Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Alfin dan perasaannya-jangan berpikir untuk menunda


__ADS_3

Gugup bercampur gelisah. Itu yang saat ini dirasakan Namesya saat Alfin sedang mengaitkan kalung di lehernya. Sulit sekali mengontrol debar jantungnya saat ini. Bagaimana tidak? Alfin benar-benar sangat dekat dengannya, mungkin akan terlihat seperti sedang memeluknya.


"Mesya, bisa tolong angkat sedikit rambutmu?"pinta Alfin yang cukup sulit mengaitkan pengaitnya karena tertutup rambut Namesya yang cukup lebat.


"i-iya."Namesya meraup rambutnya dengan satu tangan dan membiarkan leher jenjangnya terekspos di depan mata Alfin yang dengan cekatan langsung memasang pengaitnya.


"Oke. sudah."Alfin kembali mundur satu langkah memberi jarak untuk melihat keberadaan kalung pemberiannya yang sudah terpasang cantik di leher pemilik barunya."cantik."pujinya.


"Hah."gumam Namesya mendengar pujian itu keluar dari bibir Alfin.


"Cantik. Kalungnya cocok untukmu. syukurlah dia menemukan pemilik yang cocok untuknya."Alfin menjelaskan ucapannya.


"oh."gumam Namesya seraya menunduk menilik benda berkilau itu yang tetap terlihat dalam temaram senter yang ada di genggaman Namesya.


"Ayo kita masuk. Aku akan mencari lilin."ajak Alfin, tanpa ragu laki-laki itu menggandeng tangan Namesya mengiring gadis itu memasuki rumah yang gelap."Kamu tunggu di sini. Aku akan ke dapur mencari lilinnya."pamit Alfin hendak pergi meninggalkan Namesya di ruang tamu tempat lelaki itu meletakkan kue untuk merayakan ulang tahun Namesya, namun genggaman tangan Namesya menjadi begitu erat.


Namesya hanya menunduk menahan rasa malu bercampur takutnya, tak ingin melihat Alfin yang saat ini sedang menatapnya. Lelaki itu tersenyum, tahu kalau gadis itu takut dan tidak mau ditinggal sendiri di ruangan itu.


"Ya sudah. Ayo ikut aku ke dapur."ajak Alfin.


"Hoaam..."Namesya menguap, tapi tetap mengikuti Alfin menuju dapur mencari lilin di lemari.


"Mesya aku harus mengambil lilinya. Bisakah kau melepas tanganku sebentar."kata Alfin.


"Eh. ya. maaf."gumam Namesya bersamaan dengan tangan gadis itu yang lepas dari genggamannya.


"Tenang saja. Rumahku pernah aku ruqyah sebelum aku menempatinya. Jadi aman, tidak akan ada hantu usil mengganggumu."kata Alfin berniat ingin membuat rasa takut Namesya berkurang, namun gadis itu justru berpindah meraih ujung belakang kemeja Alfin alih-alih memegang tangan lelaki itu."Ah. maaf. Kupikir kau tidak akan takut setelah aku mengatakannya."ujar Alfin yang kemudian membuka lemari dan mengambil lima lilin sekaligus,"oke. ayo kembali keluar."


Mereka kembali keruang tamu, dan Alfin menyalakan kelima lilin itu dan meletakkannya di meja. Alfin juga menyalakan lilin di atas kue dan tersenyum setelah ruangan itu terlihat lebih terang.


"Sudah. mau kunyanyikan lagu?"tanya Alfin.


"Tidak. Itu tidak perlu."balas Namesya.


"kalau begitu. Ucapkan harapanmu."perintah Namesya.


Gadis itu menurut dan menangkupkan kedua tangannya, berdoa dalam hati mengungkapkan seluruh harapannya saat ini.


'Tuhan. Terimakasih sudah mempertemukanku dengan dokter Alfin. Mungkin kau memang tidak mengirimkan malaikat maut untukku, tapi kau telah menggantinya dengan malaikat baik hati yang sudah membuatku sadar akan tindakanku yang salah. Aku berharap dia akan segera menemukan wanita yang sudah Kau takdirkan untuknya.'batin Namesya berdoa.


Saat Namesya berdoa dengan mata terpejam, Alfin menatap gadis itu dengan begitu seksama. Laki-laki itu telah sadar akan dirinya yang sudah dibuat terpesona oleh Namesya. Sadar sepenuhnya tentang perasaannya saat ini untuk gadis di hadapannya saat ini.


