Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Almaira-ku


__ADS_3

Langit merindu saat bulan merajuk, mereka dekat namun terkadang terpisahkan oleh gumpalan awan yang menutupi rembulan dan bumi hanya mampu memandangi kedekatan langit dan rembulan dari jarak yang begitu jauh.


Bumi berputar dan waktupun berlalu, kini usia kandungan Namesya sudah menginjak lima bulan. Tentu saja tidak mudah bagi Namesya menghadapi komentar orang-orang di lingkungannya yang selalu kedapatan sedang menggunjingnya di belakangnya karena dirinya hamil di luar nikah. Tak jarang ia memergoki ibunya yang mendapatkan sindiran keras dari ibu-ibu tetangga mengenai dirinya.


Sebab itulah Namesya jarang keluar dari rumah orang tuanya sejak gadis itu pulang dari rumah Alfin mengantar lelaki itu dari rumah sakit beberapa waktu lalu. Mengenai kesehatan kandungannya, selalu Andin yang mengunjungi Namesya di rumah itu. Semakin hari Namesya memang mendapati Kevin semakin dekat dengan Andin, hal itu membuat satu kebahagiaan lain yang membuat Namesya semakin merasa bahagia. Meskipun akhir-akhir ini ia merasa sangat merindukan Alfin karena ayahnya melarang lelaki itu berkunjung terlalu sering demi kebaikan mereka berdua, mengingat Namesya sedang mengandung dan hubungan Namesya dengan Alfin masih dalam status yang tidak pantas jika mereka sering-sering terlihat bersama. Akhirnya Namesya dan Alfin hanya bisa mengobati rasa rindu mereka melalui pesan dan panggilan saja.


Seperti hari ini, Namesya baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk saat Alfin menghubunginya.


"Lagi ngapain?"tanya Alfin yang sedang melakukan panggilan video dengan Namesya.


"Habis bantu mama masak. Ini habis mandi."jawab Namesya yang tampak sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil."udah sarapan?"gadis itu bertanya.


Alfin menggeleng sembari tersenyum,"Pengen sarapan sama kamu."kata lelaki itu mengutarakan keinginannya.


Namesya tersenyum,"emang ngga kerja?"tanyanya seraya beranjak dari kursi.


"Hari ini berangkat siang."jawab Alfin yang tetap memperhatikan Namesya yang terlihat sedang meletakkan handuk ke dalam kamar mandi, Alfin tersenyum melihat keadaan perut Namesya yang sudah membuncit sesuai usia kandungannya saat ini,"Oh ya. Hari ini jadi pergi kan?"tanya Alfin setelah Namesya sudah kembali duduk di kursi.


"Mmm... Jadi sih. Tapi nunggu kak Kevin pulang pemotretan. Mungkin sekitar jam dua nanti aku baru bisa pergi."jawab Namesya.


"Gimana kalau aku jemput?"tanya Alfin.


Namesya menatap wajah Alfin yang tampak begitu antusias ingin menjemputnya, namun ia hanya bisa menggeleng pelan sebagai penolakan."Udah janji buat pergi sama kak Kevin."kata Namesya.


Meskipun Alfin sangat tahu alasan pasti penolakan itu, lelaki itu hanya bisa memasang senyumnya,"Ya sudah ngga apa-apa. Kalau gitu salam buat ayah sama ibu ya. Buat Dede juga."


Namesya mengangguk dan tangannya mengelus perutnya yang terasa ada pergerakan kecil di dalam rahimnya. Malaikat kecilnya seolah memberikan respon untuk Alfin dan itu memberikan kebahagiaan kecil untuk Namesya.


"Katanya Dede juga kangen. Nanti siang ketemu di tempat aunty ya."kata Namesya.


"Dedenya aja yang kangen?"Alfin melontarkan godaannya pada Namesya.


Semu merah menebar di kedua pipi Namesya yang tersenyum, namun Namesya tak bisa menanggapi lebih godaan Alfin untuknya.


"Pergi sarapan dulu ya. Jangan lupa sarapan juga. jaga kesehatan."ujar Namesya mengingatkan sekaligus berpamitan.


"Hmmm... ya. ya... oke. Habis ini sarapan."kata Alfin.


"Ya udah. Aku matiin ya."pamit Namesya.


"Masih kangen..."Ujar Alfin.


"Ish..."desis Namesya seraya mengalihkan pandangannya sejenak meski bibirnya tersenyum dan debar dalam rongga dadanya masih seperti biasanya, berdebar kencang setiap kali Alfin menggodanya.


Di sebrang Alfin tampak terkekeh alih-alih tertawa,"Ya udah. Sana pergi sarapan."Alfin memberi perintah.


