Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Kau berbeda


__ADS_3

Raya berlari menyusuri tepian pantai, tak tentu arah dan hanya mengikuti kakinya yang terus bergerak tak ingin berhenti. Sekalipun kakinya mengarahkan dirinya terjunpun ia tak lagi peduli. Saat ini, mungkin ia memilih untuk mati dari pada hidup dalam kematian.


"Hiks. Hiks..."Ia terus menangis dan sesekali melihat ke belakang, berharap Hiro tidak mengejarnya.


Bruk


Raya terjungkal ke belakang setelah menabrak seseorang yang berdiri menjulang di depannya. Ada dua orang lelaki berdiri di sana menatapnya, sementara ia terduduk di atas butiran pasir.


"Mari ikut kami nona."Ajak dua lelaki itu seraya memegang dua tangan Raya.


"Siapa kalian?! lepaskan aku!"pekik Raya yang suaranya terkalahkan oleh deburan ombak pantai.


"Mari nona. Jangan buat kami melakukan kekerasan dan menurutlah."kata pria yang berada di sisi kiri raya.


"Tidak. Lepaskan aku. Upm..."berontak Raya saat dua pria itu ingin menuntunnya.


Satu dari dua pria itu membungkam mulut Raya dengan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius. Perlahan, gerakan Raya melemah dan terkulai setelah efek obat bius beraksi. Dengan sangat mudah, satu dari dua pria itu menggendong Raya di pundak bagai sebuah barang.


"Bos. Kami sudah menemukan wanita ini."pria yang tidak menggendong Raya menghubungi seseorang yang sudah di pastikan bos dari mereka.


"Bagus."sahut suara seorang pria di ujung panggilan,"kalian tahu bukan kemana harus membawa wanita sialan itu."


"Kami tahu bos."jawab si pria.


"Lakukan sesuai perintah."lelaki di sebrang sambungan memutuskan panggilan lebih dulu.


Sementara itu Namesya dan Kevin di buat kalap karena tak berhasil mengejar, apalagi mendapatkan Raya yang kabur. Mereka tentu saja cemas dan khawatir.


"Bagaimana ini kak? Aku takut Raya kenapa-kenapa."lirih Namesya seraya mengedarkan pandangannya ke arah lepas pantai.


"Semoga saja dia belum jauh dari sini."gumam Kevin.


"Kak. Lihat."Namesya menunjuk ke arah dua orang lelaki yang salah satunya menggendong seorang wanita di pundak,"Itu Raya."


"Ayo cepat kita masuk ke mobil."ajak Kevin.


Namesya dan Kevin pun membuntuti mobil yang kini terlihat melaju sekitar 100 meter di depan mereka. Dengan hati-hati dan di landa kecemasan masing-masing berharap Raya baik-baik saja. Mobil itu melaju melewati arah hutan , namun Kevin tetap membuntutinya tanpa memikirkan jika bahaya mungkin akan mengintai mereka.


Dan benar saja. Jauh memasuki hutan Pinus yang lebat dan rindang, segerombol pria berpakaian hitam menghadang mobil mereka sedangkan mobil yang membawa Raya melewati mereka dengan lancar tanpa halangan.


"Sial."Kevin mengumpat seraya memukul kemudinya, sadar bahwa saat ini ia telah memasuki area lawan.


Dok


dok


dok


Salah satu dari mereka yang berjumlah sekitar tujuh orang lebih menggedor kaca pintu mobil di dekat Namesya yang langsung beringsut ketakutan.


"Turun!"perintah pria sangat bertato meminta Namesya dan Kevin turun.


Meskipun Kevin mungkin bisa berkelahi, namun ia tidak yakin akan mampu melawan orang lebih dari tujuh orang itu sendirian.


"Kak. Gimana ini..."Namesya cemas.


"Sudah. Kita turun saja dulu sekarang."putus Kevin dan bergegas membuka pintu mobil, keluar dengan ketenangan demi menutupi kekhawatirannya terhadap keselamatan mereka.


"Kalian ada perlu apa meminta kami turun?"tanya Kevin dengan nada sebaik mungkin, tak ingin menyinggung mereka.


"Harusnya kami yang bertanya. Ada urusan apa kalian melewati jalan ini?"kata pria itu seraya mendorong Namesya ke arah Kevin.