"Fiuh."Namesya meniup lilin di atas kuenya dan tersenyum kearah Alfin yang duduk di sampingnya,"terimakasih."katanya sembari menatap tepat kearah mata laki-laki itu dengan tatapan sayu.


Alfin tersenyum dan perlahan melihat kedua kelopak mata Namesya bergerak tertutup. Begitu perlahan dan itu membuat Alfin gugup, tak tahu harus berbuat apa. Sebuah adegan muncul dalam pikirannya, dimana Namesya memejamkan mata untuk menciumnya.


Bruk


Alfin tersentak saat kepala Namesya ambruk ke bahunya, gadis itu rupanya tertidur karena sudah begitu mengantuk. Lelaki itu tersenyum menyadari pikiran konyolnya yang sempat terlintas itu.


"Apa yang sudah kupikirkan."gumam Alfin sebelum perlahan membenarkan posisi Namesya agar dirinya bisa menggendong gadis itu.


Alfin menggendong Namesya ke kamar dan meletakkan lilin di kamar itu sebagai antisipasi jika saat Namesya bangun masih dalam keadaan gelap setidaknya ada lilin di kamar itu.


"Apa aku salah?"tanya Alfin pada dirinya sendiri setelah beberapa detik hanya diam memandangi wajah tidur Namesya,"apa aku salah jika aku menginginkanmu tetap tinggal di sisiku. Atau aku terlalu cepat menyimpulkan perasaanku? Aku tidak pernah begitu menginginkan seseorang untuk tinggal di sisiku seperti ini. Aku tidak pernah merasa begitu merindukan seseorang seperti saat aku tak melihatmu secara langsung. Apa aku harus menunggumu? Kau tidak akan percaya begitu saja jika aku mengatakannya."Lelaki itu terus berbicara sendiri dengan netra terus memandangi Namesya.


Waktu kebersamaan mereka yang masih terlalu singkat membuat Alfin tak percaya diri jika tiba-tiba ia menyatakan perasaannya. Terlebih lagi Namesya masih dalam fase menyembuhkan luka batinnya. Alfin pun memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat untuk dirinya menyatakan perasaannya. entah kapan harinya, ia belum pasti.


####

__ADS_1


Keesokkan harinya, Namesya terjaga begitu mendengar cuitan burung-burung kecil. Kelopak netranya bergerak meredakan rasa kantuk yang masih tersisa. Lanjut hidungnya mencium aroma segar yang begitu menenangkan, membuat pikiran dan hatinya terasa relaks.


"hhhh..."Namesya menghembuskan napas setelah menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku."Ya ampun. Aku masih memakai gaun semalam."gerutunya melihat gaun pesta masih membalut tubuhnya.


"Ukh kenapa badanku pegal-pegal seperti ini."keluhnya seraya menggerak-gerakkan kedua bahunya dengan gerakan memutar.


Dengan langkah malas, Namesya berjalan menuju kamar mandi. Saat bercermin dan melihat kalung melingkar di lehernya, senyumnya tak bisa ia cegah mengingat momen semalam. Rasanya ia begitu bahagia mendapatkan perlakuan manis Alfin yang tahu hari ulang tahunnya. Debar dari dalam rongga dadanya kembali menggetarkan jiwanya mengingat begitu dekatnya mereka semalam.


"aku bahkan tertidur setelah aku meniup lilinnya."gumam Namesya saat teringat kepingan momen singkat semalam."apa dia menggendongku ke kamar? astaga ya ampun malunya aku..."ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan merasa malu melihat wajahnya sendiri,"Eh. ada apa denganku akhir-akhir ini? Kenapa jantungku selalu begini setiap kali mendapatkan perlakuan kecil dari dokter Alfin? Apa ini salah satu pengaruh dari kehamilanku yang membuatku gampang baper seperti ini?"tanyanya seraya mengelus perutnya yang masih tampak rata.


"Hhh... Sayang jangan banyak bertingkah ya. Jangan buat mama salah paham nantinya."kata Namesya pada janinnya.


Namesya bergegas melanjutkan ritual paginya membersihkan diri. Beberapa menit gadis itu keluar dengan memakai handuk kimono dan lanjut mencari pakaian di dalam lemari.


