Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Hangatnya mentari menelisik masuk melalui celah tirai kamar Alfin, penghuninya baru saja membuka netranya, kelopaknya mengerjap beberapa kali sampai senyumnya mengembang sempurna.


"Hah... Kenapa malah makin rindu."keluhnya seraya menyentuh dadanya yang berdegup kencang bagai genderang yang sedang bertabuh.


Lelaki itu bangun dari tempat empuknya dan langsung menuju kamar mandi melakukan aktifitas biasanya setiap pagi. Tak berselang lama, Alfin sudah turun bersamaan dengan suara bel yang berbunyi.


"Bu Sasmi."Sapa Alfin seraya mempersilakan bu Sasmi memasuki rumah,"Bukankah saya sudah menyerahkan kunci cadangan buat ibu pegang?"tanyanya.


"Oh. Itu kuncinya ketinggalan. Sepertinya masih ada sama Arumi."jawab Bu Sasmi.


"Ah. benar juga. Akhir-akhir ini Arumi yang selalu ke sini."gumam Alfin.


"Kata Arumi Mesya pindah, jadi bibi yang kerja di sini lagi."kata Bu Sasmi.


"Oh... Iya aku dengar Arumi menerima pekerjaan yang teman saya tawarkan."balas Alfin.


"Ah... itu. Sebenarnya saya kurang setuju. Tapi Arumi yang memaksa."tutur Bu Sasmi.


"Saya tahu Bibi khawatir, tapi teman saya adalah orang baik. Dia tidak akan macam-macam. Saya sangat mengenal Feres dengan baik."ujar Alfin.


Bu Sasmi tersenyum kecil dan berkata,"Bibi hanya takut terjadi sesuatu pada Arumi. Kalau begitu bibi lanjut bekerja dulu. Ini Bibi juga bawakan sarapan."


"Terimakasih bi. Maaf selalu merepotkan bibi..."pinta Alfin.


"Tidak apa-apa. Bibi senang kalau nak Alfin menyukai masakan bibi. Ini mau di bawa atau makan di rumah."Bu Sasmi meletakan tempat berisi makanan di atas meja.


"Aku bawa saja Bi."jawab Alfin.


"Ya sudah kalau begitu."Bu Sasmi membiarkan makanan tetap berada di dalam wadah dan mulai mengerjakan tugasnya.


Alfin pun membawa makanan itu ke apartemen Namesya. Cukup membuat Namesya terkejut akan kedatangan Alfin.


"Dokter tidak kerja?"tanya Namesya setelah membuka pintu apartemen.


"Nanti. Ini bawa makanan dari Bi Sasmi."Alfin mengangkat paper bag berisi makanan yang ia bawa menunjukkannya pada Namesya.


"Oh... Bibi sudah kerja lagi."komentar Namesya.


"Sudah."jawab Alfin,"ngomong-ngomong apa aku harus berdiri di sini terus? Ngga di persilakan masuk gitu."imbuhnya.


"Oh. Ya. Maaf."Namesya bergerak memberi jalan untuk Alfin masuk .


Alfin melangkah memasuki apartemen Namesya dan tanpa aba-aba langsung menuju dapur. Lelaki itu dengan cekatan mengeluarkan beberapa hidangan yang di bawa Bu Sasmi untuknya dan ternyata setiap hidangan memiliki porsi yang cukup banyak.


"Waaahh... Aku kangen banget sama masakan Bu Sasmi."Komentar Namesya saat aroma masakan Bu Sasmi menguar di dapur apartemen gadis itu.


Alih-alih mendengarkan komentar Namesya, Alfin justru mengedarkan pandangannya,"Kakak kamu mana?"tanyanya.


"Hem."Namesya menatap Alfin,"Oh. Kak Kevin sudah pergi pagi-pagi sekali."jawabnya.


Alfin mengangguk dan membantu Namesya memindahkan makanan ke piring,"Mama katanya pengen ketemu. Nanti malam bisa ngga ikut aku ke rumah."kata Alfin.


"Hah."Namesya terkejut mendengar permintaan Alfin yang ingin mengajaknya ke rumah orang tua lelaki itu,"Ke rumah mama. Ketemu sama Om Hendra juga dong."gumamnya.


"Aku ngga maksa kok kalau kamu ngga bisa."ujar Alfin.


Namesya tersenyum kecil dan berdeham,"Aku cuma belum siap aja ketemu sama Om Hendra."


"Bukannya kamu pernah jadi sekretaris pribadi papah di kantor."kata Alfin.


