Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Apakah keputusanku sudah benar?


__ADS_3

Di dalam mobil, Namesya menangis menumpahkan air matanya mewakili semua perasaanya saat ini. Alfin tak meminta gadis itu untuk berhenti menangis dan hanya memberikan pelukan, membiarkan Namesya menangis di sana.


"Apa keputusanku sudah benar?"tanya Namesya lebih kepada dirinya sendiri yang masih terisak dalam pelukan Alfin.


"Apapun itu, kalau kau merasa lebih baik maka jangan ragu untuk kembali atau lanjut pergi."kata Alfin setengah menyesali ucapannya sendiri yang terkesan seperti membiarkan Namesya pergi jika gadis itu ingin kembali pada Rio.


"Tidak. Aku memang sudah benar. Aku lebih baik pergi daripada harus bersamanya lagi. Anakku tidak butuh pengakuan apapun darinya."Namesya kembali meyakinkan dirinya bahwa keputusannya sudah benar.


"Jadi tetaplah bersamaku dan jangan kembali padanya."ujar Alfin seraya mengecup puncak kepala Namesya dan menghirup aroma rambut gadis itu yang wangi dengan mata terpejam.


Kecupan Alfin seakan membuat Namesya tersadar akan apa yang tengah dia lakukan saat ini, menangis di pelukan Alfin sungguh membuatnya lupa diri. Buru-buru Namesya menarik diri dengan wajah menunduk.


"Maaf."gumam Namesya.


Senyum Alfin terlukis sempurna dan membantu Namesya memasang set belt,"tak perlu meminta maaf. Aku berhak melindungimu dan membuatmu nyaman bersamaku. Kita pulang sekarang."kata Alfin, laki-laki itu mengusap pipi Namesya dengan lembut.


Tatapan Alfin justru membuat Namesya kembali menangis, entah karena sedih atau terlalu bahagia mendengar ucapan laki-laki itu untuknya.


"Hei... sudah... Untuk apa terus menangisi orang itu Hem. Ada aku di sini. Oke."Alfin kembali mengusap pipi Namesya yang air matanya kembali mengalir.


"Aku tidak menangis karena orang itu..."lirih Namesya.


"Lalu? Karena apa? Apa sesuatu menggigitmu?"tanya Alfin.


"Tidak... itu... Aku... Aku hanya merasa bersyukur karena Tuhan membuatku bertemu dengan dokter."jujur Namesya.


"Ah... Kau menangis karena bahagia bertemu denganku..."gumam Alfin."Kalau begitu jangan pernah pergi. Tetaplah bersamaku. Oke."katanya tegas, tangannya mengusap rambut Namesya sebelum mulai melajukan mobilnya.


'apa maksudnya memintaku tetap bersamanya. sungguh aku tak tahu harus bagaimana. pantaskah aku merasa bahagia mendengar kata-katanya. atau pantaskah aku tetap berada di sampingnya.'batin Namesya mulai berdebat karena ucapan Alfin.


Namesya mencuri pandang demi melihat wajah Alfin yang sedang fokus mengendarai mobil,'kalau sudah menemukan wanita yang membuatnya tertarik, kenapa dia memintaku tetap bersamanya? apakah kata-kata itu hanya untuk menghiburku? Dia tentu tahu, aku pasti akan pergi jika dia sudah berhasil memenangkan perasaan wanita incarannya. lalu apa gunanya menenangkanku dengan kata-kata seperti itu?'batin Namesya kembali berkecamuk mempertanyakan semua ucapan Alfin yang membingungkan untuknya.


Sisa waktu menempuh perjalanan pulang hanya Namesya pakai untuk memikirkan perasaannya yang sudah terlanjur tumbuh di sana. Berpikir apakah sebaiknya dia pergi lebih awal agar perasaannya tidak semakin tumbuh subur? Tapi dia ingin membantu Alfin menyelesaikan masalah laki-laki itu. Dan rasanya ia sudah terlanjur nyaman bersama Alfin. Sangat-sangat nyaman hingga membuatnya melupakan kenyataan tentang statusnya saat ini.


"Kita sampai."suara Alfin berhasil membuat namesya menoleh menatap laki-laki itu.


"Kapan dokter akan memutuskan untuk mengenalkan wanita incaran dokter pada mama?"tanya Namesya tiba-tiba.


"Kita bicara di dalam."balas Alfin sembari tersenyum, senyum yang tak bisa membuat Namesya menolak untuk menurut.


Mereka memasuki rumah, Alfin menuju dapur mengambil dua gelas air minum dan menyerahkan satu gelasnya untuk Namesya.


"Minum dulu."Perintah Alfin yang sudah duduk di dekat meja bar dapurnya.


Namesya meneguk air minum itu dan meletakkan gelas yang belum kosong di meja, lanjut menunggu kata-kata yang akan diucapkan Alfin untuknya.


