Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Kancing kemejanya...


__ADS_3

Masih begitu pagi sehingga melancarkan aksi Namesya yang berjalan menuju tempat mobil Alfin terparkir. Sebenarnya ia tak perlu mengendap-endap seperti maling jika ia tidak memakai seragam warna biru di tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia masih belum siap untuk menghadapi kakaknya saat ini.


Gadis itu menekan tombol kecil pada kunci mobil Alfin dan langsung memasuki kuda besi mewah itu. Berharap kakaknya akan percaya setelah melihat apapun yang akan di lakukan Alfin nantinya.


"Huft... Apa yang akan di lakukan dokter itu di tempatku? Apa sampai harus tinggal di sana untuk membuat kakakku percaya? Tapi nanti aku tinggal di mana? ngga mudah nyari tempat kos di daerah ini. Oh astaga... aku lupa ngga bawa apapun. Ponselku... ya ampun..."Kata Namesya yang sudah duduk di dalam mobil, menunggu Alfin yang entah akan turun pukul berapa nanti.


Dan di apartemen Namesya, Alfin sedang menyingkirkan barang-barang Namesya mulai dari foto sampai beberapa barang gadis itu di sana. Laki-laki itu mengemas semua tanpa sisa, kecuali barang-barang yang tidak menunjukkan identitas Namesya di sana.


"Oke. selesai."Alfin duduk di sofa setelah menata barang-barangnya menggantikan kepunyaan Namesya."Di mana kamar mandinya."gumam lelaki itu seraya melangkah menuju pintu yang ia pikir itu adalah kamar mandi,"oh. bukan ini."gumamnya lagi saat mendapati ruangan itu hanya terdapat meja dan kursi serta beberapa kardus yang tertumpuk di sana,"aku salah memilih pintu."lelaki itu keluar dan mengedarkan pandangannya mengamati tempat itu dan kembali membuka pintu lain yang letaknya dekat dengan dapur.


"Kali ini benar."Alfin melongokkan kepala ke dalam kamar mandi dan menghela napas,"Aku lupa tidak menyiapkan peralatan mandiku. Bagaimana ini."lelaki itu masuk dan mengamati beberapa benda yang ada di atas wastafel.


"Untung saja sikat giginya tidak berwarna pink. Ya. setidaknya ini aman."gumam Alfin seraya mengambil sabun pembersih wajah perempuan dan juga benda 'keramat' yang hanya di pakai oleh perempuan setiap bulannya, kemudian menyimpan beberapa peralatan mandi Namesya ke dalam kantong yang ia temui di dalam sana.


Gludak


Tanpa sengaja kaki Alfin menyenggol tempat sampah yang langsung roboh dan menumpahkan sedikit isinya. Lelaki itu bergegas membereskan sampah kering itu dan menghembuskan napas saat melihat ada beberapa alat tes pack yang sudah terpakai di sana. Itu menunjukkan kalau Namesya pasti sudah berkali-kali mengecek kehamilannya dengan berbagai merek tes pack.


"Kenapa aku harus repot-repot seperti ini untuk membantumu?"tanya lelaki itu setelah menyadari sedikit apa yang tengah di lakukannya."Oh. aku belum memberitahu Feres soal rencanaku."lelaki itu teringat belum memberi tahu Feres mengenai rencananya.


Ya. Alfin tiba-tiba menemukan satu ide untuk membantu Namesya yang tidak ingin bertemu dengan Kevin untuk sementara waktu ini. Laki-laki itu langsung membereskan beberapa barangnya dan lupa memberitahu Feres tentang hal itu.


tuuuut


tuuut


tuuut


Alfin mencoba menghubungi Feres, sementara di sebrang lelaki yang sedang berusaha di hubungi Alfin masih tidur di sofa dengan begitu nyenyak sampai tidak mendengar getar ponselnya yang tergeletak di meja. Justru malah Kevin yang terjaga lebih dulu dan meraih ponsel Feres.


"Alfin."gumam Kevin membaca nama kontak di ponsel Feres.


Kevin membiarkan panggilan itu berhenti dan tak berselang lama ponsel itu bergetar tanda ada pesan yang masuk. Meski tahu itu lancang, namun Kevin tetap membuka pesan dari Alfin.