"Itu beda..."kilah Namesya.


"Bedanya di mana? Hem? coba kasih tahu di mana bedanya dulu sama sekarang?"tanya Alfin seraya menyangga dagu di tangannya dan menatap Namesya sembari tersenyum.


Namesya memutar bola matanya dan berdecak,"Pokoknya beda. Dulu aku kerja kalau sekarang ya pokoknya beda."katanya seraya mencoba untuk mengendalikan debar jantungnya.


"Hhhh... Jadi kapan mau jenguk mama? Mama udah kangen banget loh sama kamu."kata Alfin.


Namesya duduk dan mengambil nasi beserta lauk ke atas piring,"Makan dulu terus siap-siap berangkat. Nanti telat."Namesya mengalihkan topik pembicaraan.


Alfin menerima piring pemberian Namesya sembari tersenyum,"Terimakasih."ucapnya dan tidak berusaha untuk kembali membahas tentang ajakannya untuk menemui orang tuanya.


Mereka sarapan bersama tanpa membicarakan apapun lagi sampai sarapan mereka habis dan Namesya mencuci peralatan kotor di bantu Alfin yang membilasnya.


Bagi Namesya masih terlalu cepat untuk dirinya berkunjung ke rumah orang tua Alfin. Masih ada beberapa hal yang harus ia pertimbangkan jika ia harus melangkah lebih jauh ke depan.


"Dokter."Namesya membuka suara saat Alfin sudah kembali duduk di kursi.


"Ya."Dengan penuh perhatian Alfin menatap Namesya menunggu gadis itu melanjutkan apa yang ingin di katakan padanya.


Namesya mempermainkan jari-jarinya dan kembali menatap Alfin,"Bisakah beri waktu aku untuk memikirkan semuanya."kata Namesya.


Alfin meraih tangan Namesya, menggenggam dan membelai lembut punggung tangan gadis itu,"Tentu saja. Aku akan menunggu."kata lelaki itu.


"Satu bulan."ujar Namesya.


"Satu bulan..."Alfin mengulang ucapan Namesya.


"Beri waktu aku satu bulan. Dan selama satu bulan itu aku mau dokter jangan menghubungiku ataupun menemuiku."kata Namesya dengan perasaan ragu.


"Kamu ingin menguji perasaanku bukan?"tanya Alfin,"Kamu ingin tahu apakah perasaanku akan berubah jika selama satu bulan itu aku tidak menghubungimu dan menemuimu."ujarnya tanpa mengurangi kelembutan dalam tatapannya, lelaki itu bahkan membelai rambut Namesya, menatap wajah gadis itu dengan sangat teliti seolah takut melupakan wajah itu.

__ADS_1


"Aku hanya takut dokter menyesal. Jadi aku ingin dokter memastikan perasaan dokter dengan baik. Pertimbangkan keputusan dokter dengan sangat hati-hati. Aku tidak ingin ada penyesalan nantinya."jujur Namesya, matanya sudah memerah dan air sudah mulai menggenang.


"Aku akan lakukan permintaanmu. Tapi dengan syarat."Alfin menatap serius wajah Namesya.


"Syarat apa?"tanya Namesya penasaran.


"Kamu jangan kembali sama Rio."ujar Alfin.


Namesya tersenyum dan menghapus air mata yang hampir lolos,"Tidak akan."jawabnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan bertahan menahan rinduku selama satu bulan kedepan. Haaah."Alfin menghela napas panjang, lalu tersenyum menatap Namesya,"Aku akan pastikan semuanya masih sama di sini."Alfin menyentuh dadanya.


"Semoga saja."balas Namesya.


"Ah... kenapa kamu tidak mendukungku. Setidaknya berilah aku dukungan agar aku bisa bertahan satu bulan menahan rindu.""keluh Alfin dengan raut wajah yang ia buat semelas mungkin.


Namesya tertawa kecil melihat tingkah Alfin,"jangan manja. Sudah jam berapa ini. Nanti telat."


"Hhh... Haruskah kau mengusirku sekarang."protes Namesya.


"Jangan sampai telat karena aku."kata Namesya.


"Baiklah-baiklah. Aku berangkat."Alfin beranjak dari kursi di ikuti Namesya.


Mereka melangkah menuju pintu bersama, Alfin tetap menggandeng tangan Namesya sampai lelaki itu membuka pintu.


"Aku tidak mau pergi..."Keluh Alfin seperti anak kecil dan memeluk Namesya.