"Apa kau benar-benar tidak tahu?"tanya Alfin setelah memantapkan hatinya dan menatap Namesya.


"Apa maksud dokter?"Namesya balas bertanya.


"Kau... benar-benar tidak tahu perasaanku?"tanya Alfin yang semakin membuat Namesya bingung.


"Perasaan dokter..."gumam Namesya, debar jantungnya kembali melonjak melihat Alfin menatapnya.


Alfin tersenyum dan beranjak dari kursi, berdiri di samping Namesya yang masih duduk dan mendongak menatap laki-laki itu.


"Sudah malam. Tidur dan istirahatlah. Kita lanjut bicara besok. Cup."kata Alfin yang diakhir dengan kecupan singkat di kening Namesya.


Tentu saja Namesya terkejut ketika Alfin mengecupnya tiba-tiba dan pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun. Gadis itu bahkan terdiam seperti patung dan hanya bisa melihat kepergian Alfin menuju lantai atas dengan tatapan terkejut dan mulut sedikit terbuka.


"Hah."gadis itu terkesiap dan menutup mulutnya begitu kesadarannya seakan baru kembali setelah beberapa saat seperti tersihir oleh tindakan Alfin."Apa maksudnya ini?"tanyanya seraya meraba keningnya,"Tidak mungkin."gumamnya tidak percaya dengan pemikiran yang saat ini membuatnya merasa semakin berdebar.


Tindakan Alfin berhasil membuat Namesya kesulitan untuk terlelap malam itu. Entah pukul berapa gadis itu tidur hingga membuatnya sulit membedakan antara mimpi atau kenyataan saat dirinya kembali merasakan kecupan lembut di keningnya.


Saat tiba-tiba dirinya terjaga, debar jantungnya kembali terpacu merasakan kehangatan yang menjalar dalam tubuhnya saat teringat apa yang terjadi semalam. Bibirnya tersenyum, tak mampu mencegah rasa bahagianya mengingat semua perlakuan manis Alfin padanya.


"Apa wanita itu aku?"pertanyaan itu muncul dan membuatnya berharap jika wanita yang sedang berusaha Alfin dapatkan itu adalah dirinya."Apa aku salah jika berharap seperti ini?"tanyanya seraya memeluk lututnya sendiri.


Seperti seorang gadis yang baru pertama kali jatuh cinta, Namesya kembali bersembunyi di balik selimutnya menutupi wajah malunya. Pertemuannya dengan Rio yang tanpa di sengaja dan masalah yang terjadi di antara mereka seolah terbayarkan dengan kecupan Alfin. Saat ini yang dirasakan Namesya adalah suatu kebahagiaan akibat ulah dari Alfin.

__ADS_1


"Tunggu. Jam berapa sekarang?" Namesya melihat jam kecil di atas meja samping tempat tidur,"Apa?"gadis itu langsung bangkit duduk dengan wajah terkejut melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi lewat 46 menit,"kenapa dia tidak membangunkanku... katanya mau mengatakan sesuatu, ah. bukan itu... ah... setidaknya dia akan menjelaskan kenapa dia menciumku bukan? Tapi kenapa dia tidak membangunkanku... pasti dia sudah berangkat kan."Namesya bermonolog dengan sedikit ada rasa kecewa karena Alfin tidak membangunkan dirinya.


Tok


Tok


Tok


Senyum Namesya merekah mendengar ketukan pintu kamarnya, mengira jika Alfin belum berangkat. Buru-buru Namesya turun dari tempat tidur dan membuka daun pintu.


"Dokter ..."Kata-kata yang hampir keluar seluruhnya menguap begitu saja saat melihat Arumi yang berdiri di balik pintu sedang tersenyum menatapnya.


"Kak Mesya... Ini Arumi... bukan dokter Alfin..."kata Arumi dengan tatapan menggoda mendapati Namesya mengira gadis itu Alfin.


"Ya. Aku tahu."balas Namesya dengan raut wajah tampak kecewa.


"Cie... yang udah kangen padahal tiap hari ketemu..."goda Arumi semakin berani.


"Ish. Apaan sih kamu."desis Namesya seraya berbalik kembali memasuki kamar,"Kemarin bibi nganter makanan ke sini. Emangnya bibi udah sembuh?"kata Namesya mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Habisnya ada yang pengen sarapan bareng jadi ya bibi masak dong. Kalau yang nganter itu bibi ngga sendiri. Katanya kebetulan ketemu dokter Feres gitu di depan gang."jawab Arumi tetap berusaha menggoda Namesya.


"Oh."gumam Namesya tidak ingin menanggapi godaan Arumi.


"Kak..."Arumi menggelayut di lengan Namesya, tak segan untuk bersikap manja pada Namesya.