'Woi tetangga kebo. bangun. Jangan lupa pagi ini ada rapat sama dokter kepala. Nanti gue berangkat duluan. Kunci mobil Lo gue titipin ke tukang parkir.' itu isi pesan Alfin untuk Feres.


"tetangga kebo."Kevin melirik Feres yang masih pulas tidur dengan nyamannya.


Kemudian ponsel itu kembali bergetar dan Kevin langsung menjawabnya.


"Bangun woi."Seru Alfin di sebrang, cukup kencang membuat Kevin menjauhkan telinganya dari layar ponsel Feres.


"Maaf. Feres masih tidur."kata Kevin.


Di sebrang Alfin menghela napas,"ini siapa?"tanya Alfin.


"Oh. saya teman Feres. Kebetulan saya menginap di sini dan Feres masih tidur."kata Kevin.


"Oh. Teman Feres. Pantas saja dia tidak mampir ke tempatku. Ya sudah kalau Feres masih tidur. tolong sampaikan kalau aku menghubunginya."kata Alfin di sebrang.


"Oh. Memangnya anda tinggal di gedung ini?"tanya Kevin.


"Ya."jawab Alfin tak menjelaskan lebih detail meskipun lelaki itu tahu jika Kevin mengharapkan info lebih.


"Anda tetangga Feres?"tanya Kevin yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Kami berteman dan bertetangga. Setidaknya belum lama ini saya pindah ke gedung ini. Kami juga bekerja di rumah sakit yang sama. Memangnya ada apa?"kata Alfin.


"ah. tidak."sahut Kevin.


"Baiklah. Kalau begitu tolong sampaikan pesanku tadi."kata Alfin.


"Baiklah."sahut Kevin dan sambungan-pun terputus.

__ADS_1


Kevin menatap ponsel Feres yang masih menyala menampilkan jejak panggilan yang baru saja selesai."Tetangga, teman, bekerja di rumah sakit yang sama. Dan belum lama pindah di gedung ini. Apa mungkin dia yang membeli apartemen Namesya."Kevin mencoba menerka apa yang muncul dalam pikirannya.


Ekor mata Kevin melirik ke arah pintu, samar keningnya berkerut.


"Mungkin aku harus mengeceknya sendiri nanti."gumam Kevin dan meletakkan ponsel Feres kembali ke meja.


"Ughhh..."Feres terlihat menggeliat di sofa dan mengucek mata sembari bangun."Jam berapa ini?"tanyanya.


"Jam setengah 5 pagi."jawab Kevin.


"Hoaaammm..."Feres menguap dan meraup wajah dengan kedua tangannya.


"Tadi tetanggamu menelfon."Kata Kevin.


"hah."gumam Feres seraya menatap ponselnya di atas meja,"Alfin."gumamnya dengan raut wajah bingung,"Dia bicara apa?"tanyanya seraya melirik Kevin dan membuka aplikasi chat-nya.


"Tidak banyak. Hanya menyuruhku menyampaikan pesan padamu kalau dia menghubungimu."jawab Kevin.


"Oh."masih belum mengerti maksud dari isi pesan Alfin, lelaki itu akhirnya mengetik pesan untuk Alfin.


'ada apa menghubungiku? hari ini aku tidak praktek di rumah sakit. Bukankah kita baru saja rapat kemarin belum lama, dan lagi aku tidak melihat ada pengumuman untuk rapat hari ini.' pesan Feres meluncur dengan cepat menuju nomor Alfin.


Di sebrang, Alfin sedang berdiri di dalam kamar Namesya yang bernuansa pink, sprei warna pink, tirai warna pink dan kelambu berwarna pink, beruntung cat temboknya tidak berwarna sama."Apa aku harus merubah kamar ini juga? Hhh..."gumamnya seraya mengedarkan pandangannya."Dia tidak membawa ponselnya."ujarnya seraya melangkah mengambil ponsel Namesya yang ada di atas meja.


