Malaikat Dalam Kabut

Malaikat Dalam Kabut
Pesta dadakan II


__ADS_3

"Kalian lagi ngomongin apa? keliatannya serius banget."tanya Andin yang sudah menyelesaikan urusannya.


"Eh. bukan apa-apa. Cuma lagi ngomongin rencana aja. semoga aja Kevin ngga curiga lagi biar Mesya bisa balik lagi ke sini."jawab Alfin.


Andin tampak menatap Alfin dan Feres bergantian, seolah kurang percaya dengan ucapan Alfin. Namun wanita itu akhirnya mengedikkan bahu dan memilih duduk di sofa, mulai memainkan ponselnya.


"Aku sudah tahu kalau Mesya itu cinta pertama Feres."ujar wanita itu tanpa menatap siapapun kecuali ponsel di tangannya.


Alfin menatap Feres yang masih berdiri di dekat jendela,"Apa hanya aku yang belum tahu."kata Alfin.


"Sudahlah. Itu bukan hal yang penting sekarang. Aku sudah melupakannya."balas Feres.


"Berusaha melupakannya."Andin mengoreksi ucapan Feres.


"Ya. Kurang lebihnya begitu."Kata Feres.


"Tapi sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur. Biar Mesya yang memutuskan untuk memilih jalannya. Dia berhak memutuskan apa yang ia inginkan."kata Andin yang terus fokus pada ponselnya,"kalau aku jadi Mesya, aku tidak akan menerima pengakuan apapun dari adikmu kalau sebelumnya adikmu menolak mengakui. Lebih baik aku mengurus anakku sendiri."imbuh Andin dengan tatapan serius saat menatap Feres.


"Ya. Sebaiknya kita jangan terlalu ikut campur lebih jauh."timpal Alfin, setuju dengan pemikiran Andin,"Tapi kenapa Mesya terlihat tidak mengenalmu?"Tanyanya penasaran.


Feres terkekeh dan duduk di sofa,"Dia terlalu cuek dan seolah tidak melihat keberadaan orang lain saat aku sering main ke rumahnya dulu."kata Feres.


Andin tertawa mendengar pengakuan Feres perihal sikap Namesya,"Gimana rasanya di cuekin? Emang enak."ujar wanita itu.


"Mungkin itu karma karena dulu sering nyuekin Sherly."timpal Alfin yang kemudian terkekeh saat Feres memelototinya.


"Sherly siapa?"tanya Andin.


"Bukan siapa-siapa. Cuma junior di kampus dulu."jawab Feres, lelaki itu tidak ingin Andin tahu tentang Sherly yang ia kenal adalah adik Frengky.


Andin tersenyum kecil mengingat adik mantan suaminya juga bernama Sherly, tak terpikirkan olehnya jika nyatanya mereka memang membicarakan orang yang sama,"Oh ya. Minggu depan aku juga mau ngadain pesta kecil di rumah. Kalian datang ya."kata Andin bersikap masa bodoh dengan pikirannya tentang nama itu.


"Pesta buat apa?"tanya Feres.


"Urusan aku sudah beres sama Frengky. Aku sudah Syah menjadi janda sekarang."kelakar wanita itu sembari tertawa.


Feres dan Alfin saling tukar pandang,"Ngga sayang emang lepasin si Frengky. Katanya kekayaan keluarganya ngga bakal habis tujuh turunan."kata Feres.


"Cih. Kan keluarganya yang kaya."Andin tertawa setelah berkata demikian.


"Awas nanti nyesel..."goda Feres.


"Ngga akan. Sudah cukup aku nahan sakit hati selama ini. Aku wanita normal yang pengen nemuin kebahagiaan dalam keluarga. Di sana aku ngga nemuin yang namanya bahagia. Yang ada kekangan sama cemoohan keluarganya hanya karena cuma aku yang belum kasih keturunan buat keluarganya."Andin setengah curhat mengeluarkan isi hatinya, namun tetap fokus pada ponselnya.


Alfin dan Feres hanya kembali saling bertukar tatapan dan mengedikkan bahu mereka masing-masing.


"Eh. ngomong-ngomong kalian mau makan siang apa? Biar aku pesen sekalian."Kata Alfin.


"Pizza aja."usul Andin.


"Oke. Kamu."Alfin beralih pada Feres.


"Aku apa ajalah. Yang penting bisa di makan."jawab Feres.