Tok


tok


tok


"Mesya."dari luar terdengar suara Alfin.


Pintu kamar di ketuk dari luar, Namesya memastikan handuknya terpasang dengan benar sebelum melangkah ke arah pintu.


"Ya."sahut Namesya seraya membuka pintu kamar.


"Sudah bangun."kata Alfin melihat Namesya dengan rambut basahnya serta kalung yang masih melingkar di leher gadis itu.


Namesya mengangguk sebagai jawaban,"Aku pikir dokter sudah berangkat ke rumah sakit."katanya.


"Aku berangkat siang. Nanti ada pak Ahmad dan petugas listrik datang. Aku tidak tega membiarkanmu menemui mereka sendirian."timpal Alfin.


"Ya sudah. Aku tunggu di bawah ya. Kita sarapan."kata Alfin.


"Sarapan."gumam Namesya, ia teringat kalau Alfin tidak bisa memasak.


"Ah. Bu Sasmi pagi ini mampir dan membawa makanan untuk kita."kata Alfin menjelaskan asal makanan untuk pagi ini.


"Oh... Bu Sasmi..."gumam Namesya."ya sudah nanti aku turun."imbuhnya.


"Ya."balas Alfin sebelum lelaki itu bergegas pergi.


Di dapur, Alfin menata makanan dari Bu Sasmi sedemikian rupa. Dan tak lupa juga mengeluarkan kue yang semalam ia simpan kembali dan belum tersentuh sedikit pun. Setelah memastikan semuanya beres Alfin duduk manis menunggu Namesya turun, lelaki itu terus menatap ke arah tangga yang terlihat dari tepat ia duduk.


Tak berselang lama yang ditunggu pun datang dengan sejuta pesona alaminya yang terpancar begitu Alfin melihat Namesya menuruni anak tangga dan lanjut menghampirinya.


"Maaf aku kelamaan."ujar namesya dan memilih duduk bersebrangan dengan Alfin.


"Tidak juga."balas Alfin sembari mengulurkan piring berisi nasi pada Namesya.


"terimakasih."ucap Namesya.


"Jangan sungkan begitu. Bu Sasmi biasa mengantar makanan seperti ini kepadaku. Hanya saja saat aku sendirian biasanya akan aku bawa ke rumah sakit."kata Alfin,"kau mau lauk yang mana?"tanyanya.


"Ah. Biar aku mengambilnya sendiri."cegah Namesya melihat Alfin sudah bersiap ingin mengambil lauk untuknya.


"Oh."gumam Alfin seraya tersenyum kecil.


Keduanya masing-masing mengambil lauknya sendiri dan mereka mulai sarapan. Tak ada bahan obrolan apapun untuk membuat mereka mengobrol, meskipun Alfin ingin mengajak gadis itu berbincang sedikit.

__ADS_1


"Dokter ini pakai parfum ya?"tanya Namesya tiba-tiba.


"parfum."gumam Alfin seraya mengendus dirinya sendiri,"tidak. Aku belum memakainya. Aku jarang memakai parfum. memangnya kenapa?"


"Oh. Aku penasaran saja. Beberapa hari ini aku mencium aroma wangi tapi aku sendiri tidak yakin itu aroma parfum atau bukan."jawab Namesya.


"Oh. apa kamu merasa terganggu? Mungkin itu aroma sabun yang kamu pakai."kata Alfin.


"Tidak. Aku tidak terganggu sama sekali. Dan itu bukan aroma sabun milikku. Bahkan aku mencium aroma itu sekarang. Apa mungkin itu aroma sabun yang dokter pakai. Kalau benar, aku ingin mencobanya."Namesya tersenyum.


"Kau bisa mengambilnya di lemari kamar mandiku. Ambil saja yang baru."perintah Alfin,"Apa aroma itu membuatmu nyaman?"tanya Alfin.


Dengan merasa sedikit malu, Namesya mengangguk,"iya."katanya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku pikir kamu terganggu dan tidak nyaman dengan aroma yang kamu cium."ujar Alfin.


Mereka melanjutkan sarapan dan setelah mereka sama-sama membereskan meja serta mencuci piring yang kotor, petugas listrik datang bersama pak Ahmad yang dikatakan Alfin. Para petugas langsung bertindak, mengecek seluruh aliran listrik dan sumbernya. Dan ternyata memang ada kerusakan di mesin listriknya. Tak lama akhirnya listrik selesai di perbaiki dan seluruh lampu menyala saat itu.