###


Tap


tap


tap


Langkah kaki Namesya yang menuruni tangga dengan hati-hati terdengar jelas oleh Sukma ayu yang sedang menyajikan menu sarapan di atas meja, sementara Edi Wira tengah berkutat pada laptopnya di sofa. Rasa bersalah itu masih terkurung dalam benak Namesya setiap kali melihat kedua orang tuanya di rumah itu. Namun tak ada tempat ternyaman selain rumah itu dalam kondisinya saat ini. Setidaknya ayah dan ibunya sudah maafkan kesalahannya, meskipun maaf mereka tak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi saat ini.


Namesya masih berdiri di anak tangga menatap kedua orang tuanya yang berada di tempat mereka masing-masing dengan kegiatan mereka masing-masing. Tangannya mengelus perutnya dan perlahan pandangannya turun menatap perut yang tertutup pakaiannya.


"Entah kamu perempuan ataupun laki-laki. Mama akan menyayangimu sepenuh hati seperti kasih sayang orang tua mama kepada mama. Maafkan mama yang pernah berpikir untuk membuatmu pergi dari hidup mama."bisik Namesya pada bayi dalam rahimnya yang belum ia ketahui jenis kelaminnya.


"Mesya. Kenapa masih di sana?"tanya Sukma ayu, ibu Namesya.


Namesya tersenyum saat melihat raut wajah ibunya yang tengah tersenyum menatapnya, begitupun Edi Wira yang tampak sedang menutup laptopnya.


"Ayo kita sarapan."Ajak Edi Wira pada putrinya.


"Iya mah. Pah."balas Namesya yang bergegas melanjutkan gerakan kakinya untuk menuruni anak tangga yang tinggal beberapa langkah lagi.


Krek


"Aaah..."Namesya memekik saat tiba-tiba kakinya mengalami kram dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan setelah pergelangan kakinya terkilir.


Bruk


"Mesya."pekik kedua orang tua Namesya saat melihat putri mereka terguling bebas dari tangga.


Satu hal yang Namesya ingat saat itu adalah melindungi anak dalam kandungannya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan saat tubuhnya harus terguling di atas tangga sampai tubuhnya mendarat di dasar tangga dalam keadaan kesakitan.


"Ergh..."Namesya mengerang kesakitan sembari memegangi perutnya yang terasa begitu sakit, sampai ayah dan ibunya menghampirinya dalam keadaan panik.

__ADS_1


'sayang. mama mohon bertahanlah.'batin namesya berharap agar kandungannya baik-baik saja.


"Mesya. Sayang. Mama mohon bertahanlah."pinta Sukma ayu setelah Edi Wira di bantu pekerja membawa Namesya ke dalam mobil.


"Ma..."Namesya memanggil Sukma ayu dengan suara lemah karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Iya sayang. Ini mama. Kamu pasti baik-baik saja."Ujar Sukma ayu dengan air mata terus mengalir dari sudut-sudut matanya sembari merapihkan anak rambut Namesya.


"Maa... Anakku..."lirih Namesya.


"Iya sayang. Kalian akan baik-baik saja. Kamu dan anakmu, cucu mama akan baik-baik saja sayang."kata Sukma ayu meskipun wanita itu tak yakin mengingat benturan keras yang namesya alami saat terjatuh.


Sukma ayu hanya bisa memeluk Namesya dengan erat agar putrinya itu merasa sedikit tenang. Setiap rintihan yang lolos dari bibir Namesya adalah bentuk rasa sakit yang tengah Namesya tahan saat ini. Sementara itu Edi Wira terus mengemudi dengan perasaan penuh kekhawatiran akan keselamatan dua nyawa saat ini, putri kesayangannya dan cucu pertamanya.


Tibalah di rumah sakit kota terdekat dari rumah Namesya, Edi Wira langsung memanggil petugas rumah sakit untuk menangani Namesya.


"Maaf tuan dan nyonya di mohon untuk menunggu di luar."perintah petugas setelah Namesya di bawa masuk kedalam ruang gawat darurat.


"Tolong selamatkan putri dan cucu kami."pinta Edi Wira penuh harap.


"Pah..."Sukma ayu menghambur memeluk Edi Wira,"Mama takut kekhawatiran mama menjadi kenyataan pah..."lirih wanita itu mengingat wanita itu adalah seorang dokter sebelum memutuskan untuk berhenti dan memilih fokus untuk keluarga tercintanya.


"Mereka akan baik-baik saja ma. Mereka harus baik-baik saja."kata Edi Wira.


Sukma ayu mengangguk dalam pelukan Edi wira,"Papah harus kasih tahu Kevin pah."wanita itu mengingatkan.


"Iya mah."jawab Edi Wira sebelum merogoh saku celananya, saat itulah lelaki paruh baya itu sadar akan tangannya yang masih terdapat bercak darah dari putrinya, lelaki itu terdiam sejenak dengan perasaan sedih jika apa yang mereka takutkan terjadi.