"Oke."Alfin mengusap-usap layar ponselnya dan memilih beberapa menu makanan, tiba-tiba laki-laki itu teringat akan Namesya.


Alfin menghubungi nomor Namesya yang sudah disimpannya, ia bangkit dari sofa dan melangkah menuju jendela seraya menempelkan ponsel di telinga. Dengan sabar Alfin menunggu jawaban di sebrang, tanpa disadarinya dua temannya memperhatikannya.


"Telfon siapa dia?"bisik Andin.

__ADS_1


Feres menggeleng,"tidak tahu. Ibunya mungkin."jawabnya.


"Halo. Mesya."Suara Alfin menjawab rasa penasaran dua sahabatnya itu yang langsung menganggukan kepala mereka sembari saling pandang.


"ini aku."Kata Alfin karena tidak mendengar jawaban Namesya di sebrang sambungan.


"Iya Dokter. Maaf. Aku sedang makan siang. Ada apa yah?"kata Namesya di sebrang.


"Oh. Kamu sedang makan. Aku kira kamu belum makan."kata Alfin.


"Memangnya kenapa?"tanya Namesya.


"Tidak. Bukan apa-apa. Aku berniat menawarkan makan siang untukmu. Aku kira kamu belum makan."kata Alfin,"Tapi ngomong-ngomong kamu makan apa? Bukankah di rumah tidak ada persediaan makanan?"tanya Alfin.


"Mmm... ini... Aku... Aku memasak Mi instan sama telur."Terdengar suara Namesya yang terdengar ragu.


"Ah. itu bukan makan namanya."ujar Alfin.


"Ini namanya makan. Buktinya perutku kenyang."jawab Namesya.


Alfin tersenyum mendengar jawaban Namesya yang terdengar konyol,"Maksudku makanan itu kurang bergizi untuk kamu makan."katanya yang masih tersenyum lebar.


"Iya. Iya... Habisnya aku sudah terlanjur lapar. Kalau Aku memesan makanan cepat saji itu kelamaan. Katanya aku harus makan tepat waktu."jawab Namesya.


"Ya sudah. Nanti aku pesankan makanan untukmu. Kamu mau makan apa? Biar aku yang beli."kata Alfin.


"Gado-gado."jawab Namesya yang terdengar begitu antusias.


"Gado-gado. Lalu apa lagi?"tanya Alfin.


"Mmm ... itu saja."jawab Namesya.


"Oke."balas Alfin,"ya sudah."


"Kalian tidak ada tambahan pesanan.?"tanya Alfin.


"Aku tidak."jawab Feres.


"Aku juga tidak."Andin juga membalas.


"Oke."timpal Alfin.


###


Malam harinya pesta dadakan yang Alfin rencanakan akhirnya terlaksana dengan semestinya. Alfin dibantu Andin dan Feres menyiapkan pesta seadanya, Andin juga memasak bahan-bahan yang Alfin beli siang tadi.


Ting


Tong


"Itu pasti Kevin."ujar Feres.


"Biar aku yang membukanya."Andin menawarkan dirinya membuka pintu, kebetulan wanita itu sedang berada di tempat yang paling dekat dengan pintu.


Hanya beberapa langkah wanita itu sudah membuka pintu dan menilik seseorang yang masih berdiri memunggungi pintu, laki-laki itu juga menenteng parcel berisi buah-buahan segar.


"Pak Kevin."Kata Andin memastikan laki-laki itu adalah Kevin.


Yang merasa namanya disebut pun akhirnya membalikkan tubuh dan langsung bertemu pandang dengan Andin. Beberapa saat keduanya sama-sama terdiam, Andin menatap Kevin seolah tidak percaya.

__ADS_1


"Anda..."gumam Andin seraya mengangkat tangan dengan jari telunjuk terarah pada Kevin, wanita itu belum tahu jika laki-laki yang terlibat dengan masalahnya ternyata adalah Kevin.


"Anda sudah di sini."kata Kevin yang sudah mengenali wajah Andin sebagai seorang wanita yang beberapa saat lalu di temuinya di cafe miliknya.


"Mmm... ya."balas Andin.


Kevin mengangguk perlahan dan berkata,"Apa saya mengejutkan anda."laki-laki itu tersenyum ramah tanpa mengalihkan tatapannya dari menatap dua netra Andin yang berwarna hitam.


"Oh. Sedikit."jujur Andin,"mari silakan masuk."ajak Andin mempersilahkan Kevin masuk.