"Apa..."Namesya menatap Arumi.


Arumi tersenyum,"Kata dokter Alfin kak Mesya di suruh kasih kabar kalau ada apa-apa."kata Arumi yang diakhiri dengan senyuman lagi.


Namesya menghela napas merasa sedang dipermainkan oleh gadis di sampingnya ini,"kau sudah berani mengejekku Hem."ujar Namesya seraya menyentil dahi Arumi.


"ih... kak Mesya. Aku ngga ngejek... Cuma menyampaikan pesan aja... Tadi katanya ngga tega bangunin kak Mesya. Jadi pergi kerja ngga pamit deh."kata Arumi.


"Ya iya... Kasih tahu sama orang yang nitip pesan ke kamu kalau aku baik-baik aja. Oke."timpal Namesya.


"eh mau kemana kamu? Awas kamu yah."Teriak Namesya, namun gadis itu tersenyum,"cih. dasar. Apa maksudnya pake titip pesan ke Arumi segala."cibir Namesya untuk Alfin.


####


Hari itu Alfin menghabiskan waktu istirahatnya dengan makan siang di dalam ruang pribadinya sembari mengamati kegiatan Namesya di rumah yang ditemani Arumi. Pagi itu Alfin memang memberikan kecupan selamat pagi untuk Namesya yang masih terlelap sekaligus kecupan pamitnya. Ingin sekali cepat pulang dan memberikan penjelasan pasti atas sikapnya pada Namesya.


Tapi sepertinya dia harus menundanya lagi karena ada banyak pekerjaan hari ini yang menuntutnya tetap tinggal hingga larut. Kebiasaan lemburnya yang sebelumnya tak membuatnya terganggu kini menjadi berbeda sejak ada seseorang yang tinggal di rumahnya.


Drrrt


Ponselnya tiba-tiba bergetar tanda ada pesan masuk. Dari Arumi.


'Dokter. Ada tamu laki-laki yang menemui kak mesya.'


Isi pesan Arumi membuat Alfin penasaran tentang siapa tamu yang di maksud Arumi.


'Siapa? foto mereka dan kirimkan padaku.'


Alfin membalas pesan sekaligus memberi perintah pada Arumi.


'Katanya kakaknya kak Mesya. Kak Mesya yang membuka pintu jadi aku tidak bisa mencegah orang itu masuk'


Ting


Alfin mendapatkan pesan sekaligus foto dari Arumi yang memperlihatkan Namesya tengah duduk berhadapan dengan seorang laki-laki yang di kenalnya.


"Kevin."gumam Alfin,"Hhh... Akhirnya persembunyian Mesya di ketahui olehnya. Percuma saja kami bertukar tempat. Atau ini memang sudah menjadi rencana Tuhan untuk membuatku mengenal Mesya."kata Alfin yang merasa tenang jika yang menemui Namesya adalah Kevin.


Di rumah Alfin, Namesya lupa untuk mengecek lebih dulu siapa yang datang dan tak bisa mengelak atau menghindar saat mendapati Kevin sudah berdiri di depan pintu. Namesya terkejut melihat Kevin menemukannya, dan tanpa mendapat persetujuan, Kevin langsung menerobos masuk dan duduk di sofa. Mau tidak mau, Namesya ikut duduk berhadapan dengan Kevin.


"Darimana kakak tahu aku tinggal di sini?"tanya Namesya.


Kevin mengambil ponsel dari sakunya, mengutak atiknya sebentar dan meletakkannya di meja. Di sana ada sebuah foto di mana Namesya sedang di peluk oleh Alfin di depan Rio. Namesya sangat terpukau oleh keahlian para pembuat berita yang sangat cepat sekali bertindak dalam waktu satu malam.

__ADS_1


"Kakak langsung mencari tahu alamat rumah Alfin setelah melihat berita itu."kata Kevin.


"Itu..."Namesya bingung harus berkata apa.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kakak melihat berita tentang Rio yang menghamili Melia, dan sekarang kakak melihatmu di peluk oleh Alfin di depan Rio."kata Kevin menuntut penjelasan.


"Rio memang menghamili Melia. Tapi untuk berita ini... Ini terjadi semalam. Aku sedang makan malam dengan dokter Alfin dan tiba-tiba Rio datang."jawab Namesya.


"Apa hubunganmu dengan Alfin? apa kalian pacaran?"tanya Kevin.


"Tidak. Hubungan kami tidak seperti itu."elak Namesya yang kemudian menjelaskan awal pertemuannya dengan Alfin hingga membuat mereka terlibat dalam hubungan sandiwara, namun Namesya tidak mengatakan perihal dirinya yang hendak bunuh diri melompat dari jembatan.


"Jadi tentang tempat tinggal kalian ini juga sandiwara?"tanya Kevin.