"Pah... Alfin juga pah. Andin juga..."imbuh Sukma ayu mengingatkan pada siapa saja mereka harus memberitahu kabar buruk ini.


Edi Wira mengangguk sembari menekan nomor putra sulungnya,"Kevin."panggil lelaki itu begitu telefon tersambung.


###


"Apa?"Kevin terdiam setelah mendengar kabar buruk yang ayahnya berikan padanya.


Laki-laki itu langsung bangkit dari kursi meskipun seorang perias tengah merias wajahnya untuk acara shooting.


"Ba-bagaimana keadaan Mesya sekarang pah? Calon keponakanku? Bagaimana keadaan mereka pah?"tanya Kevin yang langsung membereskan barang pentingnya untuk ia bawa,"Baik pah. Aku akan menghubungi Alfin."sahut lelaki itu menerima perintah ayahnya untuk memberitahu Alfin.


"Kevin ada apa?"tanya managernya saat melihat Kevin keluar dari ruang rias.


"Tapi-"


Kevin sudah pergi sebelum managernya mengatakan banyak hal untuk mencegahnya pergi dari tempat shooting itu.


"Halo Alfin."Kevin langsung menghubungi Alfin yang tengah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit untuk bekerja,"Mesya. Hosh. Hosh..."Kevin mencoba mengatur napasnya karena lelaki itu berlari menuju mobilnya,"Mesya kecelakaan. Sekarang dia ada di rumah sakit kasih bunda."


Disebrang Alfin tak percaya mendengar kabar buruk yang menimpa Namesya,"Apa? Mesya kecelakaan?"


"Iya. Kamu bisa datang kesana sekarang."pinta Kevin.


"Iya. Aku akan kesana sekarang juga."balas Alfin.


"Oke."Kevin langsung memutuskan panggilan dan beralih menghubungi Andin.


Sementara itu Alfin yang mendengar kabar itu langsung meminta asistennya di rumah sakit untuk menghandle pekerjaannya. Lelaki itu langsung meluncur menuju kota tempat tinggal Namesya, lebih tepatnya ke rumah sakit tempat Namesya saat ini berada.


####


"Keluarga pasien."


Sukma ayu dan Edi Wira langsung bangkit dari kursi begitu perawat keluar dari ruang tempat Namesya ditangani.


"Kami orang tuanya."jawab Edi Wira.


"Kami harus melakukan tindakan operasi untuk mengangkat janin putri bapak dan ibu. Tolong bapak dan ibu mengurus biaya adminitrasi dan menandatangani surat persetujuan ini."kata petugas itu.


"Apa maksudnya mengangkat janin cucu kami?"tanya Edi Wira menolak untuk percaya pada kesimpulan yang ada dalam otaknya, sedangkan Sukma ayu hanya bisa diam dalam tangisnya.


"Maaf. Akibat benturan keras yang terjadi hal itu telah membuat janin yang putri bapak dan ibu kandung meninggal dalam kandungan. Detak jantung janin sudah berhenti begitu kami memeriksanya saat pasien tiba."jelas petugas itu.


"Pah..."Sukma ayu tak bisa menahan kesedihannya saat ini mengetahui cucu pertama mereka harus pergi sebelum cucu mereka terlahir ke dunia ini.


"Sabar mah."lirih Edi Wira.


"Silakan bapak atau ibu menandatangani surat ini dan pergi ke ruang administrasinya."petugas kembali mengingatkan tujuan awal petugas itu keluar dari ruangan itu.


Dengan tangan gemetar Edi Wira membubuhkan tanda tangannya di atas surat dan membawa berkas lain menuju ruang administrasi. Orang tua itu tidak menyangka hal seburuk ini akan menimpa putri kesayangan mereka.

__ADS_1


Saat Alfin dan Kevin tiba meski tak bersamaan, Namesya telah di bawa keruang operasi dan tengah ditindaklanjuti oleh dokter bedah.


"Pah. Mah. Bagaimana keadaan mereka?"tanya Kevin yang sudah tiba lebih dulu.


Sukma ayu menghambur memeluk putranya,"Dokter tidak bisa menolong keponakanmu."kata Sukma ayu sembari terisak.


"Apa? Tidak mungkin mah."Kevin tidak percaya jika anak dalam kandungan adiknya itu meninggal.


"Dokter sudah memvonis kalau keponakanmu meninggal dalam perjalanan. Detak jantungnya sudah berhenti begitu tiba di sini."jelas Edi Wira.


Kevin menatap nanar pada pintu ruang operasi tempat di mana dokter tengah mengangkat janin yang ada dalam kandungan Namesya.


"Bagaimana bisa.? Ini tidak mungkin."lirik Kevin,"Mesya akan sangat terpukul nanti."