Alfin hendak keluar saat ponsel dalam saku celananya bergetar tanda ada pesan, ia memasukkan ponsel Namesya di saku yang lain dan mengambil ponselnya. Bola matanya bergerak membaca isi pesan dari ponsel Feres.


'Aku sudah pindah di apartemen sebrang. Kau lupa kalau semalam aku sudah pindah dan menjadi tetanggamu. Kapan temanmu pulang?'


Alfin membalas pesan Feres dan menyambar tas Namesya, mengambil semua isinya dan memindahkannya ke dalam tasnya. Lelaki itu tahu jika isi tas itu penting untuk Namesya, terlebih ponselnya.


Drrrt


Alfin menatap layar ponselnya yang berkedip, Feres menghubunginya. Ibu jarinya bergerak menggeser layar ponsel menjawab panggilan Feres.


"Kapan kau akan merayakan pesta perayaan rumah baru-mu? Kau tidak memberitahuku kalau kau yang akan menempati apartemen itu. Aku kira Ryan yang akan tinggal."Sahut Feres dari sebrang mendominasi akting Alfin.


"Hahaha... Aku memang menyuruhnya untuk tutup mulut."ujar Alfin.


Di sebrang Feres terdengar terkekeh dan berkata,"aku tunggu undangannya. Dan jangan lupa mengundang Andin juga."


"Tentu."balas Alfin,"hei. Apa aku harus benar-benar mengadakan perayaan konyol itu."bisik Alfin.


"Hahaha... tentu saja. Kalau boleh aku ingin mengajak temanku berkunjung."kata Feres.


Alfin menghela napas mendengar ucapan sekaligus kode dari Feres bahwa dirinya memang harus melakukannya untuk melancarkan rencananya,"Tentu saja. Akan kuberitahu harinya nanti. Sekarang aku harus pergi. Ada yang harus aku urus sekarang."katanya.


"Ya. ya ... kau berangkat saja duluan. Aku akan berteleportasi untuk cepat sampai di rumah sakit nanti."balas Feres.


Percakapan dalam sandiwara mereka-pun berakhir dan Alfin bergegas keluar dari kamar Namesya, melanjutkan rencananya. Sementara itu Kevin langsung berpamitan pulang, merasa masih penasaran dengan penghuni apartemen sebrang.


'Kakak Mesya mau pulang. Usahakan aja kalian ketemu pas Lo keluar dari situ.'


Alfin membaca pesan Feres dan bergegas memastikan kartu akses apartemen Namesya sudah ia bawa di dalam tasnya, ia mendapatkan benda penting itu dari tas gadis itu. Lelaki itu menempelkan telinganya ke daun pintu berharap mendengar pintu apartemen Feres di buka.


"Huft..."Alfin membuang napas dan membuka pintu apartemen sembari menjinjing tasnya.


klek


Alfin menutup pintu bersamaan dengan Kevin yang keluar dari apartemen Feres. Lelaki itu membalikkan tubuh dan memasang wajah polosnya saat melihat Kevin yang tengah menatapnya bergantian dengan pintu apartemen Namesya. Alfin tersenyum dan mengangguk kecil,"Pasti teman Feres."katanya menyapa.


"Oh. iya. Saya menginap semalam di sini. Anda yang menelfon tadi."kata Kevin, laki-laki itu tanpa sengaja melirik ke arah kemeja Alfin yang tampak sekali ada kesalahan di sana, namun Kevin mengurungkan niatnya untuk sekedar bertanya atau meluruskan apa yang salah pada kemeja Alfin.


"Iya."Alfin melangkah mendekat dan mengulurkan tangan,"Saya Alfin. Teman Feres."Alfin memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Ya. Saya Kevin teman Feres juga."balas Kevin membalas uluran tangan Alfin.


Alfin tersenyum ramah,"Anda mau pulang? Apa Feres belum bersiap-siap untuk berangkat?"tanyanya.


"Dia bahkan belum mandi saat saya keluar."balas Kevin.


Alfin mengangguk,"kalau begitu mari kita turun sama-sama."ajaknya.


"Ya. Mari."balas Kevin.