"hah. Syukurlah akhirnya menyala lagi."gumam Namesya merasa tenang listriknya sudah menyala dan tak lagi takut akan gelap lagi nanti malam.


"Kamu benar-benar takut gelap."komentar Alfin seraya mengusap puncak kepala Namesya.


Gadis itu terdiam menatap Alfin yang tersenyum saat memberikan sentuhan itu di kepalanya. Dan debaran jantungnya kembali terpacu cepat, akibatnya wajahnya kini terasa memanas.


"Aku harus mencuci pakaianku."gumam Namesya menghindar, takut Alfin akan menyadari perubahan wajahnya yang pasti akan merona.


Gadis itu melangkah tergesa-gesa tanpa menoleh memasuki rumah, meninggalkan Alfin di teras. Laki-laki itu justru tersenyum melihat wajah tersipu Namesya akibat perlakuannya itu.


"Manis sekali "gumamnya seraya menatap telapak tangannya yang baru saja bertindak gegabah membuat anak orang tersipu dengan wajah merona semerah tomat.


Sementara itu, Namesya dengan wajahnya yang sudah merona berdiri memunggungi pintu, bersandar di sana. Dadanya tampak naik turun karena olah raga jantungnya membuat napasnya sedikit tak beraturan.


"Air."Namesya langsung melangkah mengambil air minum yang selalu tersedia di kamar itu.


Setelah meneguk minumnya, Namesya merasa sedikit tenang. Gadis itu menghela napas, semakin dibuat bingung dengan sikap Alfin terhadap dirinya.


"Dokter Alfin yang terlalu baik dan perhatian atau ada yang salah dengan diriku. Kenapa perlakuan dan sikapnya benar-benar semakin manis padaku."gumam Namesya,"manis."gumamnya lagi menanggapi satu kata yang saat itu ada dalam pikiran Namesya mengenai sikap Alfin,"ya. dokter Alfin memang manis dan sangat baik. Hhh... aku pasti tidak akan menolaknya jika dia menyukaiku jika keadaanku tidak seperti saat ini. Tapi... Aku takut salah mengartikan kebaikannya padaku."


Tanpa gadis itu ketahui, Alfin di luar tengah tersenyum mendengar semua ucapan Namesya di dalam kamar. Gadis itu sepertinya tidak sadar akan suaranya yang terdengar keras dan mampu di dengar dari luar oleh siapapun yang lewat di depan kamar itu.


"Apa tidak seharusnya aku menundanya?"gumam Alfin,"tapi bagaimana kalau dia menjauhiku karena aku yang terlalu cepat menyatakan perasaanku. Dia pasti akan menjadikan keadaannya sebagai alasan untuk menolakku."lirihnya dengan rasa bimbang."haruskah aku melangkah lebih jauh?"


Tidak tahu harus melangkah atau mundur, atau haruskah dia menunggu sembari berusaha menunjukkan segala kasihnya yang tulus. Bahkan Alfin sama sekali tidak mempermasalahkan keadaan Namesya yang saat ini tengah berbadan dua. Tidak peduli tentang masa lalu gadis itu. Yang dirasakan Alfin saat ini hanyalah suatu keinginan untuk mempertahankan Namesya di sisinya. Tidak ingin gadis itu lepas dari jangkauannya. Jika mau, mungkin Alfin akan membawa Namesya kemanapun dia pergi.


Hanya masalah waktu. Alfin akan tetap berusaha mempertahankan perasaannya, tetap menunjukkan perasaannya melalui sikap tulusnya. Berharap seiring waktu kebersamaan mereka, Namesya akan membuka hati untuknya tanpa gadis itu mempermasalahkan keadaan dan masa lalunya sendiri.


'jika hati sudah tertambat di pelabuhan, masa lalu tidaklah menjadi alasan untuk kembali berlayar. Cukuplah dua rasa ini bersatu tanpa menyingkirkan masa lalu. Biarkan masa depan yang akan perlahan menumpuk di atas kisah di masa lalu dan memudarkan ingatan tentang masa itu.'


'akan aku pastikan kenangan indah terukir dalam kisah kita.'janji Alfin untuk Namesya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga tulisan recehku cukup menghibur...😊😊😊✌️✌️


__ADS_2