"Aku belum siap bertemu kakak... jadi aku menerima bantuan dokter Alfin dan dokter Feres untuk bertukar tempat. Bukankah Kak Andin juga ada di pesta kecil waktu itu. Dia juga ikut membantu."jawab Namesya.


"Khem."Kevin berdeham mendengar Namesya menyebut nama andin ikut andil dalam rencana mereka menyembunyikan Namesya."jadi apa alasan kamu menghindari kakak? Kamu juga tidak memberi kabar apapun ke rumah. Kakak hampir melaporkan kamu ke polisi sebagai orang hilang kalau kakak tidak berpikir mungkin kamu sedang ingin menenangkan diri."


"itu... Aku... Aku hamil kak."jawab Namesya dengan wajah semakin menunduk.


"apa!?"Kevin refleks langsung berdiri mendengar pengakuan Namesya yang sangat mengejutkan.


"Kak... Jangan marah..."lirih Namesya.


"Siapa yang menghamili kamu Hem? Rio atau Alfin?"tanya Kevin yang sedang kalut hingga tak mampu berpikir jernih,"kamu sedang balas dendam sama Rio dan membuat dirimu hamil dengan Alfin begitu."cecar Kevin yang entah kenapa malah mengira adiknya hamil oleh Alfin.


"Bukan kak... Bukan dokter Alfin... tapi... tapi..."Namesya menghela napas dan berkata,"tapi Rio..."


"Astaga... Mesya..."Kevin meraup wajahnya dengan kedua tangan mengetahui Rio dengan begitu teganya mempermainkan adiknya.


"Maaf kak... Seharusnya Mesya dengerin omongan kakak dulu. Seharusnya Mesya ngga Nerima Rio dan paksa kakak menyetujui hubungan kami."Namesya sudah menangis terisak.


Kevin menghela napas dan mencoba menahan emosinya di depan Namesya,"mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi. Kita juga tidak bisa kembali ke masa lalu dan kita hanya bisa menyesalinya sekarang setelah semuanya terjadi. Kakak hanya akan memberi perhitungan pada Rio dan menyuruhnya bertanggung jawab."


"Jangan kak... Aku tidak mau..."tolak Namesya seraya menatap kevin dengan serius,"Aku sudah memutuskan untuk merawat anakku tanpa menerima pengakuan apapun dari Rio. Aku tidak mau lagi berurusan dengannya."


"Apa maksudmu? kamu ingin berjuang sendiri merawat anakmu? apa kamu pikir akan semudah itu menghadapinya, kamu tidak memikirkan kedepannya akan seperti apa? bagaimana pandangan orang-orang nanti terhadap anakmu."kata Kevin.


"itu..."Namesya baru tersadar bahwa tidak akan mudah untuk menjadi single parents untuk anaknya kelak, namun ia sudah tidak ingin berurusan dengan Rio.


"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik keputusanmu. Kakak tidak ingin kamu menderita nantinya."kata Kevin.


Namesya tampak berpikir dan hanya diam untuk sejenak,"hhh... Aku sudah memutuskan akan menghadapinya apapun yang terjadi kelak. Aku akan melindungi anakku. Meski dia tidak mendapat pengakuan dari ayahnya, aku akan berusaha melindunginya."


Kevin tahu benar seberapa keras kepala adiknya jika sudah memutuskan sesuatu,"baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. kakak akan berusaha mendukungmu dan membantumu. tapi apa yang akan kau lakukan selanjutnya? kau akan terus bersembunyi seperti ini? Kasihan mama dan papah. mereka sangat mengkhawatirkanmu sejak mendengar berita tentang Rio dan Melia yang akan segera melangsungkan pernikahan mereka."


"Aku... Aku takut mereka marah dan mengusirku karena aku sudah dipastikan mencoreng nama keluarga kita."lirih Namesya.


Kevin menghela napas dan berpindah tempat duduk di samping Namesya, meraih adiknya, memberikan pelukan kasih sayangnya sebagai seorang kakak yang akan bersedia melindungi adiknya apapun yang terjadi.


"Tenangkan dirimu lebih dulu. Dan pulanglah."kata Kevin yang mendapatkan anggukan kecil dari Namesya.


"Maafin Mesya..."lirih Namesya seraya memeluk Kevin.


"Sudahlah. Jangan meminta maaf terus. Kamu seperti ini karena Rio yang tidak bisa menjagamu. Sebagai laki-laki, kakak akan melindungi kekasih kakak bukan malah merusaknya seperti Rio."balas Kevin.


Bertanya apakah keputusannya benar?


Yakinlah bahwa keputusanmu itu benar. Dan buktikan bahwa keputusan itu benar dengan berani menghadapi semua konsekuensi dari semua keputusan yang telah kau ambil.


.


.


.


.


😊😊😊✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2