"Aakh."Pekik Namesya yang langsung memeluk Kevin, bersembunyi di balik punggung.


"Bisakah jangan kalian sakiti adikku."Kevin merasa tak terima adiknya diperlakukan kasar.


"Sebaiknya kalian putar balik jika kalian ingin selamat."ancam salah satu dari mereka yang tiba-tiba muncul dari belakang orang-orang itu.


"Hiro."gumam Kevin dengan tangan terkepal di sampingnya.


Lelaki berhidung mancung dengan mata sipit itu tersenyum miring dan mengarahkan tatapannya ke arah Namesya dengan tatapan liat,"Jika kau tidak berniat menyerahkan adik cantikmu padaku. Lebih baik kau biarkan adikmu yang lain pergi. Aku sudah menjualnya jadi kalian tidak akan bisa mendapatkannya dengan gratis."kata Hiro.


"Brengs*k."Kevin menghambur meninju wajah Hiro mentah-mentah membuat laki-laki Jepang itu jatuh tersungkur.

__ADS_1


Karena kalah jumlah, tentu saja Kevin tak bisa melawan mereka sendirian. Sementara itu Namesya sudah menjadi sandera dan membuat Kevin harus menghentikan aksinya melawan mereka.


"Urus mereka berdua. Bawa mereka ke hadapan bos."perintah Hiro menyuruh para preman itu membawa Namesya dan Kevin yang sudah babak belur ke tempat bos sesungguhnya, orang lain yang kedudukannya lebih tinggi dari Hiro.


Orang itulah yang telah membeli Raya atas tawaran Hiro yang memiliki hutang berlapis-lapis, hingga sekalipun Hiro menjual perusahaannya pun tidak akan mampu melunasi seluruh hutangnya.


###


Pusing dan pening. Itu yang di rasakan Raya saat pertama kali sadar dari pengaruh bius. Netranya mengerjap melihat langit-langit ruangan yang beraroma wangi dan menenangkan.


"Di mana aku."lirihnya seraya bangun dari tempat tidur yang cukup besar untuk dirinya sendiri.


"Raya... Akhirnya kamu sadar."suara Namesya membuat Raya menoleh,"Mesya. Kamu..."Raya menatap sekelilingnya setelah melihat Namesya duduk di sisinya,"Kita ada di mana?"tanyanya bingung.


Namesya menghela napas dan menggeleng pelan,"Aku juga tidak tahu. Hiro mengatakan kalau dia sudah menjualmu pada seseorang."lirihnya dengan wajah di selimuti kesedihan.


"Apa maksudmu Mesya? Kalau dia menjualmu lalu kenapa kau bisa ada di sini?!"Raya menggoyangkan bahu Namesya dengan air mata yang sudah meluncur deras.


"Aku melihatmu di bawa oleh dua orang laki-laki. Jadi aku dan kak Kevin memutuskan mengikuti mobil yang membawamu. Tapi saat di jalan menuju hutan ada segerombol preman yang di pimpin Hiro mencegat kami. Dan akhirnya aku di bawa ke tempat ini bersamamu. Sedangkan kakakku... Kata Hiro dia membawa kakakku menemui orang yang telah membelimu."Namesya menunduk lesu memikirkan nasib Kevin saat ini.


"Kita harus keluar dari kamar ini dan menyelamatkan kak Kevin."Raya bergegas bangun dan turun dari tempat tidur itu.


"Masalahnya ada banyak penjaga di depan dan seluruh villa ini. Aku tidak yakin bisa keluar dari tempat terkutuk ini."kata Namesya,"Aku sudah melihatnya tadi. Kamar dan villa memang tidak di kunci, tapi ada dinding tinggi mengelilingi villa ini. dan pintu gerbang di jaga sangat ketat."


Raya melongsorkan bahunya, menyerah sebelum berperang mengetahui tak ada kemungkinan bagi dirinya dan Namesya untuk keluar dari tempat itu.


Cklek


Namesya dan Raya beringsut mendengar pintu kamar terbuka. Kedua wanita cantik itu saling berpegangan tangan. Waspada saat melihat seorang preman memasuki kamar.