"terimakasih."balas Kevin dan melangkah masuk saat Andin memberikan jalan masuk untuk Kevin.


"Sama-sama."Andin membalas, namun wanita itu terlihat gelisah atau lebih tepatnya malu mengingat masalah yang pernah terjadi waktu itu.


Sementara Kevin sudah melangkah masuk menghampiri dua laki-laki yang sudah selesai menata hidangan di atas meja. Andin sendiri masih berdiri di dekat pintu yang sudah tertutup, rasanya kakinya berat untuk melangkah bergabung dengan tiga pejantan di dapur. Lebih kepada Kevin, keberadaan Kevin tiba-tiba cukup berpengaruh untuk Andin.


"Ngapain masih bengong di situ."tegur Feres melihat Andin masih berdiri di dekat pintu.


"Oh. iya."Andin merasa gugup dan tidak tahu bagaimana menyikapi keadaan saat ini.


"Silakan."Kevin mempersilakan Andin duduk di kursi tepat di sampingnya, karena memang hanya kursi itu yang tersisa.


Andin mengerjapkan mata melihat hanya ada empat kursi di dapur itu, dan satu yang tersisa membuatnya semakin gugup.


"Ekspresimu sudah seperti penggemar yang ketemu idolanya."komentar Alfin.


"Ya."Andin asal menyahut,"eh. Apa maksudmu?"ralat wanita itu.


Alfin tersenyum kecil,"bukan apa-apa. Sudah ayo kita mulai makan. Kau tahu aku sudah lapar."


"Aku dengar kalian pernah bertemu."kini Feres yang memulai membuka obrolan sembari mengambil hidangan dan memindahkannya ke piringnya.


Andin mendongak menatap Feres,"apa?"


"Kau dan Kevin pernah bertemu, bukan?"Feres memperjelas pertanyaannya.


"Oh. itu..."Andin tampak melirik Kevin yang tetap terlihat santai di sampingnya.


"Ya. Aku pernah melihatnya di cafe."balas Kevin,"Maaf. Aku menceritakan pertemuan kita padanya."imbuhnya seraya menoleh menatap Andin sejenak.


"Menceritakan pertemuan kita."gumam Andin seraya menatap dua sahabatnya yang tampak sama acuhnya dengan ekspresi Kevin."semuanya."lirih wanita itu.


"Mmm... tidak juga."balas Kevin seraya mengedikkan bahu dengan mulut mengunyah makanan.


"oh."gumam Andin.


"Memangnya kenapa kalau dia menceritakan semuanya? apa ada hal penting yang kamu rahasiakan?"tanya Alfin.


"Tidak."jawab Andin,"Ya. memang tidak ada hal penting yang patut untuk dirahasiakan."


"Ya sudah. Nikmati makanannya."perintah Alfin.


Andin mengangguk, sementara Kevin diam-diam tersenyum tipis sembari terus mengunyah makanannya. Mereka berempat melanjutkan pesta dadakan yang lebih mengarah pada makan malam antar teman. Kevin yang sudah terbiasa bertemu banyak orang dengan profesinya sebagai publik figur mampu membuat dirinya mudah berbaur dengan Alfin meski mereka baru hari itu bertemu. dua laki-laki itu membicarakan beberapa hal saat makan sampai mereka selesai. Sedangkan Andin hanya menjadi pendengar setia obrolan tiga laki-laki itu.


'huft... harukah kututup mukaku ini.'batin wanita itu.


'bagaimana bisa aku tidak mengenali wajahnya."batin Andin lagi saat teringat Feres sudah menyebutkan nama Kevin berkali-kali saat mereka mengobrol..


Kesan pertemuan pertama antara Andin dan Kevin cukup membuat Andin merasa tidak nyaman dan benar-benar malu untuk sekedar bertemu pandang dengan lelaki itu. Namun yang membuat Andin penasaran adalah...

__ADS_1


'bagaimana dia bisa bersikap setenang itu? kenapa hanya aku yang gugup? huh. aku tak pernah merasa segugup ini.'batin Andin hanya mampu bertanya dalam benaknya sendiri.


Dan pesta dadakan itu pun berakhir dengan harapan Kevin tidak akan mencurigai apapun lagi tentang apartemen itu. Alfin merasa lega setelah acara kecil itu usai dan Kevin sudah pulang. Sekarang ia hanya perlu tinggal beberapa hari di sana sebelum kembali tinggal di rumahnya sendiri dan Namesya kembali tinggal di apartemen itu.


__ADS_2