"Kevin. Apa yang terjadi?"kini Andin yang telah tiba dalam keadaan terengah bertanya pada Kevin,"Om. Tante. Apa yang terjadi?"tanya wanita itu seraya menatap Sukma ayu dan Edi Wira.


"Mesya terjatuh dari tangga. Dan bayinya tidak bisa di selamatkan."lirih Sukma ayu.


Andin menutup mulutnya tidak menyangka hal ini akan terjadi, wanita itu terdiam menatap pintu ruang operasi sebelum perlahan duduk di kursi tunggu. Sementara itu ada Alfin yang sama halnya terkejut mendengar penuturan Sukma ayu mengenai keadaan Namesya. Laki-laki itu berdiri dengan tatapan nanar.


###


Putih.


Itu warna yang pertama kali Namesya dapati setelah kedua matanya terbuka sepenuhnya. Kesadarannya masih terasa kabur, sama seperti pandangannya. Namun tangannya perlahan terulur menyentuh perutnya yang telah rata kembali.


"Anakku..."Lirihnya sebelum bulir air mata luruh dari sudut-sudutnya.


"Sayang... Kamu sudah sadar nak."


Namesya menoleh menatap sosok dari suara yang ia dengar,"Mama..."lirihnya.


"Iya sayang..."jawab Sukma ayu seraya mengelus kepala Namesya.


"Anakku..."lirih Namesya.


Sukma ayu mencoba tetap tersenyum sembari menahan air matanya agar tidak luruh,"Dia sudah bahagia sayang."ujar wanita itu.


"Aku ibu yang buruk bukan?"lirih Namesya.


Sukma ayu menggeleng lemah,"Tidak sayang. Kamu ibu yang baik. Kamu ibu yang kuat. Hanya saja Tuhan sangat menyayangi putrimu. Tuhan tidak rela jika harus berpisah dengan putrimu."balas wanita itu.


"Putriku... Apa dia perempuan?"tanya Namesya yang menyimpulkan jika janinnya berjenis kelamin perempuan.


"Benar sayang. Dia perempuan. Dia sama cantiknya denganmu. Itu sebabnya Tuhan sangat menyayanginya dan menolak untuk menyerahkannya untukmu."kata Sukma ayu.


"Apa dia masih di sini?"tanya Namesya.


"Dia menunggumu. Dia ingin mendengar pujian darimu."jawab Sukma ayu.


"Aku ingin bertemu dengannya ma..."pinta Namesya.


"Iya sayang."balas Sukma ayu,"tunggu sebentar ya. Mama akan memanggil bantuan."pinta wanita itu.


Tak berselang lama. Namesya telah duduk di atas kursi roda, di belakang Alfin mendorong kursi itu menuju tempat putri kecil Namesya berada. Bukan kamar mayat, namun kamar kecil yang hanya ada satu ranjang kecil di sana.


"Itu dia."lirih Namesya setelah melihat sosok kecil yang terbaring di atas ranjang kecil itu.


"Dia sama cantiknya denganmu."bisik Alfin dengan mata berkaca-kaca.


"Tuhan iri denganku."lirih Namesya.


"Ya. Tuhan iri denganmu karena putri kecilmu begitu cantik."balas Alfin seraya mendorong pintu dan mulai memasuki kamar itu bersama Namesya.


Sosok kecil itu semakin jelas, bayi berusia lima bulan di dalam kandungannya itu kini tampak begitu jelas di depan matanya. Sangat mungil hingga Namesya tak percaya jika itu adalah makhluk kecil yang sering bergerak-gerak aktif di dalam perutnya. Wajahnya putih pucat dengan bibir mungil yang sangat pucat. Namesya mengulurkan tangannya menyentuh makhluk kecil itu dengan sangat hati-hati, seolah takut untuk menyakitinya dengan sentuhan.


"Maafkan mama sayang."lirih Namesya bersamaan dengan air matanya yang ikut luruh,"Maaf. Mama tak bisa menjagamu lagi. Tuhan benar-benar iri pada mama hingga Tuhan memilih untuk mengambilmu kembali. Kau akan lebih bahagia berada di sisi-Nya. Mama tahu itu."


Alfin berjongkok di samping kursi tempat Namesya duduk, tangannya terulur menyeka air mata di pipi Namesya.


"Dia sangat cantik seperti ibunya."kata Alfin sebelum Namesya beralih memeluk lelaki itu untuk melanjutkan tangisannya.


"Almaira-ku..."Lirih Namesya,"Beri dia nama itu. Dia malaikat kecilku yang akan menunggu ibunya datang menjemputnya kelak. Mulai sekarang dia akan setia menunggu ibunya hingga waktunya tiba."lirih Namesya dalam pelukan Alfin.


"Ya. Dia Almaira."balas Alfin seraya menatap makhluk mungil tak bernyawa yang telah mendapatkan nama dari ibunya.


'*Al-maira'


...😊😊😊😊*

__ADS_1


__ADS_2