"Nona. Tuan kami ingin bertemu. Mohon kerjasamanya jika tidak mau saya bersikap kasar."kata lelaki itu.


"Tidak. Bawa aku juga jika kau ingin membawa temanku. Atau kalau perlu bawa mayatku ke hadapan tuanmu itu. Tapi jangan coba-coba membawa temanku tanpa aku."kata Raya seraya memeluk Namesya begitu erat.


"Nona. Saya mohon kerja samanya."kata lelaki itu dan Raya menggeleng tegas.


"Aku akan ikut denganmu jika kau akan memastikan temanku baik-baik saja."kata Namesya.


"Tidak Mesya. Jangan percaya padanya. Pokoknya tidak ada yang boleh pergi di antara kita."Raya bersikukuh.


Karena dua gadis itu tetap bersikukuh pada kemauannya. Akhirnya lelaki itu mendekat dan menghampiri Namesya seraya mengambil ponsel dari saku.


"Kami akan membunuh kakak anda jika kalian tidak mau menurut."Ancam lelaki itu seraya menunjukkan foto Kevin yang babak belur dengan tubuh terikat.


Raya dan Namesya akhirnya terpaksa menyerah dan Raya membiarkan Namesya pergi bersama lelaki itu.


"Apapun yang terjadi kamu harus baik-baik saja."pesan Namesya sebelum pergi meninggalkan Raya yang kemudian di kurung di dalam kamar yang di kunci oleh penjaga itu.


Raya menangis sejadinya di dalam kamar. Ketakutan yang membuatnya bersedih karena Namesya harus ikut menanggung derita karena masalahnya dengan Hiro harus berujung seperti ini.


###


"Aku bisa jalan sendiri. Tidak usah mendorongku."Namesya mengomel saat pria itu tiba-tiba mendorong punggungnya memasuki ruangan.


Hahahaha


hahahaha


Namesya mengerutkan kening mendengar suara tawa dari dalam ruangan yang ada di belakang villa. Gadis itu mengikuti suara tawa yang masih terdengar dengan langkah hati-hati. Sampai ia melihat Kevin yang sedang duduk di sofa tertawa meskipun wajahnya di hiasi memar akibat pukulan para preman yang membawanya tadi.


"Kakak."lirih Namesya melihat kakaknya yang duduk di atas sofa, namun tidak terikat seperti yang ia lihat di foto.


Secara bersamaan laki-laki yang duduk bersebrangan dengan Kevin menoleh ke arah Namesya dan tersenyum lebar menunjukkan gigi-gigi putihnya yang rapi.


"Hai. Kemarilah."kata lelaki itu.


"Tuan Arlan."Namesya menyebut nama lelaki itu, wajahnya menunjukkan betapa bingung dirinya saat ini.


"Kemarilah. Akan aku jelaskan padamu."kata Arlan.


Namesya melangkah dengan ragu, namun melihat Kevin yang terlihat duduk santai menatapnya dan mengangguk, gadis itu menurut, melanjutkan langkah duduk di samping Kevin.


"Maaf. Aku tak menyangka akan melibatkan kalian sejauh ini dan mereka melukai kakakmu."kata Arlan.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?"tanya Namesya.


"Aku memang membeli Raya dari suaminya yang menawarkannya padaku untuk menebus hutang-hutangnya."kata Arlan mulai menjelaskan.


"Membeli Raya. Apakah Raya sudah seperti barang sampai kau dan suaminya bertransaksi seperti itu."Sungut Namesya.


"Dengarkan dulu penjelasanku. Aku melakukannya karena aku ingin membebaskan temanmu dari Hiro."jelas Arlan,"Aku sempat melihat luka lebam di punggung dan lehernya. Dan aku langsung mengenalinya dengan baik saat Hiro kembali menunjukkan fotonya padaku. Jauh sebelum bertemu dengan Raya, Hiro sempat menawarkan Raya padaku saat kami bertemu di Jepang. Saat itu aku tidak tertarik. Tapi setelah melihat luka di bagian tubuhnya... yah. Aku tahu. Kali ini aku tidak bisa tinggal diam. Jadi aku menerima tawaran Hiro dan menjebaknya sekaligus."kata Arlan menjelaskan dengan sangat rinci apa maksudnya dari dirinya membeli Raya.


