya bersama Arumi, betapa kerasnya ia berjuang melindungi Arumi seorang diri. Ketakutannya adalah memberitahu Arumi kenyataan bahwa gadis itu adalah putri kandungnya. Hatinya selalu merasa sakit setiap kali Arumi mengatakan ingin sekali bertemu dengan orang tuanya meskipun hanya dalam mimpi.


Ingin sekali Sasmi mengatakan pada Arumi bahwa dialah ibunya. Namun ia takut Arumi akan membencinya dengan segudang alasan karena kesalahannya sebagai seorang ibu yang tidak bisa melindunginya. Sasmi takut kehilangan Arumi.


"Mas."


Rahardi dan sasmi menoleh ke asal suara, di ambang pintu Siska tengah berdiri menatap mereka.


"Siska."Rahardi bangkit dari kursi, sedangkan Sasmi hanya bisa menunduk merasa tidak pantas untuk sekedar memandang istri Rahardi.


"Darimana kamu tahu aku di sini?"tanya Rahardi.


Siska tetap tersenyum dan memasang wajah tenang,"Maaf aku sudah lancang mengikutimu. Sebenarnya aku mendengar semua yang kamu dan Feres katakan malam itu. Sejak hari itu aku menyuruh orang untuk mengikuti kalian berdua."kata Siska.


Rahardi menunduk karena memang merasa bersalah,"Maafkan aku."lirihnya.


"Aku yang seharusnya meminta maaf. Kau tentu tahu kalau selama ini aku terpaksa mencintaimu. Aku tidak pernah menjadi istri yang baik untukmu dan membiarkan bayang-bayang masa laluku menjadi penghalang antara hubungan kita. Sampai aku menjadi wanita gila dan membuatmu semakin tertekan karena tuntutan dari keluarga kita."kata Siska.


"Tidak Siska. Kamu sudah cukup menjadi istri yang baik untukku. Dan untuk anak-anak kita."bantah Rahardi.


"Itu karena aku berusaha menutupi perasaanku yang sebenarnya tidak pernah bisa mencintaimu sebagai suamiku. Aku tidak bisa melupakan Mas Heri dengan mudah. Mungkin semua ini karena ucapanku sendiri yang pernah bersumpah bahwa aku akan gila jika aku berpisah dengan mas Heri. Dan kegilaanku membuatmu tersiksa. Aku mohon. Bisakah kau melepaskanku. Aku tidak mau terus menerus menjadi orang gila seperti ini. Aku tidak bisa memaksakan hatimu aku tidak bisa memaksa hatiku juga untuk tetap bersamamu tanpa adanya cinta."kata Siska.


Rahardi hanya bisa terisak mendengar ucapan Siska yang pada kenyataannya selama ini masih merasa tertekan hidup dengannya. Sedangkan Sasmi hanya bisa mengasihani nasib hidup dua orang itu.


"Siska. Apa yang harus aku lakukan."Lirih Rahardi


"Lakukan tugasmu sebagai seorang ayah. Dan lakukan tugasmu sebagai seorang pria. Kamu berhak bahagia. Sama halnya denganku. Aku juga ingin bahagia dengan pilihanku sendiri. Bukankah selama ini hidup kita terpaksa untuk bahagia demi kedua orang tua kita. Sekarang mereka sudah tiada, aku sudah lama menunggu saat ini dimana aku ingin melepaskan diri dari kebahagiaan palsu ini."kata Siska,"Dan untuk kamu Mita. Jadilah ibu yang baik untuk putrimu. Maafkan aku karena sebenarnya akulah yang menjadi benalu di antara hubungan kalian. Kalian bertemu dan saling mencintai, sedangkan aku dan Hardi tidak demikian."imbuhnya seraya menatap Sasmi.


"Jangan bicara seperti itu. Aku akan merasa sangat bersalah dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai kalian berpisah."lirih Sasmi.


"Tidak ada yang salah di sini. Semua ini terjadi karena takdir yang sudah tergaris. Mungkin ini saatnya kita membebaskan diri dari keegoisan orang tua kita yang lebih mementingkan harta daripada kebahagiaan putra putrinya. Aku berharap kita tidak akan menjadi orang tua yang demikian."kata Siska.


Sasmi menangis dan beranjak dari kursi, menghampiri Siska dan memeluk wanita yang dulu pernah ia rawat, namun ia menusuk wanita itu dari belakang dengan menjadi kekasih suami wanita itu.


"Maafkan aku."Lirih Sasmi.


"Tidak ada yang salah. Semua ini takdir."balas Siska yang membalas pelukan Sasmi,"Sungguh. Aku gila karena aku tidak pernah mencintai Rahardi. Dan itu terjadi karena sumpahku sendiri."


"Kenapa takdir harus sekejam ini."Lirih Sasmi.


"Karena kita harus belajar banyak hal dari kejamnya takdir."balas Siska.


Satu kisah masa lalu terselesaikan dengan sebuah pengakuan. Terkadang menjadi orang tua yang egois hanya akan membuat anak-anak sengsara dan tidak bahagia. Maka, jadilah orang tua yang bijak dalam menentukan segala hal untuk anak-anak. Karena mereka akan bahagia saat mereka menjalani hidup mereka sesuai kemampuan mereka.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


😊😊😊😊✌️✌️✌️✌️


__ADS_2