"Ya ampun... Jangan seperti ini."protes Namesya karena Alfin memeluknya begitu erat.


"Apa tidak bisa di kurangi waktunya. Jangan satu bulan."Alfin berusaha bernegosiasi.


"Kalau kutambah bisa."ancam Namesya.


"Apa."Alfin meregangkan pelukan demi menatap Namesya.


"Mau satu bulan atau dua bulan."ancam Namesya.


"ah. Kau mengancamku."keluh Alfin.


"Jadi pilih saja."ujar Namesya.


"Ya. ya... baiklah. Satu bulan. oke satu bulan."Alfin mengalah dan kembali memeluk Namesya,"kalau begitu biarkan aku memelukmu seperti ini dulu."


"Mau sampai kapan memelukku seperti ini Hem?"tanya Namesya.


"Jangan bicara apapun. Aku hanya ingin memelukmu."pinta Alfin.


Berat. Rasanya begitu berat. Namun ia harus melakukannya. Untuk apa? Apakah satu bulan dengan satu hari akan ada perbedaan? Perbedaan apa yang ia cari?


Apakah ia tidak akan menyesal jika setelah satu bulan nanti Alfin berubah pikiran?


Apakah ia tidak takut?


Tentu saja ia takut.


Ia takut jika nanti Alfin menemukan perasaan lain dan memutuskan untuk tidak mempertahankan perasaan yang saat ini ada dalam hati laki-laki itu.


Tentu saja ia takut.


Jika waktu satu bulan akan membuat Alfin mundur dan menyesali semua yang telah laki-laki itu katakan padanya.


"Haaah... sudah waktunya aku pergi."Suara Alfin membuyarkan semua pikiran Namesya yang tengah ketakutan.


"Ya. Dokter harus pergi. Nanti telat."timpal Namesya.


"Tapi aku masih ingin memelukmu."Alfin kembali memeluk Namesya.


"jangan seperti anak kecil... Sudah. Cepat sana berangkat."usir Namesya.


"Ya. ya... aku berangkat."Alfin perlahan meregangkan pelukannya,"Love you. muach."Alfin mencium kening Namesya setelah menyatakan perasaannya itu,"Aku berangkat. Jangan nakal."pamitnya seraya merapihkan rambut Namesya yang pada dasarnya tidak perlu di rapihkan.


"Hati-hati."balas Namesya di tengah rasa tak percayanya mendengar ucapan Alfin dan mendapatkan kecupan lelaki itu di keningnya.


Dengan enggan, Alfin berangkat ke rumah sakit. Mencoba menguatkan hatinya agar dirinya bertahan dalam satu bulan ke depan. Bertahan agar rasa rindunya nanti tidak membuatnya melanggar janji sesuai waktu yang sudah mereka sepakati.


"Hei... Kenapa melamun?"tegur Feres saat melihat Alfin tampak melamun saat mereka makan siang di kantin.


"Aku harus menahan rindu selama satu bulan penuh. Aku tak boleh menemuinya, bahkan tak boleh menghubunginya."keluh Alfin.


Feres tak perlu bertanya siapa yang sedang Alfin bicarakan,"Bertahanlah. Setelah satu bulan terlewati melangkahlah lebih jauh dan jangan lepaskan dia sampai kapanpun."


"Tentu saja."balas Alfin,"Oh ya. Ngomong-ngomong bagaimana hasil tes yang kau bicarakan itu?"tanya Alfin.


"Ah. Itu. Sore ini aku akan membukanya di depan mereka."kata Feres.


"Apa kamu yakin? Kamu tidak takut nanti Arumi akan berontak dan menganggap kamu lancang?"tanya Alfin.


"Aku akan mencoba menjelaskan padanya pelan-pelan. Aku sudah terlanjur menyayanginya. Sepertinya Tuhan mendengar semua keinginanku dan akan mewujudkannya. Aku sangat menginginkan adik perempuan sejak kecil. Mungkin ini jawaban yang Tuhan berikan padaku."kata Feres yang sangat berharap jika hasil tes DNA yang keluar nanti akan menyatakan kalau Arumi adalah anak biologis ayahnya.


"Apapun hasilnya nanti, semoga itu akan menjadi yang terbaik untuk keluargamu.'ujar Alfin.

__ADS_1


"Semoga saja begitu."balas Feres.


Ddrrrrttt


Feres menyambar langsung ponselnya yang bergetar di atas meja.


"Halo Aris. Bagaimana? Sudah keluar hasilnya?"tanya Feres.