"Anda menjebaknya?"tanya Namesya.


Arlan tersenyum,"Aku menjebloskannya ke penjara dengan banyak tuntutan yang tak bisa terbantahkan. Termasuk kasus kekerasannya pada Raya."kata lelaki itu.


Namesya mengangguk,"Lalu kenapa tidak jujur saja pada Raya. Kenapa harus menyekapnya."protesnya.


"Biarkan saja. Itu urusannya dengan raya. Kita tak perlu ikut campur."bisik Kevin.


Namesya melirik Arlan yang sedang berkutat pada ponselnya dan menatap Kevin. Kemudian ia mengedikkan bahu dan bersandar pada sofa.


"Kau harus ganti rugi karena telah membuat kakakku terluka seperti ini."kata Namesya menatap Arlan dengan jengkel.


"Kenapa aku harus ganti rugi? Aku tidak melukainya. Dan lagi salah kalian sendiri mengikuti penculik tapi tidak lapor polisi."kata Arlan membela diri.


"Ish... Pokoknya kau harus ganti rugi."kekeh Namesya sementara Kevin hanya terkikik melihat kekeraskepalaan adiknya itu.


"Baiklah. Baiklah... jadi Apa yang kau inginkan? Atau berapa ganti rugi yang harus aku bayar."kata Arlan.


"Kau harus memindahkan ruanganku. Aku mau ruanganku sendiri."jawab Namesya.


"Hanya itu."tanya Arlan.


"Jangan membuat Alfin selalu cemburu dengan sikap konyolmu."Tanpa sadar Namesya tidak lagi menggunakan kata Anda untuk Arlan.


"Ya. Ya... Aku hanya merasa senang bisa mempermainkan emosi kekasihmu itu. Aku masih kesal padanya karena dia membenciku hanya gara-gara cewek yang dia suka malah menyukaiku."kata Arlan.


"Dan itu tidak sepenuhnya benar. Karena Kak Alfin membencimu karena kau berubah menjadi Playboy yang sering ganti-ganti pacar saat sekolah. Dan bisa saja sekarangpun masih seperti itu."kata Namesya.


"Hhhh..."Arlan menghela napas,"Itu aku juga punya alasan sendiri."katanya.


"Apa?"tanya Namesya.


"Mataku."balas Arlan menunjuk matanya.


Namesya mendengus dan tersenyum kecut,"Tentu saja karena matamu. Semua playboy pasti bermasalah dengan matanya yang tidak bisa ia jaga."katanya.


Arlan tersenyum kecil,"Mataku memang sungguh bermasalah. Aku tidak bisa membedakan wajah seseorang setelah malam tiba. Itu sebabnya aku sering kali salah mengenali wajah pacarku dulu saat kami keluar malam bersama. Pacarku yang asli akan marah dan memutuskanku tanpa mau mendengar penjelasan dariku lebih dulu. Ah. Sial. Kenapa juga aku harus repot-repot menjelaskannya padamu. Bahkan aku juga tidak bisa mengenali wajahmu malam itu."


Namesya masih ingat saat ia membangunkan Arlan dan lelaki itu mengungkungnya di atas sofa dengan tatapan asing seolah tidak mengenalinya.


"Begitu."gumam Namesya.


"Tapi..."Arlan menggantung ucapannya.


"Tapi apa?"tanya Namesya, Kevin masih tetap diam dengan ponselnya karena lelaki itu sudah mendengar cerita yang sedang di ceritakan pada Namesya tentang Arlan.


"Tapi temanmu berbeda."kata Arlan.


"Apa yang membuatnya berbeda?"tanya Namesya.


"Aku bisa mengenalinya dengan jelas meskipun sudah malam."jelas Arlan.


Raya memang berbeda bagi Arlan. Entah apa yang membuat Arlan tetap mampu mengenali wajah Raya di malam hari. Ataukah ada yang salah dalam dirinya hingga ia tidak bisa mengenali orang lain selain Raya. Arlan memang sudah menemui Raya saat wanita itu masih ada dalam pengaruh bius. Dan lelaki itu terkejut karena matanya mampu mengenali wajah Raya dengan sangat jelas saat itu.


.


.


.


.


.


.😊😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2