Kedua lelaki itu berjalan beriringan, Alfin berusaha sesantai mungkin melangkah bersama Kevin. Entah kenapa hatinya merasa sangat bersalah karena dia sudah membantu Namesya yang artinya ia sudah mempersulit Kevin menemukan gadis itu.


"Jadi anda seorang dokter."Kevin membuka percakapan.


"Ya."balas Alfin.


"Kata Feres anda baru pindah di gedung ini."Kevin mulai mengarahkan pembicaraan mereka menjadi seperti sebuah interogasi bagi Alfin.


"Benar. Saya baru sempat menempatinya malam ini. Bahkan saya belum sempat memindahkan barang-barang saya. Apa Feres juga menceritakannya pada anda tentang kepindahan saya ini."ujar Alfin.


"hmmm... ya. Kurang lebihnya begitu."balas Kevin,"Saya pikir adik saya masih tinggal di sini. Jadi saya datang ke sini berharap bertemu dengannya."imbuhnya.


"Oh. begitu."komentar Alfin.


Keduanya terus mengobrol beberapa hal, sampai mereka berpisah setelah keluar dari lift. Kevin pergi menuju tempat parkir di halaman gedung, sedangkan Alfin memarkir mobilnya di bagian belakang gedung.


"Huft... Akhirnya lolos juga."Alfin menghela napas dan bergegas melangkah menuju mobilnya, Namesya tampak tidak sabar menunggunya.


"Dokter. Ponsel saya ter-"


"Barang-barangmu ada di sini. Ponselmu, ada di dalam. tapi untuk sementara aku memegang akses apartemenmu. Bisa kau beritahu sandi apartemenmu."Alfin memotong ucapan Namesya seraya menyerahkan tasnya pada gadis itu.


"Oh. Terimakasih dokter sudah membawa barang-barang pentingku."kata Namesya,"Sandinya bulan dan tahun ulang tahunku."tambah gadis itu.


"oke."balas Alfin seraya mengulurkan tangannya pada Namesya.


Gadis itu tidak tahu maksud dari tangan yang terulur itu dan menatap Alfin,"maksud dokter apa?"tanya gadis itu.


Alfin menoleh dan menjawab,"Kunci mobilku."


"Oh. Maaf."gumam Namesya seraya merogoh saku seragam yang masih ia kenakan mengambil kunci mobil Alfin,"ini."ia mengulurkan tangannya dan tanpa sengaja matanya tertuju pada sesuatu yang salah pada kemeja Alfin.


"Ada apa?"tanya Alfin melihat Namesya menatap ke arah dadanya.


"Kancing kemejanya..."Namesya menunjuk kearah kancing kemeja Alfin yang salah pasang itu.


Alfin menunduk dan menepuk dahinya,"astaga."keluhnya dan langsung membenarkan letak kancing kemejanya yang salah ia masukan itu,"pantas saja aku merasa tidak nyaman dengan kemeja ini."gumamnya.


Melihat Alfin membuka empat kancing kemeja di hadapannya membuat Namesya refleks memalingkan pandangannya. Wajahnya terasa memanas mengingat dada bidang Alfin yang sempat ia lihat beberapa waktu yang lalu saat tanpa sengaja melihat laki-laki itu sedang mengenakan kemeja di apartemennya.


"Ada apa dengan wajahmu?"tanya Alfin melihat wajah Namesya yang tampak memerah.


"Memangnya kenapa?"tanya Namesya pura-pura tidak tahu dengan keadaan wajahnya.


"Wajahmu tampak merah, apa kamu sakit?"tanya Alfin seraya mengulurkan tangan menyentuh dahi gadis itu, namun Namesya menghindari tangan lelaki itu menyentuh keningnya.


"Saya baik-baik saja. Mungkin karena saya takut ketahuan kak Kevin jadi wajah saya memerah."kilah gadis itu.


"Oh. Begitu. Ya sudah."gumam Alfin sebelum menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melajukannya keluar dari area parkir.


'***ada takdir yang bisa berubah jika kita mau berusaha untuk mengubahnya. takdir tak selamanya buruk, namun tak juga selalu baik. kita hanya perlu menjalani takdir dengan hati lapang dan ikhlas. meski itu tak mudah."


😁😁😁😁***✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2