"Sudah. Kamu bisa ambil ke ruanganku."balas Aris, dokter yang menangani tes DNA yang Feres minta.


"Oke. Aku ke ruanganku sekarang."Feres langsung beranjak dari kursi,"Aku pergi dulu."pamitnya pada Alfin.


"Ya. pergilah."balas Alfin.


Dengan langkah seribunya, Feres bergegas menghampiri Aris untuk mengambil hasil tes DNA yang sudah keluar hari ini. Tanpa mengetuk pintu, Feres langsung saja memasuki ruangan Aris.


Cklek


"Aris."Panggil Feres begitu pintu terbuka dan melihat Aris yang sedang duduk di kursinya.


Di sana seorang gadis sedang duduk bersebrangan dengan Aris, gadis itu menoleh dan seketika Feres menghentikan langkahnya.


"Oh. Maaf. Apa aku mengganggu?"tanya Feres menatap penuh tanya pada Aris.


"Ah. Tidak. Abaikan saja dia."balas Aris.


"Hah."gumam Feres, merasa sedikit familiar dengan wajah gadis itu yang tak lain adalah Sherly.


"Dia sepupuku. Sepupu jauh. Entah ada angin apa dia menemuiku."kata Aris seraya melirik Sherly yang sudah tidak lagi menatap Feres.


"Sebaiknya aku pergi sekarang."pamit Sherly.


"Eh tunggu sebentar."cegah Aris.


"Apa lagi? Kamu bilang tidak bisa membantuku. Ya sudah aku pergi saja."timpal Sherly.


"Ya aku memang tidak bisa membantumu. Tapi kurasa dia bisa membantumu."Aris menunjuk Feres.


"Aku."Feres menunjuk dirinya sendiri, tidak mengerti apa maksud Aris.


"Sudahlah lupakan saja."tolak Sherly dan langsung berlalu begitu saja dari ruangan itu.


Feres menggaruk tengkuknya saat mendapatkan tatapan tak bersahabat yang Sherly tujukan padanya,"Sepupumu yang mana?"tanya Feres.


"Sepupu jauh. Nenekku itu kakak dari kakeknya, Kakek Abraham."jawab Aris.


"Abraham..."gumam Feres lagi-lagi merasa familiar dengan nama itu.


"Dia meminta bantuanku untuk mempertemukan dia dengan dokter Andin. Katanya dia sangat menentang perceraian kakaknya dengan dokter Andin. Tapi aku tidak suka ikut campur urusan orang. Jadi aku menolak membantunya."Aris menjelaskan.


"Dia adik mantan suami Andin."timpal Feres.


"Iya. Sherly namanya."jawab Aris.


"Sherly. Sherly..."Gumam Feres,"Ah... Aku ingat sekarang. Pantas saja aku merasa familiar dengan wajahnya."kata Feres setelah mengingat tentang siapa Sherly yang baru saja ia temui itu.


"Kamu mengenalnya?"tanya Aris.


"Tidak begitu. Yang aku tahu dia teman dekat sepupuku."jawab Feres.


"Oh... Dunia terasa sempit kalau sedang dalam situasi seperti ini."komentar Aris seraya membuka laci meja kerjanya,"ini hasil DNA yang kamu minta."Aris menyerahkan amplop pada Feres.


"Oh. Oke. Thanks."ujar Feres.


"Sama-sama. Semoga hasilnya sesuai dengan harapanmu."kata Aris.


"Ya. Semoga saja."balas Feres penuh harap.


"Ngomong-ngomong boleh minta bocorannya?"tanya Aris setengah berbisik.


"Ah. Aku akan memberitahumu setelah aku tahu hasilnya dengan pasti."balas Feres.


"Oke. Aku tunggu bocorannya darimu."Aris tersenyum kecil dan menata berkas-berkasnya di atas meja,"Kalau begitu aku harus pergi sekarang."


"Tentu. Aku juga akan pergi. Sekali lagi terimakasih."kata Feres.


"Oke."balas Aris.


Kedua lelaki itu keluar dari ruangan bersama-sama tanpa menyadari akan keberadaan Sherly yang masih berdiri di balik dinding, bersembunyi demi melihat kepergian Feres.


"Astaga... Kenapa dadaku masih berdebar seperti ini hanya melihatnya. Aku benar-benar gagal move on. Percuma saja aku jauh-jauh pindah tapi pas balik kenyataannya seperti ini. Lagian kenapa harus ketemu dia lagi sih."oceh Sherly.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.😁😁😁😁🌜🌟🌛


__ADS_2